
"She's not a virgin" gumam Ghifari.
Setelah melakukannya, Ghifari langsung mengusir Lunara dari kamarnya tanpa menunggu penjelasan darinya. Mengumpati Lunara terus menerus dengan kata-katanya yang terbilang cukup kasar. "Tunggu, apa yang waktu itu benar?" Beberapa minggu lalu Ghifari selalu saja mendapatkan potongan kejadian sewaktu ia mabuk. Namun Ghifari tak ambil pusing dan berfikir itu adalah mimpinya semata.
"Aku harus bertanya padanya langsung" setelah berunding lama dengan pikirannya akhirnya Ghifari akan menanyakan langsung kepada orangnya.
Ghifari keluar dari dalam kamarnya, menuruni anak tangga untuk menuju ke kamar Lunara. Sampai di depan kamar Lunara, tangan Ghifari terangkat untuk mengetuk pintu. Tangan Ghifari mengepal sebelum sampai pada pintu kamar. Ia mendengar tangis Lunara dari luar kamar.
Niatnya untuk bertanya diurungkan kembali oleh Ghifari. Ia akan membiarkan Lunara sampai tenang baru setelah itu ia akan bertanya. Untuk saat ini Ghifari memilih untuk kembali ke dalam kamarnya dan mencoba mengingat potongan-potongan kejadian waktu itu.
__________
Sebelum pukul empat pagi Lunara terbangun dari alam mimpinya. Keluar kamar dan berjalan menuju dapur, ingin mengambil air mineral. Lunara meraih gelas dan mengisinya sampai penuh, lalu duduk di bangku meja makan untuk meminum segelas air yang ada di tangannya.
"Apa aku sekalian masak aja, ya?"
Akhirnya setelah lama dia menimang-nimang ucapannya, Lunara memutuskan untuk memasak. Mulai mencari bahan-bahan yang ia butuhkan di lemari pendingin dan membuka laman pencarian di ponselnya untuk mencari tau resep makanan Indonesia. Selama ini Lunara masak dengan bantuan orang karena dirinya tak pernah bisa memasak masakan Indonesia, namun jika dirinya disuruh untuk memasak makanan Turki, Lunara sudah ahli dalam hal itu.
Meskipun saat ini Lunara masih merasa mengantuk, tapi ia tahan sebisa mungkin. Tubuhnya seperti remuk saat ini, membuat pergerakan Lunara pelan.
Dengan telaten Lunara mengikuti resep yang ada pada video yang ditonton olehnya. Melihat judul resep makananya yang sangat asing membuat Lunara tak banyak mengerti. Akhirnya Lunara mengubah videonya menjadi subtitle bahasa Inggris supaya lebih mudah ia pahami.
Setelah hampir satu setengah jam lamanya Lunara berkutat di dapur seorang diri akhirnya masakannya selesai juga. Lunara sendiri tak hapal apa nama masakan yang ia masak. Ada tiga jenis masakan yang ia masak. Dua masakan Indonesia dan yang satu lagi masakan Turki lengkap dengan roti khas mereka.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima lewat. Lunara menyajikan semua masakannya di atas meja makan dan ia tutup menggunakan tudung saji. Setelah itu Lunara berjalan memasuki kamarnya untuk membersihkan diri dan sholat subuh.
Selesai mandi dan sholat subuh, Lunara meraih niqab yang sudah ia siapkan. Setelah terpasang dengan baik, Lunara meraih gagang pintu dan membukanya. Gerakan Lunara terhenti, ia mematung saat itu juga. Dengan segera, Lunara menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia tak berani menatapnya-Ghifari.
"Assalamualaikum, M-mas. Selamat pagi" ucap Lunara takut-takut. Bahkan saat ini tubuh Lunara bergetar karena takut dengan apa yang Ghifari lakukan kepadanya.
Ghifari membalas ucapan salam dari Lunara. Menatapnya dalam-dalam. "Saya ingin bicara dengan kamu" ucap Ghifari dingin.
Ghifari berbalik badan, berjalan mendahului Lunara dan duduk di sofa keluarga yang letaknya tak jauh dari kamar Lunara. Lunara mengikuti langkah Ghifari dengan pelan. Selain karena rasa takut terhadap Ghifari, tubuh Lunara memang tak bisa dikatakan baik saat ini.
"Saya yang melakukan itu?" Tanya Ghifari to the point. Lunara menatap Ghifari, tak paham apa yang ingin Ghifari katakan saat ini.
"Saya yang pertama kali melakukan itu? Dan waktu itu keadaan saya sedang mabuk?" Ubalng Ghifari memperjelas ucapannya.
Hening. Ghifari tak lagi membalas ucapan dari Lunara. "M-mas?" Tanya Lunara memecah keheningan yang terjadi.
"Lalu apa yang kau lakukan kemarin?!!" Tanya Ghifari membantak kali ini. Entah kenapa ia merasa kesal sendiri melihat Lunara yang pergi berdua dengan lelaki lain. Baginya, Lunara adalah miliknya, ia tak akan meminjamkannya kepada siapapun sebelum dirinya puas. Itulah tanggapan Ghifari saat ini.
"Aku sudah bilang bukan? Aku menemui Kakakku, Mas. Bahkan kam-"
Dengan cepat Ghifari memotong ucapannya. "Cih! Kau bohong! Saya bahkan melihat kalian berdua di mall saat jam makan siang!" Ghifari menyudutkan Lunara kembali.
"Aku makan siang dengan Kakakku, Mas" Lunara terus mencoba meyakinkan Lunara.
"Jangan berbohong, Lunara! Kau membuatku kesal!!" Ghifari membentak Lunara dengan suara yang sangat kencang.
"Demi Allah, Mas. Untuk apa aku berbohong?" Air mata Lunara mengalir begitu saja. Ia memang sangat berharap Ghifari mau berbicara dengannya, tapi tidak seperti ini maunya.
"Kau tau, saya duduk tepat di belakang kamu, Lunara!! Kau berdua bersama lelaki lain, bahkan kau membawanya ke halaman rumah saya!! Dengan lancangnya kau bersikap mesra di rumah saya!!!" Lagi-lagi suara bentakan Ghifari sangat kencang.
"Astaghfirullahaladzim, Mas. Orang yang kamu maksud itu Kakak aku, Mas. Dia Abi Derya, Kakak yang pernah aku ceritakan" pernyataan Lunara membuat Ghifari bungkam seribu bahasa. Ternyata orang yang ia maksud adalah Kakak iparnya sendiri.
Masih dalam menangis terisak, Lunara mengucapnya kata kembali. "Aku tidak melihat kamu, Mas. Seingatku, belakang aku hanya ada sepasang kekasih yang juga sedang makan siang seperti aku,"
Dengan pelan, Lunara berkata kembali. "A-apa itu kamu, Mas?" Lanjut Lunara. Ia ingin memastikan sesuatu saat ini.
Nafas Ghifari tercekat. Tubuhnya langsung menegang seketika. Ia seperti maling yang tertangkap basah sedang mencuri. Ghifari sendiri bingung ingin membalas apa. Ghifari terdiam, sedang memikirkan kata-kata alasan yang tepat untuk Lunara. Bagaimana bisa ia ceroboh mengatakan kalau dirinya sedang duduk tepat di belakang Lunara. Saat itu, Ghifari sedang makan siang bersama dengan Resya, namun moodnya hilang begitu melihat Lunara bersama lelaki lain.
Lunara tersenyum miris saat melihat gelagat aneh dari Ghifari. Ghifari tak kunjung juga membalas pertanyaan darinya. "Keterdiaman kamu adalah jawaban untukku, Mas." Ucap Lunara melirih.
"Diamlah, Lunara!! Jangan memojokkan saya. Kau tak tau apa-apa!"
"Kamu benar, Mas. Kamu sangat tertutup kepadaku. Kamu mengacuhkan aku, tak pernah bercerita tentang diri kamu. Aku tak tau apa-apa karena kamu tak pernah memberikan kabar kepadaku, Mas"
"Apa kau cemburu? Itu adalah rekan kerja saya, Lunara. Jangan kau menuduhku yang tidak-tidak! Kau mengerti?!!" Sarkas Ghifari langsung meninggalkan Lunara sendiri disana.
"Astaghfirullah .... Maafkan aku Ya Allah, hamba-Mu ini telah ber-su'udzon kepada suaminya sendiri." Lirih Lunara menyadari kesalahannya. Lunara menghapus jejak air matanya lalu berniat menyusul Ghifari untuk meminta maaf.