My Personal Tour Guide

My Personal Tour Guide
Gimana Jika Mereka Tahu? (21+)



Bimo dan Ajeng menatap langit-langit minibus. Keduanya masih mengatur nafas setelah permainan panas yang baru saja terjadi.


 


“Kita balik ke room ya? Biar nanti aku order food lewat room service. Ini sudah tengah malam. Semua restaurant di resort sini pasti sudah tutup,” ucap Bimo dengan memandangi wajah Ajeng yang berbaring di sampingnya. Salah satu jari tangannya masih bermain memutar-mutar pujuk yang sempat dia se  sap. “Kamu mau makan apa?” tanya Bimo dengan mencari posisi yang nyaman untuk memainkan pucuk yang satunya lagi.


 


“Em… aku mau soup. Soup apa aja yang penting kuahnya banyak,” jawab Ajeng. Matanya memandangi tangan Bimo yang asyik bermain di kedua pu ti ngnya. “Bim…” Ajeng meraih tangan bimo agar berhenti bermain. “Makan dulu yuk! Aku udah laper,” merengek sambil mengusap perutnya.


 


Ajeng segera bangkit dari bed dan memakai bajunya. Tapi Bimo seolah tidak ingin membiarkan Ajeng memakai baju. Dia memeluk tubuh Ajeng dari belakang dan mengke cupi bahu Ajeng.


 


“Ajeng… Kamu jangan pernah lagi menyuruhku buat balik ke Jesslyn. Aku minta maaf ya sudah buat kamu kesal.”


 


Ajeng tersenyum senang mendengar kalimat itu. Dia mengusap usap tangan Bimo yang melingkar di perutnya.


 


“Iya… tapi kamu juga harus jaga jarak sama dia. Tadi siang aja waktu aku lihat cara dia melihat kamu, aku bisa lihat kalau dia masih suka sama kamu. Aku kan jadi takut kalau---“


 


Bimo mulai membalikan tubuh Ajeng. Dia tidak mau mendengar kelanjutan ucapan Ajeng membahas mengenai mantan pacarnya.


 


“Ssssttt…” Bimo menutup mulut Ajeng dengan ibu jarinya. “Aku gak mau kita bahas Jesslyn lagi. I love you… Only you… (Hanya kamu)”


 


Bimo kembali mendaratkan bibirnya untuk me lu mat bibir Ajeng. Kaki Ajeng melangkah semakin merapatkan tubuhnya ke badan Bimo ketika pan tatnya dire mas oleh salah satu tangan Bimo.


 


“Mphh… Eghh….” Ajeng mengrenyitkan alisnya karena merasakan dua jari Bimo kembali masuk ke areaa in timnya. Dari arah depan Bimo juga mengggeseek milik Ajeng dengan pejantan yang bergerak mencari lubang.


 


“Can we do one more time, baby? Habis ini kita balik room buat makan,” ucap Bimo menawar. Tapi belum sempat Ajeng menjawab, Bimo sudah membalikan tubuh Ajeng agar menung ging dan bertumpu pada meja makan di minibus itu. Ajeng mengkedip kedipkan matanya sambil mengatur nafas untuk bersiap menyambut pejantan memasuki area lorong yang sudah basah. Keduanya sangat menikmati permainan saat ini. Tangan Ajeng sampai bergeser mencari tumpuan yang lebih rendah ke kursi samping meja makan karena Bimo menghen tak – hen tak cukup kuat. Tidak sengaja Bimo melihat jari tangan Ajeng gemetaran sambil meremas bantal kursi. “Are you really hungry? (Apa kamu benar-benar lapar?)” tanya Bimo sambil meremas keras bu ah da da yang menggantung.


 


“Hm… Iya. Aku udah laper,” jawab Ajeng sambil menoleh ke belakang.


 


Bimo berlanjut menghen takan dengan ritme yang lebih cepat untuk meng ko cok agar laharnya bisa segera keluar.


 


“Argh…Hah…”


 


Ajeng mulai lega dan menarik nafas dalam-dalam setelah miliknya disembur lelehan kental.


 


“Aw?! Bim…?” Ajeng memekik saat bawah ketiak samping benda kenyalnyanya di gigit dan dise sap oleh Bimo. Ingin meronta tapi Ajeng berfikir pasti Bimo akan meng gi git dan menye sap lebih dalam, jadi Ajeng memilih untuk menahan dan membiarkan Bimo menye sapnya. “Em… Bim… Huft…” Ajeng mulai melihat bekas se sap an itu setelah Bimo melepas gi gitannya. Kini ada tanda berwarna hitam pekat menghiasi samping kanan pa yu da ranya. “Apa apaan ini, Bim…?” tanya Ajeng sambil mengangkat tangan kanannya. Dia memandangi hasil se sap an Bimo.


 


Bimo hanya tersenyum senang melihat Ajeng. Dia memeluk Ajeng dan mengke cup pucuk kepala Ajeng.


 


“Thank you, baby. Sekarang kita bisa balik kamar,” ucap Bimo.


 


Mereka mulai memakai kembali pakaiannya dan bergegas memakai alas kaki untuk keluar dari minibus.


_____


 


Sesampainya di kamar, Ajeng segera mencari menu makanan. Perutnya sudah sangat lapar karena belum diisi makan malam.


 


“Dah laper banget nih habis s e x e r c i s e sama kamu…” celetuk Ajeng membuat Bimo terkekeh. Dia mencari menu makanan yang sedang dia inginkan. Bimo pun ikut melihat kertas menu makanan yang sedang dipegang oleh Ajeng. “Wah… Ada Vietnamese chicken sama beef soup nih…” ucap Ajeng sambil menunjuk daftar menu makanan itu.


 


 


“Kalau kamu mau, kita bisa pesan dua duanya dan nanti kita share. Sepertinya big portion,” sambung Bimo. Dia mulai meraih telpon di kamar itu dan menelpon bagian room service.


 


Ajeng segera mencuci tangannya ketika Bimo sedang menelpon bagian room service. Dia sudah tidak sabar untuk menyantap soup pesanannya.


 


“Room service bilang kurang lebih 20 menit lagi orderan kita diantar,” ucap Bimo. Dia melangkah mendekati Ajeng. “Kenapa cuma cuci tangan? Mandi yuk! Aku belom mandi dari tadi,” ajak Bimo dengan meraih tangan Ajeng.


 


“Aku kan udah mandi, Bim…”


 


“Kan kamu tadi ngeluarin keringat banyak waktu di minibus. Come on! Biar badan kamu gak lengket,” ajak Bimo lagi. Dia menarik tangan Ajeng menuju kamar mandi.


 


Hal pertama yang dilakukan Bimo setelah berada di dalam kamar mandi adalah melepas baju Ajeng.


 


“Jangan nakal-nakal ya. Aku dah gak ada tenaga ni, Bim,” celetuk Ajeng sambil memandangi Bimo yang tengah berjongkok melepas ce lana da lamnya. Bukannya menjawab ‘iya’… Tapi Bimo kembali mengkecup sangkar yang sudah berada di depannya. Kepalanya masuk di antara pa ha yang dia dorong agar terbuka. Lidahnya mulai menari memainkan daging dan men ji lat – ji lat menggoyangkan pintu sangkar. “Bim… Heh…” Ajeng memejamkan matanya dalam-dalam karena mulai te rang sang. “Bim, jangan lama-lama. Bentar lagi orderan kita datang,” pinta Ajeng sambil meremas bahu Bimo. Tubuhnya membungkuk mencari tumpuan karena harus membuka pa ha untuk memberi akses kepada Bimo.


 


“Do you like it? (Kamu menyukainya?)” tanya Bimo. Dia menghentikan aksinya dan mulai menyalakan shower.


 


Guyuran air hangat membuat tubuh keduanya merasa nyaman. Bimo menggosok tubuh Ajeng dan mencuci rambut panjang pacarnya itu. Pijatan tangan Bimo sangat nyaman dirasakan Ajeng. Sesekali Bimo me re mas buah da da yang menggantung. Ajeng sudah terbiasa dengan sikap pacarnya itu. Dia hanya bisa tersenyum sambil memegangi tangan Bimo.


 


“Bim…”


 


“Yeah…”


 


“Apa kamu sudah menceritakan ke mama kamu tentang kondisi genetik dari keluargaku?” tanya Ajeng sambil merasakan pijatan tangan Bimo di kepalanya.


 


“Em… Belum,” jawab Bimo. “Apa kamu juga sudah menceritakan ke ibu kamu kalau aku punya masalah fertility (kesuburan)?” tanya Bimo balik.


 


 


Beberepa saat keduanya saling terdiam mengingat orang tuanya masing-masing.


 


“Bim, gimana jika mereka tahu?” tanya Ajeng mulai menghela nafasnya.


 


“Aku harap reaksi mereka gak akan berlebihan. Lagi pula yang menjalani kita berdua,” jawab Bimo. Apapun yang akan terjadi, dia tidak mau melepas Ajeng. “Don’t think to much (Jangan terlalu banyak berfikir). Kita akan menghadapinya bersama-sama,” jelas Bimo. Dia mulai meng ke cup Bibir Ajeng. Me lu mat halus sambil memegangi tengkuk Ajeng.


 


Tapi tiba-tiba saja keduanya saling mengrenyitkan alis.


 


“Em… Ada busa shampoo yang ngalir, Bim…” celetuk Ajeng sambil mengusap bibirnya.


 


Keduanya tersenyum sambil mencuci mulut mereka. Suasana kembali menghangat lagi di antara Ajeng dan Bimo.


 


“Kalau boleh tahu, ibu kamu galak atau tidak? Biar aku menyiapkan diri sebelum melamar anaknya. Lebih galak ibunya atau anaknya ya kira-kira?” Goda Bimo dengan memegangi pinggang Ajeng.


 


“Hm… Ngejek ya?” tanya Ajeng dengan senyumnya. “Lebih galakan aku biar gak ada cewek yang berani ganjen sama kamu!” celetuk Ajeng membuat bimo terkekeh.


 


Mereka berlanjut membersihkan sisa sabun dan shampoo yang menempel di tubuh mereka.


 


Tak lama setelah kegiatan mandi bersama selesai, suara bel di kamar mereka berbunyi. Sudah pasti itu adalah bagian room service yang mengantar makanan mereka.


 


Bimo segera membuka pintu untuk menerima makanan yang dipesan. Sementara itu Ajeng bergegas memakai baju di dalam kamar mandi.


 


Bau makanan semakin membuat Ajeng bertambah lapar. Dia segera keluar dari kamar mandi untuk menghampiri makanannya.


 




 


“Hum… sedapnya…” ucap Ajeng dengan memandangi 2 soup yang sudah berada di meja. “Kita makan di balkon luar yuk!” ajak Ajeng dengan melingkarkan tangannya ke lengan Bimo.


 


Bimo mulai membawa kedua soup itu ke balkon. Keduanya sama-sama lahap menyantap soup yang mereka pesan.


 


“Kamu mau order lagi?” tanya Bimo ketika melihat mangkuk Ajeng sudah hampir habis.


 


“No. Ini udah cukup. Nanti kalau order lagi pasti aku gak habis,” jawab Ajeng sambil fokus mengambil potongan ayam yang terakhir.


 


Kedua mangkuk mereka kini sudah kosong. Tidak tersisa sedikitpun.


 


“Hmmm finally (akhirnya)… habis juga,” ucap Ajeng.


 


Mereka mulai bersantai di atas bed. Ajeng bersandar di punggung bed dan Bimo merebahkan kepalanya di pa ha Ajeng. Salah satu tangan Ajeng yang mengusap-usap kepala Bimo membuat Bimo lebih rileks.


 


“Lagi ngecek apa Bim?” tanya Ajeng dengan mengintip layar handphone Bimo.


 


“Em… Aku lagi ngecek tiket kapal pelni dari Tanjung Priok ke Batam biar kita bisa bawa minibus kamu. Harganya berbeda beda tiap kelasnya. Tapi lama perjalanan tetap sama. Kurang lebih satu setengah hari,” jawab Bimo dengan menunjukan layar handphonenya.


 



 


“Kira-kira kalau aku bawa serabi pesanan temanku itu bisa tahan gak ya sampai Batam?” tanya Bimo dengan mengkerutkan keningnya.


 


“Em… Kalau kita simpan di kulkas minibus, kayaknya gak akan masalah. Nanti kalau udah sampai sana kamu bisa suruh mereka masukin ke microwave biar bisa dipanasin,” jawab Ajeng.


 


“Hm… Good idea,” sambung Bimo.


 


Di saat keduanya tengah asyik ngobrol, tiba-tiba handphone Ajeng berdering. Kode nomor panggilan terlihat bukan dari kode Indonesia.


 


“Siapa? +960? Sepertinya kode call negara Maldives…” ucap Bimo ikut memandangi layar handphone Ajeng.


 


“Gak tahu juga nih… Aku angkat dulu ya, Bim.”


 


Tangan Ajeng mulai menggeser layar untuk menerima panggilan itu. Baru dia mengaktifkan speaker handphone, Ajeng sudah merasa kesal. Dia masih ingat suara laki-laki yang dulu hampir tiap malam selalu menemaninya berbicara lewat handphone ketika dirinya masih bekerja di Maldives.


 


“Ajeng, ini aku Gerry. Aku…”


 


Karena rasa kesal yang tiba-tiba muncul, dengan cepat Ajeng mematikan panggilan itu.


 


*****


Bersambug…


*****