My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Gak Akan Membiarkanmu Pulang (21+)



Masih dengan sikap yang sama, Ajeng terus mengalihkan pandangan matanya agar tidak melihat Bimo yang berada di atas tubuhnya. Wajah tampan itu masih tidak ada perubahan. Aroma tubuh Bimo yang hampir dia lupakan, harus dia hirup lagi.


 


“Look at me, Ajeng,” pinta Bimo dengan merangkup wajah Ajeng. Bagain vi tal tengah itu masih Bimo desak agar Ajeng tidak bisa bergerak. “I love you, Ajeng,” ucap Bimo.


 


Meski kalimat itu menggetarkan hati Ajeng, sekuat tenaga Ajeng menutup rapat hatinya.


 


“Kenapa ga kamu balas ucapanku?” tanya Bimo. Dia berharap Ajeng akan membalas ungkapan cintanya. Tapi bibir itu masih tertutup rapat tidak mau membalas ungkapan perasaannya.


 


“Buat apa aku membalas kalimat palsumu itu? Paling bentar lagi kamu akan menghilang. Aku sudah cukup tahu kalau kamu cuma mau main-main saja,” jawab Ajeng dengan mendorong lengannya yang dicengkram Bimo. “Aku mau ke toilet. Minggir!” ucap Ajeng semakin menghindar dari desakan tubuh Bimo.


 


Bimo pun membiarkan Ajeng pergi ke toilet dengan badan berbalut kain selimut. Dia menunggui Ajeng beberapa saat. Tapi anehnya Ajeng tidak keluar-keluar dari toilet.


 


“Baby... Bisa buka pintunya?” tanya Bimo sambil mengetuk pintu. Dia takut bila terjadi sesuatu dengan Ajeng.


 


“Ga ada nama baby di sini. Lagian ini mini busku. Suka-suka aku mau pakai lama atau enggak!” balas Ajeng dengan ketus.


 


Kalimat bagai tantangan itu membuat Bimo merasa diuji. Sudah lama tidak bertemu, tapi Bimo harus bekerja keras dan sedikit kasar hanya untuk memuaskan ha sratnya di atas ranjang. Ungkapan cintanya pun juga tidak dibalas oleh Ajeng. Apalagi Ajeng membuat drama mengunci pintu toilet. Hal ini membuat batas kesabaran Bimo habis. Bimo mulai mengambil kunci minibus dan handphone Ajeng untuk dia sembunyikan. Dia pun segera duduk santai di atas bed dengan hanya memakai boxxeerr.


 


“Ga usah lihatin aku!” ucap Ajeng setelah dirinya keluar dari toilet.


 


Matanya mulai mencari handphone yang tadinya dia taruh di atas meja makan. Ajeng terus mencari ke semua sudut untuk menemukan handphone itu.


 


“Cari apa kamu?” tanya Bimo dengan gaya santainya. “Kunci mobil sama handphonemu, ada sama aku,” ucap Bimo membuat Ajeng membalikkan badannya melihat Bimo.


 


Senyum sensu al itu sangat menyebalkan harus menodai mata Ajeng. Rasanya sangat menyebalkan kenapa Ajeng harus melihat wajah laki-laki itu.


 


“Come here baby...,” pinta Bimo dengan mengepuk – epuk bed tempat tidur. Karena Ajeng hanya berdiam diri, Bimo segera menarik tangan Ajeng.


 


“Kembalikan kunciku, Bim! Aku mau pulang. Kamu turun aja dari sini,” ucap Ajeng dengan kesal.


 


Bukannya mengiyakan ucapan Ajeng, Bimo kembali menarik tubuh Ajeng ke bed. Dia membuka balutan kain selimut itu secara paksa dari tubuh Ajeng.


 


“Buka!” ucap Bimo sambil mengapit paha Ajeng.


 


“Stop Bim! Cukup! Aku bukan barang yang seenaknya bisa kamu pakai!” bentak Ajeng sambil menghalau tangan Bimo. Matanya menatap tajam mata Bimo. “Kamu memang benar aku ga pernah bermain dengan laki-laki manapun setelah kamu menghilang. Aku memang sengaja karena aku menjaganya untuk suamiku kelak!” jelas Ajeng.


 


“Aku yang akan menjadi suamimu, Ajeng. Gak akan ku izinkan pria manapun menyentuhmu!” balas Bimo semakin mencari cara untuk membuang selimut itu dari tubuh Ajeng. Bimo melempar jauh-jauh selimut itu sampai terjatuh di lantai mobil. Dia menghim pit tubuh Ajeng dengan mencengkram lengan Ajeng. “Aku gak akan membiarkanmu pulang  sebelum aku berhasil menghamilimu,” ucap Bimo membuat Ajeng melirik mata yang sedang menatapnya itu.


 


“Maksudmu?” tanya Ajeng heran. “Asal kamu tahu ya, Bim... Lima tahun yang lalu setelah pertengkaran mamamu dan ibuku, ibuku mencoba untuk memberimu kesempatan. Tapi kamu menghilang entah kemana,” jelas Ajeng.


 


Bimo tersenyum miring seolah tidak percaya dengan ucapan Ajeng.


 


“Aku ga akan ambil resiko lagi, Ajeng. Sebelum kamu hamil, aku ga akan izinkan kamu pulang ke rumah. Meskipun itu butuh waktu bertahun-tahun, aku gak akan beri izin kamu pulang,” ucap Bimo.


 


 


“Bim! Argh... Mpp...”


 


Lagi-lagi Bimo berhasil memasukkan miliknya ke sangkar Ajeng.


 


“Kamu cuma milikku. Hanya milikku, Ajeng.” Semakin mendesak dan mendesak. Pinggulnya itu dia goyangkan secara pelan. “I love you...”


 


Beberapa detik Bimo berharap ucapannya akan dibalas Ajeng. Tapi bibir itu mengatup rapat. Bimo cukup kesal dengan sikap Ajeng yang dingin. Tapi dia cukup memahami perasaan Ajeng. 5 Tahun berpisah tanpa kabar sudah pasti menyebabkan kesalah pahaman.


 


“Aku tidak peduli kamu balas perasaanku atau tidak. Yang pasti aku sangat mencintaimu... dan tubuhmu ini hanya milikku,” kesal Bimo. Dia mulai menggoyang dengan ritme kesukaannya. Ritme cepat, keras dan kasar.


 


“Egh... Argghh... Mpppp.....” de sah Ajeng. Tangannya mengepal kuat-kuat karena terasa ngilu.


 


Masih belum usai begitu saja, Bimo menge cup setiap inci leher... dada... dan buah kenyal itu. Kulit mu lus itu membuat Bimo semakin beringas tidak membiarkan Ajeng lepas dari cengkraman dan tindi hannya. Setiap Ajeng akan menjerit meminta tolong, jari tangan Bimo akan masuk menggoyang lidah Ajeng. Pipinya pun sesekali di cengkram oleh tangan Bimo. Ajeng sangat kualahan menghadapi Bimo. Gai rah s e x laki-laki itu sangat membuat tubuh Ajeng kualahan.


 


“I love you, baby... Argh... Argghh...” de sah Bimo. Pinggul itu menghen tak begitu dalam saat mengucurkan lelehan.


 


Bimo mengusap keringat Ajeng dan membenamkan wajah Ajeng ke da danya. Dia mendekap e rat – e rat agar Ajeng tidak pergi darinya.


 


“Aku ini manusia, Bimo. Kamu kasar!” ucap Ajeng kesal. Dia menangis sesenggukan di da da Bimo.


 


Mendengar keluhan itu, Bimo harus menghela nafasnya.


 


“Sorry baby. Karena dari tadi kamu melawan terus. Kalau kamu tidak melawan, aku bisa lebih halus. Kamu lihatkan, da daku banyak cakaranmu. Di sini berdarah, Ini juga luka...” Ucap Bimo sambil menunjukkan da danya.


 


Entah kenapa Ajeng juga merasa bersalah sudah membuat beberapa bagian tubuh Bimo luka.


 


“Sakit?” tanya Ajeng dengan mendongakkan kepalanya menatap mata Bimo.


 


Setiap sudut mata itu ada air mata. Wajah cantik itu membuat Bimo gemas.


 


“It's fine, baby. Yang penting kamu bersamaku sekarang,” jawab Bimo. Dia menge cupi pucuk kepala Ajeng dengan terus mendekap tubuh Ajeng. Meskipun Ajeng sudah sedikit melunak, Bimo tidak mau ambil resiko. Kakinya terus mengunci kaki Ajeng agar tidak pergi.


 


“Mau aku obati lukamu, ini?”tanya Ajeng dengan menunjuk salah satu da da Bimo yang luka karena cakarannya.


 


“Ga usah. Aku tidak mau kamu pergi dari bed,” jawab Bimo semakin mende kap Ajeng.


 


*****


Bersambung...


*****