
Dengan rasa yang sudah bercampur aduk di hati, kini Ajeng bisa kembali di kamarnya. Di kamar itu dia melihat kakaknya sedang berdiri di dekat jendela.
“Istirahat dulu, Jeng,” ucap mbak Desi.
Ajeng pun yang sudah merasa lelah dengan apa yang terjadi, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Dia duduk di tepi bed dan menarik nafas panjang dengan mata terpejam.
Beberapa saat mbak Desi memperhatikan Ajeng. Adiknya itu tidak kunjung membuka mata. Mbak Desi pun perlahan-lahan mendekati Ajeng. Dia mendekap Ajeng sambil berdiri di depan Ajeng.
“Jangan terlalu dipikir berat-berat. Nanti kalau jodoh pasti ada jalannya untuk dipertemukan kembali,” ucap mbak Desi.
Suasana hati Ajeng yang memang sedang gundah gulana, semakin terisak di pelukan kakaknya itu. Air mata yang jarang mengalir kini mengalir deras membasahi baju mbak Desi.
“Kamu sangat sayang sama Bimo ya?” tanya mbak Desi dengan mengelus-elus kepala Ajeng.
Suara tangisnya semakin tidak bisa disembunyikan. Ajeng mere mas baju kakaknya itu.
“Kak... Hegzz... Gimana itu rasanya hamil?” tanya Ajeng sambil menatap perut mbak Desi di depannya.
Mbak Desi cukup paham apa yang dirasakan Ajeng sekarang. Boleh dibilang apa yang terjadi kepada adiknya sekarang lebih menyakitkan dibanding dirinya dulu. Setidaknya dirinya bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai, berbeda dengan khasus Ajeng sekarang.
“Rasanya... menyenangkan. Seperti sangat beruntung. Ini kayak hal yang paling spesial yang pernah aku alami...” ucap mbak Desi dengan menghapus air mata Ajeng. Matanya mulai berkaca-kaca ikut merasakan kesedihan yang dialami adiknya. “Suatu hari nanti... Kamu pasti akan hamil juga... Kamu gak perlu kuatir... Ada saatnya hal itu akan datang.”
Ajeng kembali mengeratkan pelukannya di perut mbak Desi. Suara tangis Ajeng semakin kencang memenuhi ruang kamarnya.
“Tapi aku cuma mau sama Bi-mo, mbak.... Aku cuma mau sama dia.... hegz.... Aku gak mau yang lain.... Aku mau Bimooo....”
Suara tangis Ajeng itu semakin membuat mbak Desi bingung harus berbuat apa. Karakter ibunya yang keras sangat sulit untuk diajak bicara. Tapi bila dia tidak berbuat sesuatu, kondisi Ajeng pasti akan memburuk. Bahkan saat ini sudah satu jam lamanya Ajeng menangis sampai matanya bengkak.
“Dek, kamu rebahan aja di bed. Coba buat tidur. Aku takut kalau kamu nangis terus bisa sakit.... Biar embak ngomong sama ibuk soal masalah ini,” ucap mbak Desi kembali menghapus air mata Ajeng.
Akhirnya mbak Desi mematikan lampu kamar Ajeng setelah menyelimuti adiknya itu. Dia berharap Ajeng bisa menenangkan diri dan tidak berlanjut stress karena terlalu memforsir untuk mencari jalan keluar dari permasalahan restu dari orang tuanya ataupun Bimo.
Malam ini mbak Desi menyiapkan kosa kata dan kalimat terbaiknya untuk membujuk ibunya. Dia ingin masalah ini segera selesai dengan baik. Mbak Desi tidak mau pertengkaran ini akan berkepanjangan dan membuat adiknya dan Bimo tidak bisa bersama.
Tok... Tok... Tok...
“Buk... Ini aku, Desi. Ibuk lagi apa? Aku boleh masuk, buk?” tanya mbak Desi dengan menempelkan telinganya di depan pintu kamar ibunya.
“Masuk, Des...” sambung bu Heni.
Dengan hati yang tenang, mbak Desi menghampiri ibunya yang sedang duduk sambil menonton televisi.
“Aku suruh Ajeng tidur, buk. Tapi kayanya dia belum tidur sekarang,” jawab mbak Desi. “Buk... maaf ya, aku sama mas Idam tadi siang udah ngebantu Ajeng buat kabur dari rumah.”
Bu Heni mulai menoleh ke anaknya itu. Wajahnya tampak biasa saja. Tidak kaget dan tidak marah.
“Sudah ibuk duga,” ucap bu Heni membuat anaknya mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Barulah diantara keduanya saling tidak berbicara beberapa saat. Tapi mbak Desi masih duduk di samping ibunya yang melihat layar televisi.
“Ajeng ada cerita apa soal terapinya Bimo?” tanya bu Heni dengan wajah seriusnya. Kalimat yang sempat dia dengar ketika Ajeng berdebat dengan Gery, membuat pikiran bu Heni terusik. “Apa kamu tahu soal hal itu?”
“Setahu aku dari cerita-ceritanya Ajeng lewat whatsapp... Hasil terapinya Bimo itu ada kemajuan buk. Dia sudah menjalani terapi selama 4 tahun semenjak pisah dari cewek yang namanya Jesslyn,” jawab mbak Desi.
“Ada kemajuan kayak gimana...? Jelasin yang jelas dong biar ibuk ngerti laki-laki itu bisa ngasih keturunan atau enggak buat keluarga kita!” Nada suara bu Heni sedikit naik karena tidak sabar mengetahui kondisi Bimo yang sebenarnya.
“Ya bisalah, buk... Namanya juga ada kemajuan. Tapi kalau mereka gak dinikahkan, gimana Bimo bisa ngasih keturunan buat keluarga kita? Emang ibuk mau Ajeng hamil duluan baru nikah?” tanya mbak Desi balik membuat sudut bibir bu Heni naik.
Padahal kalau boleh jujur, mbak Desi sebetulnya tidak tahu banyak soal perkembangan terapinya Bimo. Dia hanya bersikap seolah-olah dirinya tahu supaya bisa mempengaruhi keputusan ibunya untuk memisahkan Ajeng dan Bimo.
“Buk... Lagian kan di keluarga kita juga agak susah buat dapet keturunan,” ucap mbak Desi membuat bu Heni menarik nafas panjang. Matanya terpejam seperti disadarkan dengan kalimat yang diucapkan anak sulungnya itu. “Setiap manusia itu kan punya kekurangan, buk. Lagi pula Ajeng kelihatan sayang banget sama Bimo. Bertahun-tahun pacaran sama Gery aja, Ajeng bisa cepat move on dari Gery... Tapi belum ada sebulan kenal Bimo, Ajeng udah kayak nangis darah pisah dari Bimo,” ucap mbak Desi semakin membuyarkan pikiran ibunya. “Coba ibu pikir lagi soal ini. Aku yakin, cepat atau lambat, kalau kita kasih kesempatan untuk Bimo bersama Ajeng, mereka pasti akan punya anak. Kayak aku sama mas Idam,” ucap mbak Desi yang kemudian mengusap perutnya yang belum buncit. “Seperti cerita ibuk juga yang nunggu bertahun-tahun buat mengandung aku.”
Ucapan yang keluar dari mulut mbak Desi itu semakain membuat pikiran bu Heni tersadar. Bu Heni merasa dirinya juga salah karena sudah termakan cerita dari Jesslyn.
“Apa ibuk terlihat garang banget ya tadi siang?” tanya bu Heni dengan senyuman di bibirnya.
“Iya...” jawab mbak Desi dengan membalas senyuman untuk ibunya. “Gak ada salahnya meminta maaf terlebih dulu ke tante Clara, buk. Dia pasti sakit hati mendengar anaknya dicap mandul. Apalagi Bimo... Padahal kan... terapinya ada kemajuan. Itu artinya Bimo enggak seratus persen mandul,” jelas mbak Desi dengan wajah yang lebih ceria. Mbak Desi merasa kalau ibunya akan memberi kesempatan untuk Bimo.
Akhirnya malam itu bu Heni dan mbak Desi berlanjut saling bercerita tentang masa-masa kehamilan. Mbak Desi yang sebenarnya sudah mengantuk, berusaha terus menanggapi kalimat yang diceritakan oleh ibunya.
“Kamu kok udah menguap terus? Ini baru jam setengah sepuluh hlo, Des... Sinetron favorite ibuk belom selesai,” ucap bu Heni memandangi anaknya yang tengah menguap.
“Iya nih, buk. Bawaan bayinya mungkin. Ya udah, aku ke kamar ku ya, buk. Mungkin mas Idam juga udah di kamar,” jelas mbak Desi yang kemudian beranjak berdiri dari bed. “Jangan lupa juga besok ibuk kembaliin handphonenya Ajeng. Kasihan dia gak bisa hubungin, Bimo.”
“Iya.... Besok ibuk kembaliin handphonenya Ajeng. Udah sana kamu tidur kalau emang udah ngantuk. Jangan lupa tutup pintu kamar ibuk!”
*****
Bersambung...
*****