
"Luna, aku diperbolehkan tinggal disini oleh Bunda. Aku akan sering bertemu dengan kamu lagi deh" ucap Dilla saat ia baru datang menghampiri Lunara yang sudah menunggunya. Dengan erat Dilla memeluk tubuh Lunara saat ia baru datang.
Lunara sedikit terkejut. Ia melepaskan pelukannya, setelah itu memberi salam kepada Dilla. "Assalamualaikum" ucap Lunara. Seperti biasa, setiap awal ataupun akhir pertemuan Lunara selalu mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Hehe .... Maaf, aku lupa. Ayo duduk dulu Luna sayang" balas Dilla.
Saat ini mereka sedang berada di cafe yang cukup terkenal yang berada di Kota Ankara-Turki.
"Luna, aku boleh tinggal disini selama sebulan. Aku udah izin ke Bunda dan Ayah, lalu kata mereka tidak apa apa" Dilla mulai bercerita. Saking bersemangatnya, Dilla sampai mengencangkan volume suaranya.
"Benarkah? Aku juga bisa bertemu kamu lagi kalau begitu" balas Lunara dengan senang.
"Iya, beneran Luna"
"Üzgünüm, afedersiniz. Ne sipariş etmek istiyorsun, bayan?" (Maaf, permisi. Mau pesan apa, nona-nona?) Tanya waiter's wanita seraya menyodorkan dia buah buku menu yang ada di cafe tersebut.
Lunara menerimanya dan mulai membuka buka halaman buku menu tersebut.
"Kau harus mencoba teh yang ada disini, Dilla. Aku yakin pasti kamu menyukainya" saran Lunara.
"Baiklah, akan ku coba" balas Dilla.
"Teh Turki cocok jika digabungkan dengan baklava (makanan asli Turki)" Lunara memberikan saran lagi.
"Baiklah. Kamu saja yang pesan. Terserah kamu, aku akan mengikutinya" suruh Dilla seraya tersenyum.
Lunara mengangguk mengiyakan perkataan Dilla. Ia membuka halaman demi halaman untuk mencari makanan yang pas untuk mereka makan saat ini.
"İki çay, iki porsiyon için baklava, iki porsiyon için pide, dolma ve lokum sipariş etmek istiyorum" (Saya mau pesan teh dua, baklava untuk dua porsi, pide, dolma dan lokum untuk dua porsi) ucap Lunara pada waiter's wanita yang sudah menunggunya dari tadi.
"İki çay, iki porsiyon için baklava, iki porsiyon için pide, dolma ve lokum yeniden yaptım. Doğru?" (Baik, saya ulang teh dua, baklava untuk dua porsi, pide, dolma dan lokum untuk dua porsi. Benar?) Tanya waiter's wanita itu memastikan bahwa yang ia tulis dibuku untuk memesan itu benar.
"Evet" (Iya) balas Lunara seraya mengangguk.
"Tamam. Lütfen bekleyin hanımefendi" (Baiklah. Mohon di tunggu ya, nona nona) pinta waiter's wanita itu seraya tersenyum.
Lunara hanya mengangguk membalas perkataannya.
Lunara dan Dilla menunggu pesanan datang. Selagi pesanan mereka belum datang, mereka berbincang bincang kecil.
"Ah .... Jadi kangen waktu kuliah" ucap Dilla bernostalgia.
"Iya. Kamu suka banget mengajak aku berkeliling Indonesia. Jadi pengen kesana lagi" balas Lunara berandai-andai.
"Kalau gitu, kamu ikut aku ke Indonesia saja. Gimana?" Tawar Dilla.
"Aku mau. Tapi sekarang aku banyak pekerjaan. Kayaknya gak bisa ambil cuti yang lama" Lunara sedikit sedih.
"Yah .... Sayang banget"
"Gak apa apa. Oh iya, kamu di Indonesia sudah dapat pekerjaan?" Tanya Lunara mengganti topik pembicaraan.
"Belum." ekspresi wajah Dilla berubah menjadi sedih. Ia sangat ingin seperti Lunara yang sudah mendapatkan pekerjaannya, yaitu menjadi dokter. Sewaktu kuliah, Dilla juga mengambil jurusan yang sama seperti Lunara, yaitu kedokteran.
"Maaf .... Aku tidak tau" Lunara merasa bersalah.
"Tidak apa apa. Yuk makan. Mulai dari yang mana dulu, nih?" dengan cepat Dilla merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria kembali saat menu pesanan mereka sudah datang.
Lunara tersenyum. Setelahnya ia membuka niqab yang ia gunakan. Dilla terkejut dan berkata "Apa yang kau lakukan, Luna? Ini tempat umum, kau harus ingat itu" dengan cepat Dilla memasang kembali niqab yang Lunara pakai.
"Biasanya kamu tidak pernah melepaskannya kecuali kalau berada di ruangan kamu sendiri. Kenapa sekarang kamu melepasnya?" Tanya Dilla.
Lunara tersenyum. Ia tetap melepaskan niqab yang ia kenakan. "Apa kau melihat ada orang lain disini?" Lunara bertanya balik.
Dilla celinguk ke kanan dan kiri. Ia baru sadar bahwa di cafe itu hanya ada dirinya dan Lunara. "Kenapa cafe ini sepi pengunjung, Luna? Aku baru sadar kalau disini tidak ada pengunjung selain kita. Padahal cafe ini besar dan cukup unik bangunannya" ucap Dilla sedikit heran.
"Tidak Dilla, tak apa apa, jangan khawatir" Lunara menenangkan Dilla yang tampak panik.
"Kok kamu tenang tenang aja sih? Kita keluarnya gimana dong?" Dilla sedikit merengek ketakutan.
"Tapi tadi masih ada pekerjanya, kan?"
"Iya sih,"
"Tapi ini kenapa sepi?" Lanjut Dilla.
Tiba tiba waiter's tadi datang. "Üzgünüm, genç bayan, bu sadece yapılan yiyeceklerin sırası. Gecikmemizi affedin" (Maaf nona muda, ini pesanan makanannya yang baru saja jadi. Maafkan keterlambatan kami) ucap waiter's meminta maaf dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Tamam, abla. Gıda teşekkürler" (Tak apa apa, kak. Terima kasih makanannya) balas Lunara.
"Excuse me. Can you speak in English?" (Permisi. Apa kau bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris?) Tanya Dilla kepada waiter's cafe itu.
"Yes, i can" balas waiter's tersebut.
Dilla tersenyum. "Sorry, why is this cafe empty of visitors?" (Maaf, kenapa cafe ini sepi pengunjung?) Tanya Dilla penasaran.
Waiter's itu tersenyum "Because this cafe is closing, miss" (Karena cafe ini sedang ditutup, nona) balasnya.
Dilla terkejut dan langsung menatap Lunara yang untuk meminta penjelasan. "Luna, sudah aku bilang kan?"
"Then why are we allowed to enter here?" (Lalu kenapa kami diizinkan masuk ke dalam sini?) Tanya Dilla kepada waiter's itu.
"Because the young lady Malayeka asked us to temporarily close this cafe and it will reopen after she and her best friends go home" (Karena nona muda Malayeka yang meminta kami untuk menutup sementara cafe ini dan akan dibuka kembali setelah ia dan sahabatnya pulang) tutur waiter's tersebut.
"Then, has the lady gone home so we are allowed to enter here?" (Lalu, apakah nona itu sudah pulang sehingga kami diizinkan masuk ke dalam sini?) Tanya Dilla yang masih penasaran.
Waiter's itu mengerutkan keningnya, heran dengan lawan bicaranya saat ini. "What do you mean, miss?" (Maksud mu, apa nona?)
"I mean, has the young lady Malayeka returned?" (Maksudku, apa nona muda Malayeka telah pulang?) Ulang Dilla memperjelas ucapannya.
Lunara menggeleng memberi kode agar tidak diberitau yang sebenarnya kepada Dilla. Namun sepertinya waiter's tersebut tidak melihat ke arah Lunara dan tetap menatap lawan bicaranya saat ini, yaitu Dilla.
"The young lady Malayeka is in front of you, miss" (Nona muda Malayeka ada didepan mu, nona) balas waiter's itu tanpa menoleh kearah Lunara yang dari tadi menggelengkan kepalanya.
"This? She is Lunara. Not Malayeka" (Ini? Dia Lunara. Bukan Malayeka)
"Yes, Malayeka young lady. Lunara Rehema Malayeka, the first daughter of the owner of this cafe" (Iya, nona muda Malayeka. Lunara Rehema Malayeka, putri pertama pemilik cafe ini) jelas waiter's tersebut seraya menoleh ke arah Lunara yang sudah menepuk keningnya.
Dilla menepuk keningnya. Bagaimana ia bisa lupa jika nama sahabatnya itu memiliki marga Malayeka.
"Ok, Thanks. Sorry for disturbing your time" (Oke, makasih. Maaf telah mengganggu waktu mu) ucap Dilla.
"Your welcome"
Dilla menatap Lunara. Ia merasa dirinya telah di kerjai oleh sahabatnya sendiri. "Kenapa Luna gak bilang aja, sih? Kan jadi malu sendiri"
Lunara tertawa "Maaf." hanya kata itu yang keluar dari mulut Lunara.
"Ayo kita makan. Keburu dingin, nanti tidak enak lagi rasanya" ajak Lunara.
"Ya sudah, iya. Tapi kamu harus mengajak aku keliling kota ini, ya?" Pinta Dilla.
"Oke."
__________
JANGAN LUPA TINGGAL JEJAK YA😄😉
Tangerang, 2 Juli 2020