My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 9



"Mas..." panggil Alisnya.


"Hmm?" Merasa dipanggil oleh istrinya, Farhan berhenti menatap laptopnya lalu beralih menatap istrinya.


"Mas kenal sahabatnya Dilla, gak?"


"Siapa?"


"Namanya Lunara, gadis lemah lembut, tutur bahasanya sopan, dan gadis itu juga memakai pakaian yang sangat tertutup"


"Yang mana?"


"Dia itu dokter yang bantu operasi Bunda waktu kita kecelakaan disini" Alisya menjelaskan.


"Oh, Ayah pernah dengar namanya, Dilla pernah cerita ke Ayah. Memangnya kenapa, Bun?"


"Dia orang Turki, loh, Mas. Tadi siang aku izin keluar buat makan siang bareng sama dia"


"Kamu bisa ngomong pake bahasa Turki?" Farhan menaikan satu alisnya.


"Bukan aku yang bisa ngomong pake bahasa Turki, tapi dia yang bisa pake bahasa Indonesia"


"Kok bisa?"


"Dia cerita sama aku katanya diajarin Dilla sama sepupunya yang tinggal di Indonesia" jelas Alisya.


"Oh. Lalu apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"


"Aku rasa dia cocok untuk Ghifari" Alisya memberikan pendapatnya.


"Kamu yakin?"


"Aku yakin, mas" balasnya antusias.


"Baiklah. Kalau selama tiga bulan Ghifari tidak menemukan apa yang kita cari, maka kita yang akan melamarnya untuk Ghifari" putus Farhan. Alisya tersenyum mendengarnya.


Tanpa mereka sadari, ada orang dibalik pintu yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


Tanpa kalian suruh 'pun, aku akan segera melamarnya, Ayah, Bunda. Batin Ghifari.


Terima kasih, sayang, kau telah mengizinkan ku untuk bermain main dengan hartanya. Ghifari membatin kembali.


Flashback on.


Pagi ini Ghifari berniat menghubungi kekasihnya karena sudah hampir seminggu lebih ia tak bertemu.


Ghifari menghubunginya pagi-pagi sekali karena ia yakin Resya-kekasihnya itu sudah bangun dari tidurnya karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Turki yang terpaut tiga jam lebih cepat Indonesia.


Tuut .... Tuut .... Tuut .... Maaf, nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.


Panggilan pertama dari Ghifari tak terjawab. Ghifari mencoba menghubungi kekasihnya kembali dan panggilan kedua di angkat olehnya.


"Halo? Maaf sayang, aku baru keluar dari dalam kamar mandi, jadi aku gak tau kamu nelpon aku sebelumnya" ucapnya.


Ghifari tersenyum. "Gak apa apa sayang, aku gak marah kok" balas Ghifari.


"Makasih sayang .... Oh iya, kenapa kamu pagi-pagi banget udah nelpon? Kangen banget sama aku, ya?" Tanyanya sedikit menggoda.


"Kan disana sudah pagi"


"Iya, tapi disana masih subuh 'kan?"


"Iya, disini masih subuh. Aku nelpon kamu karena kangen tau, yang"


"Ah .... So Sweet .... Aku juga kangen sama kamu, yang" balasnya manja.


"Yang, aku mau ngomong penting sama kamu" ucap Ghifari yang mendadak serius.


"Apa, yang? Bilang aja"


"Kamu beneran gak mau pake kerudung?" Ghifari memastikan kembali karena sebelumnya Resya-kekasihnya menolak untuk menggunakan kerudung.


"Maaf, yang. Bukan aku gak mau, tapi aku belum siap. Aku masih mau senang-senang sama masa muda aku. Kalo aku pake kerudung aku keliatan kayak Ibu-Ibu nanti" tolaknya dengan alasan yang tak beda jauh dari sebelumnya.


"Kamu tetep cantik dimata aku 'kok, yang"


"Maaf, aku belum bisa"


"Ya udah" balas Ghifari kecewa.


"Gimana kamu turuti aja permintaan orang tua kamu. Kamu nikah sama orang yang termasuk kriteria orang tua kamu. Setelah kamu mendapatkan jabatan CEO dan warisan dari Ayah kamu, kamu langsung ceraikan aja dia dan menikah denganku" Resya memberikan pendapat.


"Aku juga berpendapat seperti itu sebelumnya, tapi aku ingin meminta persetujuan dulu dari kamu, biar kamu gak marah"


"Aku gak marah, sayang. Ini demi kepentingan kita di masa depan"


"Aku akan segera melamarnya" ucap Ghifari dengan semangatnya.


"Kau sudah menemukannya, sayang?"


"Benarkah?"


"Iya. Dilla yang memberitau ku semuanya"


"Kok Dilla bisa tau?"


"Karena itu sahabatnya Dilla. Aku akan memeras perusahaan keluarganya terlebih dahulu"


"Kau tau, perusahaan besar seperti itu tidak akan tinggal diam jika seseorang ada yang berani macam macam, apalagi jika anaknya" Resya memperingati.


"Iya, aku tau, sayang. Aku akan melakukan sebaik mungkin agar tidak ada satupun yang mencurigaiku"


"Terserah kamu, sayang. Aku akan mendukung keputusan kamu"


"Terima kasih, sayang. Kalau begitu aku tutup, ya"


"Iya"


Ghifari mematikan panggilannya lalu tersenyum puas, tak sabar dengan permainan yang akan dimulai olehnya.


Semoga ia menerima ku. Batin Ghifari.


Flashback off.


__________


"Yah, Bun, ada hal penting yang akan aku bicarakan" ucap Ghifari memecahkan keheningan di meja makan.


"Katakanlah" suruh Farhan.


"Aku ingin melamar seseorang" ucap Ghifari mantap.


"Uhuk .... Uhuk ...." semua yang ada dimeja makan terbatuk-batuk mendengar ucapan Ghifari termasuk Dilla dan Rayhan.


"Abang gak salah ngomong?" Tanya Dilla.


"Abang sehat?" Sindir Rayhan.


"Hush .... Kalian gak boleh ngomong kayak gitu ke Abang kalian" peringat Alisya.


"Maaf" balas keduanya.


"Fokus pada makanan kalian dulu. Setelah makan malam, baru kita bahas ini lagi" suruh Farhan. Yang lain hanya mengangguk sebagai balasan.


Makan malam mereka kembali hening. Tak ada yang bersuara, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang berada diatas piring.


Setelah makan malam mereka selesai, Ghifari akan kembali berbicara kepada kedua orang tua nya.


"Yah, Bun, bolehkah aku melamar seseorang?" Izin Ghifari.


"Apa kamu udah menemukan apa yang Ayah bilang?" Farhan bertanya balik.


"Sudah, Yah" balas Ghifari antusias.


"Siapa, Bang?" Tanya Rayhan ikut campuri urusan Abangnya.


"Diam, atau ke kamar mu, Rayhan" suruh Farhan tegas.


"Iya, Yah" karena Rayhan juga penasaran, maka ia lebih memilih untuk diam.


"Apa kamu yakin orang itu sama dengan yang kami bicarakan?" Tanya Alisya.


"Iya Bunda"


Alisya sedikit kecewa mendengarnya. Padahal, ia akan menjodohkan Ghifari dengan Lunara setelah waktu tiga bulan yang diberikan telah habis. Tapi tak apa, berarti dirinya juga sudah menemukan wanita baik yang pantas bersanding dengannya di atas pelaminan nanti.


"Siapa? Katakan, Ayah ingin mendengarnya" tanya Farhan.


"Dia adalah sahabat Dilla, yaitu dokter Lunara" balas Ghifari yakin.


"Luna?!!!" Alisya dan Dilla terkejut bersamaan. Yang mereka harapkan ternyata akan menjadi kenyataan. Padahal yang akan menikah nantinya Ghifari, tapi mereka lah yang sangat bahagia saat ini.


"Iya"


"Aku setuju" Alisya dan Dilla lagi lagi kompak mengatakannya.


Ghifari tersenyum penuh kemenangan.


Kalian akan menyesal karena telah menyetujuinya. Batin Ghifari tertawa licik.


__________


VOTENYA MANA NIH??? 😁


LIKE SAMA KOMEN JGN LUPA, YAA😉😆


Tangerang, 5 Juli 2020.