
Pemandangan di sore hari jembatan Galata atau lebih dikenal dengan nama Galata Bridge membuat siapa saja terlena akan pemandangan yang ada disana. Tempat yang memperlihatkan dua sisi yang berbeda yaitu bangunan Eropa serta bangunan Asia.
Jembatan itu terdiri dari dua tingkat. Bagian atas digunakan untuk transportasi kendaraan ataupun pejalan kaki. Di bagian bawah jembatan dipenuhi dengan cafe juga restoran yang sudah lama didirikan di jembatan tersebut. Sangat pas jika datang di waktu petang hingga malam hari.
Sama seperti yang lainnya, tujuan mereka adalah untuk menikmati keindahan pada waktu malam hari di Galata Bridge, Turki. Keluarga kecil yang sedang menikmati liburan mereka di negara tersebut. Biasanya sang kepala keluarga sangat sulit untuk menyempatkan kumpul bersama dengan anak serta istrinya karena urusan bisnisnya yang mulai menyamai tingkat internasional.
Sudah dua jam lamanya mereka berada di Galata Bridge untuk melihat pemandangan indah disana. sang kepala keluarga memegang salah satu anak kembarnya dan satu lagi berada dalam kereta dorong yang dibawa oleh sang Ibu. Ia menatap ke arah suaminya yang sedang menggendong salah satu anak mereka.
"Mas tidak pegal? Taruh saja Zayyid di sebelah Ziyyad." Usul sang Istri ketika melihat anaknya tengah tertidur dalam gendongan Suaminya.
"Baiklah, tapi setelah kita menemukan tempat makan yang cocok dengan selera kamu." Balasnya dengan senyum yang terpasang jelas di wajah sang Suami.
Ia pun ikut tersenyum. Suaminya sangat perhatian kepadanya. Entah sejak kapan ia menyukai Suaminya itu, yang jelas dia selalu merasa sangat bahagia jika bersamanya serta kedua anak kembarnya. Dengan mudahnya Tuhan membalikkan hatinya menjadi menyukai sang Suami.
Di awal pernikahan mereka selalu saja dirinya mengacuhkan keberadaan sang suami. Hingga suatu kejadian membuatnya tersadar akan cintanya kepada sang suami. Kecelakaan yang terjadi waktu itu membuatnya hampir kehilangan suaminya untuk selama-lamanya. Penyesalan yang terjadi kepadanya karena tak pernah menghiraukan keberadaan suaminya sedikitpun.
Hampir satu bulan lamanya ia menyesali semua itu karena selama itu pula suaminya belum juga tersadar. Masuk minggu ke tiga akhirnya suaminya tersadar. Puji syukur ia panjatkan kepada Tuhan nya yang masih memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki segala sikap terhadap suaminya.
Sejak saat itu ia memberanikan diri untuk berhijrah ke jalan-Nya. Menutupi seluruh aurat yang sebelumnya ia banggakan. Seluruh keluarga serta suaminya sangat mendukung hal tersebut. Bahkan saat ini ia ikut memakai niqab seperti seluruh keluarga dari suaminya.
Terlepas dari semua itu, ada suatu hal yang sampai saat ini tak bisa ia lupakan dan selalu saja menghantui dirinya. Kesalahan yang menurutnya cukup fatal kepada orang lain. Bahkan sampai saat ini belum bisa untuk memaafkan dirinya sendiri. Dia-Resya Alitta Firash, seorang yang telah merusak hubungan rumah tangga antara Lunara dengan Ghifari. Mementingkan egonya yang sangat tinggi dibandingkan dengan memikirkan orang lain.
Tanpa pertanggungjawaban apapun ia pergi dan berbahagia di lain negara bersama sang suami, Aarash Shahmeer Rayi. Hal bodoh yang pernah ia lakukan sampai membuat sebuah keluarga terpecah.
Resya memejamkan kedua matanya untuk menahan air mata yang hendak jatuh sebentar lagi. Ia tak mau Aarash melihatnya menangis. Tapi gelagat Resya sudah dapat ditebak lebih dulu oleh Aarash. "Kenapa kamu menangis? Kamu gak suka tempat ini?" Tanya Aarash penuh perhatian.
Saat ini mereka tengah duduk menunggu pesanan mereka di salah satu restoran yang berada di Galata Bridge. Resya menggeleng lemah, memberi jawaban untuk suaminya. "Aku gak apa-apa, Mas. Negara ini mengingatkanku akan kesalahan yang pernah aku buat-"
"Iya, Mas tau itu" potong Aarash cepat. Ia tak ingin membuat sang istri larut dalam kesedihannya.
"Mas telah menghubungi keduanya untuk datang ke tempat ini. Kita hanya perlu menunggu kedatangan keduanya." Aarash mengerti tatapan sang istri, maka dari itu ia memperjelas ucapannya.
Tubuh Resya menegang seketika. Rasa takut yang menyelimutinya membuatnya tak siap menemui keduanya. "Bagaimana Mas tau nomor keduanya? Apa Mas kenal dengan Lunara dan Ghifari? Memangnya Ghifari sedang berada di Turki?" Ketakutan Resya makin menjadi ketika memikirkan kedua tamu undangan itu akan datang.
Tangan Aaresh mengusap pelan punggung sang istri yang nampak ketakutan dari tatapan matanya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk menenangkan Resya. "Mas gak kenal mereka, tapi rekan bisnis Mas banyak yang mengenal mereka. Dari mereka Mas mengetahui nomor keduanya. Kebetulan Mas juga mendengar bahwa tuan Ghifari juga berada di negara ini." Dengan pelan Aaresh memberi penjelasan kepada Resya.
Sudah empat tahun ia tinggal bersama Resya. Dan selama itu ia juga sudah cukup mengenal baik seperti apa sifat istrinya itu. Jika sedang ketakutan ataupun dalam keadaan tak tenang, ia akan menenangkan dengan cara memberikannya pengertian serta usapan lembut supaya lebih tenang.
Resya diam setelah mendapatkan jawaban dari seluruh pertanyaannya. Pikirannya berkelana kemana-mana ketika dirinya membayangkan jika keduanya telah sampai dan berada di depannya. "Kamu jangan khawatir, ada Mas dan anak-anak yang akan selalu bersama kamu." Ucap Aaresh kembali.
Ia tak peduli seperti apa masalalu Resya, toh sekarang semuanya telah berubah. Tak ada lagi Resya yang seperti dahulu. Ia pun yakin jika Resya dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.
Tatapan Resya beralih menatap kedua anak kembarnya yang tertidur di atas dua kereta dorong yang ia bawa. Dia, Ziyyad Shahmeer Rayi dan Zayyid Shahmeer Rayi. Dua batita kembar berkelamin laki-laki berumur tiga tahun. Anak pertama serta keduanya yang tengah tertidur lelap dalam kereta dorong.
"Assalamualaikum. Apa benar anda Tuan dan Nyonya Rayi?" Tatapan keduanya teralihkan, menatap orang yang baru saja memberikan salam kepada mereka.
"Waalaikumsalam." Keduanya berdiri menyambut tamu yang Aarash undang.
"Ya, itu kami. Apa kalian Tuan dan Nyonya Muzakki?" Lanjut Aarash dengan senyum ramahnya.
"Anda benar."
"Oh ya, silahkan duduk." Setelah berjabat tangan dengan Ghifari, Aarash mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Kepala Resya semakin menunduk ketika mendengar suara Ghifari dengan jelas. Ia tak berani untuk menatap kedua tamu yang telah diundang oleh Aarash pada malam ini.