
"Lunara…" lirih Resya terkagum melihat sikap yang Lunara tunjukkan kepadanya. Tak pernah sedikitpun ia menemukan seseorang seperti Lunara.
Jika kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, maka sebaliknya pun begitu. Itulah yang selalu ia dapatkan selama dirinya menjadi seorang model. Mengapa ia dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Kedua orang tuanya yang selalu memaafkannya, suaminya yang selalu menerima dirinya apa adanya, seluruh keluarga suaminya yang selalu mendukungnya dan sekarang, dihadapannya ia melihat kebaikan Lunara.
Mata Lunara menyipit karena senyumnya. Dengan lebar ia merentangkan kedua tangannya. Meminta Resya untuk memeluknya. Dengan cepat Resya memeluk Lunara. Ia menangis dalam pelukan hangat yang Lunara berikan kepadanya. Bersalah karena pernah membuat orang sebaik Lunara tersakiti.
"Kenapa kamu sangat baik kepadaku, Lunara?" Ditengah tangisnya ia bertanya kepada Lunara.
"Kamu saudaraku, saudara seiman. Apa kita harus bermusuhan?" Lunara bertanya balik kepada Resya. Gelengan cepat Resya lakukan, ia tak ingin memiliki musuh. Ia juga ingin memperbaiki seluruh kesalahan yang pernah ia buat di masa lalunya
"Tak ada yang harus dimasalahkan kembali antara kita. Lihatlah, Mas Ghifari sampai saat ini masih bersama denganku dan Alma. Lalu kamu bersama dengan suami serta dua anak kalian. Kita sudah bahagia masing-masing kan?" Lanjut Lunara. Nada bicaranya selalu lembut kepada Resya. Anggukan cepat Resya jawab. Benar sekali, dirinya juga telah bahagia bersama dengan Aarash serta kedua anaknya.
"Sekali lagi tolong maafkan aku, Lunara" Resya melepaskan pelukan antara keduanya. Ia kembali menatap mohon kepada Lunara.
Lunara mengangguk mengiyakan. "Tentu aku memaafkan kamu" balas Lunara tersenyum.
"Terima kasih banyak Lunara, terima kasih."
__________
Perjalanan pulang menuju mansion terhambat. Hari semakin larut dan semua orang mulai terlelap dalam tidurnya. Pekerjaan mereka pun terpaksa dihentikan karena mata yang tak sanggup dipaksakan untuk mengerjakan pekerjaan mereka.
Begitupun dengan Lunara beserta lainnya. Niatnya untuk kembali ke mansion utama terhenti karena Ghifari ataupun bodyguard yang lainnya telah mengantuk dan tak mungkin dipaksakan untuk mengemudi. Akhirnya mereka beristirahat di hotel terdekat karena ajakan dari Resya. Wanita itu beserta anak dan suaminya telah tinggal di hotel itu seminggu lamanya.
Karena sudah malam semua orang setuju. Seharusnya bodyguard yang mereka bawa telah berganti waktu berjaga tapi karena Lunara sudah terlanjur membawa mereka akhirnya jam kerja mereka bertambah. Malam harinya pun mereka mengantuk karena sudah enam jam berjaga.
Lunara terdiam setelah melihat isi kamar yang telah di pesankan Resya untuk mereka. Ia melongo tak percaya melihat pemandangan di depannya. Ghifari serta Alma juga menatap heran seisi kamar hotel tersebut.
"Apa ini Ane?" Alma menatap Lunara yang tak mengerti. Wajah polosnya terlihat setelah anak itu membuka niqabnya. Lunara menggeleng pelan karena tak tau harus menjawab apa.
Alma beralih menatap Ghifari yang juga masih terdiam. "Apa ini Aba?" Tanya Alma kepada Ghifari. Karena tak mendapatkan jawaban dari sang Ibu ia pun bertanya kepada Ayahnya.
Ghifari menunduk menatap Alma. "Bukan apa-apa Alma. Ayo kita rapihkan bunga itu" usul Ghifari menatap Lunara yang perlahan mengangguk.
Mereka bertiga berjalan mendekati ranjang yang berukuran sangat besar. Ghifari menemukan sepotong kertas kecil yang ada di atas ranjang. Ia meraihnya dan menemukan nama Resya serta Aaresh di dalam kertas itu.
Lunara yang melihatnya pun ikut penasaran tulisan apa yang ada pada kertas yang Ghifari pegang sampai membuatnya senyum sendiri. "Boleh aku baca?" Izin Lunara kepada Ghifari. Ia juga ingin mengetahui apa isi dari kertas itu.
Ghifari menoleh manatap Lunara. Kepalanya dengan ragu mengangguk. Gerakan tangannya pun bergerak kaku saat ia ingin diberikan kepada Lunara. Setelah kertas itu berada di tangan Lunara, ia langsung membukanya.
Pipi Lunara merona. Ia menunduk dengan meremas kertas yang ia pegang. Ghifari yang melihat hal itu pun ingin tertawa karena sikap yang Lunara tunjukkan.
'Sekali lagi maafkan aku. Kamar hotel kalian aku lah yang memintanya untuk dihias seperti itu. Sekarang kalian boleh bersenang-senang. Jangan lupa berikan Alma teman bermain.' Itulah isi dari kertas yang baru saja Ghifari juga Lunara baca. Tertera nama Resya juga Aarash di balik kertas tersebut. Itu berarti semua yang ada di kamar mereka adalah ulah mereka berdua.
"Emm... Se-sepertinya i-ini juga harus dibuang." Usul Lunara yang tengah salah tingkah menanggapi tulisan tersebut.
Ghifari tertawa kecil lalu mengangguk membiarkan Lunara membuang kertas yang berada dalam genggamannya. Ghifari berjalan ke pojok sisi ruangan lalu mengambil tempat sampah yang berada disana.
Gerakan kecil Alma bergerak. Ia naik ke atas ranjang untuk menuruni kelopak bunga mawar yang berada di atas ranjang. Ghifari juga Lunara melakukan hal yang sama seperti yang dilakuksn oleh Alma. Bedanya gerakan tangan Lunara pelan sesekali menatap Ghifari yang sibuk membersihkan kelopak bunga mawar tersebut.
Alma kini beralih menatap ke samping ranjang yang ia naiki saat ini. Tangan kanannya terangkat menunjuk tempat yang berada di sampingnya. "Ane, Aba tempat tidur yang itu buat siapa?" Tanya Alma menatap kedua orang tuanya.
Baik Lunara ataupun Ghifari ikut menoleh. Mereka menatap ranjang yang lebih kecil ukurannya berada di samping ranjang besar tersebut. Ghifari melangkah kembali mendekati ranjang dan kembali menemukan kertas kecil di atas sana. Tanpa membaca dari siapa kini Ghifari sudah dapat menebaknya.
Langsung saja ia baca isi dari kertas yang terlipat itu. Kali ini ia menggeleng disertai tepukan telapak tangannya di keningnya sendiri. Kali ini surat yang diberikan hanya tertera nama lengkap Aarash di atasnya.
Ghifari beralih menatap Lunara. "Mau lihat apa isinya?" Tanya Ghifari menawarkannya kepada Lunara. Tanpa menunggu jawaban dari Lunara, Ghifari langsung mendekat dan memberikan kertas tersebut kepada Lunara.
"Tempat tidur itu boleh Alma yang tempatin?" Tanya Alma penuh harap. Baru saja Lunara selesai membacanya Alma langsung bertanya kepada keduanya dengan girang.
"Ane, Aba, Alma boleh tidur sendiri?" Tanya Alma sekali lagi. Sudah lama ia menginginkan tidur sendiri namun Lunara selalu menolaknya karena tak mau jauh dari Alma.
"Huft…" Ghifari menghela nafasnya. Ia menatap Alma yang meminta jawaban kepada keduanya. "Memang itu untuk kamu, Alma." Ucap Ghifari pelan tapi cukup terdengar oleh keduanya. Detik berikutnya Alma melompat senang lalu berlari pindah ke ranjang lainnya.
__________
Haduh baru bisa update😔 aku capek bgt hari ini. Ada urusan mendadak diluar dan baru bisa balik buka aplikasi ini. Tadinya ga mau up, tapi ya sudah gpp😉😊