My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Melamar



Wajah cantik Ajeng tidak pernah membuat Bimo bosan mengerjainya di ranjang. Meski bibir manis itu sudah manyun-manyun menunjukan kekesalan, Bimo tetap melanjutkan aksinya di atas tubuh Ajeng.


“Bim... udah petang nih. Aku mau nengokin Sasa,” ucap Ajeng sambil menghindar dari kecu pan bibir Bimo. “Sasa pasti laper,” jelas Ajeng.


“Hmmm... Okehh...” sambung Bimo dengan nada malas karena harus menghentikan aksinya. “Aku juga harus buat surat izin ke sekolah Sasa biar besok Sasa bisa ikut datang ke rumah mu,” ucap Bimo sambil memakai t-shirt nya.


Bimo berjalan menuju ruang kerjanya dan Ajeng menuju kamar Sasa. Rupanya Sasa sedang berbicara dengan grandmanya lewat handphone.


“Iya grandma... Sasa janji jadi anak yang baik dan sayang sama adik Sasa. Nanti kalau adik Sasa udah keluar dari perut mommy, pasti akan Sasa ajak main. Sasa akan ajak adik buat bobok bareng sama Sasa.”


Kalimat sederhana yang keluar dari bibir mungil anak kecil itu membuat hati Ajeng tersentuh. Pelan-pelan Ajeng menghampiri Sasa yang sedang duduk di tengah bed. Dia mencium kepala Sasa dan mengusap pipi Sasa.


“Iya grandma... bye bye... Sampai jumpa besok ya!” ucap Sasa yang kemudian mencium pipi Ajeng.


“Mommy ganggu kamu ngobrol sama grandma ya?” tanya Ajeng.


“No mommy. Grandma tutup telponnya karena mau beli kado buat datang ke rumah mommy besok,” jawab Sasa. “Lagian kita udah ngobrol sejam lebih ngobrolin calon adik Sasa, hihiii...” ucap Sasa yang kemudian memeluk perut Ajeng. Sikap manis Sasa itu semakin membuat Ajeng semakin menyayangi Sasa. “Emangnya kapan adik Sasa keluar dari perut mommy?”


“Masih lama, sayang. Nanti kalau perut mommy udah besar, pasti dia akan keluar,” jawab Ajeng sambil mengusap perutnya. “Yuk kita ke dapur! Sasa bantuin mommy siapin dinner,” ajak Ajeng dengan meraih tangan Sasa.


_______


Keesokan harinya Ajeng sibuk berdandan di depan kaca untuk mempersiapkan dirinya tampil secara maksimal. Dia cukup gelisah karena bu Clara akan datang ke rumahnya juga.


“Baby, kamu letakin dimana hasil test pack tadi pagi?” tanya Bimo sambil sibuk mengkancingkan kemejanya.


“Udah ku taruh di kotak biru yang kamu beri,” jawab Ajeng sambil menata rambutnya. “Sasa dimana?”


“Sasa di ruang tamu. Dia udah siap dari tadi,” jawab Bimo yang kini sudah siap dengan setelan kemeja batiknya.


“Bawa Sasa ke sini, Bim. Biar aku rapiin rambutnya,” pinta Ajeng.


Ajeng memang paling suka dalam urusan menata rambut. Rambut panjang Sasa itu dia kapang beberapa bagian dan diikat menjadi satu agar lebih rapi.



“Wow... bagus banget, mom!” ucap Sasa dengan berputar-putar di depan cermin setelah rambutnya selesai ditata. “Besok kalau mau sekolah, Sasa mau dong rambutnya dibuat kaya gini lagi.”


“Hehehe... Sasa suka?” Ajeng ikut senang karena Sasa terlihat begitu girang di depan cermin.


“Iyaaa! Suka banget!” jawab Sasa masih dengan  rasa takjubnya memandangi dirinya di depan cermin.


Pagi ini mereka bertiga sudah siap untuk menuju rumah bu Heni. Beberapa kado yang dipesan Bimo agar disiapkan oleh asistennya juga sudah siap untuk dibawa.


“Mama saya ada contact kamu pagi ini?” tanya Bimo kepada Deni saat di ruang tamu. “Kenapa mama belom sampai juga ke sini?”


Ucapan Bimo itu membuat Ajeng cemas. Dia kuatir Bu Clara berubah pikiran dan tidak merestui hubungannya dengan Bimo lagi.


“Mama kamu gak jadi ikut dateng ke rumah ku ya, Bim?” sambung Ajeng sambil memperhatikan Bimo yang tengah mencoba menghubungi mamanya lewat handphone.


“Jangan kuatir, ini aku lagi telpon mama,” jawab Bimo.


Tak lama kemudian, panggilan di handphonenya itu tersambung ke mamanya.


“Hi Bim!” sapa bu Clara. “Sorry ini mama kejebak macet. Kamu duluan aja ke tempat bu Heni. Mama nanti langsung susul kalian disana,” ucap Bu Clara.


Suara klakson yang bersahutan menandakan mamanya memang terjebak macet. Akhirnya, Bimo memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu ke rumah Ajeng karena dirinya sudah membuat janji kepada kakaknya Ajeng untuk datang pada jam yang sudah mereka sepakati sebelumnya.


“Let's go! Kita berangkat duluan. Mama bilang akan langsung nyusul kita ke sana,” ajak Bimo setelah mematikan handphonenya.


“Tapi, Bim... gimana kalau mama mu ga nyusul? Mm--- ...” sambung Ajeng dengan rasa cemasnya.


“Mama pasti nyusul. Lagi pula mama udah janji buat ikut datang ke rumah mu. Dia pasti akan tepati janjinya,” jelas Bimo meyakinkan Ajeng. “Let’s go! Ibu kamu pasti juga udah nunggu kedatangan kita,” pinta Bimo.


Akhirnya mereka berjalan keluar dari apartment untuk menuju mobil. Deni sengaja diminta Bimo untuk menyetir mobil. Selain itu Bimo juga menugaskan Deni untuk mengurusi kado-kado yang dia bawa agar dirinya bisa lebih fokus menghadapi bu Heni. Bimo tidak mau kejadian  5 tahun yang lalu terulang kembali karena dirinya sibuk mengurusi barang bawaan, dia tidak sempat melihat pertengkaran yang terjadi antara mamanya dan bu Heni di ruang tamu. Kali ini Bimo akan memastikan semuanya berjalan  dengan lancar.


______


Suasana di rumah Ajeng saat ini sudah siap menyambut kehadiran Bimo dan keluarganya. Mbak Desi sudah bercerita ke ibunya tentang Sasa agar ibunya tidak salah paham terhadap Bimo.


“Kok mereka belom datang-datang, Des?... Katanya jam 10 udah sampai sini? Ini jam 10 lewat 8 menit tapi belom sampai-sampai...?” tanya bu Heni. Dirinya sudah mondar-mandir mengintip ke jendela menanti kedatangan Bimo dan Ajeng.


“Ajeng kirim pesan, katanya mereka udah on the way, Buk... Paling bentar lagi nyampai,” jelas mbak Desi. Dia menghela nafasnya sambil mengecek jam tangan suaminya.


“Apa aku susul mereka aja, Des?” tanya mas Idam.


“Jangan, mas! Nanti malah selisipan...!” jawab mbak Desi manegur.


Akhirnya mereka lebih bersabar menunggu kedatangan Bimo dan Ajeng.


PIM PIM...! Suara klakson mobil terdengar oleh bu Heni, mbak Desi dan mas Idam. Dengan sigap bu Heni berjalan keluar menuju halaman rumah. Matanya secara tajam menatap Bimo yang keluar terlebih dulu dari mobil. Bu Heni juga menyorot perut Ajeng saat anaknya itu berjalan menuju ke arahnya.


“Hai Grandma!” sapa Sasa dengan gaya manisnya. “Hai Bunga!”


“Hai Sasa!” Sapa Bunga yang tangannya digenggamm oleh mamanya.


Bimo meminta Sasa agar memberi salam kepada orang dewasa di depannya. “Hallo Om! Tante!” ucap Sasa.


“Sasa apa kabar? Yuk ikut tante sama Bunga masuk ke dalam,” ajak mbak Desi yang kemudian meraih tangan Sasa.


Mbak Desi dan mas Idam mengajak Bunga dan Sasa menuju ruang tengah untuk menonton televisi. Sementara itu Bimo dan Ajeng harus berhadapan dengan bu Heni.


“Masuk...” ucap bu Heni menatap Bimo dan Ajeng.


Mereka bertiga duduk dalam suasana sedikit tegang. Tapi menerima perlakukan bu Heni yang sudah mempersilahkan dirinya masuk ke rumah, Bimo sedikit lega karena setidaknya dirinya disambut lebih baik dibanding kejadian di masa lalu.


“Bu...” sapa Bimo. Dia meletakkan kotak berwarna biru di meja, tepat di depan tempat duduk bu Heni. “Saya ke sini ingin melamar anak ibu, Ajeng Kencana.”


Bu Heni yang penasaran dengan isi kotak itu, segera membukanya. Rupanya ada alat test pack dengan 2 gadis merah. Sebetulnya bu Heni sudah tahu dari anak sulungnya kalau Ajeng tengah hamil. Bu Heni sangat tersinggung dengan cara Bimo melamar anaknya.


PLAKKkkKk! Satu tamparan keras mendarat ke pipi Bimo. Ajeng cukup kaget dengan reaksi yang ditunjukan oleh ibunya. Apalagi Bimo yang menerima tamparan itu. Mukanya memerah. Bukan karena merasa sakit, tapi lebih takut kalau lamarannya untuk Ajeng ditolak lagi.


“Jadi seperti ini cara mu melamar anak saya...? Kamu kekepin... Kamu kem pit berminggu – minggu sampai dia hamil?... Kemana saja kamu 5 tahun kemarin?” ucap bu Heni melancarkan semua pertanyaan yang sudah dari tadi ada di kepalanya. “Ngak gentle banget! Hilang... Kabur gitu aja bikin anak orang stress bertahun-tahun.” Bu Heni menatap mata Bimo dan Ajeng yang memandangnya.


“Maaf kan saya, bu. Saya sudah salah bersikap seperti itu. Kali ini, saya pastikan untuk menjaga anak ibu selamanya. Juga calon cucu ibu,” ucap Bimo dengan sikap sopannya. “Maaf kan saya menggunakan cara seperti ini. Saya takut ibu tidak mau kasih restu buat saya nikahin Ajeng,” jelas Bimo sambil mere mas tangan Ajeng. “Saya sangat mencintai anak, ibu.”


Melihat keseriusan Bimo, tentu saja persoalan cinta tidak perlu ditanyakan lagi. Apalagi sudah 5 tahun lamanya Ajeng juga tidak terlihat dekat dengan pria manapun. Bu Heni tahu, kalau anaknya itu masih sangat mencintai Bimo. Dirinya juga sadar kalau perpisahan Ajeng dan Bimo pada 5 tahun yang lalu juga akibat sikapnya yang terlalu percaya dengan cerita Jesslyn kalau Bimo mandul.


“Kapan kamu mau menikahi anak saya?” tanya bu Heni.


Pertanyaan itu membuat Bimo lega dan tersenyum. Ajeng pun ikut terharu karena akhirnya Ibunya mengizinkannya menikah dengan Bimo.


“Secepatnya, bu. Secepatnya saya akan menikahi Ajeng,” jawab Bimo membuat Ajeng tersenyum tipis.


“Kalau mau menikahi anak orang, kamu itu harus bawa keluargamu kemari dong... Takutnya nanti mama kamu gak setuju... Saya takut nanti Ajeng direcokin mama kamu,” ucap bu Heni membuat Bimo menelan ludah.


“Mama saya lagi dalam perjalanan ke mari, bu,” sambung Bimo.


Tiba-tiba saja saat obrolan serius yang sedang berlangsung itu, mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


Tok Tok Tok...


“Permisi...”


Rupanya orang yang mengetuk pintu itu adalah bu Clara. Bu Heni dan Bu Clara saling bertatapan dengan raut wajah tegangnya.


*****


Bersambung...


*****