My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 20



Setelah kejadian pagi tadi, Lunara terus menerus menghubungi Ghifari namun, Ghifari tak kunjung mengangkat panggilan dari Lunara yang mana membuat Lunara khawatir sekaligus bingung dengan tingkah Ghifari yang berubah drastis.


"Kenapa kamu berubah, mas?" Gumam Lunara.


Tok... Tok... Tok...


Pintu di ketuk dari luar.


"Kak Luna, ayo makan. Kakak belum makan dari pagi" panggil Disa dari luar.


Setelah Ghifari pergi tanpa memberikan penjelasan kepadanya, Lunara terus menerus mengurung dirinya di dalam kamar.


Lunara menyeka air matanya. "Nanti. Kalian makan duluan saja." Balas Lunara. Setelah itu tak ada ucapan dari Disa kembali.


Lunara mengambil Al-Qur'an dan membacanya. Apapun yang terjadi, Lunara selalu lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Karena Lunara tau, manusia tidak bisa di harapkan untuk memberikan solusi atas masalahnya. Mengharapkan manusia hanya akan membuat diri sendiri kecewa nantinya. Hanya Tuhan yang tau solusi dari berbagai masalah hamba-Nya.


__________


Ghifari berjalan penuh wibawa. Banyak karyawan perusahaan menunduk hormat kepada CEO baru perusahaan itu.


Ghifari langsung diberikan jabatan CEO oleh Ayahnya setelah seminggu pernikahannya dengan Lunara. Farhan menepati janjinya, namun ia tak tau semua rencana yang sudah anaknya persiapkan dengan sangat matang.


Jabare 'pun memberikan dua cabang perusahaannya yang berada di Indonesia kepada Ghifari. Semua berkas telah selesai di urus, Ghifari-lah yang telah sah menjadi pemilik salah satu cabang perusahaan milik keluarga ber-marga Malayeka.


Saat ini perusahaan itu tetap dijalankan oleh orang orang kepercayaan Jabare. Ghifari hanya di suruh untuk fokus di satu pekerjaannya terlebih dahulu.


"Selamat pagi, tuan" ucap sekertaris Ghifari saat Ghifari hendak memasuki ruang kerjanya. Seperti biasa, Ghifari tak peduli dengan sapa-an yang dilontarkan kepadanya.


Tok... Tok... Tok...


Baru saja Ghifari duduk, pintu ruangannya sudah diketuk dari luar.


"Masuk!" Titah Ghifari dingin.


"Maaf tuan, ini jadwal meeting anda bersama klien kita hari ini" ucapnya kepada Ghifari.


"Hmm" Ghifari hanya berdehem sebagai jawaban. Ia enggan mengeluarkan banyak kalimat yang menurutnya tak penting.


"Keluar!" Usir Ghifari kepada asistennya yang tiga tahun lebih tua darinya.


"Baik tuan. Saya permisi." Ucapnya menurut. Ia meninggalkan Ghifari sendiri di dalam ruangan miliknya.


Kriing...


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Ghifari. Ghifari melirik ke arah layar ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya disaat jam kerjanya.


Sumber Uang: Mas, apa kamu sedang ada masalah? Cerita padaku, mas. Tolong jangan diami aku.


Ghifari melihat malas ke arah isi dan pengirim pesan tersebut. 'Sumber Uang' nama kontak yang Ghifari simpan diponselnya itu adalah Lunara. Ia menamai kontak Lunara demikian karena Lunara menjadi sumber kekayaannya.


Sumber Uang: Mas, kalo kamu ada masalah, jangan lupa makan, biar gak gampang sakit.


Lunara mengirimkan kembali pesan kepada Ghifari. Ghifari hanya membaca tanpa berniat membalasnya. Banyak sekali pesan yang Lunara kirim untuknya ia abaikan, tak ada satupun yang ia jawab.


Ghifari mematikan nada dering ponselnya agar ia tidak mendapatkan notifikasi pesan masuk dari Lunara yang menurutnya tak ada gunanya.


Ghifari kembali memfokuskan dirinya pada layar komputer yang berada didepannya.


Kriing... Kriing... Kriing...


Ponsel Ghifari berbunyi berkali kali, menandakan ada yang sedang menghubunginya. Ghifari melirik malas ke arah layar ponsel, ia menebak bahwa itu adalah Lunara. Mata Ghifari berbinar saat melihat nama yang tertera dilayar ponsel miliknya.


"Halo, Resya sayang" ucap Ghifari mengangkat teleponnya.


"Kamu kenapa gak baca pesan dari aku, Ghifari?!" Omel sebrang telepon.


"Maaf sayang. Nada deringnya aku mati-in, si Luna hubungi aku terus," adu Ghifari.


"Jangan marah, ya? Sekarang kamu bilang sama aku, kamu ada perlu apa, sayang?" Lanjut Ghifari lembut.


"Aku kangen, sayang. Aku mau ketemu sama kamu" adu Resya manja.


"Oke, aku keluar saat jam makan siang, ya? Sekarang aku sibuk." Tawar Ghifari.


"Janji ya, sayang?"


"Iyaa"


"Makasih. I love you."


"Love you too" balas Ghifari setelahnya ia menekan tombol yang berwarna merah, mengakhiri telepon antara dirinya dengan Resya. Ghifari tersenyum lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


__________


Jam makan siang Ghifari keluar dari ruangan serta perusahaan untuk makan siang bersama Resya. Tentu Ghifari memesan ruangan khusus yang hanya ada dirinya beserta Resya tanpa sepengetahuan orang lain. Jika dirinya tertangkap basah sedang berdua bersama dengan Resya, maka keluarlah berita serta gosip tentang dirinya bersama dengan Resya.


Setelah sampai Ghifari langsung berjalan menuju restoran tersebut dan memasuki ruang VIP yang sudah ia pesan yang ternyata Resya juga belum sampai.


Ghifari menunggu Resya datang. Tak lama orang yang ia tunggu datang dan memanggilnya. "Hai sayang. Maaf ya, aku lama" ucap Resya memeluk Ghifari yang berdiri menyambut dirinya.


"Gak papa, sayang. Belum lama 'kok" balas Ghifari lembut.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Ghifari setelah mereka berdua duduk.


"Sama kayak kamu, yang" balas Resya.


Ghifari mengangguk. Ia memanggil waiter's untuk memesan makan dan minum mereka.


Ia juga telah membayar seluruh karyawan yang bekerja di restoran tersebut untuk diam dan tidak menyebar berita tentang dirinya dan Resya pada siapapun, apalagi di media sosial. Tentu seluruh karyawan yang bekerja di restoran tersebut menerima tawaran yang Ghifari berikan dengan senang hati, karena jumlah uang yang Ghifari berikan sangat banyak.


"Tunggu sebentar ya, makanannya akan segera sampai." Ucap waiter's itu sesopan mungkin. Ghifari hanya mengangguk tanpa melihat waiter's itu.


Tak lama makan siang mereka datang. Waiter's yang membawa makan siang mereka 'pun meletakkan pesanan keduanya diatas meja makan mereka.


"Selamat menikmati" ujar waiter's itu sopan.


"Hmm" hanya deheman singkat yang Ghifari ucapkan kepada waiter's itu. Waiter's itu segera pergi untuk melaksanakan tugasnya yang lain.


"Ayo kita mulai, sayang" ajak Ghifari lembut. Resya tersenyum dan mengangguk.


Mereka memulai memakan makanan mereka dengan dilengkapi oleh cerita dari masing masing.


Ghifari makan tanpa rasa bersalah kepada Lunara sedikit pun. Ia tak peduli dengan Lunara. Ia hanya menginginkan hartanya saja. Sampai ia benar benar telah menguras kekayaan keluarga Malayeka, baru saat itulah ia melepaskan Lunara dari kehidupanya.