
Mengetahui kekuatiran yang dirasakan Ajeng, tidak sedikitpun mematahkan niat Bimo untuk melamar Ajeng. Kali ini niatnya sudah bulat. Mau kedua orang tua mereka tidak menyetujui pun, Bimo akan tetap menikahi Ajeng dengan segala cara yang akan dia tempuh. Apalagi tanggung jawab Bimo sekarang sudah ganda. Tidak hanya Ajeng saja yang harus dia jaga, tapi calon buah hati yang sekarang masih tumbuh di perut Ajeng harus dia jaga juga.
“Don't worry baby,” Bimo meraih salah satu tangan Ajeng untuk dia genggam. “Jangan kamu pikirkan hal itu. Aku mau kamu lebih fokus sama kesehatanmu dan calon baby kita,” Bimo mengusap – usap jari-jari Ajeng dengan ibu jarinya. “Mama bilang dia akan datang untuk menemui ibumu juga. Aku harap itu akan jadi awal yang baik untuk kedua orang tua kita,” ucap Bimo membuat Ajeng lebih lega.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di apartment.
“Mau dibuatin mie instant berapa porsi?” tanya Bimo setelah Ajeng mendaratkan pan tatnya di sofa ruang tengah.
“2 Porsi sama pakai sayur sawi, tomat, wortel,” jawab Ajeng dengan membayangkan mie instant yang akan dia makan.
“Alright, madam...” Jawab Bimo dengan senyumnya. Dia memperlakukan Ajeng bagai seorang nyonya di apartment itu.
Ruang dapur dan ruang tengah tempat bersantai memiliki design yang dibuat tanpa sekat. Pandangan Ajeng bisa leluasa memandangi gerak-gerik Bimo yang sedang memasak di dapur.
“Mommy...” sapa Sasa yang baru saja keluar dari kamarnya. Rambutnya sedikit acak-acakan karena baru saja bangun dari tidur siang.
“Sasa... sini duduk sini,” pinta Ajeng dengan mengepuk-epuk sofa sebelahnya.
Dengan penuh ketelatenan dan lihai, Ajeng mengkepang rambut Sasa agar lebih rapi.
“Daddy masak apa?” tanya Sasa sambil menoleh Bimo yang sedang sibuk memasukkan bumbu mie instant ke dalam mangkuk.
“Daddy lagi masak mie kuah. Sasa mau?” tanya Ajeng. Rambut panjang Sasa kini terlihat lebih rapi setelah dikepang oleh Ajeng.
“Mau... Tapi maunya disuapin,” merengek manja dengan senyum kecil. “Mie kuahnya pakai telur gak? Ada sosisnya gak? Sasa mau pakai telur sama sosis...” Sasa memohon dengan gaya manjanya. Bimo yang mendengar rengekan itu menoleh melirik Sasa.
“Ini mie kuahnya cuma pakai sayuran aja, Sasa. Lagian kan tadi kamu juga udah makan siang,” sambung Bimo sambil mengaduk mie agar bumbunya tecampur rata.
Mendengar ucapan Bimo itu, Ajeng merasa tidak suka. Dia menilai Bimo seperti mengacuhkan Sasa.
“Bim...? Kok kamu gitu sih?” sahut Ajeng dengan melirik heran ke arah Bimo.
“Mie kuah yang kamu mau udah jadi, baby... Lagian kamu maunya cuma pakai sayur aja,” timpal Bimo sambil membawa mangkuk berisi mie kuah yang baru saja dia masak.
Terlihat memang hanya ada mie dan sayuran saja di mangkuk itu saat dilihat Ajeng.
“Bim, kamu ni gak pengertian banget sih! Dari dulu sampai sekarang ga pernah berubah. Gak bisa ngertiin perasaan perempuan...” gerutu Ajeng dengan berbisik kepada Bimo.
Bimo dibuat keheranan dengan sikap Ajeng. Padahal dia memasak mie sesuai yang diminta Ajeng.
“Sana buatin telur mata sapi buat Sasa! Sama goreng sosis juga!” pinta Ajeng dengan mencubit lengan Bimo.
Bimo yang baru saja duduk di samping Ajeng harus bangkit lagi menuju dapur.
Sore itu Bimo benar-benar dibuat kesal dengan sikap Ajeng yang aneh. Ajeng yang tadinya penurut menjadi berbanding terbalik saat ini.
“Baby, jangan makan pedas-pedas,” ucap Bimo memperingatkan Ajeng yang sedang menikmati satu buah cabai rawit segar di tangan kirinya. “Kamu udah habis 2 chili. Aku takut perut mu sakit.” Bimo mencoba melerai Ajeng dengan merebut cabai dari tangan Ajeng.
“Apaan sih, Bim... Gangguin orang makan aja...” timpal Ajeng dengan wajah bersungut-sungut. Ajeng mencoba menyambar cabai terakhirnya dari tangan Bimo, tapi Bimo justru memakan cabai itu sekali kunyah.
Sasa dan Ajeng yang tahu kalau Bimo tidak bisa makan pedas menjadi kaget melihat hal itu. Keduanya menahan tawanya karena melihat wajah Bimo berubah memerah. Ekspresi wajah Bimo yang menunjukan kesusahan karena merasakan sensasi pedas, semakin membuat Ajeng dan Sasa kesenangan.
“Aiirrr...” Bimo segera meraih botol air mineral di meja untuk diminum. Lidahnya terasa terbakar.
Masih dengan sikap cueknya, Ajeng mengajak Sasa melanjutkan untuk menghabiskan mie kuah mereka. Ajeng nampak begitu santai dan tidak kasihan melihat Bimo yang bercucuran keringat di keningnya.
“Mommy... Sasa udah kenyang. Sasa mau ke kamar. Mau main game,” celetuk Sasa yang kemudian mengke cup pipi Ajeng. “Daddy masih kepedasan?” tanya Sasa sambil berjalan ke arah Bimo.
“No... Daddy ga pa pa. Main gamenya jangan lama-lama. Jangan lupa ngerjain tugas sekolah,” timpal Bimo yang kemudian menci um kepala Sasa.
Anak kecil itu berjalan menuju kamarnya meninggalkan Ajeng dan Bimo. Ajeng yang melihat Bimo nampak pucat, berinisiatif untuk membersihkan piring dan peralatan masak yang dipakai Bimo tadi.
Selesai bersih-bersih, Ajeng menuju kamarnya. Bimo pun mengikuti langkah Ajeng itu dengan berjalan sedikit tertatih karena ulu hatinya terasa sakit akibat menelan cabai.
Pelan-pelan Bimo mendaratkan pan tatnya untuk duduk di tepi bed. Rasanya begitu nyeri. Bibirnya sampai tidak sanggup mengeluarkan suara.
Ajeng yang melihat Bimo nampak kesakitan mulai menaruh perhatiannya. Ajeng keluar dari kamar itu dan menuju ke dapur lagi untuk membuat susu hangat.
“Minum ini,” ucap Ajeng dengan menyodorkan cup yang berisi susu hangat.
Karena rasa sakit yang teramat menusuk di ulu hatinya, Bimo menuruti perintah Ajeng untuk meneguk susu hangat itu.
“Aghhh...... Hufttt......” Bimo mulai bernafas sedikit lega setelah meneguk susu buatan Ajeng.
“Masih Sakit?” tanya Ajeng yang kemudian meraih minyak kayu putih di atas nakas. Dia mulai mengoleskan minyak kayu putih itu ke perut dan da da Bimo untuk meredakan rasa sakit yang dirasakan Bimo.
Pelan-pelan Bimo juga menghabiskan susu hangat yang masih ada di cupnya. Bagian dada dan perut yang tadinya terasa kram terasa lebih baik setelah meminum susu hangat dan diberi olesan minyak oleh Ajeng.
“Gara-gara cabe aja kamu bisa sakit... Hmm... Apa jadinya coba kalau kamu ada di posisiku dulu. Ditinggalkan gitu aja tanpa kata pamit. Hilang tanpa kabar,” gerutu Ajeng masih dengan tangan yang mengolesi perut Bimo dengan minyak kayu putih. “Di dunia ini memang gak ada yang setia. Bayangan saja hilang waktu senja,” tambah Ajeng semakin memojokan Bimo.
“Yang pentingkan sekarang aku sudah sama kamu lagi, Ajeng,” timpal Bimo membenarkan dirinya.
“Tapi kan aku gak tau apa yang kamu lakuin waktu 5 tahun kemarin...” sambung Ajeng.
“Astaga baby... 5 tahun kemarin aku ga ada dekat sama perempuan manapun! Aku Cuma sibuk dengan pekerjaan dan urusan Sasa,” sanggah Bimo mulai merangkul pinggang Ajeng.
“Kamu pikir aku percaya...?” kesal Ajeng semakin membuat Bimo gemas.
Bimo menuntun tubuh Ajeng untuk berbaring. Dia mengke cupi setiap jengkal leher Ajeng sampai Ajeng kegelian meremas lengannya.
“Jangan aneh-aneh ya Bim! Jangan kamu bikin tanda merah yang bisa dilihat ibu Ku besok! Malu tahu!” ucap Ajeng. Meski kesal, Ajeng juga menikmati permainan yang dilakukan Bimo.
“Ngapain juga harus malu...? Lagian Kamu juga lagi hamil anak aku!” Sambung Bimo dengan senyum menggodanya.
Bimo mulai melanjutkan aksinya untuk menghujani setiap jengkal tu buh Ajeng dengan ciu man. Bagian lembut tempat buah hatinya berkembang juga Bimo ke cupi penuh kelembutan.
“Baby...” Bimo memasang tampang memelas sambil meraba bagian bawah pu sar Ajeng.
“Iiihhhh...... lagi hamil hlo aku, Bim... Masih sore juga pun...” ucap Ajeng sambil berusaha menghalau tangan Bimo.
“I will do slowly... Ga akan sakit. Ok?” Bimo membujuk sambil melepasi bajunya.
Meski kesal dan gemas kepada Bimo, akhirnya Ajeng melayani Bimo juga. Entah kenapa dirinya seolah juga menginginkannya.
Bimo yang melihat ekspresi wajah Ajeng cukup menikmati setiap permainan yand dilakukan, menjadi senang. Dia terus menggoyang tubuh Ajeng dengan ritme pelan.
“Kamu menyukainya juga kan...” goda Bimo dengan berdesis ke telinga Ajeng.
“Mau dilanjut apa dihentikan?” geretak Ajeng memasang muka kesal. Tangannya sudah bersiap untuk mendorong Bimo.
Bimo semakin tertantang dengan setiap kalimat Ajeng. Perubahan sikap Ajeng yang selalu menantangnya itu membuat Bimo semakin gemas.
*****
Bersambung...
*****