My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 25



Selama hampir 15 menit Lunara menagis, ia pun berhenti. Tak ada perubahan jika ia terus menangis. Hanya akan buang waktu dan air matanya saja.


"Bismillah" Lunara mencoba bangun. Tangannya berpegangan pada dinding agar tubuhnya tak terjatuh.


Dengan perlahan Lunara berjalan. Menuju lantai atas untuk mengambil pakaiannya yang berada di dalam kamar milik Ghifari. Ia merapihkan semua pakaian miliknya dan ia masukkan ke dalam koper miliknya.


Setelah melihat pakaiannya sudah masuk semua ke dalam koper miliknya, Lunara keluar kamar dan menuruni tangga dengan tertatih-tatih takut terjatuh.


Lunara menarik koper miliknya menuju kamar yang ia tempati sebelumnya. Saat sampai disana, Lunara mengernyit heran. Pintu kamar itu terkunci, lalu bagaimana Lunara menaruh pakaiannya.


Akhirnya Lunara memutuskan mencari kamar lain untuk menaruh barang-barang miliknya. Nihil, tak ada satupun kamar yang ada di rumah itu yang terbuka.


Lunara duduk di sofa, mengistirahatkan kakinya yang dari tadi ia pakai untuk memutari rumah itu.


"Aku taruh disini dulu. Aku akan membersihkan rumah ini dahulu, sekalian untuk mencari kamar ku nanti" gumam Lunara.


Beberapa menit sudah berlalu, akhirnya Lunara beranjak dari duduknya menuju dapur terlebih dahulu. Setelah pekerjaan dapur selesai, ia beralih membersihkan halaman belakang karena tempat itu bersebelahan dengan dapur. Ia menyapu halaman belakang lalu menjemur pakaian basah yang telah ia dicuci.


Lunara kembali masuk ke dalam rumah setelah selesai dengan pekerjaan yang berada di halaman belakang. Ia mengistirahatkan kembali tubuhnya karena cukup letih membersihkan rumah yang luas dan lebar itu hanya seorang diri.


"Tinggal bagian dalam yang belum dibereskan" gumam Lunara mengingat sisa pekerjaan yang diberikan Ghifari kepadanya.


Merasa istirahatnya sudah cukup, Lunara bangkit dan berjalan ke arah gudang untuk mengambil vacum cleaner yang biasanya diletakkan di gudang. Lunara berjalan ke arah kamar Ghifari terlebih dahulu untuk ia bersihkan.


Hampir 25 menit Lunara membersihkan ruangan yang ada di rumah itu. Karena banyak ruang kamar yang terkunci, maka dari itu Lunara dengan mudah dan cepat membersihkan satu persatu ruangan yang terbuka. Hanya tinggal satu ruangan yang belum ia bersihkan, yaitu kamar yang berada di bagian belakang rumah.


Lunara meraih gagang pintu kamar belakang, ingin memastikan ruangan itu terbuka atau terkunci.


Ceklek…


Ternyata pintu kamar bagian belakang terbuka. Belum Lunara bersihkan bagian dalam ruangan kamar itu, Lunara berjalan ke arah pintu kamar yang lainnya, ia juga ingin memastikan. Dan, terbuka. Pintu yang lainnya juga terbuka. Semua ruang kamar yang berada di bagian belakang rumah itu terbuka.


"Kenapa cuma kamar bagian belakang dan kamar Mas Fari saja yang tidak terkunci?" Gumam Lunara.


Tak ingin ambil pusing, Lunara segera masuk ke dalam untuk membersihkan semua kamar belakang yang berjumlah lima ruang.


___________


Jam sembilan lewat beberapa menit, tak seperti biasanya Ghifari pulang ke rumah. Dengan keadaan yang baik baik saja tanpa mabuk.


Lunara yang selalu menunggu kepulangan Ghifari-pun merasa sangat bahagia. "Alhamdulillah Mas Fari pulang dengan keadaan baik baik saja" ucap Lunara menghampiri Ghifari, berniat menyambut kepulangannya.


Ghifari menatap tajam Lunara "Memangnya kenapa kalau saya mabuk? Tidak suka, hmm?"


Ia berhenti kembali, memutar tubuhnya. "Ingat satu hal ini. Jangan pernah mengusik saya, maka saya tidak akan mengusik ketenangan kamu juga.


"Kamu juga tidak perlu meminta izin dari saya jika ingin keluar. Bahkan jika kamu ingin pergi dari kehidupan saya pun tak apa, saya tidak masalah." Ucap Ghifari.


Sakit. Itu yang dirasakan Lunara saat ini. Sakit yang sangat amat dalam, namun tak berdarah. Tetapi berbekas di dalam hatinya yang jika diobati-pun mungkin tak akan pernah hilang.


Air mata Lunara luruh dengan sendirinya tanpa aba aba dari sang pemilik. Ia tak kuasa menahan semua ini. "Kenapa?" Tanya Lunara lirih.


Penasaran dengan sikap Ghifari yang berubah drastis, Lunara langsung menyusul Ghifari yang masih menaiki satu persatu tangga yang menuju lantai dua. "Kenapa, Mas? Apa salah aku sampai kamu memperlakukan aku seperti ini? Dimana letak kesalahan aku, Mas? Katakan padaku, aku akan memperbaikinya asalkan Mas tidak bersikap seperti ini kepadaku" pinta Lunara berharap Ghifari akan menjawab pertanyaannya.


Ghifari berhenti melangkah lalu berbalik kembali. "Sebenarnya ini bukanlah kesalahanmu. Hanya saja, ini karena keinginan orang tua saya" Ghifari melanjutkan kembali langlahnya yang sempat terhenti.


Lunara mengernyit. Masih tak paham dengan balasan dari Ghifari. Ia mengikuti langkah Ghifari kembali. "Apa maksudmu, Mas?"


"Kamu itu banyak tanya sekali!!" Bentak Ghifari kesal.


"Cepatlah kembali ke kamar kamu! Jangan pernah kau mengusik saya!!"


Lunara tersenyum miris. "Kamar? Bahkan aku-pun belum memiliki kamar karena semua tempat kamu kunci, mas"


"Benarkah? Kamu tak tau kamar milikmu? Mari saya tunjukkan" Ghifari menarik paksa lengan Lunara.


Menuruni anak tangga dan meraih koper Lunara yang berada di ruang tamu. Menyeret Lunara menuju ruangan belakang. Sesampainya di sana Ghifari langsung menghempaskan tangan Lunara dan mendorongnya untuk masuk ke dalam salah satu kamar yang berada di sana.


"Inilah kamarmu, Lunara. Apa kamu tak mengerti?!!" Bentak Ghifari membuat Lunara ketakutan.


Lunara menatap sekelilingnya, kamar ini adalah salah satu kamar yang tadi ia bersihkan. Dan kamar ini tidak berpenghuni karena, yah… Memang sudah tidak ada orangnya. Itu adalah kamae mereka, semua asisten rumah tangga Ghifari yang baru saja ia pecat secara massal.


"Mas …" Lunara menggeleng lirih.


"Kamu tak ingat ucapan saya pagi tadi?!" Wajah Ghifari benar benar merah padam seperti tomat saat ini.


"Kamu adalah PEMBANTU SAYA mulai hari ini, Lunara!!" Lagi lagi dengan bentakan yang tak kalah kencang dari sebelumnya.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Ghifari mengunci pintu kamar dari luar. "Semoga kamu betah di dalam sana, sayang" ucap Ghifari sebelum meninggalkan Lunara sendiri di dalam kamar itu.


BRAK!! BRAK!! BRAK!!


Berkali-kali Lunara memukul pintu. "Mas, tolong buka pintunya, Mas, Luna mohon" berkali-kali juga Lunara meminta pertolongan, namun nihil karena disana tidak ada seseorang untuk ia meminta tolong.


__________