
Almasya Shahinaz Muzakki, seorang mahasiswa dengan jurusan manajemen di sebuah universitas ternama, yaitu IPMI International Business School. Universitas itu terdapat di Kalibata, Jakarta. Sebagai salah satu universitas swasta, kampus ini dikenal sebagai sekolah bisnis yang perkuliahannya menggunakan bahasa Inggris. Metode pembelajaran yang diterapkan pun seperti Universitas Harvard, Amerika Serikat.
Anak yang dahulu sangat imut dan menggemaskan sekarang telah tumbuh menjadi wanita cantik. Alma tumbuh menjadi seorang wanita yang terkenal akan kedermawanannya. Baik hati juga tidak sombong, tak memandang rendah orang-orang disekitarnya. Justru Alma sangatlah merangkul orang-orang yang benar-benar sedang kesusahan dalam perekonomiannya. Memberikan mereka pekerjaan di salah satu bisnis yang tengah ia kerjakan.
Di umurnya yang baru menginjak 21 tahun Alma sudah sangat mandiri. Mendirikan toko kue yang saat ini sudah berkembang pesat juga sudah memiliki cabang sebanyak 137 dan berkembang hampir disetiap daerah di negara Indonesia. Gadis itu sangatlah mandiri dan tidak lagi bergantung kepada kedua orang tuanya. Hanya biaya kuliah yang masih ditanggung oleh kedua orang tuanya. Alma adalah anak mereka, maka sebelum Alma menemukan jodohnya, itu masih menjadi tanggung jawab mereka sebagai orang tua.
Gadis itu juga telah masuk ke dalam majalah pengusaha yang sukses di umur mereka yang masih sangat muda. Menjadi berita hangat media massa dan menjadikan Alma sebagai motivasi anak-anak muda untuk yakin dan terus maju.
"Assalamualaikum" acara sarapan keluarga itu terhenti ketika mendengar salam dari pintu masuk utama.
"Waalaikumsalam. Tunggu sebentar Abi!" Balas Alma yang langsung mempercepat makannya.
"Vian, ayo masuk dan sarapan bersama" Lunara mendekati pria yang bertamu pagi hari itu. Vian tersenyum ketika mendengar ajakan dari Lunara.
Dengan sopan Vian menolak ajakan makan bersama dari Lunara. "Vian sudah makan di rumah, Aunty" tolak Vian dengan senyumnya.
"Ya sudah, Vian tunggu sebentar disini, ya?" Vian mengangguk menuruti ucapan Lunara yang memintanya untuk menunggu di ruang tamu.
Tuk… Tuk… Tuk…
Langkah Alma menuruni anak tangga terdengar di telinga seluruh orang yang berada di sekitar tangga. "Pelan-pelan Alma!" Peringat Lunara yang melihat Alma menuruni anak tangga dengan cepat.
"Baik Ane" langkah Alma memelan ketika mendapatkan peringatan dari sang Ibu. Ketika berada di depan Lunara, Alma mengecup kedua pipi Lunara.
Setelahnya Alma berjalan mendekati Ghifari dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Lunara. "Alma berangkat ya Aba?" Izin Alma kepada sang Ayah.
"Baik tuan putri, hati-hati ya" balas Ghifari mengelus puncak kepala Alma.
Hanya Alma lah yang menjadi tuan putri di keluarga Muzakki karena adik dan seluruh sepupunya seorang pria yang siap siaga menjaga dirinya.
"Aydan, Kakak berangkat ya?"
"Iya Kak, hati-hati di jalan ya." Aydan Zavier Muzakki, anak kedua dari pasangan Ghifari dan Lunara. Jarak umur keduanya terpaut lima tahun, jadi saat ini Aydan baru berumur 16 tahun. Alma mengangguk mengiyakan ucapan sang adik.
"Ya udah, Kakak berangkat ya? Assalamualaikum. Ayo Abi Al" Vian mengangguk dan berdiri dari duduknya. Menyalami tangan Lunara dan Ghifari lalu berpamitan kepada Aydan.
"Waalaikumsalam."
Alma mengikuti langkah Vian yang berjalan mendekati mobil yang ia bawa. "Abi, Arkan gak ikut ya?" Tanya Alma. Biasanya mereka bertiga selalu berangkat kuliah bersama, namun hanya kelas jurusan dan angkatan yang berbeda walaupun kuliah di universitas yang sama.
Vian menoleh ke sampingnya, menatap Alma sebentar. "Arkan ada di dalam mobil, katanya dia tunggu disana aja" balas Vian menunjuk ke arah mobilnya. Alma mengangguk paham kemudian melanjutkan kembali langkahnya yang sebelumnya memelan.
"Nona tunggu!" Langkah Alma terhenti, ia tau siapa yang baru saja memanggilnya. Alma memutar tubuhnya lalu menatap orang yang baru saja memanggilnya.
"Kami ikut dari belakang." Lagi-lagi Alma diikuti oleh para bodyguard sang Ibu. Bukan dirinya ataupun Lunara yang meminta, melainkan sang Kakek-Jabare yang mengirimkan orang-orang itu kepadanya. Dengan terpaksa Alma harus menurutinya kembali.
__________
Tuk… Tuk… Tuk…
"Alma tunggu!!" Alma tau siapa yang memanggilnya.
"Huh… Huh… Huh… Kenapa Alma gak nyamper ke rumah Shasha?" Tampaknya orang yang memanggil Alma sedang kewalahan karena berlari di sepanjang koridor untuk mengejar Alma.
"Maaf ya, Abi Al sama Arkan jemput Alma tadi jadi gak ke rumah Shasha dulu"
"Ya udah deh… Tadi Bunda nitipin ini buat Alma" Shasha menyerahkan satu buah kotak bekal. Alma menunduk menatap kotak bekal yang diberikan untuk dirinya. Detik berikutnya ia tersenyum lalu menerima kotak bekal tersebut.
"Terima kasih Shasha Sherly Arian." Balas Alma memeluk Shasha dengan erat.
Shasha Sherly Arian, sahabat Alma dari taman kanak-kanak. Selalu bersama sejak kecil membuat keduanya menganggap bahwa mereka adalah keluarga. Karena dari kecil Alma selalu dikelilingi oleh teman dan sepupu lelaki juga para bodyguard yang selalu mengawal kemanapun ia pergi maka tak ada yang berani mendekatinya. Hanya Shasha yang mau berteman dengan Alma hingga mereka duduk di bangku perkuliahan.
Jurusan kuliah yang diambil oleh Alma pun hanya karena Shasha mengambil jurusan tersebut. Karena Shasha adalah salah satu pewaris perusahaan sang Ayah, maka ia harus mengerti tentang seluk beluk sebuah perusahaan. Sedangkan Alma diberi kebebasan dalam memilih oleh kedua orang tuanya dan tidak dipaksakan dalam mengganti jabatan dalam keluarga besarnya.
Alma dan Shasha berbelok memasuki kelas mata kuliahnya. Untuk para bodyguard mereka tengah berdiri tegap di depan pintu masuk kelas tersebut.
"Alma, kamu mau ikut aku gak?" Shasha menyenggol Alma yang sedang mengecek beberapa keperluannya.
Alma menatap Shasha. "Kemana?" Ia sedang menduga-duga apa yang akan Shasha lakukan.
"Kita latihan bela diri!" Dengan girang Shasha mengatakan hal tersebut.
Alma terdiam menimang-nimang ucapan Shasha. Sudah sangat lama Shasha menekuni pembelajaran salah satu bela diri yang ada dan biasanya Alma akan menontonnya saja dari kejauhan karena tak diperbolehkan oleh kedua orang tuanya.
"Shasha kan tau Alma gak boleh ikut kayak gitu. Alma juga banyak yang jaga" rajuk Alma yang kembali mengingat perkataan sang Ibu yang melarangnya. Lagipula ia memiliki banyak bodyguard yang selalu menjaganya.
"Kita kabur dari mereka-"
"Abang kasih tau ke Ane nanti" Atensi keduanya teralihkan, menatap orang yang telah memotong pembicaraan Shasha.
"B-Bang Ghibran. Kok Abang ada disini?" Tanya Alma. Ternyata yang memotong pembicaraan Shasha adalah Ghibran-anak dari sahabat Ayahnya.
"Eh kamu yang waktu itu ya?" Tebak Shasha. Matanya berbinar melihat Ghibran yang berada di hadapannya.
Ghibran menoleh sebentar ke Shasha, lalu kembali menatap Alma yang sedikit gelagapan. "Abang pengganti dosen kamu yang lagi cuti. Cuma sementara doang." Balas Ghibran beralih ke depan kelas, ingin memulai kelas yang ia ajar.
"W-what?!! Yes!! Alhamdulillah!" Girang Shasha ingin meloncat dari tempat duduknya.
"Berisik kalian saya keluarkan!" Perkataan Ghibran mampu membuat Shasha langsung terdiam. Sedangkan Alma menutup wajahnya yang sedang menahan malu. Apa lagi yang akan terjadi ke depannya? Kakak, Adik dan seluruh teman cowoknya ada di dalam satu kampus yang sama. Pasti ini bagian dari rencana Enver juga! Batin Alma kesal.
__________
Kalau extra part nya udh slesai berarti cerita Alma aku lanjutin di "Second Life" oke?