
Akhirnya mereka sampai setelah beberapa jam yang lalu mereka masih berada di negara beriklim tropis tersebut, namun sekarang mereka telah mendarat di lain negara. Negara Turki adalah tujuan mereka. Namun ia belum sampai di tujuan utamanya.
"Assalamualaikum, Bang." Ia menghubungi orang yang selama dua minggu ini tak memberikan kabar kepada dirinya ataupun keluarganya. Mungkin jika dengan datang langsung ke negara tersebut, panggilan mereka akan terhubung. Entah mengapa setiap mereka mencoba menghubunginya selalu terputus-putus dan tak jelas.
Kesimpulannya ternyata benar, setelah ia dan seluruh keluarganya telah sampai di negara tersebut salah satu keluarganya dapat ia hubungi. "Coba Dilla mau tau alamatnya sama gambar tempatnya. Krim ke Dilla, ya?" Setelah mengatakan hal tersebut panggilannya langsung terputus. Namun ia mendapatkan apa yang diminta.
Dilla dan lainnya tengah duduk di Bandara tempat mereka mendarat. Menunggu kabar dari salah satu keluarganya.
"Sudah dapat, nih. Ayo jalan." Ucap Dilla memberitau seluruh keluarganya.
Alvan mendekat dengan Arkan yang berada di dalam gendongannya. Bayi itu tengah tertidur pulas dalam gendongan sang Ayah. Ia menatap layar ponsel milik Dilla. "Itu… Kediaman utama Malayeka ya?" Tanya Alvan menebak. Ia merasa kenal dengan tempat yang berada dalam ponsel Dilla.
Dilla mengangguk membenarkan ucapan sang Suami. "Kok Mas Alvan tau?" Tanya Dilla heran. Pasalnya ia belum menceritakan apapun tentang latar belakang Lunara kepada sang Suami. Yang ia ceritakan hanyalah kesalahan Ghifari yang membuat Lunara pergi dari sisinya. Ia tak menceritakan latar belakang soal keluarga, apalagi Marga yang ada pada nama Lunara.
"Mobil sudah datang. Ayo naik, ceritanya dilanjut nanti" Rayhan mendekati keduanya. Mengatakan jika kendaraan mini bus yang mereka sewa telah datang untuk menjemput mereka. Pertama-tama mareka akan menginap di hotel dekat dengan kediaman utama Malayeka.
Keduanya menoleh lalu mengangguk. Mereka berdua jalan mendekati mini bus tersebut dan masuk secara bergantian.
Cerita keduanya terhenti karena masing-masing dari mereka sibuk dengan urusan mereka. Dilla menyuapi Arkan makan dengan bantuan dari Alvan. Seluruh keluarganya gemas dengan sikap Arkan yang menurut mereka sangat menggemaskan.
Beberapa jam kemudian kendaraan mini bus itu telah sampai di hotel yang akan mereka tinggali selama beberapa hari di negara tersebut. Farhan, Rayhan dan Alvan yang membawa segala barang yang mereka telah bawa. Sedangkan Dilla menggendong Arkan dan Alisya membawa peralatan bayi milik Arkan.
Masing-masing dari mereka telah masuk ke dalam kamar hotel yang telah di booking sebelumnya. Dilla meletakkan Arkan di atas kasur. Bayi berumur dua tahun itu pasti lelah karena perjalanan jauh yang mereka tempuh. Setelah menaruh anaknya, Dilla manjatuhkan tubuhnya tepat di samping Arkan yang sedang tertidur pulas. Alvan tersenyum melihat keduanya yang telah tepar di atas ranjang.
___________
Telah beberapa hari Ghifari di minta oleh sang anak untuk tinggal bersama mereka. Seluruh keluarga Lunara pun telah mengizinkan Ghifari untuk tinggal bersama mereka. Tentu Alma sangat bahagia karena ia dapat tinggal bersama sang Ayah.
Setiap kali mereka tertidur Alma selalu memeluk tubuh Ghifari. Namun sepertinya Lunara masih merasa tak nyaman. Selama empat tahun ia tak lagi tinggal bersama Ghifari. Dan sewaktu mereka tinggal bersama pun tak pernah ia berdua tidur dalam satu kamar. Jikapun pernah, itu karena unsur paksaan.
Selama seminggu sudah mereka tinggal bersama. Tapi sampai hari ini Ghifari selalu tidur di atas sofa kamar Lunara setelah Alma tertidur pulas. Lunara sudah mengatakan tak apa, tapi Ghifari tau Lunara belum terbiasa. Tak perlu dipaksakan, nantinya juga terbiasa karena kebersamaan mereka.
Ghifari tersenyum menatap Alma yang masih memeluknya dalam tidurnya. Ia tak akan beranjak sebelum Alma melepaskan pelukan dengan sendirinya. Jika tidak, Alma akan menangis sekencang mungkin.
Ia sangat bersyukur. Karena kehadiran Alma, hubungan mereka dapat kembali diperbaiki. Ia pun dapat dukungan penuh dari keluarga Lunara untuk membawa Lunara dan Alma kembali ke Indonesia. Seperti mimpi di siang hari bolong, semua keluarga Lunara dengan mudah memaafkannya karena melihat hubungan antara Ghifari dan Alma yang sangat dekat. Sebenarnya mereka pun sudah sangat lama memaafkan Ghifari, namun mereka hanya mengetes kesungguhan Ghifari dalam perkataannya.
Tatapan mata Ghifari teralihkan ketika pintu kamar terbuka dan menampilkan Lunara yang baru saja datang. Matanya menyipit menandakan Lunara tengah tersenyum ke arahnya.
Dengan perlahan Ghifari bergerak mengubah posisinya. Ia duduk di ujung ranjang setelah berhasil melepaskan pelukan Alma. "Kau sudah mau tidur?" Tanya Ghifari dengan senyumnya.
Lunara menatap Ghifari yang selama dua minggu ini selalu memberika senyum kepadanya. Dahulu tak pernah sedikitpun ia tersenyum untuk dirinya. Namun keadaan telah membalikkan sifat Ghifari yang angkuh menjadi lebih baik. Lunara bersyukur karena Ghifari mau belajar dari keadaan.
Lunara mengangguk membenarkan ucapan Ghifari. Hari sudah semakin larut dan dia sudah mengantuk. Tubuh Ghifari beranjak dari ranjang menuju sofa. "Silahkan tidur, Istriku." Ucap Ghifari yang sudah berpindah. Ia tengah duduk di atas sofa yang lumayan besar dan nyaman untuk di tiduri.
Pipi Lunara kian merah merona mendapatkan perlakuan manis dari sang Suami. Selalu saja ia mendapatkan perlakuan istimewa dari Ghifari yang membuatnya salah tingkah.
"Pipimu memerah, sayang" ucap Ghifari menebak asal. Ia tak tau karena Lunara selalu mengenakan niqabnya. Hanya saja sikap Lunara yang seperti itu membuat Ghifari yakin Lunara sedang salah tingkah karena ulahnya.
"Berhenti menggodaku, Mas. Sudah cukup, aku malu." Pinta Lunara. Ia menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya. Terlalu malu untuk ia menunjukkan diri di depan Ghifari. Perlakuan manis dari Ghifari membuatnya tak berani menatap wajahnya secara langsung.
Ghifari terkekeh melihat tingkah Lunara yang menurutnya sangat nenggemaskan. Ingin sekali ia memeluknya karena tingkah Lunara, namun sebisa mungkin ia tahan. Tak ingin membuat Lunara merasa tak nyaman karena sikapnya. "Sepertinya kamu membutuhkan obat" usul Ghifari membuat kepala Lunara kembali mendongak.
"Kenapa?" Tanya Lunara heran. Ia merasa baik-baik saja.
"Pipi kamu memerah, sayang. Jantung kamu juga sedang berdetak kencang, aku tau itu." Balas Ghifari yang lagi-lagi berhasil membuat Lunara menunduk semakin dalam. Sebenarnya yang dia maksud adalah dirinya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat karena Lunara.
Ghifari berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Lunara yang masih tertunduk malu. Tangan Ghifari terulur memegang Lunara dan membawanya menuju ranjang. "Sekarang kamu harus istirahat, oke?" Ucap Ghifari menunjuk ke arah ranjang. Lunara mengangguk menurut.
Cup!
Dengan gerakan secepat kilat Lunara mengecup pipi bagian kanan Ghifari dan berhasil membuat Ghifari mematung. Cepat-cepat Lunara naik ke atas ranjangnya dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
Detik berikutnya Ghifari tersadar. Ia memegang pipi kanannya yang baru saja Lunara cium. Senyumnya terus mengambang setelah mendapatkan hal itu dari Lunara. "Terima kasih." Bisik Ghifari sebelum kembali ke sofa.
__________
Komen sebanyak2nya ntar aku update lagi....