
Bimo menatap perubahan wajah Ajeng. Rasa penasarannya mulai muncul ingin mengetahui siapa penelpon itu.
"Siapa, Jeng?" tanya Bimo dengan meraih handphone Ajeng. Baru saja handphone itu dia pegang, getaran di handphone itu mulai lagi.
Ajeng yang melihat jari tangan Bimo hampir menggeser layar untuk menerima panggilan, segera merebut handphonenya. Tapi tangan Bimo bergerak lebih cepat dengan menjauhkan handphone itu dari Ajeng.
"Gak usah diangkat, Bim! Itu cuma gak penting," ucap Ajeng dengan menatap mata Bimo. Dia meyakinkan bila panggilan itu tidaklah penting.
"Kalau gak penting, kenapa dia sampai menelpon pada jam segini? Kalau sekarang di sini jam 2 dini hari berarti di sana jam 12 malam."
Bimo mulai bangkit berdiri untuk menerima panggilan itu. Dia tidak membiarkan Ajeng mendekatinya selagi menerima panggilan.
"Hallo?" Sapa Bimo dengan wajah seriusnya menatap mata Ajeng. Suaranya berubah lebih ngebas dan garang menanggapi si penelpon. "Siapa ini?"
Gery yang saat ini berada di Maldives cukup bingung mendapati suara orang yang dia telpon bukan suara Ajeng.
"Ajeng? Ini nomor Ajeng bukan?... Ini aku Gery."
Bimo mulai menghela nafasnya. Suara laki-laki itu membuat matanya semakin mendelik menatap Ajeng.
"Mau apa cari Ajeng?" tanya Bimo. "Kalau tidak penting gak usah nelpon Ajeng," tegur Bimo. Tangannya terus menghalau badan Ajeng yang ingin mendekatinya.
"Memangnya kamu siapanya Ajeng? Berikan handphonenya ke Ajeng. Aku mau ngomong sama Ajeng," pinta Gery tidak mau mendengar teguran Bimo.
"Aku calon suaminya Ajeng. Kalau kamu telpon tengah malam hanya untuk mengganggu calon istri orang, lebih baik kamu urungkan niatmu," ucap Bimo.
Bimo memilih untuk memutus panggilan itu. Nomor yang dipakai Gery untuk menelpon juga dia block.
Bug!
Handphone itu dilempar Bimo ke bed. Tangannya berkacak pinggang sambil memandangi handphone yang baru saja dia lempar.
"Apa laki-laki itu pernah mengirim pesan setelah kalian broke up (putus)?" tanya Bimo dengan nada tidak suka.
"Enggak pernah, Bim. Aku juga gak tahu dia dapet nomorku dari mana," jawab Ajeng jujur. Dia menduga salah satu temannya yang masih bekerja di perusahaan lamanya sudah memberikan nomor barunya ke Gery.
"Aku mau besok kamu ganti nomor. Ex boyfriend (mantan cowok) kamu itu pasti akan menghubungi kamu lagi kalau kamu gak ganti nomor," pinta Bimo. Dia mulai memeluk tubuh Ajeng dan mengke cup kening Ajeng.
"Tapi banyak temenku yang udah tahu nomorku itu, Bim. Lagian aku juga gak minta kamu buat ganti nomor meski aku tahu Jesslyn sok mau deketin kamu," sambung Ajeng dengan mendongakkan wajahnya menatap mata Bimo.
Bimo tersenyum tipis memandangi wajah Ajeng. Dia cukup gemas karena sepertinya Ajeng membandingkan kasus Gery dengan Jesslyn. Karena rasa gemasnya itu, tangan Bimo mulai mere mas pan tat Ajeng dan mendorong sampai buah da da itu mendepel dan mendesak ke da danya.
"Tapi kan ini beda khasus, Ajeng. Aku yakin laki-laki itu cuma mau merayu kamu dan mengganggu hubungan kita. Aku sudah tahu itu. Mungkin dia sudah menyesal pernah menyakitimu. Kalau sudah seperti ini, memang kamu mau balikan lagi sama dia?" tanya Bimo masih dengan tangan yang mencengkram bo kong ke nyal itu.
"Ya gak mungkinlah, Bim. Emang aku udah gila apa mau balikan lagi sama Gery?" Ajeng menjadi kesal karena merasa dirinya dituduh.
Ngapain juga aku mau nuker terong sama pisang kecil? Batin Ajeng semakin mencebikan bibirnya.
Bimo kembali gemas melihat ekspresi wajah Ajeng. Bibir manyun itu membuatnya ingin segera melahap. Tapi dia mencoba menekan ha sratnya karena ingin menikmati kemarahan Ajeng.
"Hiiihhhh...!" Ajeng balik mere mas keras pan tat Bimo karena laki-laki itu masih terus mendiamkannya. Dia tidak suka melihat sorot mata Bimo yang terus mendelik menatapnya.
Bimo yang sudah dari tadi menahan mulutnya ingin tertawa, tidak bisa lagi menahannya. mulutnya.
"Hahahaaa! Kenapa kamu meremas pan tatku? Suka kamu dengan pan tatku ini?" Goda Bimo sambil menuntun Ajeng ke bed.
"Aku mau tidur, Bim. Lagi gak mau kamu gangguin," ucap Ajeng yang kini sudah duduk di tepi bed. "Lagian tadi kan udah di minibus," ucap Ajeng dengan memegangi lengan Bimo untuk menghalau. Laki-laki itu sudah memegangi celananya untuk ditarik.
"Masih ngambek ya?" tanya Bimo. "Kan seharusnya aku yang ngambek karna kamu ditelpon sama ex boyfriend kamu itu. Kamu gak nyesal kan menjalani hubungan ini denganku?"
Ajeng mulai mengrenyitkan alisnya lagi. Dia mulai menduga mungkin saja Bimo sedang memikirkan masalah fertility. Secara kekasihnya itu sudah pernah dibuat kecewa sampai ditinggalkan karena masalah itu.
“Kenapa aku harus menyesal...? Kalau kupikir pikir... Kamu baik... Lebih—handsome... Terus... Em apa ya...” Bola mata Ajeng mulai berputar mencari kata untuk memuji Bimo. Senyum tipis di bibirnya itu membuat Bimo ikut tersenyum.
“Terus apa lagi? Gimana dengan urusan di atas bed? Lebih jago mana?” Goda Bimo. Dia mulai merangkak menuntun Ajeng agar lebih ke tengah bed.
Senyum tipis di bibir Ajeng semakin lebar karena Bimo semakin mendekatinya.
“Kamu pun tahu aku gak pernah ngapa-ngapain sama Gery... Udah ah! Jangan lihat aku kayak gini!” Ajeng mulai memekik dengan menolehkan kepalanya ke samping. Rasa geli di leher harus dirasakannya lagi karena Bimo kembali mencium dan me nye sap lehernya. “Aw! Bim...?” Tubuh Ajeng mulai terbaring di saat tangan Bimo menyelinap masuk ke dalam bajunya. Tangan itu mere mas dan mendorong salah satu buah kenyal milik Ajeng. “Bim, kamu ni gak ada capeknya ya? Udah jam segini hlo... Bentar lagi matahari nongol dan kita belom tidur,” ucap Ajeng. Lehernya menggeliyat – geliyat merasakan se sapan Bimo semakin dalam.
“Emang kamu capek?” tanya Bimo sambil menurunkan ce lana tidurnya. “Setiap kali main kan kamu cuma diam. Cuma aku yang bergoyang,” ucap Bimo dengan senyum tipisnya.
Ajeng mulai menggigit bibir bawahnya ketika melihat si pejantan kembali menegak di tangan Bimo. Kekasihnya itu seolah memamerkan benda lonjong yang siap untuk bertempur lagi. Bola mata Ajeng terus mengikuti setiap gerak – gerik tangan Bimo yang sedang mengko cok melakukan pemanasan.
“Bim, sekali aja ya?” tawar Ajeng sambil membuka akses pa hanya. “Aku emang gak ngerasa capek. Tapi punyaku ngilu udah kamu terobos berapa kali seharian tadi...” protes Ajeng. “Perih tahu udah kena aduk pakai jari terus kena sogok pakai terong,” ucap Ajeng.
Bimo yang sudah siap mengarahkan miliknya ke sangkar harus terhenti karena mendengar kalimat yang diucap Ajeng. Dia tertawa sambil mendesakkan kepalanya ke leher Ajeng. Ajeng ikut terkekeh dengan mengepuk – epuk punggung Bimo.
“Hahahaaa! Emang sebesar itu ya?” tanya Bimo dengan senyum lebarnya. Bibirnya berlanjut mengke cupi bibir Ajeng yang berada di bawah kungkungannya.
“Iya... Hihiii... Udah ah! Jangan ketawa terus. Udah ngantuk berat ni aku,” sambung Ajeng.
Akhirnya Bimo kembali melesakkan miliknya ke bagian in tim itu. Mata Bimo memandangi ekspresi wajah Ajeng ketika dirinya mendesak – desakkan miliknya untuk mencapai batas ujung terdalam. Raut wajah yang mengrenyit itu membuat Bimo puas karena membayangkan betapa kualahannya Ajeng menghadapi bi ra hinya.
“Are you okay?” tanya Bimo mulai menggerakkan pinggulnya.
“He'mm... I love you,” sambung Ajeng. Dia merasakan miliknya kembali berke dut – ke dut karena gerakan memutar dan mendesak sedang dilakukan Bimo.
******* Ajeng mulai terdengar ketika Bimo mulai menekan kuat-kuat miliknya. Kedua pucuk dimainkan Bimo secara bersamaan dengan gerakan me me ras.
“Ah... Mpp... Bim...”
“Have you done?” (Sudah selesai) tanya Bimo membuat Ajeng malu. “Now is my turn (sekarang gilaranku),” ucap Bimo.
Suasana semakin panas ketika Bimo mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang remang-remang. Dini hari itu dia membuat Ajeng kualahan. Apalagi ukuran bed yang besar dan kokoh membuat Bimo mengkerahkan seluruh tenaganya saat ini. Cucuran keringat di sekujur tubuh semakin menambah ga i rah permainan.
“Bim... No. Agh... Agghh... Aku dah gak sanggup, Bim. Capek, mataku juga udah ngantuk,” ucap Ajeng dengan mencengkram lengan Bimo. Nafasnya sampai tersenggal – senggal karena hentakan melebihi ketika dibanding bermain di minibus. Seluruh tubuh sampai terasa sangat ngilu karena benda lonjong itu sudah menggoyang lebih dari satu jam lamanya.
“Argh... Argh... Argh...” Pinggul yang bergoyang dengan ritme cepat itu kini perlahan melemah ketika seluruh benih menyembur. “Mau lagi?” Goda Bimo dengan mengusap keringat di wajah Ajeng. Dia mengke cupi pipi panas itu.
“No. Huft... Cukup...” Ajeng masih mengatur nafasnya.
Bimo mulai merengkuh tubuh Ajeng ke dalam dekapannya. Dia merentangkan tangan agar kepala Ajeng bisa dia rebahkan di lengannya.
“Good night baby. Love you,” ucap Bimo sebelum memejamkan matanya. Sepanjang dia tidur, tangannya terus memeluk tubuh Ajeng.
______
Wajah lelah dengan mata yang masih terpejam itu membuat Bimo ingin terus memandangi wajah Ajeng. Meski jarum jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, Ajeng masih belum bangun dari tidurnya.
“I love you Ajeng,” Bimo mengke cup pipi Ajeng.
Setelah menunggu Ajeng yang tidak kunjung bangun, Bimo memilih untuk meregangkan tubuhnya. Dia melakukan beberapa aktivitas pagi itu sambil menunggu Ajeng terbangun.
“Good morning, bisa tolong antarkan breakfast ke room 415? Saya mau order dua English Breakfast. Dan tolong carikan satu sim card baru. Yeah... Kartu apa aja boleh. Hm... Yeah... Thank you,” ucap Bimo pada telpon di kamar itu.
Setelah beberap menit menunggu, akhirnya apa yang dia pesan diantar juga.
Bimo memilih mengambil trolly yang sudah ditata makanan ke kamarnya. Dia tidak mengizinkan karyawan room service masuk ke kamarnya karena Ajeng masih tertidur tanpa busana.
“Mr. Bimo, ini sim card pesanan anda. Kalau ada yang mau dipesan lagi, langsung saja telpon room service. Dengan senang hati kami akan melayani. Dan Enjoy your breakfast. Have a good day, Mr. Bimo,” ucap karyawan room service.
“Thank you. Tolong masukkan billnya sekalian ke room saya. Nanti waktu check out saya akan bayar tagihan billnya. Have a good day,” ucap Bimo. Dia mengambil sim card dari tangan karyawan itu.
Pagi ini Bimo sengaja memesan sim card untuk mengganti sim card milik Ajeng. Dia tetap dengan pendiriannya karena dirinya tidak mau mantan pacar Ajeng kembali menghubungin Ajeng.
Tak lama setelah karyawan room service itu pergi, Ajeng mulai membuka matanya. Dia segera meraih baju untuk dipakai.
Pintu kamar yang menghubungkan ke balkon sudah terbuka saat dirinya melihat ke arah kanan. Di balkon itu Ajeng melihat Bimo sedang duduk di depan meja yang tertata makanan.
“Bimo...” sapa Ajeng.
“Hei... Good morning, baby,” sapa Bimo balik. Dia mengadahkan tangan kirinya meminta untuk dipeluk. “Gimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Bimo berlanjut mengke cup kening dan bibir Ajeng.
“Hm... Yeah,” jawab Ajeng. Pandangannya mulai tertuju ke tangan Bimo yang satunya. “Kamu apakan handphone aku, Bim?” tanya Ajeng mulai duduk di kursi depan Bimo.
“Aku ganti sim card kamu,” jawab Bimo santai.
“Hloh? Kamu kok gitu sih, Bim? Aku kan gak mau kamu ganti sim card aku...” Ajeng mulai mengeluh dengan meraih handphonenya dari tangan Bimo. “ Nanti kalau ibuk atau mbak Desi nelpon gimana?” tanya Ajeng dengan mengecek handphonenya. Nomor whatsapp pun ikut diganti oleh Bimo. Itu semakin membuat Ajeng kesal pagi ini.
“Kamu kan bisa kasih tahu mereka...” sambung Bimo dengan memegangi lutut Ajeng.
“Terus gimana yang lainnya? Aku mau kamu juga ganti sim card biar Jesslyn gak hubungi kamu!” pinta Ajeng masih sibuk mengecek handphonenya.
“Kalau nomorku kan nomor bisnis, Ajeng... Gak mungkin aku ganti,” jelas Bimo dengan menyunggingkan senyumnya.
“Ini namanya gak adil! Mana handphone kamu? Biar aku block nomor Jesslyn juga,” ucap Ajeng dengan mengadahkan tangannya meminta handphone Bimo.
*****
Bersambung...
*****