My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 24



"Teşekkür ederim, teşekkür ederim, Harika" (Terima kasih, terima kasih, Harika) Lunara memeluk erat tubuh Adiknya.


Lunara sangat bersyukur. Karena Adiknya juga Dilla, Lunara dapat merasakan kasih sayang dari Ghifari, walaupun hanya selama satu hari ini. Tidak ada sikap dingin dan acuhnya Ghifari. Seperti tuan putri, Lunara dimanjakan oleh Ghifari walaupun itu hanya sandiwara belaka jika mereka berdua berada di hadapan Harika ataupun Dilla.


"Ne için teşekkür ederim?" (Terima kasih, untuk apa?) balas Harika melepas pelukan keduanya. Merasa aneh dengan sikap Kakaknya.


Lunara menggeleng. "Tidak ada. Kakak hanya ingin berterima kasih karena telah mengunjungi Kakak" alibi Lunara.


Harika mencoba percaya atas ucapan Kakaknya. "Iya, Kak. Tidak masalah" balas Harika.


"Hati-hati di jalan. Segera hubungi Kakak jika kamu sudah sampai di Ankara, nanti!" Suruh Lunara khawatir. Pasalnya, ini adalah kali pertama Harika melakukan penerbangan tanpa keluarganya. Harika mengangguk patuh.


Pesawat milik keluarga Malayeka telah kembali terlebih dahulu ke Turki bersama kedua orang tuanya. Dan pada akhirnya Harika harus kembali ke Turki dengan menumpangi pesawat umum.


Kini Lunara berganti menatap seseorang yang berada di sebelah Harika. "Lütfen kardeşime iyi bak" (Tolong jaga Adikku dengan baik) pinta Lunara kepada bodyguard wanita kepercayaan keluarga Malayeka.


"Elbette bayan. Küçük hanıma iyi bakacağım" (Tentu, Nona. Saya akan menjaga Nona Kecil dengan baik).


"Teşekkür ederim" (Terima kasih) Lunara menundukkan kepalanya tanda menghormati. Bodyguardnya pun melakukan hal yang sama kepada Lunara.


Kembali menatap Harika "Kakak pasti akan sangat merindukan kamu, Rika"


Harika mengangguk menyetujui. "Rika juga. Rika akan kesepian disana. Kakak dan Abi sudah tidak tinggal satu rumah lagi dengan Rika. Rika akan sangat merindukan kalian" Lunara tersenyum lembut.


"Kamu bisa menghubungi Kakak ataupun Abi, Rika. Jangan bersedih, oke?" Pinta Lunara.


Harika mengangguk. "Iya kak"


"Rika," kini giliran Dilla yang berpamitan dengan Harika. Harika menoleh ke arah Dilla yang perlahan mendekatinya.


Dilla memeluk Harika. "Lain kali, kamu harus ajak aku berkeliling Turki, oke? Aku tunggu undangan dari kamu. Tapi, kamu harus menyelesaikan kuliahmu dulu, ya?" Suruh Dilla juga menasehati.


Harika mengangguk. "Iya Kak Dilla. Rika akan menyelesaikan kuliah Rika, setelah itu akan mengajak Kak Dilla untuk berkeliling Turki" ucap Harika menanggapi Dilla.


"Aku tunggu kabar baik dari kamu" Harika mengangguk mengiyakan ucapan Dilla.


"Hati-hati di jalan dan jaga dirimu baik-baik, Harika. Terima kasih telah berkunjung ke rumah Abang." Ghifari tersenyum ke arah Harika.


"Iya Bang,"


"Oh ya, tolong jaga Kakakku dengan baik. Abang yang bertanggung jawab kepada Kakakku sekarang. Aku mempercayai Abang." Pinta Harika. Ia tau ada yang tak beres dengan pernikahan Kakaknya juga Ghifari, maka dari itu Harika meminta Ghifari untuk memenuhi keinginannya.


"Hmm ...." Ghifari hanya berdehem menanggapinya.


Ketua bodyguard wanita itu maju beberapa langkah mendekati Harika. "Bayan, uçağımız birkaç dakika içinde uçacak" (Nona, pesawat yang kita tumpangi akan segera terbang beberapa saat lagi) ucapnya memberitau.


Harika mengangguk. "Harika pamit, ya. Assalamualaikum" pamit Harika setelah mencium punggung tangan Lunara dan Dilla, lalu tersenyum ke arah Ghifari dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Ghifari pun melakukan hal yang sama seperti Harika.


"Waalaikumsalam" balas mereka serempak.


Perlahan Harika mulai menjauhi ketiganya dan berjalan ke arah pesawat yang akan ditumpanginya dengan arahan sang bodyguardnya.


"Ayo kembali. Barang-barang milik kamu sudah Abang bawa dan taruh di bagasi"


"Ah, Dilla masih ingin tinggal di rumah Abang" rengek Dilla.


"Tidak ada penolakan atau Abang tinggal?" Ancamnya membuat Dilla terpaksa menuruti keinginan Abangnya.


__________


Terjadi kembali. Sifat aslinya yang beberapa minggu ini Ghifari tunjukkan telah kembali lagi. Tak ada sifat manisnya yang memanjakannya selama satu hari yang lalu.


Disinilah mereka. Di dalam satu kendaraan yang sama dan keheningan melanda keduanya. Padahal, baru beberapa menit yang lalu Ghifari bersikap sangat baik dengan Lunara. Tetapi, setelah ia mengantarkan Dilla kembali ke kediaman utama Muzakki, mereka menciptakan keheningan dalam satu ruangan yang sama. Seperti orang asing yang baru bertemu saat pertama kali, hanya berdiam diri tanpa peduli satu sama lain.


"Diamlah atau saya turunkan dari mobil ini?!" Ancam Ghifari membuat Lunara menjadi bungkam. Disaat salah satunya ingin memecahkan keheningan satu sama lain, lawan bicaranya malah menyuruhnya untuk diam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Beberapa menit berlalu, sampailah mereka di rumah mereka. Ups, salah, Ghifari tak pernah berniat ingin berbagi kepada Lunara. Menurutnya, hartanya adalah miliknya dan harta milik Lunara adalah miliknya juga. Ghifari adalah lelaki egois yang hanya mementingkan kepentingan dirinya juga hartanya.


Lunara keluar dari dalam mobil tanpa perlu menunggu Ghifari yang membukakan pintu untuknya. Berjalan menuju pintu masuk rumah itu. Sepi sekali hari ini, biasanya di halaman depan banyak asisten rumah tangga yang akan mengurus halaman itu, namun hari ini tidak ada orang satupun.


Hap!


Ghifari meraih lalu menarik dengan kencang lengan Lunara. Karena tak siap, Lunara berbalik dan tak sengaja menabrak dada bidang milik Ghifari.


"Apa itu juga yang diajarkan oleh orang tua kamu? Meninggalkan suaminya sendiri di belakangnya?" Tanya Ghifari menatap tajam Lunara.


Lunara menunduk. Menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, Mas" balas Lunara. Ia tak tau jika Ghifari akan ikut turun bersamanya. Pikirnya, Ghifari akan langsung pergi meninggalkannya sendiri di rumah sama seperti yang sebelumnya.


"Ikuti langkah saya dari belakang!" Suruh Ghifari melepaskan cengkraman lengan Lunara dan berjalan menjauhinya. Lunara hanya mengangguk samar, lalu mengikutinya.


Ghifari berjalan menuju halaman belakang rumahnya dan berhenti disana. Tampak banyak sekali daun kering yang berjatuhan di halaman belakang rumah itu. Biasanya, di jam seperti ini rumah itu telah bersih dan rapi, namun tidak dengan hari itu.


"Kamu lihat dedaunan itu?" Tunjuk Ghifari.


"Bersihkan daun-daun kering itu. Juga pakaian kotor saya yang sudah menumpuk di belakang,"


"Setelah itu bersihkan juga seluruh tempat yang ada di ruangan ini. Oh ya, dan jangan lupa ambil kembali barang-barang kamu yang ada di kamar saya" ucap Ghifari panjang lebar.


Lunara terdiam. Bagaimana mungkin ia bisa mengerjakan semua pekerjaan itu sedangkan rumah Ghifari cukup luas. "Mas, Bik-" baru saja ingin bertanya, Ghifari memotong ucapannya.


"Semua asisten rumah tangga sudah saya pecat. Bukankah lebih baik jika kita berhemat?" Balas Ghifari yang tau akan pertanyaan yang ingin Lunara lontarkan.


"Mas memecat mereka? Mengapa mas menghilangkan pekerjaan mereka? Ap-" Lagi, ucapan Lunara dipotong oleh Ghifari.


"Sudah saya katakan, berhemat lebih baik, bukan? Tentu saya tidak ingin mengeluarkan banyak uang untung memberi mereka gaji"


"Lagi pula, saya sudah memiliki asisten rumah tangga yang tepat untuk membersihkan rumah saya. Tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun untuk memberi orang itu gaji." Ucap Ghifari.


"Siapa orang itu, Mas?" Tanya Lunara.


Ghifari tertawa kencang lalu tersenyum penuh arti. "Kenapa kamu bertanya? Bukankah itu sudah jelas, hmm?" Ghifari memutari Lunara perlahan.


Ghifari meraih dagu Lunara yang tertutup dengan niqab. "Tentu saja kamu, istriku" ucapnya menyeringai jahat.


Jleb!


Sakit, hati Lunara sakit saat Ghifari mengatakan orang itu adalah dirinya. Sebenarnya ia pun tak terlalu mempermasalahkan jika membersihkan rumah itu seorang diri. Namun, mengapa Ghifari menyebutnya 'asisten rumah tangga?' Kenapa tak langsung mengatakannya tanpa perlu menyebutkan bahwa dirinya adalah asisten rumah tangga? Hati Lunara sakit memikirkan hal itu.


"Kenapa Mas menyebutku asisten rumah tangga?" Tanya Lunara lirih, hampir menangis.


"Mulai saat ini, kamu adalah asisten rumah tangga saya. Mengerti?!"


"Apa maksud kamu, Mas? Aku ini istri kamu, Mas!" Ucap Lunara tak terima.


"Terserah! Saya tak peduli. Cepat bersihkan rumah saya sekarang juga! Kalau tidak, lihat apa yang akan saya lakukan nanti" ancam Ghifari.


"Kuingatkan sekali lagi, ambil semua barang-barang kamu yang ada di dalam kamar saya!" Ucap Ghifari sebelum meninggalkan Lunara seorang diri disana.


Bruk!


Tubuh Lunara terjatuh saat itu juga. Mencoba menahan tangisnya tapi tak bisa. Ia juga manusia yang memiliki perasaan. Air mata yang ia tahan dari tadi agar tak terjatuh sia-sia. Air matanya malah semakin deras keluar dari pelupuk matanya. Berharap setelah ia menangis akan ada kebahagiaan yang sedang menunggunya.


__________