My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 58



Lunara duduk di ujung ranjang. Menatap Alma yang telah tertidur pulas di atas ranjang. Kembali terbayang wajah Alma yang meloncat dengan girang karena diperbolehkan untuk tidur terpisah. Alma pun ingin seperti Kakak Sepupunya-Enver yang tidur terpisah dari kedua orang tuanya.


Lunara menatap Ghifari yang juga sedang menatapnya di atas sofa. Ghifari memberikan senyumnya kepada Lunara ketika Lunara menatap dirinya. "Kamu juga tidur, ya. Mas tidur disini aja" ucap Ghifari membiarkan Lunara tidur di atas ranjang yang besar seorang diri.


Ghifari mulai membaringkan tubuhnya di atas sofa dan masih menatap ke arah Lunara yang masih berdiri di samping ranjang yang Alma tempati. "Selamat tidur, jangan lupa baca do'a" ucap Ghifari sebelum menutup kedua matanya dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.


Perlahan Lunara berjalan mendekati Ghifari. Tangannya meraih ikatan niqabnya yang berada di belakang kepalanya, melepas ikatan niqab yang ia kenakan. Setelah ikatannya terlepas, niqab yang digunakan oleh Lunara pun terlepas dari wajahnya. Ia menaruh niqabnya di atas nakas lalu kembali berjalan mendekati Ghifari.


Tangannya terangkat ingin menyentuh Ghifari yang tertidur mengarah kiblat atau menghadap kanan. Guncangan pelan dari Lunara membuat Ghifari kembali terjaga. Kedua matanya tak berkedip sedikitpun melihat wajah Lunara yang putih alami tanpa perias wajah sedikitpun. Bibirnya merah alami tanpa menggunakan bahan kimia.


Seolah terhipnotis ketika melihat wajah asli Lunara, Ghifari berdiri dari tidurnya. Tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari Lunara. Setelah beberapa detik saling pandang Lunara lebih dahulu memutuskan kontak pandangan mereka. Ia menunduk malu ketika menyadari bahwa Ghifari tak berkedip sedikitpun ketika melihatnya.


Ghifari menoleh ke samping ketika menyadari akan sikapnya barusan. "Ma-maafkan aku" balas Ghifari canggung. Ia terpaku melihat kecantikan alami yang dipancarkan dari Lunara. Detak jantungnya berpacu dengan cepat sampai tak bisa ia kontrol.


Dengan memberanikan diri Lunara menatap Ghifari kembali. Memberikan senyuman terbaiknya kepada Ghifari. "Kamu berhak atas diriku, Mas." Ucap Lunara pelan. Ia sendiri malu mengatakan hal tersebut. Namun jika tak diucapkan, mau sampai kapan mereka seperti orang asing yang tinggal dalam satu rumah?


"Aku tau tidur di tempat tidak nyaman. Kita tidur bersama saja. Disana lebih nyaman." Ajak Lunara setelah menepuk nepuk kecil sofa yang tadi Ghifari gunakan. Sofanya cukup empuk dan nyaman jika dibuat untuk duduk, namun tak leluasa ketika dibuat untuk tidur di atas sana.


Lunara meraih pergelangan tangan Ghifari. Membawanya menuju ranjang untuk tidur bersama. Ghifari hanya menurut mengikuti langkah Lunara yang sedang menarik salah satu pergelangan tangannya. Tubuh Ghifari menegang ketika Lunara menyentuhnya. Ia menuruti Lunara ketika wanita itu menaruhnya di atas ranjang. Lunara memutari ranjang lalu merebahkan dirinya di samping Ghifari.


"Emm... Kamu tidur duluan aja. Mas mau mandi, gerah." Setelah terdiam cukup lama memandangi Lunara, Ghifari akhirnya kembali membuka suaranya. Rasa sesak dari dalam tubuhnya begitu menyiksa dirinya.


Hap!


Pergelangan Ghifari kembali ditahan oleh Lunara. Mata Ghifari terpejam sebentar mencoba menetralkan apa yang tengah terjadi. Perlahan ia memutar menatap Lunara yang menahan dirinya untuk pergi dari tempat tersebut.


"Lakukanlah, itu kewajibanku untuk melayani dirimu." Tentu saja ia paham mengapa Ghifari ingin mandi saat malam hari seperti ini. Dengan alasan gerah yang Ghifari gunakan tak membuat Lunara percaya begitu saja. Pendingin ruangan sudah menyala sedari tadi, jadi itu hanya alasan belaka yang dilakukan oleh Ghifari untuk menghindari dirinya.


__________


Bahkan kedua keluarga bermarga Malayeka serta Muzakki itu tidak pernah lagi terlihat di awak media. Kebersamaan kedua keluarga itu tak pernah terekspos sampai banyak wartawan dari saluran televisi yang penasaran akan hal itu.


Alma menatap kesana kemari ketika melihat banyak sekali orang-orang yang berkerumunan dan sesekali mengambil foto mereka. Tentu ini menjadi kali pertama untuk Alma karena di Turki sangat berbeda dengan Indonesia. Pengawal yang dibawa oleh keluarga Malayeka pun nampak kewalahan melindungi majikan mereka dari desakan para wartawan.


Mereka menghindar bukan berarti tak ingin menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepada mereka, melainkan karena belum menyiapkan segudang balasan untuk mereka. Seorang wartawan pastinya tidak selalu memberikan pertanyaan yang sama. Hal itu akan berkelanjutan panjang pastinya. Maka dari itu baik keluarga Malayeka ataupun Muzakki menghindari semua awak media.


Bangunan besar nan megah berada di hadapan kedua keluarga tersebut. Sudah dua bulan lamanya keluarga Muzakki tidak kembali ke mansion karena permasalahan mereka yang terjadi di Turki. Sedangkan untuk Lunara sendiri sudah lima tahun tak berkunjung ke mansion tersebut. Walau begitu, komunikasi mereka tak pernah terputus, hanya Ghifari yang tak mengetahui kabar tersebut karena memang itulah permintaan Lunara.


Alma menatap Lunara dan Ghifari secara bergantian. Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kedua kakinya di negara sang Ayah, Indonesia. Sekarang ia pun bingung tempat siapa yang berada di hadapannya saat ini.


"Ane, Aba, tempat ini milik siapa? Kenapa banyak sekali orang yang menggunakan bahasa Indonesia?" Tanya Alma kepada kedua orang yang sedang menggandeng tangan kanan juga kirinya.


Ghifari berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Alma juga disertai senyumnya. "Ini milik Kakek dan Nenek. Kita tinggal disini dulu ya?" Balas Ghifari mengusap puncak kapala Alma dengan lembut.


Memang mansion utama Muzakki adalah tempat yang cocok untuk menghindari wartawan. Bukan hanya tempat yang luas, mansion itu berada hampir di ujung perbatasan kota sehingga tak semua tau tentang tempat tersebut.


"Ini namanya negara Indonesia, karena itu semua bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Indonesia, Alma." Alisya mendekat lalu memberi pengertian kepada cucu pertamanya itu. Yang awalnya ia kira bahwa Arkan adalah cucu pertama dari generasi ke enam keluarga bermarga Muzakki ternyata salah. Karena Alma-lah yang menempati tempat tersebut.


Alma mengangguk berkali-kali. Mengerti apa yang dijelaskan oleh sang Nenek kepada dirinya. "Mau masuk?" Dengan antusias Alma mengangguk memberikan jawaban kepada sang Kakek yang berganti bertanya kepada dirinya.


Sebuah mansion yang hampir sama besarnya dengan mansion utama Malayeka namun memiliki hutan buatan di dalamnya. Pohon rindang menutupi cahaya matahari di bagian barat mansion tersebut. Rupanya tempat tersebut kedatangan penghuni baru yang merupakan salah satu pewaris mereka.


_________


Aku ga tau Sabtu sampe tahun dpn bisa update ato nggak. Aku mau liburan sekaligus ada acara keluarga dan aku di rumah pake Wi-Fi jadi klo keluar ga ada data seluler T_T jadi ga tau bisa update ato nggak :v