My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 26



Ghifari keluar dari dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Entah karena apa, Ghifari terbangun sebelum adzan subuh. Tiba-tiba saja, terlintas dalam pikirannya tentang Lunara yang ia kuncikan dari luar kemarin malam. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan ke arah kamar belakang dan membukakannya pintu agar Lunara bisa melaksanakan sholat subuh.


Ceklek…


Ghifari membuka pintu kamar tersebut. Belum sepenuhnya terbuka, pintu itu tertahan dari dalam sehingga tak bisa dibuka sepenuhnya. Ia mendorong kembali pintunya supaya bisa terbuka lebih lebar dan dirinya bisa masuk ke dalam dan melihat ada apa di balik pintu itu.


Pintunya sudah terbuka lebih lebar, dengan segera Ghifari masuk dan melihat ke dalam. "Kenapa dia?" Ghifari menatap ke arah lantai, ada Lunara yang terbaring di balik pintu itu.


Ghifari berjongkok untuk membangunkan Lunara. "Hei, bangun. Sedang apa kau di sini? Apa kau lebih suka tidur di atas lantai?" Ghifari mengguncang pelan bahu Lunara.


Tak berhasil, Lunara tak kunjung bangun setelah Ghifari mengguncang beberapa kali tubuhnya. "Huh, merepotkan saja!" Gerutu Ghifari seraya mengangkat tubuh Lunara yang sangat ringan dan memindahkannya ke atas ranjang.


"Luna, bangunlah. Apa kau tidak sholat?" Ghifari masih berusaha untuk membangunkan Lunara.


Masih tak kunjung bangun juga, Ghifari langsung melepas niqab yang Lunara gunakan karena basah. Kepala Lunara ia angkat sedikit untuk meraih dan melepas ikatan tali niqab yang Lunara gunakan. Setelah terbuka langsung Ghifari tarik dan ia taruh disembarang tempat lalu menatap Lunara kembali.


"Apa yang lakukan, Ghifari? Kau gila, dia tak bersalah di sini, bahkan dia menguntungkan kamu" Ghifari berbicara pada dirinya sendiri. Ia merasa bodoh saat ini.


Ghifari mengangkat tangannya dan ia taruh di atas permukaan wajah Lunara, mengusap lembut wajah cantiknya. Wajahnya yang cantik namun tak menggunakan polesan make up sedikitpun. Matanya sembab karena menangis semalaman hingga ia tertidur dalam keadaan menangis. Bibirnya pink pucat, pipi dan hidungnya memerah.


Ghifari menyentuh kening Lunara. "Astaga, dia demam tinggi!" Ucap Ghifari cemas. Ini salahnya.


Dengan cepat Ghifari meraih ponselnya yang berada di dalam saku celananya lalu menelepon seseorang agar segera datang ke rumahnya. "Cepatlah datang atau ku pecat kau!" Ancamnya sebelum mematikan sambungan teleponnya.


__________


20 menit berlalu, orang yang Ghifari hubungi tadi masuk ke dalam rumah Ghifari tanpa izin. Berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Ghifari dan langsung membukanya begitu saja.


"Apa kau tidak ada sopan santun?!" Sinis Ghifari menatap orang yang memasuki kamarnya begith saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Mau bagaimana lagi? Pekerjaanku terancam, bodoh! Kau tau ini masih subuh?!" Wanita itu memukul keras lengan kanan Ghifari.


"Siapa yang sakit?" Tanya wanita itu.


Ghifari menoleh ke arah ranjang kamarnya yang di atasnya ada Lunara, baru saja ia memindahkan Lunara agar tidak ada siapapun yang curiga, apalagi sampai tersebar ke media sosial. "Istriku" balas Ghifari.


Wanita itu ikut menoleh. "Ya ampun… Jadi ini istri kamu? Cantik banget daripada mantan pacar kamu," puji wanita itu. Ghifari langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak suka jika Resya-yang masih kekasihnya dibanding-bandingkan dengan orang lain.


"Kenapa dia? Apa sudah ada kabar baik? Apa istrimu akan memberikan aku keponakan?" Tanyanya beruntun.


"Cepat periksa istriku, Nadia!" Suruh Ghifari kesal. Banyak bicara sekali dokter yang ada di hadapannya saat ini.


"Iya-iya tuan Ghifari yang terhormat" dokter itu langsung menuruti keinginan dari Ghifari. Ia melangkah dan mendekati Lunara.


"Cepatlah kau periksa dengan benar" Nadia-dokter itu mengangguk patuh. Memeriksa keadaan Lunara kembali.


"Dia demam tinggi akibat kelelahan. Lihatlah," Nadia menunjuk wajah Lunara. "Apa yang kau lakukan padanya sampai ia menangis hingga matanya sembab parah begini? Apa kau tidak bisa menjaganya dengan baik, Ghifari?!"


"Diamlah atau aku pecat-" ucapan Ghifari terpotong.


"Hei, jangan ancam aku seperti itu. Aku menasihati kamu sebagai sahabat, bukan sebagai atasan dan bawahan, kau harus tau itu! Ini tentang nyawa, Fari! Kau tak bisa bermain-main, telat sedikit kau akan kehilangannya, kau tau?!!" Bentak Nadia kesal. Ia heran dengan sikap sahabatnya yang satu itu.


Ya, memang mereka adalah sahabat. Ghifari, Rizal dan Nadia, mereka sudah berteman sejak kecil namun Nadia pindah ke luar kota saat mereka masih SMA. Nadia kembali ke jakarta setelah lulus kuliah dan bekerja di rumah sakit milik Ghifari.


"Ya aku tau"


Nadia mendengus kesal mendengar jawaban singkat dari Ghifari. "Dia harus benar benar bedrest supaya keadaannya kembali normal" ucap Nadia memberitau.


"Iya, akan ku ingat itu."


Perlahan mata Lunara terbuka, menatap sayu atap kamar Ghifari. Suaranya serak karena tenggorokannya kering. "M-mas …" lirih Lunara dengan suara yang serak.


"Hei kau, cepat ambilkan ia air!" Nadia mendorong Ghifari untuk keluar kamar dan mengambilkan Lunara minum. Ghifari menuruti perintah dari Nadia dengan mengambilkan air mineral untuk Lunara.


Lunara mencoba bangun dari tidurnya, namun sulit karena kepalanya berputar hebat. "Kamu jangan banyak gerak dulu, ya? Kalau mau bangun, kamu harus meminta tolong seseorang" ucap Nadia menasehati. Ia juga membantu Lunara untuk duduk dan bersandar disandaran ranjang Ghifari.


Lunara hanya tersenyum menanggapinya. "Makasih, ya" ucap Lunara pelan.


"Iya, sama-sama. Oh ya, perkenalan aku Nadia, sahabat kecil suami kamu, aku juga dokter pribadi keluarga kamu" ucap Nadia memperkenankan.


"A-aku Lunara-" Nadia memotong cepat ucapan Lunara yang belum selesai.


"Aku tau, sayang. Kamu jangan banyak bicara juga, ya? Aku tau kamu masih lemas" ucap Nadia tersenyum dan Lunara juga membalas senyuman dari Nadia.


Tak lama Ghifari datang dengan membawa segelas air di tangannya. Nadia langsung menyambar segelas air itu dan langsung memberikannya kepada Lunara. "Minumlah supaya tenggorokan kamu tak kering lagi" ucap Nadia menyodorkan segelas air mineral kepada Lunara. Lunara menerimanya dan meminumnya setelah mengucapkan bismillah.


"Jam berapa ini?" Tanya Lunara pelan setelah ia meminum air mineral tadi.


"Jam lima lewat. Kenapa memangnya?" Balas Nadia tak mengerti.


"Astaghfirullah, aku belum sholat subuh" Lunara ingin turun dari ranjang dan ber-wudhu, namun tangannya ditahan oleh Nadia.


"Pelan-pelan, oke?" Pinta Nadia khawatir. Lunara mengangguk mematuhi. "Ghifari, cepat bantu istrimu bersiap!" Suruh Nadia dengan memukul Ghifari.


"Iya aku bantu" balas Ghifari pasrah. Sahabatnya yang satu itu jika sudah menyuruhnya tak akan bisa ditolak atau ia yang akan dijadikan sasaran omelannya. Dengan terpaksa Ghifari menurutinya.