
Rasanya sedih sekali apa yang dirasakan Sasa saat ini. Sejak kecil dirinya memang sudah diberi pengertian kalau Bimo bukanlah daddy kandungnya. Sasa juga cukup tahu kalau pekerjaan daddynya sangat sibuk. Tapi sebagai anak kecil, dirinya juga masih butuh perhatian dan kasih sayang.
“Daddy emang jahat!”ucap Sasa setelah mematikan handphonenya.
Wajahnya dia sembunyikan pada tangan yang merangkup ke meja makan. Punggungnya terlihat tersenggal- senggal karena sepertinya anak itu sedang menangis sekarang.
“Mama... kenapa Sasa?” tanya Bunga dengan menoleh ke arah mamanya dan Ajeng.
Mbak Desi mulai memberesi piring yang ada di dekat Sasa. Sementara itu Ajeng berusaha menghibur Sasa. Dengan hati – hati Ajeng meraih tubuh kecil itu agar mau dipangkunya. Dia membiarkan Sasa memeluknya dengan membanjiri bahunya penuh air mata.
“Hegz... hegz... Daddy ja...haatt... Daddy bilang nanti jemputnya telat 3 jam karena ada meeting... Grandma juga lagi pergi ke Bandung. Meraka ga sayang Sasa.... hegz... Huuaaaaaa! Sasa benci daddy! Daddy ga sayang Sasa... Sasa bukan anak daddy.... Huaaaaa...” semakin kencang saja suara Sasa memenuhi minibus Ajeng.
“Cup cup cup Sayang... Ga boleh bilang gitu dong... Daddy kan kerja buat Sasa juga... Ga mungkin dong daddy ga sayang sama Sasa...” ucap Ajeng mencoba menenangkan suasana hati Sasa. Dia mengelus-elus rambut kepala Sasa sambil beberapa kali menge cupi kepala anak itu. “Nanti biar tante temenin Sasa nunggu jemputan daddynya Sasa. Tapi sekarang Sasa harus berhenti dulu nangisnya... Gak boleh cengeng dong...” bujuk Ajeng dengan merangkup wajah anak kecil itu. Ajeng menghapus air matanya sambil melempar senyuman agar Sasa lebih terhibur.
“Emang ga pa pa Sasa bikin repot tante Ana?” tanya Sasa sambil mengusap ingusnya.
“Tante Ana justru senang kalau kamu buat repot,” celetuk mbak Desi. “Apalagi kalau nanti Sasa kenalin daddy Sasa sama tante Ana. Makin senang tante Ana nya...”
Kalimat candaan itu membuat Ajeng mengerutkan dahinya dengan bibir manyun. Tapi justru ekspresi Ajeng itu membuat Sasa tersenyum lebar.
“Hihiii.... Tante cantik. Nanti pasti daddy suka sama tante. Tapi tetap cantikan Sasa sih...” celetuk Sasa membuat Ajeng senang karena akhirnya Sasa bisa tersenyum kembali.
“Iya... cantikan Sasa...” Ajeng mulai mendaratkan ciumannya ke pipi Sasa. “Tante ga disukai daddynya Sasa ga pa pa juga... Yang penting daddynya Sasa sayang sama Sasa... Dan Sasa juga sayang sama daddy... Ga boleh bilang benci-benci juga sama daddy. Kasihan kan daddy udah kerja capek-capek tapi Sasa justru benci sama daddy...” ucap Ajeng membuat anak kecil itu terdiam beberapa saat. “Udah yuk tante anter kamu ke kelas. Bentar lagi pasti bel masuk berbunyi,” ucap Ajeng mulai membetulkan seragam Sasa.
Daddymu itu emang kelewatan sibuk, Sa... Masa seragam kekecilan kayak gini dipakaikan ke anak? Hm... Keterlaluan, gumam Ajeng dalam batinnya.
Karena rasa kasihan, Ajeng memilih menunggui Sasa di depan kelas karena mbak Desi juga menyarankannya untuk menemani Sasa.
“Ajeng, aku telpon mas Idam biar jemput aku sama Bunga. Kamu di sini aja nemani Sasa. Kasihan anak itu. Nanti takutnya dia keluar dari area sekolah dan kabur,” ucap mbak Desi yang baru saja menghampiri Ajeng. “Bentar lagi jam pulang buat anak kelas 1. Kalau anak kelas 2 masih sejam lagi. Kamu gak pa pa kan aku tinggal sendiri?”
“Ya ga pa pa lah mbak... Embak pikir aku Sasa apa...? Hihiii,” jawab Ajeng dengan candaannya.
Akhirnya hari ini Ajeng memutuskan menemani Sasa untuk menunggui jemputan daddynya. Dia tidak ada masalah harus menunggu berapa lama. Karena hari ini dirinya tidak ada tamu yang menggunakan jasanya.
“Tante.....!” sapa Sasa sambil berlari menghampiri Ajeng.
Melihat sosok Ajeng yang baik dan perhatian, membuat Sasa senang dan nyaman berada di dekat Ajeng. Sudah lama Sasa menantikan moment seperti saat ini. Diperhatikan oleh sosok perempuan dewasa dengan kehangatan seperti seorang ibu.
“Tante... sini... aku mau bisikin sesuatu ke tante...” ucap Sasa. Tangannya melambai – lambai meminta agar Ajeng merunduk.
“Bisikin apa?” tanya Ajeng mulai merunduk dan menyibak rambutnya ke belakang.
“Gendong Sasa dong... Biar teacher Sasa lihat kalau Sasa punya calon mama baru...” celetuk Sasa membuat Ajeng mengkerutkan dahinya. “Cepat tante... Gendong aku...” pinta Sasa mulai melingkarkan tangannya ke leher Ajeng.
Antara bingung dan tidak tahu apa alasan Sasa berkata seperti itu, mau tidak mau Ajeng mengikuti permintaan anak itu. Ajeng tidak mau karena hanya masalah meminta digendong, Sasa akan menangis.
“Kita tunggu daddy di mobil tante aja yuk! Mobil tante kan besar. Punya bed buat tidur juga...” pinta Sasa semakin mengeratkan pelukannya ke Ajeng.
“Boleh...” jawab Ajeng. Kakinya mulai melangkah menuju tempat parkir mobil.
“Tante tahu gak? Ini pertama kalinya aku digendong di area sekolah. Biasanya kalau sama daddy, daddy lebih senang bawa tas isi laptop atau tabletnya. Thank you ya tante... hari ini Sasa senang bisa kenal sama tante,” ucap Sasa.
Setelah dirasa-rasa, celotehan Sasa itu semakin membuat Ajeng geram dengan ayah dari anak itu. Seharusnya sebagai orang tua, laki-laki itu harus bisa membagi waktu untuk urusan pekerjaan dan anak. Tapi sepertinya setelah mendengar celotehan Sasa, Ajeng merasa laki-laki itu bukanlah ayah yang baik.
“Sasa sebetulnya rumahnya mana? Mau tante anter sampai rumah gak?” tanya Ajeng.
“Rumah Sasa jauh, tante... Lagian kalau pulang sekarang, grandma juga ga ada. Mungkin baru besok grandma pulang. Kita tunggu daddy aja. Sasa kan mau kenalin daddy Sasa ke tante...” jawab Sasa dengan senyumnya.
“Kamu ni... Masih kecil mau jodoh-jodohin orang dewasa... Ga bagus tahu... Siapa tahu daddynya Sasa udah punya calon mama baru buat Sasa,” sambung Ajeng. Dirinya segera membuka pintu minibus dan membawa Sasa masuk.
Demi menghilangkan rasa suntuk, Ajeng mengajak Sasa untuk bermain berbagai peralatan main milik Bunga yang tersimpan di minibus itu. Dari bermain barbie, ular tangga, halma sampai monopoli... Ajeng mencoba menghibur Sasa agar tidak sedih karena merasa tidak diperhatikan oleh daddynya.
“Tante... Kok daddy ga dateng – dateng ya jemput Sasa?” tanya Sasa sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Sudah 4 jam lebih Sasa menunggu daddynya. Tapi orang yang ditunggunya tidak kunjung datang. “Apa daddy lupa ya sama Sasa?”
Semakin kesal saja Ajeng dengan laki-laki yang disebut daddy oleh Sasa. Rasanya Ajeng ingin mencaci maki laki-laki yang tega membuat sedih hati anak itu.
Pelan-pelan Ajeng mendekati Sasa yang berada di pojok bed. Wajahnya murung... Sangat murung. Dia terlihat sangat kecewa dengan ayahnya itu.
“Biar tante anter kamu ke rumah ya? Nanti kalau Sasa mau ngenalin tante ke daddy, biar ngenalin nya di rumah aja...” bujuk Ajeng dengan mengusap kepala Sasa.
“Masalahnya rumah Sasa ada di Jogja, tante. Sasa belom hafal jalan. Percuma juga kalau kirim pesan ke daddy buat tanya alamat rumah. Pesan yang Sasa kirim tadi aja belom dibalas,” jelas Sasa kesal dengan memandangi layar handphonenya.
“Kalau tanya alamat rumah ke grandma?” tanya Ajeng memberi ide.
“Grandma pasti kuatir, tante kalau aku pulang diantar orang yang belum grandma kenal...” jawab Sasa. “Nanti grandma pasti marah ke daddy... terus daddy marah ke Sasa...”
“Hm...” Ajeng semakin gemas dengan keluarga dari anak kecil itu.
“Kita jalan-jalan yuk tante! Biar nanti daddy yang nyari kita,” celetuk Sasa dengan wajah cerianya.
“Hm? Jangan dong sayang... Nanti daddy kamu bingung kalau kamu ga ada di sekolah”
“Daddy ga mungkin bingung tante... Daddy udah kasih GPS ke jam tangan aku sama handphone aku...” jelas Sasa. “Kita cari jajan sama ice cream...” memohon dengan berkedip – kedip.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Ajeng mengiyakan keinginan Sasa. Mereka mulai pergi ke mall untuk mencari baju ganti, sandal kecil untuk Sasa dan jajanan kesukaan Sasa. Rupanya meskipun badan Sasa kecil, anak itu bisa memakan banyak makanan.
Setelah selesai jalan- jalan dari mall, Sasa meminta Ajeng untuk berkeliling kota Solo. Ajeng pun mengikut keinginan Sasa. Sesekali Ajeng menengok layar handphone Sasa untuk melihat ada pesan atau panggilan dari ayah anak itu atau tidak.
“Ya ampun... Ini udah petang hlo... Masa bapaknya ga nelpon atau ngirim pesan sih? Keterlaluan banget! Hm...” gumam Ajeng pelan.
Setelah beberapa menit kemudian, Ajeng melihat Sasa sudah mulai tertidur di samping kursi kemudinya. Rasanya sangat kasihan melihat anak itu tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Ajeng segera menepikan mobil dan menggendong Sasa untuk tidur di bed belakang.
“(Cup) Mimpi indah sayang...” ucap Ajeng sambil mengusap kepala Sasa.
Beberapa menit Ajeng merebahkan dirinya. Tidak tahunya karena memang matanya mengantuk, Ajeng ikut tertidur dengan mendekap Sasa.
________
Saat ini Bimo tengah berada di sekolah Sasa. Dia berpikir Sasa akan ada di asrama karena sebelumnya dirinya sudah memesan kamar untuk Sasa.
“Maaf pak Bimo. Sasa siang tadi pulang dengan wanita yang katanya calon ibu barunya. Mungkin saja bapak bisa langsung menghubungi beliau,” ucap perempuan yang bertanggung jawab mengurusi asrama.
“Calon ibu baru Sasa?” tanya Bimo heran. Pikirannya mulai teringat dengan ide gila mamanya yang ingin menjodohkannya dengan perempuan dari anak teman mamanya itu.
Bimo pun segera mengecek keberadaan GPS Sasa. Karena kalau dirinya harus mengecek dengan mamanya, urusan akan menjadi panjang.
“Kok GPSnya masih ada di sini?” tanya Bimo heran ketika sudah berada di dalam mobil. “Deni, kamu bisa nyalakan mobilnya. Kita cari Sasa dulu,” pinta Bimo kepada assistantnya.
Dengan bantuan GPS yang sudah terpasang di jam tangan dan handphone Sasa, tidak membutuhkan waktu lama untuk Bimo menemukan titik lokasi keberadaan GPS itu.
“Pak, sepertinya anak bapak ada di dalam minibus depan itu,” ucap Deni.
Keduanya segera turun dari mobil untuk mengecek keberadaan Sasa di dalam minibus itu. Kaca minibus yang memang tidak tembus pandang dari luar membuat Bimo kesulitan untuk melihat apakah Sasa ada di dalam sana atau tidak.
“Pak, pintunya gak dikunci. Pak Bimo bisa masuk,” ucap Deni sambil membuka pintu minibus itu.
Bimo cukup terkejut ketika melihat bagian dalam minibus itu. Minibus yang tidak asing baginya. Minibus milik Ajeng. Hanya saja bagian luarnya sudah diganti warna catnya.
“Kamu tunggu sini, Den,” ucap Bimo yang kemudian menutup pintu minibus itu.
Rupanya memang benar dugaan Bimo. Wajah cantik yang membuatnya tergila-gila itu tengah memeluk Sasa. Dia tidak menyangka akan melihat moment seperti saat ini. Hatinya sangat senang. Bimo mulai mendekak kedua perempuan yang tertidur itu. Dia menci um kening Sasa dan Ajeng.
“Den, tolong kamu bawa Sasa pulang ke rumah. Saya ada urusan sama pemilik minibus ini,” ucap Bimo sambil memindahkan Sasa dari gendongannya ke Deni.
Bimo mulai kembali masuk ke minibus setelah menyerahkan Sasa ke Deni.
“I miss you, Ajeng,” ucap Bimo.
Rasa lelahnya setelah seharian bekerja seperti terbayar dengan melihat Ajeng di hadapannya saat ini. Bimo mulai melepas jas dan bajunya untuk bersiap naik ke atas bed.
Ajeng yang masih tertidur pulas, belum menyadari keberadaan Bimo. Bibir ranum yang sempat dia ciuumm paksa itu kini bisa dinikmatinya lagi. Mengu lum... menye sap... dan... mende sak tubuh Ajeng yang sudah dia tin dih.
“Mmmpp... Bimo!” Ajeng begitu terkejut dengan apa yang terjadi saat ini. Tangannya mera ba – raba mencari Sasa. Sementara itu dirinya juga harus merasakan lehernya dise sap oleh Bimo. “Sasa.....! Sasaa.....!”
“Sasa sudah gak ada di sini. Dia dibawa pulang sama assistant ku,” ucap Bimo sambil membuka paksa baju Ajeng.
Kedua lengan Ajeng dicengkram erat – eerat oleh Bimo. Pahanya dika pit dengan terus mendapat gigitan di area lehernya. Bimo menye sap dan terus menye sap membuat Ajeng meronta.
“Bim, jangan Bim. Breng sekk! Kamu breng ssekk!”
Ajeng begitu takut bila masa lalunya yang sudah dia kubur dalam – dalam akan terulang kembali. Apalagi kini dia melihat tangan Bimo mulai menarik ritseleting pada celana untuk mengeluarkan si pejantan.
“Tolong.....! Sasaaaa...! Mmmmpppp” Teriak Ajeng. Dia berharap di tepi jalan itu ada orang yang mendengarnya. Tapi mulutnya tiba-tiba dibungkam oleh bibir Bimo. Bimo melu mat habis bibir itu sambil mengarahkan miliknya untuk menembus sangkar yang sudah lama tidak dikunjungi.
“Argh... Heg! Mmmpp...” Air mata Ajeng mulai menetes saat benda lonjong itu menelusup menghen tak hen tak masuk. Ajeng tidak menyangka dirinya bisa merasakan penyatuan lagi bersama Bimo. Padahal selama ini setelah berpisah dengan Bimo, Ajeng ingin menjaganya untuk suaminya kelak. Tapi ternyata apa yang dia jaga itu dimiliki oleh Bimo lagi.
Bimo menggoyangkan pinggulnya dengan cepat. Tangannya mulai mere mas kedua buah kenyal untuk mencari tumpuan.
“Aghh.... Aghh... Sakit Bim... Aghh... Sakit...”
Entah kenapa meski ini bukan pertama kalinya Ajeng melakukan, rasanya terasa perih dan penuh mengganjal di bagian dalam sana.
Tok Tok Tok...!
“Tante Anaaa! Tanteeeee! Daddy jangan sakiti tante Anaaaaa! Huuaaaaa! Tante Anaaaaa.....! Daddy buka pintunya!” terikan Sasa mulai terdengar oleh Ajeng dan Bimo. Anak itu terus menggedor mobil yang kini sedang bergoyang.
“Ck!” Bimo berdecak kesal.
Selagi Sasa menggedor pintu mobil, tangan Bimo membekap mulut Ajeng. Tangan satunya dia pakai untuk menelpon assistantnya.
“Ngapain saja kamu? Cepat bawa Sasa pulang!” ucap Bimo kesal.
Pikiran Ajeng mulai bingung. Sebenarnya siapa Sasa? Anak siapa dia? Sejak kapan Bimo punya anak? Pertanyaan – pertanyaan seperti itu membuat Ajeng semakin membenci Bimo. Dia memukul dan dan mencakar dada ataupun lengan Bimo sampai beberapa bagian berdarah.
Bimo yang merasa Sasa sudah benar-benar dibawa pergi oleh Deni, kembali melancarkan aksinya lagi. Dia menggoyang dan mengheentak lebih dalam sampai Ajeng mengerutkan dahi dan menutup rapat-rapat matanya. Benda lonjong itu seluruhnya masuk sampai terasa medesak di ulu hati berkali - kali. Ingin menjerit tapi mulut juga dikunci oleh bibir Bimo. Tubuhnya didesak dan didesak membuat Ajeng kualahan.
“Arrgghh! Aghh!” Bimo menghujani lubang sangkar itu dengan cairan kentalnya. Dia tetap mendesakkan senjatanya dan tidak mau mengeluarkan begitu saja.
“Sudah puas kamu...?” ucap Ajeng tanpa memandang wajah Bimo. Dia memalingkan wajahnya karena takut hatinya luluh bila melihat sorot mata Bimo. “Setelah istrimu meninggal, kamu baru ingat aku...” ucap Ajeng mulai menyilangkan salah satu tangannya di dada. Dia merasa kesal karena apa yang sudah dia jaga harus dimiliki Bimo secara cuma-cuma. Tanpa ikatan pernikahan seperti apa yang Ajeng harapkan.
“Istri apa? Aku belum pernah married. Sasa itu anaknya Jesslyn. Jesslyn meninggal karena pembuluh darah di kepalanya pecah akibat kecelakaan,” jelas Bimo. Dia mulai menarik senjatanya dari sangkar Ajeng. Tapi anehnya Bimo melihat ada sedikit darah yang melumuri benda lonjongnya itu. “Kamu lagi period? Mens turation?” tanya Bimo sambil meraih tissue untuk membersihkan darah yang menempel pada senjatanya.
“Enggak...” jawab Ajeng bingung. Dia ikut melihat benda lonjong yang sedang Bimo bersihkan.
Bimo mulai mengerti kenapa Ajeng bisa berdarah lagi. Dia kembali menin dih tubuh Ajeng dan menelusupkan tangannya ke belakang punggung Ajeng.
“Kamu gak pernah bermain dengan laki-laki lain atau s e x t-o-y ya?” tanya Bimo dengan menyibak rambut Ajeng. Bimo cukup senang karena Ajeng menjaga bagian sumber pe mu as bira hinya. Bagian yang sudah lama tidak dikunjunginya itu memang sedikit sesak saat dirinya berusaha menghu jam. Karena kering dan tidak pernah dipakai, jadilah ada sedikit darah yang keluar dari dinding sangkar.
“Kamu pikir aku sama dengan kamu yang suka main clap clup clap clup?” sambung Ajeng kesal.
Bimo terkekeh mendengar ucapan Ajeng.
*****
Bersambung...
*****