
Kedatangan bu Clara di apartment saat ini membuat Ajeng bertanya-tanya. Wajah masam dan penuh kebencian dari bu Clara, terakhir kali Ajeng lihat saat acara cooking class Sasa. Tapi berbeda dengan hari ini. Ajeng tidak melihat ekspresi wajah itu. Wanita paruh baya itu justru melempar senyuman saat bertatap muka dengan Ajeng.
“Boleh saya masuk?” tanya bu Clara masih berdiri di dekat pintu masuk.
“Em... Mari tante,” balas Ajeng. Tangannya mempersiapkan bu Clara untuk masuk ke dalam apartment.
“Deni, sebaiknya kamu pergi jemput Sasa. Sebentar lagi jam pulang sekolahnya,” ucap bu Clara memberi perintah.
Kehadiran bu Clara semakin membuat Ajeng gugup setelah Deni pergi keluar dari apartment. Kalau ada Deni, setidaknya Ajeng bisa menyuruh Deni untuk mengajak bu Clara berbicara. Tapi kini hanya tinggal dirinya sendiri. Mau tidak mau Ajeng harus berbicara dengan bu Clara.
“Tante mau minum apa? Biar saya buatkan,” ucap Ajeng setelah bu Clara duduk di ruang tamu.
“Bisa buatkan green tea?”
“Yeah. Saya buatkan dulu ya,” balas Ajeng.
Tanpa banyak bertanya lagi, Ajeng segera pergi ke dapur untuk membuat green tea sesuai keinginan bu Clara. Bu Clara yang tengah duduk di ruang tamu, mulai mengambil handphonenya dari tas. Jari - jarinya mengetik sesuatu untuk mengirim pesan ke seseorang meminta hasil foto.
“Tante, ini green tea nya,” ucap Ajeng dengan meletak kan cup berisi green tea di atas meja depan bu Clara. “Ada kue – kue juga kalau tante mau,” ucap Ajeng yang kemudian membuka toples-toples kue di meja itu.
Senyum aneh itu kembali dilihat Ajeng dari bibir bu Clara.
“Kamu tahu tidak kenapa saya datang ke sini?” tanya bu Clara setelah mencicipi green tea buatan Ajeng.
“Em... Tidak,” jawab Ajeng singkat dengan membalas senyuman yang di lempar oleh bu Clara.
“Sebetulnya saat ini saya harus menemani Bimo untuk melakukan meeting penting,” sambung bu Clara. “Tapi... Karena Bimo merasa ingin memiliki private time dengan client nya itu, Bimo menyuruh saya untuk tidak hadir,” jelas bu Clara dengan senyum yang semakin lebar.
Ajeng masih belum mengerti arah pembicaraan bu Clara.
“Client pe-rem-puan yang sedang meeting dengan Bimo itu... Hm... penampilannya sangat anggun... Wajahnya sangattt sangattt cantik. Jauh banget bila di banding dengan kamu. Apalagi soal karir... Usianya pun juga jauh lebih muda dari kamu...”
Bagai disambar petir Ajeng mendengar kalimat dari bibir bu Clara. Kesal dan membuat emosinya mendidih secara cepat. Tapi Ajeng mencoba mengontrol emosinya itu agar tetap stabil. Mungkin saja bu Clara hanya sedang memanas-manasinya.
“Ga percaya ya...?” tanya bu Clara dengan senyuman mengejek. Dia mulai membuka layar handphonenya untuk menunjukan sesuatu ke Ajeng. “Nih...” Bu Clara menyodorkan handphonenya ke Ajeng. Dia menikmati perubahan ekspresi Ajeng dengan meneguk green tea yang ada di cup.
Api cemburu itu mulai menjalar di hati Ajeng saat dia melihat Bimo tengah duduk bersampingan dengan seorang perempuan. Yang membuat Ajeng semakin kesal adalah kenapa perempuan itu harus memakai baju model yang terbuka bila melakukan meeting.
“Cantik kan...” Bu Clara semakin menyulut api cemburu itu semakin besar. “Dia juga dari keluarga terpandang,” jelas bu Clara yang kemudian meletakkan cupnya setelah air teh habis.
Rasanya sudah cukup bagi Ajeng mendengar kalimat -kalimat menyebalkan dari bu Clara. Dia masih bisa menahan emosinya bila hanya dirinya saja yang diolok-olok. Tapi kini bu Clara membanding – bandingkan keluarganya juga.
“Saya sudah ga sabar punya menantu yang bibit bebet bobotnya sederajat dengan keluarga saya...” ucap bu Clara terus menerus membuat Ajeng kesal.
Ajeng sudah tidak sanggup lagi bila harus berada di dekat bu Clara dan mendengar celotehan wanita paruh baya itu. Dia mulai berdiri dari sofa.
“Mau kemana kamu?” tanya bu Clara dengan senyum puasnya.
“Biar saya buatkan green tea yang baru buat tante,” jawab Ajeng yang kemudian mengambil cup yang sudah kosong.
Ajeng berjalan dengan membawa cup yang sudah kosong menuju dapur. Pikirannya mengingat setiap slide foto yang dia lihat di handphone bu Clara.
“Dasar buaya! Pagi siang malam kamu buat aku capek. Tapi rupanya masih kurang juga!” kesal Ajeng setelah sampai dapur.
Kepalanya terasa berdenyut hebat karena wajah Bimo dan perempuan itu berkeliyaran di kepalanya.
PYARRRR CAARR KROMPYAAANGGG!!!
Kepala Ajeng yang terasa berat itu akhirnya membuatnya pingsan tidak sadarkan diri. Kening nya berdarah karena terbentur marmer dapur.
Bu Clara yang mendengar suara benda pecah belah terjatuh, mulai beranjak berdiri dari sofa. Dia sedikit tergesa-gesa karena penasaran dengan apa yang terjadi di dapur. Kakinya mulai bergetar saat melihat Ajeng yang sudah tergeletak di lantai. Apalagi ada darah segar yang keluar dari kening Ajeng.
“Hah?” bu Clara bingung harus mencari bantuan ke siapa karena di dalam apartment itu hanya ada di dirinya dan Ajeng. “Ajeng... Ajeng...” Bu Clara mencoba menepuk-nepuk salah satu lengan Ajeng. Dia berharap Ajeng bisa tersadar. Tapi nihil. Darah di kening Ajeng yang terus mengalir membuat bu Clara semakin panik. Dia tidak menyangka perbuatannya memanas manasi Ajeng akan berakibat seperti saat ini.
Bu Clara segera berlari mencari bantuan orang yang berada di luar apartment. Detak jantungnya berpacu lebih cepat. Kulit wajahnya pun memanas karena rasa panik.
Tak lama kemudian, bu Clara kembali ke dalam apartment itu dengan membawa beberapa orang untuk menolong Ajeng. Dia segera melarikan Ajeng ke rumah sakit dengan mobilnya, tapi orang lain lah yang menyetir mobilnya karena tangan nya terasa gemetar menghadapi situasi saat ini.
“Hallo...” sapa bu Clara pada sambungan handphone. Dia menelpon Bimo untuk menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini. “Bim, cepat ke Rumah Sakit Dr. Oen sekarang! Mama lagi larikan Ajeng ke rumah sakit. Kepalanya berdarah!”
Bimo yang mendengar ucapan mamanya menjadi panik. Dia kembali teringat dengan kejadian yang menimpa Jesslyn yang menyebabkan pembuluh darah di kepalanya pecah dan berakibat koma sampai merenggut nyawa.
“Ajeng kenapa, ma? Gimana bisa kok sampai berdarah?” tanya Bimo dengan suara cemasnya.
“Ck! Udah buruan susul kita ke rumah sakit! Mama--- mama juga ga tahu,” jawab bu Clara cepat.
Untung saja setelah sampai di rumah sakit, Ajeng langsung ditangani oleh dokter dan suster. Tapi bu Clara masih tetap panik karena dia masih harus menunggu hasil pemeriksaan.
“Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan... Huft...... Semoga anak itu segera sadar dari pingsannya,” bu Clara menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Tapi pikirannya terus terbayang dengan darah yang keluar dari kening Ajeng.
Ceklek.....
Beberapa saat kemudian suara pintu terbuka dari ruang UGD tempat Ajeng mendapat penanganan dari dokter dan suster.
“Dok... Gimana keadaannya?” tanya bu Clara.
“Hm... Untung saja luka di keningnya tidak begitu dalam,” jawab dokter. “Janin di perutnya juga baik-baik saja,” jelas dokter lebih lanjut.
Bu Clara terdiam beberapa saat mencerna kalimat terakhir yang dia dengar dari dokter.
*****
Bersambung...
*****