
"Dia adalah sahabat Dilla, yaitu dokter Lunara" balas Ghifari yakin.
"Luna?!!!" Alisya dan Dilla terkejut bersamaan. Yang mereka harapkan ternyata akan menjadi kenyataan. Padahal yang akan menikah nantinya Ghifari, tapi mereka lah yang sangat bahagia saat ini.
"Iya"
"Aku setuju" Alisya dan Dilla lagi-lagi kompak mengatakannya.
"Kau yakin?" Tanya Farhan-sang Ayah.
"In Syaa Allah aku yakin, Yah" balas Ghifari mantap.
"Atas Dasar apa, kamu memilihnya?" Farhan bertanya kembali.
"Dia adalah kriteria yang Ayah dan Bunda inginkan. Aku memilihnya juga karena menurut ku dia yang pantas bersanding dengan ku. Aku akan memintanya untuk mengubah diriku menjadi pribadi yang lebih baik kembali" balas Ghifari yang sebelumnya sudah ia rencanakan.
"Kau dan dia saling kenal?"
"Mungkin kita saling kenal melewati Dilla. Aku akan mencoba ta'aruf dengannya"
"Baiklah, Ayah yakin dengan pilihan mu. Kapan kamu akan melamarnya?"
"Sesuai dengan yang Dilla katakan, lima hari lagi, Ayah. Luna libur kerja hari Sabtu dan Minggu, jadi aku akan datang dihari Sabtu"
"Baiklah ...." putus Farhan.
Permainan ku akan dimulai. Kau akan bangga kepada ku, Yah, karena perusahaan kita pasti akan berkembang sangat pesat oleh bantuan keluarganya. Kalian tinggal menikmatinya nanti. Batin Ghifari.
__________
Hari berlalu sangat cepat hingga tak terasa sudah hari Sabtu. Rencananya, Ghifari beserta keluarganya akan datang sore hari.
"Ciee yang mau ngelamar cewek ...." ledek Dilla.
"Diam, Dilla. Kau membuatku semakin gugup. Tolong hentikan" pinta Ghifari yang memang dari pagi hari wajahnya mendadak pucat.
Bagaimana jika dia menolak ku? Batin Ghifari ketakutan.
"Yang mau ngelamar sensian banget" cibir Rayhan ikut meledek sang kakak tertua.
"Diam, Rayhan!" Ghifari membalasnya dengan kesal. Dilla dan Rayhan ber-tos-ria karena berhasil membuat kesal Ghifari.
"Dilla, Rayhan, jangan ganggu Abang kalian!" Suruh Alisya.
"Iya, Bunda" balas Dilla dan Rayhan serempak.
"Fari, kamu sudah siap?" Tanya Farhan-sang Ayah.
"In Syaa Allah, Yah" balas Ghifari.
"Ayo berangkat, tunggu apa lagi?"
"Aku nyusul naik mobilku" balas Ghifari. Ghifari memang baru saja membeli mobil mewah dari Turki bertujuan agar orang tua Lunara merestuinya karena ia sederajat.
"Kamu tau rumahnya?" Tanya Alisya.
"Aku tau dari Dilla. Aku akan menyusul nanti" balas Ghifari.
"Hmm .... Oke. Kita duluan. Kamu jangan lupa untuk datang" suruh Alisya.
"Iya, Bun"
"Bun aku ikut" panggil Dilla.
Alisya memutar tubuh nya kembali. "Ngapain? Yang mau lamaran Abang kamu, ngapain ikut?" Tanya Alisya heran.
"Bunda, Dilla mohon. Udah lama Dilla gak ketemuan bareng Lunara. Ya, Bunda, ya?" Mohon Dilla.
"Ya sudah" Alisya mengizinkan.
"Yes. Babay dede, kakak. Jaga diri baik baik disini, ya" ledek Dilla.
"Ish .... Aku sudah besar kali!" Gerutu Rayhan.
"Tetep aja kamu Adik aku. Oke, kakak cantik mu mau ketemu calon kakak ipar, jaga diri baik-baik, ya" ledek Dilla sebelum menghilang dari ambang pintu.
Rayhan tak menggubris kembali perkataan Dilla. Menurutnya, tak akan ada habisnya jika ia terus membalas perkataan kakak perempuannya.
"Bang, mau disini aja?" Tanya Rayhan yang melihat Ghifari hanya bermalas-malasan disofa ruang tamu.
"Bingung Abang mau bilang apa nanti. Males ke sana jadinya" balas Ghifari.
"Dih .... Sana berangkat, ditunggu Bunda sama Ayah nanti!" Suruh Rayhan.
"Iya-iya. Nih abang nyusul. Kamu jaga diri di rumah, kalau mau keluar hubungi seseorang, ya" suruh Ghifari.
"Hmm ...."
Ghifari keluar dari dalam apartemen dan turun ke bawah untuk pergi ke rumah keluarga Lunara.
Tak lama mobil Ghifari berhenti di kediaman Malayeka. Ghifari turun dengan perasaan gugup karena takut ditolak.
"Assalamualaikum" salam Ghifari di depan pintu masuk rumah mewah milik keluarga Malayeka.
"Waalaikumsalam" balas semua orang dari dalam rumah itu. Di dalamnya sudah terdapat kedua orang tua Ghifari, adik perempuannya, dan juga kedua orang tua Lunara.
"Apakah ini anak anda?" Tanya Jabare menggunakan bahasa Inggris.
"Iya, benar. Perkenalkan ini anak pertama saya, namanya Ghifari" ucap Farhan.
"Kami datang kesini bertujuan untuk melamar anak pertama anda" lanjut Farhan.
"Anak pertama saya?" Ulang Jabare.
"Iya, anak pertama anda, Lunara" lanjut Farhan.
Hening. Tak lama Jabare beserta Emira tertawa mendengarnya. "Maaf. Lunara anak kedua kami. Anak pertama kami laki-laki dan dia sudah menikah" ucap Jabare.
"Oh, maafkan saya, saya keliru" balas Farhan.
"Tak apa. Apakah tujuan kalian kesini untuk melamar putri pertama kami?" Ulang Jabare.
"Benar sekali" balas Farhan.
"Tunggu sebentar, akan saya panggilkan Lunara" ucap Jabare.
Dan saat itu pula Harika baru pulang dari rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah bersama. "Assalamualaikum Anne, Baba" (Assalamualaikum Mama, Papa) ucap Harika memberi salam kepada kedua orang tuanya seraya menyalami keduanya.
"Waalaikumsalam" balas semua orang.
"Perkenalkan, dia Harika, putri kami yang kedua. Harika perkenalkan dirimu kepada mereka" ucap Jabare menggunakan bahasa Inggris.
Harika mengangguk seraya berbalik badan menghadap keluarga Muzakki. "Kak Dilla" ucap Harika terkejut dengan menggunakan bahasa Indonesia. Farhan, Alisya dan Ghifari terkejut mendengar Harika berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"Ini kak Dilla 'kan?" Ulang Harika. Harika pernah beberapa kali bertemu dengan Dilla jika bersama Lunara-sang kakak.
Yang ditanya 'pun tersenyum. "Iya ini kak Dilla. Kamu Rika 'kan?" Balas Dilla.
"Iya kak. Ketemu lagi kita" ucap Harika seraya memeluk Dilla. Dilla membalas pelukan hangat dari Harika.
Harika melepaskan pelukannya dan beralih menatap tiga orang lainnya. "Ini Bundaku, Ayahku dan Abang Fari-kakakku" ucap Dilla memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya karena Harika menatap mereka dengan tatapan bertanya.
"Saya Harika, panggil saja Rika" balas Harika seraya memperkenalkan diri seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
Harika dan Lunara tak beda jauh, mereka berdua sama sama menggunakan pakaian syar'i, hanya saja Harika tidak menggunakan niqab seperti Lunara. Begitupun dengan Emira-Mamah mereka yang juga menggunakan pakaian syar'i dengan niqabnya seperti Lunara.
"Rika juga bisa bahasa Indonesia?" Tanya Alisya.
Harika tersenyum. "Iya Tante, diajarin kak Luna" balas Harika.
"Kalau begitu Rika balik ke kamar ya" pamit Harika.
"Iya silahkan"
"Anne, Baba, Rika odaya girdi ha" (Mama, Papa, Rika masuk kamar ya) pamit Harika kepada kedua orang tuanya yang diangguki oleh keduanya.
"Oh evet, Rika, lütfen kız kardeşini ara, ona buraya gelmesini söyle" (Oh ya, Rika, tolong panggilkan kakak kamu, suruh dia ke sini) ucap Emira meminta tolong.
"Evet Anne" (Iya Mama) balas Harika sebelum pergi menuju kamarnya.
Harika menaiki tangga menuju kamar Lunara yang berada disebelah kamar miliknya.
Tok .... Tok .... Tok ....
Harika mengetuk pintu kamar Lunara.
"Assalamualaikum, Kakak dipanggil sama Anne, Baba disuruh turun ke bawah" panggil Harika setelah mengetuk pintu kamar sang kakak.
"Waalaikumsalam. Sebentar, Kakak nanti turun ke bawah, kakak lagi siap-siap" balas Lunara dari dalam kamarnya.
"Iya. Oh ya kak, di bawah ada kak Dilla loh" ucap Harika.
Tak lama pintu terbuka. "Dilla?" Ulang Lunara.
"Iya, kak Dilla sama kedua orang tuanya ke sini, dia nunggu Kakak di bawah. Oh ya, sama ada Abangnya Mak Dilla, kalo gak salah Rika denger namanya Abang Fari" balas Harika mengingat-ingat.
"Ngapain?"
"Gak tau, mungkin mau ngelamar Kakak" ledek Harika.
"Ih sok tau. Ya udah kakak ke bawah dulu. Makasih ya udah dikasih tau" balas Lunara seraya berjalan menuju anak tangga.
"Sama-sama, kakak ku" teriak Harika dan langsung dapat tatapan tajam dari sang kakak.
"Ups, maaf, Rika lepas kontrol" Ucap Harika menutup mulutnya. Lunara menggeleng melihat tingkah sang adik.
Ada apa ya mereka ramai-ramai datang kemari?. Batin Lunara bertanya-tanya.
__________
LANJUT?
JGN LUPA TINGGAL JEJAK YA😉
LIKE, KOMEN, SAMA VOTE😁
MAKASIH.
Tangerang, 7 Juli 2020.