My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Tinggal Di Apartment



Bimo tersenyum kegirangan mendengar pertanyaan Sasa. Wajah Ajeng terlihat bingung bagaimana dia harus menjelaskan ke Sasa tentang kenapa dirinya masih terbaring di atas bed bersama Bimo.


 


“Em... iya, Sa. Tante kecapekan jadi masih tiduran jam segini. Sasa apa kabar? Lagi istirahat ya?” tanya Ajeng mengalihkan pembicaraan yang menurutnya belum pantas untuk anak kecil itu dengar.


 


“Kabar Sasa kangen sama mommy Ana. Sasa pingin dimasakin mommy lagi. Nanti pulang sekolah mommy jemput Sasa ya... Sasa udah minta alamat rumah ke om Deni, assistant daddy.”


 


Bimo seperti tidak suka mendengar permintaan Sasa. Kalau Ajeng harus mengantarkan Sasa pulang, itu artinya Ajeng akan bertemu mamanya. Dia tidak mau hal itu terjadi karena tentu saja mamanya itu akan menentang hubungannya yang kembali terjalin dengan Ajeng.


 


“Sasa, nanti kamu pulang sekolah dijemput sama om Deni. Jangan bandel. Daddy mau kamu mandiri,” sambung Bimo setelah merebut handphonenya dari tangan Ajeng.


 


Suara handphone itu mulai meledak karena secara spontan Sasa menangis setelah mendengar ucapan Bimo. Baru saja dia mengharapkan untuk dimanja oleh Ajeng, tapi harapannya dipatahkan oleh Bimo.


 


“Daddy jahat! Huuaaaaaa! Sasa mau mommy Ana! Sasa ga mau om Deni! Sasa juga ga mau sama daddy! Heeggg huuhuuu....”


 


“Keterlaluan sekali kamu, Bim!” ucap Ajeng. Tangannya mencoba merebut handphone itu dari tangan Bimo. Tapi Bimo menghalaunya.


 


“Aku ga mau kamu antar Sasa ke rumah. Di rumah ada mama,” jelas Bimo.


 


“Paling tidak biarkan Sasa bertemu denganku. Kamu jahat banget sih bikin anak kecil sedih sampai nangis kayak gitu...” timpal Ajeng. “Habis itu kan kamu bisa antar Sasa pulang,” jelas Ajeng.


 


Ajeng mulai meraih tangan Bimo untuk menghadapkan layar handphone agar bisa melihat Sasa.


 


“Sasa... nanti tante jemput Sasa. Sasa gak boleh nangis. Nanti biar daddy kamu, tante marahin kalau bikin Sasa sedih lagi. Okay...?” bujuk Ajeng.


 


Akhirnya Ajeng bisa melihat Sasa menghapus air matanya. Senyuman di bibir mungil itu membuat Ajeng lega.


 


“Sasa pulangnya masih 2 jam lagi, mommy. Mommy gak akan telat seperti daddy kan?” tanya Sasa masih sesenggukan tangisnya.


 


“Iya sayang... Sebelum jam pulang, Sasa, nanti tante pastikan udah ada di sekolah Sasa,” jawab Ajeng.


 


Akhirnya pembicaraan di handphone itu berakhir dengan senyuman oleh Ajeng dan Sasa. Ajeng cukup senang karena bila nanti dirinya menjemput Sasa, itu artinya Bimo harus mengantar Sasa pulang, dan dirinya bisa terbebas dari Bimo.


 


“Nih handphone kamu,” ucap Ajeng membalikkan handphone ke Bimo. “Setelah Sasa ketemu sama aku, nanti kamu bisa ajak balik Sasa ke Jogja.”


 


“Kamu pikir setelah itu kamu bisa bebas dari aku? Heh!” sambung Bimo dengan senyuman miring di bibirnya. “Kita akan tinggal di apartment yang dulu pernah aku beli di Solo... Kamu tetap gak akan kubiarkan pulang ke rumahmu,” jelas Bimo membuat Ajeng melongo.


 


Ajeng terdiam menatap Bimo yang tengah duduk di atas tubuhnya. Kedua tangan  kekar itu kembali mere mas – re mas buah kenyalnya.


 


“Bim, biar aku mandi dulu. Kita harus jemput Sasa. Kamu ga tahu betapa murungnya wajah Sasa saat kamu telat jemput kemarin,” ucap Ajeng membuat Bimo menghentikan aktivitasnya perlahan.


 


Akhirnya mereka menuju kamar mandi bersama. Tidak sedikitpun Bimo melepas tangannya dari tubuh Ajeng.


 


Ritual mandi yang biasanya dilakukan Ajeng secara cepat, harus menjadi sedikit lama karena Bimo memandikannya dengan cara berbeda. Dia berjongkok di depan Ajeng dengan menjulurkan lidahnya untuk menji lati bagian in tim itu. Lidahnya bergoyang ke kanan ke kiri dan menelusup lebih dalam dari lubang sangkar menuju atas titik spot sensitive. Bimo menye sap dalam – dalam di bawah pu sar Ajeng sampai meninggalkan bekas hitam pekat di sana. Belum berakhir begitu saja, Bimo memaksa Ajeng untuk melahap miliknya. Dia mendorong dan menarik kepala Ajeng agar mulut Ajeng melahap  lahap miliknya.


 


“Se sap lebih lama baby... Aghhh... Se sap terus baby... Yeah...”


 


Rasanya sangat mual dirasakan Ajeng karena milik Bimo terasa lebih besar dibanding sebelumnya.


 


“Lick and suck my eggs.... Please...” menekan semakin dalam kepala Ajeng ke miliknya. “Yeah...Aghhh... Ssshhh  Aghhh...”


 


 


Dengan gerakkan cepat Bimo membalikan tubuh Ajeng untuk menungging. Dia kembali mengko cok miliknya ke lubang Ajeng cukup lama. Lantai kamar mandi yang sedikit licin membuat Ajeng tidak bisa banyak bergerak. Bimo menghen tak  lorong itu dengan ritme kesukaannya.


 


“Agghh... Bim... Cukup...” terenggah – engaaahh sambil menoleh wajah Bimo di belakangnya.


 


“It's coming... (Lagi mau nyembur) Arghh.... Arghhh... Mmmpphhhh....” de sah Bimo. Dia manarik miliknya dan mendekap tubuh Ajeng dari belakang setelah mencapai kli maksnya. “Love you, Ajeng,” ucap Bimo. Tangannya mulai menyalakan shower air dan menggosok tu buh Ajeng untuk dimandikan.


 


Selesai ritual mandi yang hampir menghabiskan waktu satu jam, Bimo mulai menjalankan minibus menuju sekolah Sasa.


 


“Aku mau nunggu Sasa di depan kelas,” ucap Ajeng.


 


“Hm... Aku ikut,” sambung Bimo.


 


Rupanya kedatangan Ajeng dan Bimo sangat tepat pada jam pulang sekolah Sasa. Ini adalah pertama kalinya Bimo menjemput Sasa sampai di depan kelas. Sewaktu tinggal di Melbourne, Bimo tidak pernah melakukan hal yang seperti dia lakukan saat ini.


 


“Mommyyy......!” sapa Sasa setelah keluar dari kelas. Hari ini dia sedikit keberatan membawa tas gendongnya karena banyak buku pelajaran.


 


Sasa begitu senang memeluk Ajeng dengan erat. Keberadaan Bimo seperti tidak dilihatnya yang berdiri di belakang Ajeng.


 


“Wah... Sini tasnya biar tante bawa,” ucap Ajeng dengan melepas tas gendong itu dari punggung Sasa. “Berat banget tasnya?” tanya Ajeng. “Mau tante gendong?”


 


Wajah ceria Sasa yang sudah bersiap untuk digendong Ajeng menjadi cemberut karena Bimo meraih tubuhnya. Bimo tidak mau  membiarkan Ajeng lebih kelelahan karena dirinya sudah menguras tenaga Ajeng di atas ranjang.


 


“Daddy...? Sasa maunya digendong mommy. Bukan daddy! Lagian tumben banget daddy jemput Sasa on time?” tanya Sasa.


 


“Mommy kamu capek. Lain kali saja minta gendong mommy,” jawab Bimo.


 


Meski Bimo harus menggendong Sasa, dia juga tidak melepas tangan Ajeng dari genggammann tangannya. Sedikitpun Bimo tidak memberi  celah ke Ajeng untuk lepas darinya.


 


Siang ini juga Bimo segera membawa Ajeng dan Sasa menuju apartment. Tidak mungkin bila mereka bertiga terus menerus berada di minibus. Selain karena ruang di minibus kecil, dia juga membutuhkan tempat khusus agar bisa bersama Ajeng.


 


“Wauuwww... Kita bertiga akan tinggal di sini ya, daddy?” tanya Sasa dengan berlari-lari mengecek setiap ruangan.


 


“Yeah... Sasa bisa tidur di kamar yang sebelah kiri,” jawab Bimo. “Biar daddy sama mommy pakai kamar yang sebelah kanan,” jelas Bimo dengan menatap mata Ajeng. “Sasa cukup pintar memilih kamu sebagi mommynya,” bisik Bimo ke telinga Ajeng dengan senang.


 


Bimo masih tidak menyangka bila Sasa bisa dekat dengan Ajeng semudah seperti saat ini.


 


“Daddy...” sapa Sasa berlari ke arah Ajeng dan Bimo.


 


“Yeah?” tanya Bimo dengan berjongkok melihat lebih dekat wajah Sasa.


 


“Sasa mau satu kamar sama mommy dan daddy... bolehkan?” tanya Sasa.


 


Bibir Ajeng tersenyum kecil menatap Sasa dan Bimo.


 


*****


Bersambung...


*****