
Keesokan harinya, Ajeng yang baru saja selesai mandi, harus duduk di depan cermin untuk bersiap dimake up oleh team MUA. Wajah cantiknya akan semakin dipertegas dengan polesan make up. Untuk menambah kesan anggun, sepatu dengan heels cukup tinggi akan dikenakan Ajeng.
“Astaga nagaaaa... Ini high heels mu seperti ulekan cobek hlo, Ajeng.....? Hmmm... ini betulan kamu mau pakai hak tinggi ini, Ajeng?” tanya bu Heni. Dirinya begitu heran memandangi sepatu yang akan dikenakan anaknya itu. Lebih tepatnya dirinya risau karena Ajeng juga tengah hamil. “Ini aman ga buat kandungan kamu?” tanya bu Heni.
“Haduh ibuk... Ajeng pakainya cuma jalan dari sini terus ke taman tempat pemberkatan aja kok. Lagian nanti mas Idam juga akan berdiri di samping Ajeng. Habis sampai sana nanti Ajeng udah ditemani Bimo sambil duduk... Amaannn Buk...! Calon cucu ibuk aman,” timpal mbak Desi dengan senyumnya.
“Hmmm... Kamu ni... Selaluuu aja belain Ajeng!” bu Heni mencubit pipi anak sulungnya itu. “Kamu juga harus jaga kandungan kamu, Des! Udah mau brojol tuh adiknya Bunga. Jangan capek-capek.”
“Iya, buk. Jangan kuatir,” sambung mbak Desi lagi.
Suasana ruang rias sangat dipenuhi dengan nasihat- nasihat dari bu Heni. Dirinya sangat menaruh perhatian untuk acara pernikahan anak bungsunya. Tapi melihat wajah Ajeng yang nampak cerah, penuh senyum tanpa beban, seolah menunjukan kalau anaknya itu sangat bahagia saat ini.
Tak lama setelah percakapan itu, mas Idam kakak ipar Ajeng datang untuk mengantar Ajeng menuju lokasi pemberkatan.
“Ajeng, udah selesai dandannya?” tanya mas Idam. “Kamu kelihatan beda hari ini. Kayak embak mu dulu waktu aku nikahin. Auranya nampak terpancar,” Puji mas Idam membuat orang- orang di ruang rias itu tersenyum.
Ajeng yang dipuji hanya membalas dengan senyum manisnya. Dirinya pun merasa lebih ringan. Akhirnya kesabaran dan ketulusannya mencintai Bimo membuahkan kebahagian.
“Udah siap menuju tempat pemberkatan?” tanya mas Idam sambil mengulurkan tangannya ke Ajeng.
Dengan perasaan tenang dan damai, Ajeng meraih tangan mas Idam. Dirinya sudah siap untuk menyambut hidup baru. Hidup dalam bahtera rumah tangga sebagai istri dari Albertus Bimo.
“Ya, mas. Yuk, aku siap,” ucap Ajeng setelah merangkul lengan mas Idam.
Sepanjang berjalan menuju tempat pemberkatan, bibir Ajeng selalu menebarkan senyum. Dirinya pun berjalan pelan-pelan karena mengingat langkah kecil kaki Sasa dan Bunga yang berjalan di belakangnya.
“Ajeng, Selamat ya. Semoga kamu bisa hidup bahagia dengan Bimo,” ucap mas Idam di saat berjalan mengantarkan Ajeng ke tempat pemberkatan. Kalimat sederhana bagai doa itu semakain membuat Ajeng bahagia. Dirinya mengangguk dan mengaminkan untuk harapan yang baik dari kakak iparnya itu.
Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, Bimo yang kini tengah berdiri menunggu calon istrinya, bisa melihat wajah cantik Ajeng. Anggun. Begitulah kesan yang dilihat mata Bimo. Ajeng nampak lebih cantik dan anggun dengan balutan putih gaun pengantin.
Setelah sekian lama dan sempat berpisah bertahun-tahun, akhirnya moment spesial yang diharapkan terjadi juga.
Bimo mengulurkan tangannya menyambut Ajeng yang sudah berdiri di dekatnya. Semua mata memandangi Ajeng dan Bimo. Serasi. Begitulah mereka melihat pasangan yang sedang berbahagia itu.
Keduanya mulai duduk untuk menerima pemberkatan nikah. Suasana terasa semakin sakral di saat Bimo mengucapkan janji pernikahannya.
“Ajeng Kencana... Saya Albertus Bimo memilih engaku menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadamu, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup. Sampai maut memisahkan. Saya akan berada di sisimu selalu dengan lindungan Tuhan.”
Ajeng yang mendengar janji pernikah keluar dari bibir Bimo, tak kuasa menahan bulir air mata kebahagiannya. Bulir itu pun akhirnya menetes. Dirinya terharu bahagia. Bimo yang menyadari kalau air mata Ajeng mulai menetes, semakin menggengggam eeratt tangan Ajeng.
Setelah menarik nafas panjang, kini giliran Ajeng mengucapkan janji pernikahannya.
“Albertus Bimo... Saya Ajeng Kencana memilih engaku menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadamu, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup. Untuk selamanya dalam bimbingan Tuhan,” ucap Ajeng.
Keduanya begitu lega setelah mengucapkan janji pernikahan itu.
Kini tibalah saatnya Sasa membawakan cincin pernikahan yang berada di kotak cincin. Sasa berjalan menuju meja tempat pemberkatan Ajeng dan Bimo. Tapi tiba-tiba saja tidak sengaja kakinya tersandung karena menginjak gaun panjang yang dipakainya. Kotak cincin itu pun jatuh menggelinding.
Ajeng dan Bimo yang melihat Sasa terjatuh jadi panik. Mereka sampai berdiri dari kursinya. Tapi untungnya ada Deni yang sigap menolong Sasa.
“Om, kotak cincinnya jatuh,” ucap Sasa. Wajahnya nampak malu karena semua mata memandanginya setelah terjatuh. Dirinya pun panik karena kotak cincin itu menggelinding entah kemana.
“Hai...” sapa seseorang berjalan menuju Sasa. “Ini kotak cincinnya. Lain kali hati-hati ya,” ucap orang itu. “Ayo aku anterin ke sana,” ucapnya sambil mengambil alih tangan Sasa yang dipegang Deni.
Bimo dan Ajeng pun nampak lega karena tidak terjadi hal yang serius kepada Sasa. Cincin pernikahannya pun kini sudah ada di meja pemberkatan.
“Thank you ya, Raka,” ucap Bimo sambil mengusap bahu Raka.
“Thank you, boy...” Bimo begitu lega karena sekarang kotak cincin itu berada di tangannya.
Raka segera menuntun Sasa kembali ke kursi untuk menyaksikan acara pemberkatan yang masih berlangsung.
Akhirnya setelah acara tukar cincin antara Bimo dan Ajeng, kini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri. Lega... Begitulah yang dirasakan Bimo dan Ajeng saat ini. Begitu pula dengan bu Heni dan Bu Clara. Sebagai orang tua, akhirnya mereka berhasil mengantarkan anak-anaknya sampai kejenjang pernikahan.
“I love you, my wife,” ucap Bimo menatap mata Ajeng. Tangannya menggenggamm erratt kedua tangan Ajeng.
“I love you too, my husband,” balas Ajeng dengan matanya yang dipenuhi sorot kebahagian.
Pelan-pelan Bimo meraih tengkuk Ajeng dan menci um lembut bibir Ajeng di depan meja pemberkatan. Bimo sedikit menahan tengkuk Ajeng untuk menye sap sedikit dalam bibir istrinya itu.
Semua orang yang memandang memberikan tepuk tangan untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin baru itu.
“Love you so much, Ajeng. My wife...” Bimo menyapu bibir Ajeng yang sedikit basah. Ajeng pun membalas dengan menyapu bibir Bimo juga dengan ibu jarinya.
“Love you too, my husband.”
Semua orang di tempat itu bersorak – sorai memeriahkan kelancaran pemberkatan pernikahan Ajeng dan Bimo. Sasa pun nampak begitu senang akhirnya dirinya memiliki sosok mommy seperti Ajeng.
“Sasa... sini... ayo kita foto bersama,” ajak Ajeng. Dia melambaikan tangannya agar Sasa segera berjalan menuju meja pemberkatan.
“Jalannya hati-hati ya,” ucap Raka yang duduk di samping Sasa.
Sasa yang masih malu karena terjatuh, memilih untuk memamerkan giginya. Bukannya berjalan hati-hati, dirinya justru berlari sambil mengangkat gaun panjangnya menuju tempat kedua orang tuanya yang berdiri saat ini.
“Ayo kita foto, mommy, daddy...” ucap Sasa sambil sibuk mencari spot terbaik untuk berdiri diantara mommy dan daddynya.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!!!
Akhirnya moment bahagia itu berhasil diabadaikan dengan kamera. Semua tamu yang hadir pun mulai saling bergantian untuk mendapat kesempatan berfoto bersama Ajeng dan Bimo.
“Selamat ya Bimo. Finally setelah sekian lama kita tunggu, kalian nikah juga,” ucap Galang, ayah dari Raka. Dia menjabat tangan Bimo sambil menepuk-nepuk bahu Bimo.
“Thanks Galang buat waktunya hadir di acara kami. Thank you so much, dude! (Makasih banyak, sobat!)” balas Bimo sambil membalas menepuk bahu Galang.
“Congratulations, brother! Kalian berdua memang serasi dari dulu,” ucap Raja yang kini menjabat tangan Bimo.
“Bilang saja kalau kamu lega karna Bimo ga jadi nikahin Sekar dulu,” sela Galang membuat Bimo dan Raja tertawa.
Ajeng yang sibuk menyalamai istri Galang dan Raja pun menjadi melirik Bimo di saat suaminya tengah tertawa bersama Raja dan Galang.
“Jangan keras-keras. Ajeng agak sedikit sensitive. Lagi hamil muda dia,” bisik Bimo kepada Galang dan Raja.
Galang dan Raja yang baru mengetahui kabar baik kalau Ajeng tengah hamil menjadi bersorak terkejut.
“WOOWW...! Hahahaaa....!” seru Galang dan Raja. Mereka tidak menyangka mendengar kabar baik itu secepat ini.
“Hmmm.... Pantas acara nikahnya mendadak. Itu rupanya... Tokcer juga ya...” sambung Galang dengan menggoyangkan jari telunjuknya menunjuk Bimo.
“Padahal aku sama Galang mau nawarin tempat bagus buat honeymoon. Kita pikir kamu bisa mencetaknya di sana. Rupanya udah jadi duluan,” sambung Raja membuat ketiga laki-laki dewasa itu tertawa lepas lagi.
Pikiran Bimo pun melayang mendengar kata honeymoon. Dirinya memang selalu menghabiskan waktu bersama Ajeng setiap hari. Tapi kegiatan honeymoon tentu saja berbeda bila hanya dibandingkan menghabiskan waktu bersama di dalam kamar.
Hmm... Enaknya honeymoon kemana ya? Batin Bimo sambil melirik memperhatikan Ajeng.
*****
Bersambung...
*****