
Tangan Lunara terulur ingin menggendong Arkan. Namun belum juga memegang Arkan kembali, tangannya lebih dulu tertahan. Lunara menunduk menatap Alma yang menahan pergerakan tangan Lunara yang hendak menggendong Arkan.
Lunara melihat tatapan sang anak yang sudah berkaca-kaca dan sebentar lagi akan menangis. "Ane gak boleh gendong siapapun." Dengan kencang Alma menangis. Rupanya anak itu cemburu melihat sang Ibu yang hendak menggendong Arkan.
Sekarang tatapan seluruhnya tertuju pada Alma yang menangis kencang. Arkan yang melihatnya pun jadi ketakutan dan ikut menangis. Lunara mengurungkan niatnya yang ingin menggendong Arkan. Langsung saja Lunara membawa Alma dalam gendongannya dan mengelus pelan Alma supaya tangisnya mereda.
"Baiklah, Ane tak akan menggendong siapapun selain Alma. Sekarang Alma berhenti menangis, ya?" Ucap Lunara dengan mengelus sayang Alma yang sedang menangis.
Ghifari yang melihat itu segera menghampiri Lunara yang sedang menenangkan Alma. "Ini m-milik Alma!" Ketus Alma kepada Arkan yang juga dalam gendongan Dilla. Dengan sedikit terbata Alma mengatakannya dalam bahasa Indonesia yang Ghifari ajarkan beberapa hari yang lalu. Karena mendengar tamu yang datang menggunakan bahasa Indonesia, maka ia pun mencoba kemampuannya.
"Iya sayang, Ane cuma milik tuan putri Alma." Balas Lunara yang juga menggunakan bahasa Indonesia.
Alma beralih menatap Ghifari. Tangannya terbuka lebar meminta Ghifari untuk menggendongnya juga. Ghifari mengikuti kemauan sang anak. Ia mengambil Alma dari gendongannya. "Aba juga hanya milik Alma." Ucap Alma memeluk leher Ghifari.
"Tentu Almasya." Balas Ghifari memeluk Alma.
Tentu seluruh keluarga Ghifari heran melihat hal itu. Mereka masih belum mengetahui siapa anak yang berada dalam gendongan Ghifari. Hanya Rayhan yang tau tentang Alma. Seperti yang diperintahkan Ghifari kepada Rayhan, yaitu tidak memberitau kepada siapapun.
"Alma, ayo berikan salam kepada keluarga Aba" pinta Ghifari pelan. Alma masih terisak karena tangisnya.
Alma menggeleng kuat. "Nanti Ane dan Aba diambil mereka." Lirih Alma yang hendak menangis kembali.
"Ssst… Tidak akan, Alma" balas Ghifari menenangkan Alma yang hendak menangis kembali. Alma kekeh tak mengikuti ucapan sang Ayah. Ia terus menggeleng ketika Ghifari mencoba membujuknya.
Ghifari tersenyum melihat tingkah lucu Alma. "Baiklah, Aba akan memperkenalkan Alma kepada mereka. Agar mereka tidak mengambil Ane dan Aba, oke?" Kali ini Alma mengangguk setuju.
Ghifari membalikkan posisi Alma yang menghadap belakang menjadi ke depan. "Kata Alma, ia tak ingin Aba dan Anenya diambil oleh Arkan." Ucap Ghifari memberitau apa yang baru saja Alma katakan.
Seluruh keluarga Lunara tertawa kecil mendengar hal itu. Tapi berbeda dengan keluarga Ghifari yang nampaknya masih tak mengerti kecuali Rayhan. Mereka tersenyum kaku karena tak tau apa itu 'Aba dan Ane' yang baru saja Ghifari katakan.
Ghifari menurunkan Alma dari gendongannya. Tapi belum sampai kaki Alma menapak, anak itu merengek untuk tidak diturunkan. Akhirnya Ghifari kembali menggendong Alma yang terus memeluk lehernya dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Ghifari. Lagi-lagi seluruh orang dibuat tertawa karena tingkah Alma yang menurut mereka lucu.
"Baiklah langsung saja. Alma ayo lihat mereka" pinta Ghifari. Alma menurut kali ini. Ia menatap ke depan. Niqab yang ia kenakan pun berantakan. Dengan telaten Ghifari membenarkan niqab Alma dengan satu tangannya.
Sama seperti waktu Ghifari memperkenalkan Alma ke Rayhan, tatapan mereka seolah mengatakan bahwa ia masih tak paham. Mereka terdiam mencoba mencerna ucapan Ghifari.
"Alma, dia anakku dengan Lunara." Lanjut Ghifari memperjelas ucapannya. Senyumnya terpancar jelas. Membuktikan bahwa ucapannya adalah sebuah kebenaran.
"A-apa?" Hampir semua tak percaya mendengar hal tersebut. Jadi anak bernama Alma itu memang benar anaknya Lunara, juga anak Ghifari, pikir mereka.
"Alma, kau tak mau menyambut mereka? Aba mohon" pinta Ghifari sekali lagi.
Dengan ragu Alma mengangguk pelan. Lalu Ghifari menurunkan Alma dari gendongannya dan berjalan pelan menghampiri seluruh keluarga Ghifari. Alma mengecup punggung tangan mereka satu-satu lalu dihadiahi oleh pelukan erat dari mereka. Tangisnya pecah ketika melihat Alma dengan lucunya menyambut kedatangan mereka. Alma yang tak paham dengan situasi tersebut hanya tersenyum ketika dirinya berada dalam pelukan orang dewasa lalu dicium kedua pipinya.
"Maafkan kami, Lunara. Kami tak mengetahui jika saat itu kamu sedang mengandung." Baik Farhan maupun Alisya meminta maaf kepada Lunara. Telapak tangan mereka menyatu dengan mengucapkan kata maafnya.
Dengan cepat Lunara menurunkan tangan mereka yang memohon kepada Lunara. Gelengan cepat Lunara tunjukkan kepada mereka jika itu bukanlah salah mereka. "Tidak, itu bukan salah kalian. Ini memang kemauan Lunara. Tolong jangan salahkan kalian" ucap Lunara. Ia akan semakin merasa sangat bersalah karena menyembunyikan kehamilannya saat itu kepada Ghifari serta seluruh keluarganya.
"Tak apa, semua sudah berlalu. Kita akan mulai dari awal kembali hubungan kekuarga ini?" Jabare menyahuti salah satu besannya. Sebaik-baiknya manusia, pasti memiliki kesalahan juga. Sudah jarang manusia yang sangat sempurna di muka bumi ini. Tanpa kesalahan ataupun dosa sedikitpun. Hanya seorang bayi yang memiliki kedua hal tersebut.
"Iya Ayah, Bunda. Apa kalian ingin melanjutkan hubungan kekuarga ini kembali? Luna juga butuh restu kalian" Lunara menatap keduanya penuh harap. Semoga saja keduanya mengizinkannya kembali. Itupun agar masa kecil Alma berjalan dengan baik dengan kedua orang tuanya dan orang-orang tersayang yang berada di sisinya.
Alisya mengangguk mantap dengan sisa air matanya yang masih basah di kedua pipinya. "Tentu, tentu saja Bunda sangat setuju. Bunda sangat setuju tentang itu." Lunara beralih menatap yang lainnya yang jawaban mereka sama, yaitu mengangguk menyetujui permintaan dari Lunara.
Alisya kembali menatap Alma yang tak mengerti suasana yang sedang terjadi. Ia hanya menatap tak paham kepada seluruh orang dewasa yang berada di hadapannya. Lunara kembali ingin memeluk Dilla, namun lagi-lagi Alma menahan pergerakan tangannya Lunara.
"Ane tak boleh mendekati dia! Ane cuma punya Alma!" Rengek Alma kembali. Rupanya anak itu tak menginginkan Lunara untuk berpelukan bersama Dilla yang masih menggendong Arkan.
Sekarang semua orang paham yang terjadi sebelumnya. Anak itu cemburu melihat Ibunya memeluk dan menggendong anak lain dibanding dirinya. "Lihat, Arkan sudah Ante lepaskan. Apa Ante boleh memeluk Ane?" Dilla menaruh Arkan di atas lantai, membiarkan anak itu berjalan sendiri.
Perlahan Alma mengangguk menyetujuinya. Setelah pelukan keduanya terlepas, buru-buru Alma langsung memeluk erat Lunara lalu menatap tak suka ke arah Arkan. "Ini punya Alma!" Ucap Alma dengan galak. Membuat siapa saja yang melihatnya tertawa.
___________
Hari minggu jadwal aku les masak, jadi 1 aja update nya ya✌😁