
Bimo dan Ajeng kembali masuk ke dalam minibus. Siang ini Bimo memutuskan untuk pergi ke Pantai Menganti. Pantai itu berada di desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen yang masih berlokasi di Jawa Tengah. Bimo sebelumnya belum pernah datang ke Pantai ini. Tapi menurut infomasi yang dia dapat dari internet, lokasi pantainya cukup bagus dan memenuhi kriteria yang dia cari.
Sudah beberapa jam Ajeng duduk di sebelah kursi kemudi. Dia juga sudah sempat ketiduran di kursi itu.
“Huuaamm…” Menguap adalah hal yang sudah biasa dilakukan keduanya. Tidak ada rasa ja-im alias jaga image di antara keduanya saat ini.
“Sudah bangun kamu, sayang?” tanya Bimo sambil mengusap usap kepala Ajeng.
“Yeah… Sorry aku ketiduran,” jawab Ajeng dengan membetulkan rambutnya. “Aku pikir lokasinya emang dekat sesuai yang kamu bilang… Tapi ini udah 3 jam lebih belum sampai-sampai kita,” ucap Ajeng dengan mengecek jam tangannya.
Bimo hanya tersenyum menanggapi ucapan pacarnya itu.
“Kamu tadi sadar atau tidak kalau aku sempat berhenti di 2 tempat?” tanya Bimo. Tangannya masuk ke kantong celana untuk mengecek sesuatu.
“Hah? Kok aku gak tahu ya?” Ajeng cukup terkejut. Itu berarti tidurnya terlalu pulas sampai tidak sadar kalau Bimo sempat berhenti di 2 tempat. “Emang kamu tadi berhenti di tempat apa? Beli apa?” tanya Ajeng.
“Nanti kamu juga akan tahu… Kamu bisa lanjutin tidur mu. Nanti kalau sudah sampai biar aku bangunin kamu,” ucap Bimo.
Bimo kembali menoleh ke sampingnya. Dia melihat Ajeng kembali membetulkan bantal untuk tidur lagi. Tidak ada rasa penasaran yang Ajeng tunjukan meski Bimo sudah mengatakan kalau dirinya berhenti di 2 tempat selama perjalanan itu.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam lamanya, Minibus itu kini hampir memasuki kawasan Pantai Menganti. Ajeng segera bersiap dengan pergi ke toilet terlebih dahulu karena itu sudah menjadi kebiasaanya setelah bangun tidur.
Lokasi tempat itu masih begitu asri. Hijau dan bersih. Selain itu belum terlalu banyak pengunjung seperti patani-pantai terkenal di beberapa wilayah Indonesia. Tapi pantai ini cukup bagus. Ada tebing-tebing menjuntang tinggi yang masih banyak pepohonan.
Di pantai Menganti ini juga terdapat wahana permainan seperti balon udara dan wahana sepeda gantung. Salah satunya adalah wahan yang ingin dicoba oleh Bimo.
“Ajeng… Did you finished? (Sudahkah kamu selesai?) Kita sudah sampai. Let’s go outside (ayo pergi ke luar)…” ucap Bimo sambil memasang telinganya di pintu toilet. Biasanya kalau di toilet, Ajeng hanya menggunakan sebentar dan segera keluar. Tapi kali ini terkesan lama.
“Yeah, Bim… I’m coming (Aku datang). Kamu bisa keluar dulu. Aku masih cuci muka,” ucap Ajeng membuat Bimo lega. Bimo pikir Ajeng belum selesai haid. Tapi untungnya hanya cuci muka saja.
Kondisi di tempat itu sangat berbeda dengan daerah yang mereka kunjungi sebelumnya. Di sini udaranya tidak dingin. Tapi tetap sejuk dengan semilir angin laut.
“Wauuuww…” puji Ajeng. Dia sangat takjup dengan pemandangan pantai di depannya. Bentangan pantai yang panjang dengan bukit yang dipenuhi dengan tempat gazebo cukup membuat Ajeng teperanga berwauw-wauw ria. “Beautiful…” ucapnya.
Ajeng cukup kaget saat Bimo muncul dengan mengarahkan kamera untuk membidiknya.
“Ah kamu nih… Kalau mau ambil foto bilang-bilang dong, Bim… Coba lihat,” ucap Ajeng. Bibirnya sudah kembali manyun karena cahaya di foto itu membuat dirinya terlihat gelap “Kok gelap gini sih… Hihiii…” ucap Ajeng.
“Enggak ah. Nanti kalau kita main di contrast, fotonya gak akan kelihatan gelap,” ucap Bimo.
Bimo meraih tangan Ajeng. Dia mengajak Ajeng untuk mencoba pada salah satu wahana permainan yang ada di tempat itu.
“Ini kita mau ke mana sih, Bim?” tanya Ajeng penasaran. Kakinya sudah cukup lelah karena menaiki bukit.
Tapi rasa lelah Ajeng terbayarkan di saat dirinya melihat ada beberapa balon udara yang terbang dari tempat itu. Matanya semakin dibuat takjub saja. Tidak hanya pemandangan alamnya, tapi ada juga fasilitas wisata pendukung.
“Aku mau ajak kamu naik balon udara. Kamu gak pa pa kan?” tanya Bimo.
Ajeng hanya tersenyum menganggukkan kepalanya. Belum pernah dirinya seumur-umur naik balon udara. Tentu saja tawaran Bimo itu tidak akan dia tolak. Meskipun Ajeng sedikit merasa takut dengan ketinggian, tapi hal itu tidak menjadikan masalah. Lagi pula ada Bimo yang akan menjaganya.
“Hm. Kita bisa bersantai memandangi lautan dari atas,” jawab Bimo.
Hamparan laut di tempat itu sangat indah dan cantik dari atas balon udara. Biru dan jernih.
Di dalam keranjang balon udara itu mereka hanya berdua. Bimo merasa bebas untuk memeluk Ajeng semaunya. Dia menghujani tengkuk Ajeng dengan banyak kecu pan. Menyilangkan kedua tanggannya di depan dada Ajeng. Merasakan detak jantung perempuan yang gugup karena menaiki balon udara.
Setelah beberapa menit keduanya berada di keranjang balon udara, akhirnya Bimo merogoh kantong celananya. Dia mencari sesuatu yang sempat dia beli saat Ajeng tertidur di minibus.
Ajeng yang tengah asyik memandangi birunya lautan dan bukit hijau di sekitar tempat itu dibuat semakin terperanga. Dia melihat kalung berliontin hati dikenapan Bimo di lehernya. Rasanya ingin melompat lompat mengungkapkan rasa bahagianya saat ini.
Pertanda apa ini? Kok Bimo ngasih kalung ya…? Kalau mau melamarkan pakai cincin… Ini kenapa jadi kalung? Tanya Ajeng dalam hatinya. Meskipun demikian, Ajeng cukup merasa senang karena mendapat barang yang berharga dari kekasihnya itu.
“Ajeng…” Bimo memutar bahu Ajeng untuk melihat wajah pacarnya itu. Kalung itu terlihat cantik dipakai di leher Ajeng. Bimo meraih tangan Ajeng dan menatap kedua bola mata di depannya dengan kehangatan. “Ajeng… sejak aku mengenal mu, di airport Maldives, I feel ada something yang buat aku ingin terus melihat mu. Tapi waktu itu aku masih belum yakin dengan kekuranganku ini kalau kamu mau dengan ku. Kamu sudah tahu tentang masa laluku bersama Jesslyn. Kami berpisah dengan tidak baik. Hal itu sempat membuat ku merasa tidak percaya diri. Tapi mendengar kata miracle dari bibir mu, rasa percaya diri ku tumbuh lagi. Aku mampu untuk berharap lagi. And today (Dan hari ini)..." Jantung Ajeng bergemuruh tidak sabar mendengar kalimat selanjutnya. "Will you you be mine for the rest of my life?” (Maukah kamu menjadi milikku selama sisa hidupku?)
Kalimat yang tidak pernah disangka-sangka oleh Ajeng itu ternyata diucapkan Bimo pada saat ini. Rona kebahagian di wajah Ajeng bisa dilihat Bimo dengan jelas. Senyuman itu mulai merekah. Tangannya melingkar ke leher Bimo. Ajeng menghamburkan pelukannya kepada laki-laki di depannya itu.
“Yes…Yes, Bimo. I will be yours for the rest of our life (Aku akan menjadi milikmu selama sisa hidup kita)…” ucap Ajeng dengan berbisik ke telinga Bimo. “I will be yours forever…” ucapnya lagi. Ajeng mengulangi kalimat itu beberapa kali di telinga Bimo.
Bimo semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Ajeng. Rasanya sangat lega dan senang.
“I love you…” Bimo mengkecup sebentar bibir Ajeng. Tersenyum dan melanjutkan untuk m e l u m a t bibir Ajeng. Hembusan angin yang menyibak rambut Ajeng membuat Bimo semakin mudah mengusap usap pipi pacarnya dan terus me lu mat halus. Bibirnya menjalar meng ke cu pi leher Ajeng inci demi inci membuat aliran darah Ajeng tergelitik dan memainkan tangannya di punggung Bimo. Dia me re mas pelan punggung lapang itu dan membiarkan Bimo me nye sap lehernya beberapa bagian. De-sa-han Ajeng sampai tidak terdengar karena suara angin yang bergemuruh di atas pantai Menganti. Karena gairahnya yang tiba-tiba meningkat, Bimo menyibak rok Ajeng dan me re mas keras salah satu pan tat Ajeng.
“Bim… Hehee…" Ajeng sedikit kaget dengan sikap Bimo itu. "Ada banyak burung yang lewat. Malu aku kalau mereka sampai lihat kita semakin lanjut…” Ucap Ajeng.
Bimo terkekeh mendengar ucapan itu. Dia membetulkan rok dan mencium kening Ajeng. Tangannya memutar bahu Ajeng agar pacarnya itu bisa menikmati pemandangan pantai Menganti.
Beberapa saat Ajeng terdiam dengan melihati kalung yang diberikan oleh Bimo. Ini adalah salah satu keajaiban pertama yang dia rasakan di saat bersama Bimo. Laki-laki itu sudah melamarnya. Tapi… Kenapa kalung? Kenapa bukan cincin?
“Bim, kenapa kamu melamar aku pakai kalung?” tanya Ajeng dengan meremas tangan Bimo yang menyilang di depan dadanya.
“Karena… Aku belum tahu ukuran jari manis kamu. Tadi sewaktu aku ingin ajak kamu pergi ke toko perhiasan, rasanya sangat kasihan karena tidur mu nyenyak sekali. So Aku pilih kalung ini,” jawab Bimo berlanjut mencium rambut Ajeng. Cincinnya nanti ya waktu aku bertemu keluarga mu,” ucap Bimo. “Boleh aku lihat ukuran jari mu?” tanya Bimo dengan meraih tangan Ajeng. Bimo memperhatikan jari manis itu dan mengusapnya.
Entah kenapa rasa bahagia yang dirasakan Ajeng semakin bertambah di saat laki-laki itu mengucapkan akan bertemu keluarganya. Apalagi dengan membawa cincin untuk melamar. Rasanya apa yang dikatakan mbak Desi kalau kali ini dirinya akan positif menikah dengan Bimo, bisa dikatakan sudah hampir dekat.
“Bim... Thank you buat kalungnya,” ucap Ajeng masih bersender di dada Bimo. Dia semakin nyaman berada di dalam dekapan Bimo.
Keduanya mulai turun dari balon udara dan kembali ke minibus karena area sekitar juga sudah mulai petang.
“Tadi aku sempat beli pizza. Jadi malam ini kamu gak perlu masak. Kita bisa makan pizza dan terus bersantai sebentar lalu… Lalu we will watch a movie (Kita akan nonton film).” Bimo tersenyum kecil memandangi bibir Ajeng yang merekah ketika berucap kata ‘Lalu’. “Apa itu lucu?” tanya Bimo. Tangannya meraih pinggang Ajeng agar bisa berjalan bersama.
“kok jalannya cepat-cepat ya, Bim? Padahal waktu di Dieng kita jalannya pelan-pelan… Ini kenapa ngebut sekali?” tanya Ajeng sambil berjalan. Apalagi mengikuti langkah lebar dari kaki jenjang Bimo, Ajeng juga sedikit kualahan karena pinggangnya terus didorong.
“Hm… Kan waktu itu kita di Dieng kedinginan. Kalau di sini tidak. Atau mau aku gendong?” tanya Bimo.
Ajeng mulai menyenggol pinggang Bimo setelah pertanyaan itu. Tapi Bimo kembali menarik tangan Ajeng lagi.
“Jangan aneh-aneh ya… Meski sekarang udah gelap kayak gak ada orang. Tapi aku yakin banyak pasang mata yang melihati kita dari balik gelapnya lokasi ini,” celetuk Ajeng.
*****
Bersambung…
*****