
Ceklek
Pintu ruangan dibuka, menampilkan Ghifari yang sedang memijat pelipis dengan mata yang terpejam. Nampaknya ia sedang pusing dengan urusan perusahaan.
"Aba!!" Alma berteriak kemudian berlari ke arah Ghifari.
Tentu saja Ghifari terkejut karena kehadiran Alma, tapi hal itu membuatnya tersenyum. Seolah energinya langsung terisi penuh karena melihat kehadiran Alma di perusahaannya. Ghifari berdiri dari bangku kebesarannya dan berjalan mendekati Alma.
Bruk!
"Astaghfirullah" tubuh Ghifari terhuyung ke belakang ketika Alma menabraknya dengan kencang. Ghifari mengangkat Alma dan membawanya dalam gendongan. Memberikan Alma kecupan di seluruh wajah anak itu.
Alma tertawa kecil ketika Ghifari terus mengecup wajahnya. "Dengan siapa Alma kemari?" Tanya Ghifari. Ia belum melihat ke arah pintu masuk ruangannya.
"Ane, Aunty Selyn, Uncle Rizal sama Abi Al." Balas Alma menyebutkan satu persatu orang yang datang bersamanya ke perusahaan tersebut. Tangan kanan Alma menunjuk ke arah pintu masuk, disana ada orang yang baru saja Alma sebutkan.
"Saya permisi,"
"Iya silahkan. Terima kasih Pak Arief." Balas Rizal kepada pria paruh baya yang mengantarkan mereka menuju ruangan Ghifari. Pria yang bernama Arief tersebut menunduk dan membalas ucapan Rizal dan setelah itu pamit dari ruangan Ghifari.
Ghifari serta Lunara berjalan saling mendekat. Tangan Lunara terulur mencium punggung tangan Ghifari dan sebaliknya Ghifari mengecup puncak kepala Lunara dengan sayang. Alma turun dari gendongan Ghifari dan melakukan hal yang sama seperti yang Lunara lakukan, yaitu mencium punggung tangan Ghifari.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
Ghifari mendekat ke arah Rizal, memeluk sang sahabat yang sudah lama kesal dengan dirinya. Senyumnya mengembang ketika Rizal ingin bertemu kembali dengannya.
"Apa kabar, bro?!" Sapa Ghifari setelah melepas pelukan mereka. Pertemuan baik yang sudah lama Ghifari inginkan, tapi karena kesalahannya sendiri yang membuat kehilangan segalanya.
"Alhamdulillah gue baik, lo sendiri?"
"Yah… Pusing sedikit. Biasa, urusan kantor" balas Ghifari. Nampak sekali bahwa Ghifari sangat bahagia ketika melihat salah satu sahabatnya datang kembali kepadanya. Rizal terkekeh mendengar balasan dari Ghifari.
Tak dapat dipungkiri, ia sendiri bahagia bisa kembali bersama dengan sahabat kecilnya itu. Namun ego-lah yang membuatnya malu untuk kembali menemui Ghifari karena kekesalannya.
Ghifari menunduk melihat ke arah jam tangannya. "Sebentar lagi jam makan siang, sebaiknya kita keluar untuk mencari makan siang." Ucap Ghifari memberikan usulan. Rizal dan yang lainnya setuju dengan hal itu, maka mereka pun keluar dari ruangan Ghifari menuju parkiran untuk makan siang bersama.
Karena jam makan siang Ghifari maju, maka seluruh karyawan yang lainnya juga dimajukan waktu jam makan siangnya. Namun lagi-lagi kehadiran Lunara serta Alma di sisi Ghifari membuat seluruh karyawan heran. Apalagi melihat Ghifari menggandeng tangan Lunara dan menggendong Alma di sisi lain tangan Ghifari. Kemudian setelah melihat hal itu ada beberapa orang karyawan lama yang mengingat jika yang berada di samping Ghifari adalah Lunara serta anaknya.
___________
Sampainya di sebuah restoran mereka turun dari mobil. Jadi total kendaraan yang mereka bawa ada tiga termasuk mobil milik Ghifari.
Melihat kedatangan Ghifari, membuat manager restoran itu terkejut. Ia langsung berlari ke arah ruangan pemilik restoran tersebut untuk memberitau hal yang menurutnya penting. Akhirnya kedua orang itu menyambut kedatangan Ghifari dengan hormat. Pembeli memanglah seorang raja, tapi menurut mereka kali ini benar-benar seorang raja.
Ruangan khusus dipersiapkan oleh keduanya. Membuat Ghifari serta yang lainnya merasa nyaman berada di tempat tersebut. Rupanya hal itu tak luput dari pandangan para pengunjung hari itu. Salah satunya adalah seorang dokter yang satu ini, ia menatap sang suami dan anaknya yang baru saja datang ke restoran tersebut.
"Sepertinya kita akan mendapatkan traktiran, ayo ikuti mereka!" Usul dokter cantik itu. Ia menarik tangan suami dan anak lelakinya yang berumur tujuh tahun untuk mengikuti langkah Ghifari yang berada di depannya.
Dokter itu menepuk pundak Ghifari dan Rizal secara bersamaan, membuat keduanya pun menoleh ke belakang.
"N-Nadia?" Ucap Rizal terkejut melihat salah satu sahabatnya yang sudah lama tak bertemu dengannya.
"Yey, hari ini gue dapet traktiran dari para pemilik perusahaan!" Girang Nadia membuat Ghifari dan Rizal saling berpandangan. Sudah lama tak berkumpul bersama tapi seperti biasa selalu saja Nadia meminta mereka untuk ditraktirkan.
"Ya udah" akhirnya mereka mengikuti kemauan Nadia yang meminta mereka untuk mentraktirkannya makan siang.
"Makasih! Ayo Mas, Ghibran, kita gabung sama mereka!" Dengan senyum bangga Nadia menghampiri Lunara serta Selyn yang berada di belakang para suaminya.
"Maafin istri gue ya" ucap Rangga-suami Nadia yang malu melihat tingkah istrinya yang bobrok dan tak tau malu. Rangga hanya bisa menggeleng tak percaya melihat kelakuan istrinya itu.
"Hai Lunara, Selyn!" sapa Nadia kepada kedua istri sahabatnya.
Ia merangkul tangan Lunara dan Selyn bersamaan dan menatap kedua anak para sahabatnya yang memiliki wajah campuran dari benua Eropa. Kemudian ia beralih menatap anaknya yang berjalan bersama suaminya.
Nadia melepas rangkulannya dan mendekat ke arah Alma. "Hai cantik, kau mengingatku?" Tanya Nadia yang langsung membawa Alma dalam gendongannya.
"Aunty Nadia?" Tebak Alma. Bocah itu sedikit lupa karena pertemuannya yang pertama cukuplah singkat karena tiba-tiba Nadia mendapatkan panggilan medis.
Nadia menggeleng. "Bukan Aunty, tapi Ante Nadia" ucap Nadia membetulkannya. Ia bukanlah keturunan orang asing, jadi menurutnya ia tak cocok dengan panggilan awal Alma kepadanya.
Alma hanya mengangguk menyetujui ucapan dari Nadia. "Pintar!" Lanjut Nadia mengecup pipi Alma. Kemudian tatapannya beralih ke arah Vian yang menatapnya. "Vian juga ya?" Seperti Alma, Vian hanya mengangguk.
Tatapannya kemudian kembali kepada Alma yang berada dalam gendongannya. "Alma cantik, dengarkan Ante," ucap Nadia menatap manik Alma. Bocah itu tidak mengenakan niqabnya saat ini, katanya ia akan mengenakan niqab ketika salju turun atau musim dingin. Sedangkan di negara Indonesia apalagi Jakarta tidak turun salju disana.
Sekali lagi Alma mengangguk. "Alma ingin bersama Vian atau Bang Ghibran?" Tanya Nadia membuat seluruh orang dewasa menatap ke arah Nadia.
"Abi Al!" Balas Alma cepat dan kencang. Ia tak terlalu kenal dengan Ghibran, maka ia lebih memilih dengan Vian. Lagipula Alma selalu bermain bersama Enver dan Vian, tak ada Enver maka Vian-lah yang Alma pilih.
Nadia menarik bangku saat mereka telah berhenti di ruangan khusus tersebut. Ia memangku Alma dan mendekatkan mulutnya di telinga Alma supaya yang lain tak mendengar ucapannya. "Abang Ghibran juga ganteng, loh… Alma mau kan dewasa nanti dengan Abang Ghibran aja?" Tanya Nadia.
"Mamah!!" Wajah putih Ghibran telah berubah menjadi memerah karena menahan malu dari ucapan sang Ibu. Dari tadi namanya selalu saja disangkut pautkan oleh sang Ibu, seperti sedang menjodoh-jodohkan mereka berdua.
Rupanya pertanyaan yang Nadia lontarkan terdengar oleh seluruh orang yang berada di ruangan tersebut. "Jangan coba-coba mempengaruhi Alma!" Peringat Ghifari yang sudah mulai kesal dengan tingkah Nadia.
Ghifari beralih menatap ke arah Alma. Ia berdiri dari duduknya dan mendekati Nadia yang sedang memangku Alma. Tangannya terulur mengambil alih Alma dari pangkuan Nadia. "Alma dengarkan Aba! Jangan lakukan apa yang Ante Nadia katakan, oke? Alma boleh berteman dengan siapapun, jangan memilih teman. Alma dengar ucapan Aba?" Ucap Ghifari menasehati.
Nadia tersenyum mendengarnya. "Berarti ada peluang besar anak gue bisa sama anak lo!" Girang Nadia terkekeh mendengar ucapannya.
"Nadia berhenti!!!" Ketiga lelaki dewasa itu membentak Nadia secara bersamaan. Mencoba untuk tidak melanjutkan khayalan Nadia tentang masa depan anak mereka. Bibir Nadia mengerucut tak terima ketika dilarang oleh Suami dan kedua sahabatnya tentang masa depan yang sedang ia pikirkan. Sedangkan Lunara dan Selyn saling berpandangan, menggeleng dengan sikap Nadia yang menurut mereka konyol.
[END]
__________
Ahh kepalaku mumet sama cerita ini makanya aku slesainnya kayak gini aja. Tenang, aku masih buatin extra part sampe 5 eps, ditunggu yaa...