My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 18



"Mas Fari kemana, ya, kok gak pulang pulang? Nomornya juga gak bisa di hubungi." gumam Lunara saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Setelah selesai memasak makan malam tadi, Lunara tak langsung memakan makanan yang ia masak melainkan menunggu Ghifari pulang terlebih dahulu. Namun, sampai saat ini 'pun Ghifari tak kunjung pulang ke rumahnya.


"Nak Luna,"


Lunara menoleh kepada orang yang memanggil namanya. "Kenapa Bik?" tanya Lunara kepada Bik Idah, orang yang memanggilnya.


"Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah malam, tak baik untuk kesehatan." peringat Bik Idah.


"Iya Bik, terima kasih. Aku akan tidur saat mas Fari pulang nanti." balas Lunara


"Tuan Ghifari memang seperti itu. Ia jarang sekali pulang ke rumah ini kalau pekerjaannya menumpuk." ucap Bik Idah memberitahu.


"Oh. Iya Bik, terima kasih. Sebentar lagi aku tidur." balas Lunara.


"Kalau gitu Bibi ke kamar tidur duluan, ya?" pamitnya yang diangguki oleh Lunara.


Setelah Bik Idah pamit kembali ke dalam kamarnya, Lunara tetap menunggu Ghifari sampai ia datang. Namun, Ghifari juga tak menunjukkan batang hidungnya sampai Lunara tak sengaja tertidur di sofa ruang tamu.


__________


Sementara itu di tempat Ghifari, ia sedang berada di sebuah apartemen mewah yang berada jauh dari rumahnya.


"Kamu gak pulang, sayang?" tanya seorang wanita kepada Ghifari.


"Gak mau. Aku masih kangen banget sama kamu, Resya." balas Ghifari kepada wanita tadi.


"Nanti istri kamu nyari-in loh" peringat Resya.


"Dia gak tau jelas daerah Indonesia, sayang." balas Ghifari.


"Iya deh, terserah kamu. Aku juga masih kangen banget sama kamu." putusnya memeluk erat tubuh Ghifari.


"Selamat tidur, sayang" ucap Ghifari lembut kepada kekasihnya.


__________


Lunara terbangun pukul dua dini hari. Ia melihat sekeliling rumah yang sudah gelap karena sebagian lampu penerang sudah di matikan.


"Mas Ghifari udah pulang belum, ya?" tanyanya kepada diri sendiri.


Ia berjalan menuju anak tangga dan berniat berjalan menuju kamarnya Ghifari.


"Kak Luna" panggil seorang kepada Lunara.


Orang itu menghampiri Lunara. "Kak Luna mau ke kamar tuan Ghifari, ya?" tebaknya yang di jawab sebuah anggukan oleh Lunara.


"Tuan Ghifari belum pulang, kak" ucapnya memberitahu.


"Kok kamu tau?" tanya Lunara.


"Biasanya kalau tuan Ghifari pulang ia akan menaruh sepatu yang ia kenakan hari ini di rak sepatu urutan paling atas." ucapnya memberitahu seraya menunjuk ke arah rak sepatu.


Lunara mengangguk mengerti dan mengurungkan niatnya untuk ke kamar Ghifari. "Kamu kenapa belum tidur, Disa?" tanya Lunara kepada orang tadi.


"Aku kebangun, kak. Sekalian aku mau ambil minum." balas Disa seraya menunjukkan gelas yang berada di tangannya.


Lunara mengangguk kembali. "Ya udah kakak tinggal ke kamar, ya?" pamit Lunara.


Disa mengangguk. "Iya, kak" balas Disa. Lunara berjalan menuju kamarnya.


Sampai di kamar Lunara mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat malam yang sering ia lakukan.


Lunara melaksanakan sholat malam di lanjuti oleh sholat witir tiga rakaat. Selesai sholat Lunara berdoa agar di berikan keselamatan untuk keluarganya di manapun mereka berada. Lalu setelahnya Lunara membaca kitab suci Al-Qur'an. Kegiatan yang sering sekali ia lakukan jika tidak dalam masa menstruasi.


__________


Setelah membersihkan diri, Lunara segera berjalan menuju lemari kecil yang berada dalam kamar itu. Ia memakai pakaian syar'i beserta khimar yang panjangnya menjuntai hingga mata kaki perempuan berdarah Turki itu. Ia juga memakai kaos kaki untuk menutupi auratnya. Hanya wajah dan kedua tangannya yang saat ini terlihat jelas karena ia akan melaksanakan sholat subuh.


Lunara melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim di pagi hari, yaitu sholat subuh. Selesai sholat subuh Lunara membaca Al-Qur'an kembali hingga menjelang waktu sholat dhuha. Sebenarnya Lunara sudah menghafal tiga puluh juz Al-Qur'an beserta artinya, namun ia tetap mengulang-ulangi bacaannya karena saking cintanya ia pada agamanya juga Tuhan yang menciptakan semesta berserta isinya.


Lunara menutup Al-Qur'an yang ia baca dan meletakkan kembali diatas meja yang bersebelahan dengan lemari pakaian.


Lunara melepas kaos kaki yang ia gunakan sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Mengambil wudhu kembali setelah itu ia berjalan ke luar kamar mandi dan memakai kembali kaos kakinya lalu setelahnya ia melaksanakan sholat dhuha.


Selepas sholat dhuha Lunara berjalan ke arah lemari pakaiannya dan memakai niqab yang sebelumnya belum ia pakai. Lalu Lunara berjalan keluar kamar menuju dapur untuk memasak sarapan yang disana sudah ada beberapa asisten rumah tangga yang juga sedang memasak.


"Assalamualaikum." Ucap Lunara.


"Selamat pagi nyonya muda," asisten rumah tangga yang belum Lunara ketahui namanya itu kaget dan reflek langsung membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Lunara.


"Kenapa kamu seperti itu?" Tanya Lunara meluruskan posisi asisten rumah tangga yang berada di hadapannya.


"Aku mengucapkan salam, apa kamu gak mau menjawabnya?" Tanya Lunara kembali.


"Wa-Waalaikumsalam nyonya." Balasnya menunduk kembali.


"Hei, kenapa harus menunduk?" Tanya Lunara heran.


"Kita sesama manusia 'kan?" Lanjut Lunara.


"Anda majikan saya, nyonya" balasnya.


"Bukankah derajat kita sama dimata Tuhan?"


"I-iya nyonya." Balasnya takut takut.


"Panggil pakai namaku saja, ya?" Pinta Lunara.


"Ti-tidak, saya tidak bisa" tolaknya.


"Bisa. Aku tau kita seumuran." ucap Lunara tersenyum.


"Nama kamu siapa?" Tanya Lunara.


"I-Ira, nyonya"


"Aku panggil kamu Ira, kamu panggil aku Luna, ya?" Pinta Lunara.


"I-iya nyonya. Eh, maksudku Lu-Luna." Balasnya takut takut.


Lunara tersenyum. Ia berjalan menuju lemari pendingin yang berada di dapur dan mengambil beberapa bahan untuk ia masak.


"Ayo mulai" ajak Lunara.


"Ba-baik"


"Tolong ajari aku masak makanan Indonesia, boleh?" Pinta Lunara.


"Tentu Luna" balasnya canggung.


"Terima kasih"


"Apa masakan yang di sukai oleh mas Fari? Boleh ajarin sekalian?" Tanya Lunara kembali.


"Tentu, saya akan mengajari anda"


"Jangan canggung, Ira" pinta Lunara. Ira mengangguk.