
Meskin insting Ajeng mengarah kepada sosok perempuan yang dikenalnya, dia cepat-cepat menepis hal itu. Harapannya semoga saja kalau perempuan yang bernama Eva itu bukanlah Eva yang dia kenal.
Setelah berjam – jam berada di pesawat, kini Bimo dan Ajeng menginjakan kakinya di Bandara International Hamad Doha. Ada banyak wajah laki – laki berjamban yang dilihat oleh Ajeng. Postur tubuhnyapun terlihat tinggi – tinggi.
“Welcome to Qatar, Mr. Bimo... I'm Kadeer, assistant Mr. Ahmad,” sapa laki-laki berjas hitam. Matanya ikut melirik keberadaan Ajeng yang berdiri di samping Bimo. (Selamat datang ke Qatar, Mr. Bimo... Saya Kadeer, assistantnya Mr. Ahmad)
“Thank you Kadeer. Nice to see you. I came here with my girlfriend, Ajeng (Aku datang ke sini dengan pacar saya),” sambung Bimo dengan meraih bahu Ajeng.
“Welcome to Qatar Miss Ajeng. Nice to see you...” ucap Kadeer dengan ramah.
Tak lama setelah perkenalan itu, Kadeer membawa Bimo dan Ajeng ke mobilnya. Mereka segera menuju ke salah satu hotel yang dimiliki oleh Mr. Ahmad.
“Bim, kata mu pendapatan per kapita orang di Qatar paling tinggi di dunia, kok masih ada pedagang toko-toko kecil di sekitar jalan?” tanya Ajeng ketika berada di dalam mobil.
“Em... mereka itu bukan Qatari (orang Qatar). Perawakan mereka memang sekilas terlihat sama seperti Qatari, tapi sebetulnya mereka orang Egyptian, Pakistani...” jelas Bimo. “Sejauh ini, setahu aku tidak ada Qatari yang hidup kekurangan. I'm sure, Kadeer ini juga bukan Qatari.”
“Em...” Ajeng mengangguk dengan mencuri pandang ke Kadeer.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil yang ditumpangi mereka kini masuk di kawasan hotel yang bangunannya terlihat unik dari luar. Seperti piramid.
(Note: Visual Hotel Sheraton Grand Doha Resort & Conversation Hotel. Anggap saja pemiliknya adalah Mr. Ahmad... tentu saja ini imaginasi author)
Kadeer dengan sigap membantu Bimo dan Ajeng menurunkan koper mereka. Dia juga mengantar Ajeng dan Bimo ke kamar yang sudah disiapkan.
“Welcome to your room Mr Bimo and Miss Ajeng. You may have a rest first before meet up with Mr. Ahmad later at dinner time,” ucap Kadeer. Setelah membukakan pintu kamar. (Selamat datang ke kamar anda pak Bimo dan nona Ajeng. Kalian boleh istirahat terlebih dulu sebelum bertemu dengan Mr. Ahmad nantinya pada waktu makan malam)
“Yeah, thank you so much, Kadeer,” sambung Bimo.
Akhirnya Bimo dan Ajeng bisa merebahkan tubuh mereka di bed. Kamar yang memiliki design dengan sentuhan warna merah dan emas itu terlihat begitu mewah.
“Baby, mama aku bilang kemarin dia gak jadi ketemu ibu kamu karena ada acara mendadak di Melbourne,” ucap Bimo sambil memiringkan tubuhnya untuk memandangi Ajeng.
“Yeah, mbak Desi juga kirim pesan soal itu,” sambung Ajeng.
“Semoga kita gak akan lama-lama di sini karena aku mau nemuin calon ibu mertua ku.”
Keduanya tersenyum saling pandang. Akhirnya bisnis trip akan segera selesai.
_______
Setelah hari mulai sedikit petang, Ajeng dan Bimo segera menyiapkan diri untuk bersiap menghadiri undangan makan malam.
“Bim, aku gak pa pa kan pakai baju kayak gini?” tanya Ajeng.
Gaun warna biru yang melekat di tubuh Ajeng itu nampak pas dan menonjolkan lekuk tubuh Ajeng.
“Beautiful... Tapi sebenarnya aku lebih suka kamu gak pakai baju sama sekali,” ucapnya yang kemudian mencium rambut kepala Ajeng. Jenis kain yang melar pada gaun Ajeng sangat mudah bagi Bimo untuk menyibak gaun itu tersingkap naik.
“Mphh..... Bim...?” Ajeng mele nguh saat 2 jari Bimo kembali masuk ke bagian in timnya. Bahunya didorong agar condong bertumpu pada meja untuk memudahkan Bimo bermain pada lorong lembab itu. “Bim, acaranya bentar lagi hlo... Aghhh.....” Ajeng semkin melenguh disaat 2 jari itu masuk semakin dalam menari-nari pada dinding lorong. Buah da danya pun ikut dire mas - re mas oleh salah satu tangan Bimo.
“It's fine... Ini juga lebih penting,” ucap Bimo. Dengan gerakan cepat, kini dirinya berhasil menghujamkan miliknya lagi.
Permainan itu tidak berlangsung lama setelah handphone Bimo bergetar. Tapi dirinya sudah berhasil membasahi sangkar Ajeng dengan cairan hangat.
“Sorry ya, dress kamu bagian belakang sedikit kusut. But it's fine. Lagi pula kita akan makan malam di rooftop yang light nya gak begitu terang,” ucap Bimo sambil menepuk nepuk pan tat Ajeng.
“Yeah, ga apa. Toh nanti kita juga akan duduk saat makan,” ucap Ajeng sambil merapikan rambutnya.
______
Sepanjang perjalanan menuju rooftop, tangan Bimo selalu bertengger di pan tat Ajeng.
Restaurant di rooftop bangunan Sheraton Grand Resort itu nampak luas. Pencahayaan warna lampu yang berwarna gold menambah kesan romantis di tempat itu.
“Untung aja dipasang pendingin di luar ruangan, kalau tidak dalam 1 menit baju kita bisa basah karena keringat,” ucap Bimo sambil berjalan menuju meja makan. “Kadeer kirim pesan kalau Mr. Ahmad akan datang sedikit terlambat karena girlfriend dia masih di salon,” ucap Bimo.
“Ga pa pa. Tapi kita bisa order minum duluan kan?” tanya Ajeng dengan mengambil buku menu di sampingnya.
Setelah beberapa saat kemudian, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang datang di meja mereka. Wajah Mr. Ahmad sudah tidak asing bagi Bimo. Tapi yang mengherankan, Ajeng pun juga tidak asing dengan wajah perempuan yang berdiri di samping Mr. Ahmad.
“Good evening! How are Mr. Bimo?” sapa Mr. Ahmad mengajak berjabat tangan. “It's been long time since you moved to Indonesia, we haven't seen each other...” Ucap Mr Ahmad. (Sudah lama sejak kamu pindah ke Indo, Kita gak pernah saling ketemuan)
“Yeah... that's true... How are you?” sambung Bimo. Keduanya masih berjabat tangan.
“Alhamdulillah... I'm good. You know what... I have new girlfriend now... Her name Eva. Actually she is from Indonesia. But now she has changed her nationality become Thai...” ucap Mr. Ahmad. (Alhamdulillah... Saya baik. Tahu gak kamu... Aku punya pacar baru sekarang... Namanya Eva. Sebetulnya dia dari Indonesia . Tapi sekarang dia sudaab merubah kewarganegaraannya menjadi orang Thailand...)
Wajah dan postur tubuh perempuan yang berada di depan Ajeng itu benar-benar mirip Eva. Tapi perempuan itu bersikap seolah tidak mengenali Ajeng.
“Hai! I'm Eva. My boyfriend bilang kamu bisa bicara bahasa. Senang berjumpa dengan mu,” ucap Eva mengajak Bimo berjabat tangan.
“Yeah, terimakasih,” balas Bimo. Dia segera menarik tangannya dari Eva karena tangan Ajeng tiba-tiba merangkul lengannya. “And, I also came with my girlfriend. She is Ajeng...” ucap Bimo. (Dan juga saya datang dengan pacar saya. Dia Ajeng...)
Dengan sikap ramahnya Ajeng mengulurkan tangannya ke Mr. Ahmad. Laki-laki itu menyambut tangan Ajeng. Tapi beda halnya ketika dia mengulurkan tangan ke Eva.
“Let's seat... I'm getting hungry now (Ayo duduk... Aku mulai lapar sekarang),” ucap Eva dengan melingkarkan tangannya ke lengan Mr. Ahmad.
Bimo merasa janggal dengan sikap Eva yang seolah tidak suka dengan keberadaan Ajeng. Bimo hanya mengusap punggung Ajeng dan mengke cup pucuk kepala Ajeng agar Ajeng bisa lebih bersabar menghadapi sikap Eva.
Hidangan makanan pada acara dinner malam ini segera datang setelah keempat orang itu duduk di kursi. Mr Ahmad sengaja meminta para pelayannya agar menyajikan hidangan terbaiknya.
“MasyaAllah MasyaAllah... perfect. This is my favourite. Both of you have to try it... Let's eat!” ucap Mr. Ahmad. (MasyaAllah... MasyaAllah... sempurna. Ini kesukaan saya. Kalian berdua harus mencobanya... Mari makan!)
Rasa kesal harus bertemu dengan Eva membuat Ajeng melahap banyak makanan. Wajah menyebalkan dan sorot mata di depan Ajeng itu terus menerus memperhatikan Bimo.
Ngapain sih si ular betina ini harus ngeliatin Bimo terus...? Ga tahu diri banget padahal Mr. Ahmad ada di sampingnya. Awas aja kalau sampai dia berani deketin Bimo. Ku pites pites nih orang! Gerutu Ajeng dalam batin dongkolnya.
Selama Ajeng menyantap makanan, lidahnya serasa bagai terowongan tempat melintas saja. Pemandangan menyebalkan di depannya membuat Ajeng tidak bisa menikmati rasa makanan. Sorot matanya pun tidak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Eva sampai mereka selesai makan.
“We have a dancing stand there. Ahmad, can i dance with Bimo? Only 5 minutes, habibi...,” ucap Eva. (Kita punya stand tempat dansa disana. Ahmad, boleh aku berdansa dengan Bimo, cintaku?)
Permintaannya itu tentu menyulitkan Mr. Ahmad untuk melarang Eva di depan Bimo dan Ajeng.
“Hm... why not...? Are you okay dancing with Eva?” tanya Mr. Ahmad dengan menatap Bimo dan Ajeng. (Hm... mengapa tidak...? Apa kamu gak pa pa berdansa dengan Eva?)
Tentu saja Bimo harus meminta izin ke Ajeng. Dia melirik memperhatikan sorot mata Ajeng. Ajeng yang merasa sungkan terhadap Mr. Ahmad terpaksa mengangguk mengiyakan.
Akhirnya Eva bisa menggandeng lengan Bimo berjalan menuju stand dansa. Bimo yang merasa tidak nyaman, terus berusaha menjaga jarak agar Eva tidak terlalu mendekatinya
“Sejak kapan kamu menjalin hubungan bersama Ajeng?” tanya Eva membuka obrolan ketika sedang berdansa. “Bukannya Ajeng baru putus ya dengan Ex (mantan) dia yang bernama Gerry?” tanyanya lebih lanjut membuat Bimo heran.
Bimo tidak pernah menduga kalau Eva bisa tahu soal masa lalu Ajeng.
“Kamu tahu tidak tentang keluarga Ajeng? Gery bilang familynya Ajeng susah dapet keturunan karena memang ada faktor turun temurun?” pertanyaan itu semakin membuat Bimo heran. “Kalau kamu mau, aku bisa hamil untuk, mu... Kita bisa mencobanya malam ini. Dengan senang hati aku akan melayani kebutuhan s e x mu...” ucap Eva tanpa rasa malu sedikitpun. Kakinya mulai berjinjit untuk menggapai bibir Bimo. Tapi dengan sigap Bimo memalingkan wajahnya. Namun karena gerakkannya kalah cepat, bibir itu berhasil menggapai wajah Bimo. Setidaknya Eva bisa mencium sudut bibir Bimo.
“Shhiiiitttt....!” (Siaaalll...) umpat Bimo.
Sorot mata Ajeng yang tidak pernah lepas ketika memandangi Bimo berdansa dengan Eva juga syok melihat adegan itu. Ingin marah dan mengulang jurus cakar ayam seperti di Maldives, rasanya tidak mungkin. Banyaknya pengunjung di restaurant itu tentu saja akan membuatnya malu sendiri.
BRAK!
Ajeng menggedor meja makan itu dengan tangannya.
Dirinya tidak bisa menaham emosinya lagi. Tapi Ajeng juga merasa tidak sanggup menghajar Eva. Kalau hal itu sampai terjadi, pasti hanya akan menambah daftar kesalahan dirinya. Maka dari itu, Ajeng memilih bangkit dari bangkunya dan pergi dari restaurant itu.
Tapi sialnya lagi, Ajeng bertabrakan dengan tubuh Mr. Ahmad yang baru saja kembali dari toilet.
Bug!
“Are you okay?” tanya Mr. Ahmad. Ada sesuatu yang mencurigakan tidak diketahuinya. Tanpa berlama-lamaan, Mr. Ahmad dan Ajeng menoleh ke arah Bimo dan Eva ketika semua mata tertuju pada keduanya.
Rupanya Bimo tengah menampar pipi Eva. Hal itu membuat Mr Ahmad naik darah karena dia menilai Bimo sudah terlalu lancang.
“What the fu ck your boyfriend doing?!” umpat Mr Ahmad menatap Ajeng. (Apa – apaan yang cowok mu lakukan?!)
“You can ask her (Kamu bisa menanyainya),” jawab Ajeng dengan sinis.
*****
Bersambung...
*****