My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Cowok Atau Cewek?




Cewek Atau Cowok?


 


Bimo cukup gusar dengan kehadiran mamanya saat ini. Dirinya merasa belum siap bila harus mempertemukan mamanya dengan Ajeng. Tapi saat ini di luar rencananya, dia harus mempertemukan mamanya dengan Ajeng.


 


“Grandma, ini adalah mommy Ana yang Sasa ceritakan ke grandma...” celetuk Sasa setelah memeluk perut Ajeng.


 


Bibir bu Clara hanya tersenyum tipis sambil menatap Sasa. Tapi begitu matanya beralih melihat wajah Ajeng, senyuman tipis itu menjadi senyuman miring yang terlihat sinis.


 


“Sasa, boleh grandma ajak mom-my Ana buat ngobrol sebentar?” tanya bu Clara sambil mengusap kepala Sasa. Pandangannya terbagi menatap Ajeng dan Bimo. “Sasa bisa mulai cooking classnya dengan daddy,” ucap bu Clara dengan sikapnya yang tenang.


 


Ingin menghalau keinginan mamanya, tapi Bimo juga tidak bisa karena bila dia menghalangi keinginan mamanya, mamanya pasti akan marah dan hanya akan membuat keributan di depan banyak wali murid yang hadir di tempat itu.


 


“Kemari kamu ikuti saya!” bisik bu Clara dengan menarik tangan Ajeng.


 


Bimo hanya bisa melirik melihat sikap mamanya itu. Dia mencoba bersikap tenang sambil terus mengawasi gerak-gerik mamanya.


 


Sementara saat ini, Ajeng yang berhadapan dengan bu  Clara, mencoba bersikap ramah.


 


“Tante...” sapa Ajeng dengan menundukan kepalanya.


 


“Masih punya muka ya kamu buat dekati Bimo...? heh...” ucap bu Clara merespon sikap ramah Ajeng. Tatapan matanya penuh dengan ejekan merendahkan Ajeng. “Dasar muka tebal! Ga tahu diri...” menyilangkan tangan di depan dadanya.


 


Ajeng berusaha mengontrol emosinya setelah mendengar kalimat pedas itu. Padahal andai saja bu Clara tahu jika anaknya lah yang tergila-gila dengannya. Bahkan dirinya juga sudah merelakan Bimo.


 


“Asal kamu tahu ya... Saya ga akan pernah lupa dengan penghinaan ibu kamu yang mengejudge anak saya mandul!” Setiap kata itu  penuh  dengan  penekanan seolah masalah di masa lalu  akan berlanjut lagi.  “Secepatnya saya akan mencarikan perempuan yang lebih baik dari kamu untuk Bimo,” ucap bu Clara dengan menunjuk dada Ajeng dengan jari telunjuknya.


 


Bu Clara segera pergi meninggalkan area sekolah Sasa. Sementara Ajeng harus menguatkan hatinya untuk kembali masuk ke ruang cooking class karena dirinya sudah ditunggu oleh Sasa dan Bunga.


 


“Kamu ga pa pa kan?” tanya Bimo cemas.


 


Raut wajah Ajeng berubah sedikit pucat setelah berhadapan dengan bu Clara. Entah kenapa dirinya takut bila bu Clara benar-benar akan mencarikan perempuan untuk mendampingi Bimo sebagai seorang istri.


 


“Baby... are you ok?” tanya Bimo sekali lagi lebih dekat ke telinga Ajeng.


 


Ajeng menoleh menatap mata Bimo. Entah kenapa ada rasa takut bila Bimo akan berpaling darinya.


 


“Hm... I'm fine,” jawab Ajeng pelan.


 


Sepanjang kegiatan cooking class itu pikiran Ajeng terbagi memikirkan ucapan bu Clara. Tidak menutup kemungkinan juga bila Bimo akan menyetujui pilihan mamanya. Karena  segala sesuatu di dunia ini bisa saja terjadi.


 


“Jangan kamu pikirkan ucapan mama bila itu mengganggu mu,” ucap Bimo sambil mengusap – usap punggung Ajeng.



________


 


Sejak pertemuan dengan bu Clara, Ajeng terus dihantui dengan kalimat yang mengusik pikirannya. Pagi, siang dan malam hati dan pikirannya tidak tenang. Bahkan semenjak hari itu bila Bimo sedang sibuk berbicara di handphone atau melakukan meeting online, Ajeng akan menguping sedikit pembicaraan Bimo.


 


“Yeah... Ok ma... Nanti aku lihat schedule dulu. Kalau  minggu ini masih sibuk, maybe next week aku akan temui orang itu,” ucap Bimo pada sambungan telpon dengan mamanya. “Yeah... good night,” ucap Bimo yang kemudian menutup handphonenya dan meletakkan di atas nakas.


 


Bimo menggeser tubuhnya untuk memeluk Ajeng yang sudah terbaring di atas bed.


 


“Mama mu  minta kamu ketemu sama siapa, Bim?” tanya Ajeng.


 


“Sama calon client baru yang mau ngajak kerja sama,” jawab Bimo. Tangannya mulai membuka kancing baju tidur Ajeng.


 


“Calon client baru itu cewek atau cowok?” tanya Ajeng lagi dengan wajah seriusnya.


 


 


“Kalau calon client itu cewek memang kenapa?” tanya Bimo dengan senyuman tipis. “Aku ga tahu kenapa tapi aku ngerasa kamu cukup concerned (kuatir) dalam hal dengan siapa aku menjalin kerja sama,” ucap Bimo yang kemudian menurunkan bhrraa Ajeng. Dia mere mas buah kenyal yang menyem pul keluar dari tempatnya itu.


 


“Bim, aku lagi serius nanya,” timpal Ajeng kesal karena pertanyaannya tidak dijawab. Dia mencekal tangan Bimo agar berhenti mere mas miliknya.


 


“Aku ga tahu, baby. Mama cuma bilang ada client baru yang mau ngajak kerja sama dengan ku,” jelas Bimo dengan menatap mata Ajeng.


 


Tidak ada kebohongan yang sepertinya ditunjukan oleh Bimo. Meski demikian, Ajeng masih saja kesal karena dia tetap penasaran dengan calon client baru yang akan ditemui Bimo.


 


“Jangan berfikir negative. Aku cuma mau kamu saja. I don’t want another girl,” ucap Bimo.


 


Seperti malam-malam biasa, Bimo akan melakukan aktivitasnya sebelum tidur. Dia menggoyang tubuh Ajeng sampai tubuh Ajeng terkapar lemah tidak berdaya. Bahkan tidak jarang meski Ajeng sudah terlelap tidur karena lelah, teman lonjongnya itu masih menggeliyat di dalam lorong basah.


 


_______


 


Beberapa hari kemudian, Deni assistantnya Bimo datang ke apartment. Dia datang atas permintaan Bimo.


 


“Ajeng, hari ini aku ada meeting sama client baru. Kamu stay di apartment ya ditemani sama Deni,” ucap Bimo saat Ajeng sibuk memotong buah di dapur.


 


“Tumben kamu ga ajak aku? Meeting sama cewek ya?” tebak Ajeng dengan sikap curiganya.


 


Pertanyaannya yang terkesan cemburu itu sebenarnya sangat disukai Bimo. Itu  tandanya Ajeng memperhatikannya.


 


“Mamaku nanti akan datang juga ke acara meeting kali ini. Aku ga mau mama bikin kamu kesal. Jadi mending aku pergi ke acara meeting sendiri saja,” jelas Bimo.


 


Ajeng sedikit kesal karena dirinya tidak diajak Bimo. Tapi penjelasan Bimo untuk tidak mengajaknya juga masuk akal  karena bu Clara masih menaruh kebencian terhadapnya.


 


“Meetingnya berapa lama...? Di mana?” tanya Ajeng dengan kalimat mengintrogasi Bimo.


 


“Kalau berapa lamanya aku ga bisa jawab. Tapi kalau tempatnya ga jauh dari sini. Masih di area kota Solo,” jawab Bimo yang kemudian mengke cup kening Ajeng.


 


Akhirnya Bimo pergi keluar dari apartment meninggalkan Ajeng. Handphone Ajeng yang masih disita oleh Bimo membuat Ajeng harus menghubungi Bimo lewat handphone Deni. Entah kenapa hari ini Ajeng sangat cemas berjauhan dengan Bimo.


 


 


📲Bimo


Baby, aku meeting dulu ya. Take care


 


Begitulah pesan terakhir yang dikirim Bimo ke handphone Deni untuk Ajeng. Rasanya tidak terima bila Bimo sedang sibuk meeting.


 


Tiba-tiba saja beberapa menit kemudian, bel apartment berbunyi. Rupanya ada bu Clara yang datang ke apartment itu.


 


Ajeng cukup bingung dengan kedatangan bu Clara. Karena menurut ucapan Bimo, Bimo akan melakukan meeting dengan client baru bersama mamanya. Tapi sekarang justru bu Clara datang di apartment saat ini.


 


*****


Bersambung...


*****