
Badai salju turun dengan sangat lebat. Seluruh penduduk dimohon untuk tetap berdiam diri di rumah. Seluruh pekerja, mahasiswa dan murid sekolah diliburkan sampai badai salju mereda. Seluruh rumah menyalakan seluruh penghangat ruangan mereka. Membuat seluruh orang tak merasakan dingin di tubuh mereka.
Banyak orang yang memanfaatkan keadaan seperti ini. Karena badai salju, mereka dapat berkumpul dengan keluarga mereka. Orang yang sibuk sekalipun mengosongkan jadwal mereka untuk keluarga.
Seperti keluarga yang satu ini. Di hari seperti ini mereka dapat berkumpul keluarga dalam ruangan yang sama. Menikmati kumpul bersama yang sangat jarang dilakukan karena mereka semua sangatlah sibuk sampai tak ada waktu untuk keluarga.
Suara anak batita terdengar di ruang keluarga tersebut, membuat sesisi ruangan tersebut sedikit ramai dengan suara anak kecil. Dua anak itu terlihat sangat kompak walaupun masih sangat dini untuk anak seumuran itu. Yang satu berumur empat setengah tahun dan yang satu lagi berumur tiga setengah tahun. Hanya terpaut saru tahun umur mereka. Mereka adalah Enver dan Almasya, dua bocah kecil dari keluarga Malayeka.
Almasya Shahinaz Muzakki, panggil saja ia Alma. Anak berumur tiga setengah tahun itu adalah anaknya Lunara. Sembilan bulan lebih sepuluh hari Lunara mengandungnya tanpa seorang sosok Suami di sampingnya. Memang ia tak pernah mengatakan apapun tentang kehamilannya pada keluarga bermarga Muzakki tersebut karena kekecewaannya kepada satu orang. Tapi tetap saja Alma-anaknya itu ia berikan nama Marga milik suaminya karena ia tetap keturunan keluarga tersebut.
Dilla, sahabatnya itupun tak tau mengenai keberadaan Alma walaupun mereka sering bertukar kabar. Bahkan saat Dilla menikah pun Dilla memintanya untuk tak datang. Ia tak mau Lunara terpaksa datang dan akhirnya bertemu kembali dengan Ghifari.
Lunara menatap lurus ke arah Almasya yang sedang bermain dengan Enver. Namun tatapannya kosong. Terbayang kembali kejadian empat tahun yang lalu. Dimana Ghifari hanya mengharapkan kekayaan yang keluarganya miliki dan melepaskannya setelah semua itu tercapai.
Pasti ia sudah bahagia bersama wanita pilihannya waktu itu. Batin Lunara. Ia tersenyum membayangkan Ghifari bersama wanita lain. Sampai tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
"Ane kenapa nangis?" Alma yang menyadari Lunara menangis langsung menghampiri Ibunya tersebut. Bahasa yang digunakan memang belum sangat fasih dalam pengucapannya, tapi semua orang tau apa yang Alma katakan saat ini.
Lunara menunduk, menatap anaknya yang sedang memeluknya. Lunara tersenyum melihatnya, di usianya yang masih amat kecil Alma sudah pandai membuat orang-orang tersenyum bahagia melihat perhatian kecil yang ia tunjukkan.
"Kamu menangis, Lunara?Kenapa?" Emira mendekat ke arah Lunara. Membawa Lunara dalam pelukannya. Ia tau apa yang Lunara pikirkan saat ini karena tatapan sebelumnya mengarah pada Alma.
Lunara menggeleng. Ia menghapus sisa air matanya yang masih tersisa di ujung mata. "Luna bahagia melihat Alma juga bahagia, itu saja." Balas Lunara setelah itu ia tersenyum. Mengangkat tubuh kecil Alma dan menaruh dalam pangkuannya.
"Sepertinya lebih baik kamu beristirahat dulu, Lunara. Anne rasa setelah itu kamu akan merasa lebih baik." Suruh Emira menatap dalam anaknya.
"Kurasa itu tidak perlu, Anne" tolak Lunara.
"Kau harus mengikuti ucapan Nene, Ane" Alma menceramahi Lunara. Membuat seluruh orang yang melihatnya tertawa kecil.
"Baiklah tuan putriku. Ayo kita istirahat bersama." Lunara mengangkat Alma dan mameluknya dalam gendongannya. Alma langsung menciumi seluruh wajah Lunara yang tertutup dengan niqab.
"Aku pamit ke kamar, ya" pamit Lunara sebelum meninggalkan seluruh keluarganya yang sedang berkumpul saat itu. Setelah mendapatkan izin dari seluruh keluarganya, mereka berdua meninggalkan ruang kumpul keluarga menuju kamarnya.
Lunara menaruh anaknya di atas ranjang miliknya. Tak lama Lunara juga menyusul anaknya untuk naik ke atas ranjangnya setelah membuatkan Alma susu formula. Dengan lahap Alma meminum susu yang baru saja Lunara buatkan untuknya.
Setelah memastikan anaknya telah tertidur pulas Lunara duduk, menatap anaknya yang sedang tertidur dengan memakai hijab seperti dirinya. Lunara meraih ujung hijabnya lalu melepaskannya dengan perlahan agar Alma tidak terbangun.
"Jangan lepas hijab Alma!" Rengekan keluar dari mulut kecil Alma. Ia mulai menangis dan meraung dengan sangat kencang. Alma memang tak suka jika hijabnya itu dilepas. Katanya ia ingin seperti Lunara agar terlihat cantik. Itu yang dikatakan Alma kepada seluruh keluarganya.
Setelah Lunara mengatakan hal tersebut Alma langsung terdiam kembali. Tangisnya telah terhenti namun jejak air matanya masih membekas di kedua pipi mungilnya. Lunara menghapus jejak air matanya Alma lalu mengecup kedua matanya Alma. "Jangan nangis, ya. Sekarang Alma tidur lagi" Lunara mulai menidurkan Alma di dalam gendongannya. Sampai Alma benar-benar sudah tertidur kembali Lunara menaruhnya di atas ranjangnya.
Lunara ikut berbaring di samping Alma. Ia menatap wajah Alma. Wajahnya lebih mendominasikan Ghifari daripada Lunara. Hanya satu yang mirip dengannya, yaitu hanya hidung mancungnya yang sama persis seperti miliknya. Bibir Lunara terangkat membentuk senyuman yang manis. "Terima kasih telah hadir di kehidupan Ane." Sebelum terlelap dalam tidurnya, Lunara mengatakan hal itu dan mencium kening Alma.
__________
Di lain tempat, ada beberapa orang sedang menikmati cuaca di malam hari yang sejuk. Berjalan beriringan dengan senyum manisnya yang terpasang di wajah mereka. Jalan-jalan malam dengan diiringi cerita mereka masing-masing. Satu keluarga yang sangat harmonis. Suami, Istri dan seorang buah hati mereka yang hampir berumur empat tahun.
Karena merasa lelah mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku taman. Malam minggu memanglah hari yang tepat untuk keluar bersama kekasih mereka, apalagi yang sudah menikah. Di negara Indonesia, memang jalan-jalan yang tepat untuk para sepasang kekasih adalah malam minggu. Banyak tukang juakan yang sedang berjualan di sekitar taman tersebut.
"Mama, Papa, Vian mau mimi. Vian haus" ucap bocah kecil tersebut. Ia merengek kepada kedua orang tuanya agar dibelikan minuman. Tentu saja orang-orang yang berjualan disana membuat anak berumur empat tahun kurang tiga bulan itu tergiur, ia juga ingin minum seperti yang ia lihat.
"Tunggu disini. Papa beli dulu, ya?" Pamitnya meninggalkan anak dan Istrinya berdua di bangku taman.
Selang beberapa waktu Suami itu telah kembali dengan minuman yang berada di tangannya. Ia menyerahkan kepada sang Istri untuk membukakannya dan ia berikan kepada anaknya. Vian-nama anak itu, ia menatap langit yang dihiasi dengan bintang dan bulan. Walaupun tak banyak namun hal itu membuat anak itu menatap kagum ciptaan Tuhan.
"Mama, Alma pasti seneng kalo Vian aja ke sini kan?" Tanya bocah tersebut menatap sang Ibu.
"Kamu harus izin dengan Mamanya Alma dulu, baru boleh ajak Alma kesini" ucap sang Ibu.
"Vian harus izin sama Aunty Lunara?" Tanya vian.
Dengan gemas sang Ayah mencium pipi anaknya tersebut. "Apa Vian mau mengajak Alma dan Mamanya kesini?" Tanya sang Ayah.
"Iya Papa. Vian mau kasih tau ke Alma sama Aunty Lunara kalau Indonesia tempat yang Indah." Balas anak kecil itu dengan senyumnya yang mengembang.
"Alma? Lunara sudah menikah lagi?" Atensi ketiganya teralihkan. Mereka memutar tubuhnya, melihat siapa yang mendengar percakapannya.
"Ghifari?"
___________
Satu bab lagi in syaa Allah aku update jam 8 malem ya...
Sengaja aku persingkat ceritanya. Maafin aku kalo ga sesuai :"(