
Mata Ajeng berkedip-kedip menatap wajah laki-laki di depannya itu.
Bimo sudah tidak bisa menahan hasratnya. Mau Ajeng menolakpun dia akan tetap menuruti keinginannya saat ini.
Perasaan Ajeng semakin bercampur aduk. Dia seperti kehilangan sesuatu saat Bimo mulai mengoyangkan pinggangnya. Laki-laki itu terus bergoyang dan menghentakan dalam-dalam membuat Ajeng meremas kedua tangan Bimo.
Ritme yang dilakukan Bimo memang tidak kasar, tapi sekali menghentak, Ajeng bisa merasakan minibusnya itu bergoyang. Terasa cukup dalam membuat wajahnya memanas.
“Ah… Ah…”
Ajeng semakin tidak kuat sampai pahanya terasa ngilu karena menahan permainan Bimo. Laki-laki itu seperti belum puas sampai merengkuh punggung Ajeng agar duduk untuk berganti posisi. Sampai akhirnya Ajeng mengeluarkan sedikit darah.
Bimo semakin memeluk tubuh Ajeng. Dia baru sadar perempuan yang sedang bermain dengannya saat ini baru saja kehilangan keperawanan. Bibirnya mulai tersenyum tipis setelah sekian menit bermain di bed. Dia menyibak rambut Ajeng untuk melihat wajah perempuan yang tengah menahan rasa sakit. Tubuh keduanya semakin merapat, merasakan detak jantung yang saling memburu.
Bimo mulai menidurkan Ajeng kembali karena merasa Ajeng sepertinya kesakitan. Ritme gerakan lebih dipercepat olehnya karena lahar hangat itu sudah hampir keluar.
“Arghhh… Arghhh… Argh…” Bimo menekan bagian sensitive itu sedalam-dalamnya membuat Ajeng tidak berani melihat ekspresi wajah Bimo.
Ajeng menutup matanya rapat-rapat karena dia tahu Bimo sedang mencapai klimaksnya. Sampai akhirnya Bimo memeluk dan menelusupkan wajahnya di leher Ajeng. Dia menghirup dalam-dalam aroma perempuan yang sudah melayaninya. Dia mengkecupi pipi dan bibir Ajeng.
Ajeng yang sudah lelah semakin menikmati perilaku Bimo yang terkesan hangat. Dia mengusap pungung Bimo dan membiarkan tangan laki-laki itu bermain di tubuhnya.
“Thank you Ajeng… I like yours (Aku suka milikmu).”
“Mmphhh… Bim…” Tubuhnya menggeliyat saat jari Bimo mulai menusuk dan mengaduk-aduk intimnya lagi.
Ajeng mulai merasakan kembali benda lonjong yang perlahan menempel dan mendusel di tubuhnya. Ajeng kembali melenguh saat Bimo menyesap tengkuknya sedikit dalam.
“Ah, Bim pelan-pelan…” medesah sedikit menyikut perut Bimo di belakangnya. Tapi Bimo terus memberi kecup4n dan ses4pan di bagian leher lain membuat Ajeng tidak sengaja merangkup kejantanan yang berusaha masuk di lubang pantatnya.
“Bim… Aku gak akan sanggup…” terus menggeliyat karena Bimo semakin merapatkan tubuhnya ke miliknya.
Karena gairah yang tidak kunjung reda, Bimo menarik pinggang Ajeng dan memasukkannya lagi. Laki-laki itu menggoyang tubuhnya sampai buah d4d4nya yang menggantung terguncang. Iramanya lebih cepat membuat mulut Ajeng menganga setiap hentakan.
Karena ******* Ajeng semakin keras, Bimo semakin merapatkan tubuhnya. Merengkuh dan meremas buah d4d4 milik Ajeng. Keseimbangan Ajeng mulai tidak kuat saat menopang tubuh laki-laki berbadan atletis itu. Tubuhnya sampai tengkurap dan menoleh ke belakang. Bibir Ajeng yang masih ternganga itu membuat Bimo melahap dan m3lum4tnya lagi dan lagi sampai Bimo menggigit bahunya.
“Argh… Ah… Hah…” Akhirnya Bimo mencapai klimaksnya untuk yang kedua kali pada dini hari itu.
Keduanya menarik nafas dalam-dalam setelah permainan panas yang menggoyang minibus. Bimo menarik selimut dan memeluk tubuh Ajeng dengan terus mengusap lembut punggung dan ****4* perempuan itu.
“Kamu menyukainya?”
Ajeng cukup malu bila sampai berani menjawab pertanyaan Bimo. Dia mengeratkan pelukannya membuat Bimo mengerti kalau perempuan itu menyukainya.
“Tapi kenapa payud4r4mu lengket ya, Jeng? Kemarin sore kamu mandi tidak?”
Merasa dituduh dirinya tidak mandi, Ajeng mendorong dada bidang Bimo. Tapi laki-laki itu tidak melepaskan pelukannya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa yang hampir merekah.
“Aku mandi tahu…! Ini lengket karena lidah buaya kemarin,” jelas Ajeng menyangkal tuduhan Bimo. Bibirnya sedikit muncung, semakin membuat Bimo gemas dan mengkecup bibir perempaun itu.
Bimo kembali *****4* dan menindih tubuh Ajeng. Dia mengg3s3k g3s3k bagian intim Ajeng dan meremas keras pantat perempuan itu.
“Bim... boleh gak aku ke toilet bentar? Aku dah nahan kencing sebetulnya dari tadi. Boleh ya…”
“Yeah. Kenapa tidak bilang dari tadi?” Bimo tersenyum tipis memandangi wajah Ajeng. Dia merapikan rambut pacar barunya itu yang sudah dia acak-acak.
“Habis, kamu mainnya gak pakai koma sih… Aku kan jadi sungkan.”
“Hmm… Iya. Come back fast (datang kembali secepatnya).”
Ajeng segera menuju ke toilet. Dia membersihkan bercak darah yang menempel di sekitar area sensitive dan pahanya. Badannya terasa lelah, terutama bagian pinggul. Bisa jadi ini karena pertama kalinya dia melakukannya.
“Bimo… Hihihiii… Gak nyangka. Huft…”
Ajeng segera keluar dari toilet dan berjalan kembali ke bed. Mata Bimo tidak henti-hentinya melihat tubuh telanjang yang sedang berjalan mendekatinya. Menggairahkan.
“Ajeng, sini aku pakaikan t-shirtmu. Kamu harus pakai jaket tebal. Bentar lagi waktu yang pas buat ambil video sunrise. Kamu mau kan nemenin aku?” tanya Bimo dengan menarik pakaian Ajeng yang berada di sudut bed.
Laki-laki itu membantu Ajeng memakai baju. Tapi sesekali dia mengkecupi bagian tubuh Ajeng.
“Jam berapa sekarang?”
“Baru jam 5. Tapi kita harus mulai jalan buat nyari spot lokasi yang pas,” jelas Bimo.
Tak lama setelah keduanya memakai baju, handphone Ajeng berdering. Cepat-cepat Ajeng mengangkat panggilan itu karena nama penelfonenya adalah mbak Desi.
“Hallo mbak… Ada apa? Kok jam segini nelpon?” tanya Ajeng. Dia duduk di bed sambil memperhatikan Bimo yang memasak air untuk membuat teh.
“Hihiii… Iya nih, Jeng. Saking (Karena) senangnnya aku nelpon kamu jam segini. Hihiii…” masih cekikikan membuat Ajeng mengrenyitkan alisnya.
“Senang kenapa? Ceritalah… Jangan cekikikan terus,” timpal Ajeng membuat Bimo penasaran siapa orang yang menelpon Ajeng.
“Tahu gak kamu… Aku barusan check pakai tes pack, dan hasilnya nunjukin garis dua, Jeng! Aku positive hamil! Hihiii…”
Ini adalah berita terbaik di keluarga Ajeng. Harapan ibu Heni (Ibunya Ajeng) untuk menimang cucu akhirnya akan terwujud setelah 5 tahun penantian.
“Waaaaa selamat ya, mbak… Akhirnya bentar lagi aku punya keponakan. Selamat buat kalian berdua. Usaha gak akan pernah mengkhianati hasil. Hihiiii…”
“Iya makasih, Jeng. Ini aku malah belum kasih tahu mas Idam sama ibuk. Mereka masih tidur. Soalnya kan aku ngeceknya pas keluar urin pertama di pagi ini. Biar akurat hasilnya… Hihiiii… Jadi gak sabar biar segera 9 bulan buat gendong dek bayi…” Ajeng semakin terharu mendengar ucapan kakaknya itu. “Makanya kamu cepetan nikah Jeng… Soalnya kan waktu mau ngandung aku, ibu bilang harus nunggu 3 tahun baru bisa hamil. Ini aku 5 tahun. Ntar kamu berapa lama buat nunggu hamil? Hm… Cepet-cepet nyari pengganti Gery lah kamu tuw…” gerutu mbak Desi.
Biasanya kalau ada yang membahas soal itu, Ajeng akan kesal karena belum punya pasangan. Tapi pagi ini dia bisa bernafas lega memandangi Bimo yang tengah memperhatikannya.
“Iya mbak… Mbah Desi tenang aja… Jangan mikirin aku. Sekarang fokus aja buat merawat kehamilan embak. Minum vitamin teratur sama susu biar calon keponakanku makin pintar. Heheee…”
“Iya… Pasti itu. Udah dulu ya, Jeng. Ini kayaknya mas Idam manggil aku.”
“Iya, salam buat mas Idam sama ibuk ya, mbak. Sehat-sehat terus... Bye…”
Panggilan keduanya pun selesai. Bibir Ajeng masih terus tersenyum membayangkan betapa bahagianya mbak Desi saat ini.
“Siapa?” tanya Bimo. Suaranya mengalihkan pikiran Ajeng untuk melihatnya.
“Kakak aku. Dia kasih kabar kalau dia sudah hamil,” jawab Ajeng.
Bimo mengangguk-angguk dengan senyuman tipis. Tapi dia terlihat menarik nafas panjang setelah mendengar jawaban Ajeng.
*****
Bersambung…
*****