
Seluruh keluarga Malayeka sedang bermalam di kediaman Muzakki atas permintaan Farhan. Setelah berjam-jam lamanya menyambut tamu akhirnya mereka bisa istirahat.
Tadinya Ghifari akan langsung membawa Lunara ke rumahnya, tapi karena perintah Ibunya dan juga karena hari sudah semakin malam, Ghifari memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya.
Lunara duduk di balkon kamar milik Ghifari yang sudah lama tak ditempati oleh pemiliknya. Lunara memandang kearah luar yang langsung disuguhi oleh taman bunga dengan berbeda nama dan jenis.
Bibir mungil Lunara yang tertutup dengan niqab terus menerus bertasbih kepada Tuhan pemilik semesta. Lunara terus memandang kearah luar kamar sampai ia mendengar suara yang belum lama ini sudah sah menjadi suaminya.
"Kenapa kamu belum tidur?" Tanyanya menatap Lunara seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk yang berada ditangannya.
"Nunggu mas selesai mandi" balas Lunara jujur.
"Kamu mau pakai kamar mandinya?" Tanya Ghifari menebak.
Lunara menggeleng. "Ng-gak" Lunara jadi gugup saat ini.
"Besok kita akan langsung pindah kerumah ku di Jakarta Barat. Jadi tidurlah, jangan capek capek." Suruh Ghifari penuh perhatian.
Lunara tersenyum dibalik niqabnya. Ia bergumam 'alhamdulillah' karena akhirnya ia bisa bernafas lega kembali.
Ghifari menarik bantal guling yang berada diatas kepalanya dan ia taruh di pertengahan ranjang, memberi sekat antara keduanya yang mana membuat Lunara merasa bersalah.
Perlahan Lunara menaiki ranjang dan menarik pelan bantal guling yang menjadi sekat diantara merek berdua. Belum sempat Lunara singkirkan Ghifari lebih dulu menahannya.
"Jangan merasa bersalah. Aku gak apa apa, jadi tidurlah." Suruh Ghifari dengan matanya yang tetap terpejam.
Lunara menurut dan menidurkan tubuhnya diatas ranjang yang sama dengan yang Ghifari gunakan tapi dengan sekat penghalang diantara mereka. Lalu masuk ke alam mimpinya.
__________
Pagi hari, niat awal ingin pindah ke rumahnya, mereka malah di datangi wartawan yang berjejer berantakan di depan kediaman Muzakki. Alhasil Ghifari dan Lunara tidak jadi pindah ke rumah Ghifari sampai keadaannya sudah seperti sediakala.
Ghifari terus menerus mengeluarkan sumpah serapahnya kepada para wartawan yang menurutnya sangat mengganggu. Padahal, jika ia pulang kembali ke rumahnya, Ghifari akan langsung meluncur menemui kekasihnya yang suda sebulan lebih tak bertemu.
Sungguh licik otak dan perbuatan Ghifari. Tanpa sepengetahuan dari Lunara dan lainnya, Ghifari menghubungi Resya bahkan mereka melakukan video call bersama saat Lunara tak berada disampingnya.
Jika Lunara datang menghampiri Ghifari saat ia sedang melakukan video call bersama dengan Resya, Ghifari akan bersandiwara jika mereka adalah sepasang rekan kerja. Lunara 'pun tak ingin berburuk sangka kepada sang suami, jadilah Lunara mempercayai Ghifari dengan mudahnya.
Tok... Tok... Tok...
Pintu diketuk dari Luar. Lunara masuk ke dalam kamar Ghifari setelah ia mengetuk pintu kamar Ghifari dengan nampan yang berada diatas tangannya.
"Makan dulu, mas. Kamu di dalam kamar terus, apa tidak lapar?" Tanya Lunara menaruh nampan di atas meja yang berhadapan langsung dengan sofa kamar mereka.
"Maaf sayang, aku sedang sibuk." Alibi Ghifari berbohong kepada Lunara. Pipi Lunara merona dibuatnya karena panggilan sayang dari Ghifari. Detak jantung Lunara dibuat maraton oleh perkataan Ghifari.
"Sekarang makan dulu, ya?" Pinta Lunara setelah menormalkan detak jantungnya juga kegugupan yang melandanya saat ini.
Ghifari mengangguk. "Iya sayang," balas Ghifari menurut.
"Saya tutup. Jika ada yang belum kamu pahami, hubungi aku satu jam lagi." Ucap Ghifari datar lalu menutup sambungan video callnya dengan Resya.
Ghifari beranjak menghampiri sofa. Lunara nampak gugup saat Ghifari yang melangkah semakin dekat dengannya.
Lunara berdiri dan hendak berjalan keluar kamar untuk menghilangkan kegugupanya,namun dengan cepat Ghifari menahan pergelangan tangan Lunara.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ghifari penuh perhatian kepada Lunara.
Lunara salah tingkah dibuatnya. "B-ir süre odadan ayrılmak istiyorum" (A-ku mau keluar kamar sebentar) saking gugupnya, Lunara sampai lupa cara mengucapkan bahasa Indonesia.
"Hah? Apa yang kamu katakan? Aku tak paham." Tanya Ghifari mengernyit heran.
"Ma-maksudku aku mau keluar kamar sebentar." Ulang Lunara menggunakan bahasa Indonesia.
"Untuk apa?"
"Emm-" Lunara tampak berfikir untuk alasan yang akan ia berikan kepada Ghifari.
"Apa kamu sudah makan?" Potong Ghifari mengganti topik pembicaraan. Lunara menggeleng pelan.
"Kenapa?" Tanya Ghifari kembali.
"Ya sudah, kita makan bersama. Ayo duduk kembali dan buka cadarmu" perintah Ghifari penuh perhatian.
Lunara menurut dan duduk kembali sesuai perintah dari Ghifari.
"Ayo buka cadarmu." Pinta Ghifari yang memang sampai saat ini Lunara belum pernah membuka niqab yang ia kenakan didepan Ghifari.
"Aaa... Ayo buka mulut dan cadarmu, aku akan menyuapi kamu." Suruh Ghifari kepada Lunara.
"Maaf, bukan aku ingin menolak kamu, tapi aku tak bisa makan dengan menggunakan nasi." Tolak Lunara halus.
Ghifari menurunkan tangannya. Ia baru tau jika Lunara tak memakan nasi. Lalu apa yang ia makan selama ini? Pikir Ghifari.
"Jika bukan nasi, lalu apa yang kamu makan?" Tanya Ghifari heran.
"Aku hanya bisa makan roti dan gandum." Balas Lunara jujur.
Ghifari baru tau jika Lunara hanya memakan makanan yang menurutnya hanya bisa mengganjal sebentar rasa lapar di perutnya.
"Aku kebawah untuk ambil roti sebentar ya, mas." Pamit Lunara yang diangguki oleh Ghifari.
Setelah mengambil satu potong roti panjang khas Turki, Lunara kembali lagi menuju kamar.
Karena pintu kamar lupa Lunara kunci, Lunara langsung masuk begitu saja ke dalam kamar.
Ghifari menatap roti yang di pegang oleh Lunara. "Apa kamu hanya memakan satu buah roti itu?" Tanya Ghifari pelan.
"Tidak, aku hanya akan makan separuhnya dan sisanya untuk makan siangku." Balas Lunara menjatuhkan dirinya diatas sofa kamar.
Ghifari mengambil sesuap sendok nasi beserta lauk pauknya. "Cobalah sekali ini saja, aku jamin kamu menyukainya." Suruh Ghifari menyodorkan sesuap nasi kepada Lunara. Kali ini bukan sandiwara yang ia lakukan, Ghifari hanya ingin Lunara juga menyicipi makanan yang ia makan.
"Aku tak bisa." Tolak Lunara kembali.
"Sekali saja." Ucap Ghifari terus memaksa Lunara.
Akhirnya dengan ragu Lunara mengangguk. Lunara membuka niqab yang ia kenakan di depan Ghifari untuk yang pertama kali. Ghifari mematung melihat wajah cantik alami yang dimiliki oleh Lunara
Tangan Ghifari turun ke bawah kembali karena terpana dengan wajah Lunara. Lunara dibuat salah tingkah oleh Ghifari.
"Emm... Jadi gak, mas?" Tanya Lunara karena mereka sama-sama terdiam.
Ghifari tersadar kembali lalu ia mengangguk tanda setuju. Ia memasukan suapan sendok nasi kedalam mulut Lunara.
Dengan susah payah Lunara memaksakan diri untuk mengunyah dan menelan nasi yang ia makan. Akhirnya Lunara berhasil menelannya, tapi dengan cepat Lunara mengambil air mineral dan meneguknya sampai tandas.
"Maaf, aku gak suka. Cukup sekali saja." Pinta Lunara.
"Hmm, baiklah." Balas Ghifari berusaha tak peduli kembali.
"Terima kasih." Balas Lunara tersenyum manis.
Deg ....
Kini giliran jantung Ghifari yang berdetak sangat kencang setelah melihat senyum manis milik Lunara.
Ghifari sadar, lo cuma suka sama Resya. Hanya Resya, ingat itu Ghifari. Batin Ghifari meronta.
Ya, jangan sampe gue terjebak dalam cintanya. Batin Ghifari kembali.
___________
Up lagi... Gmn bab ini? Komen dong, aku mau tau siapa aja yang baca? Dikit banget yg komen soalnya.
Oh ya, jgn lupa selalu tinggal jejak ya...
Makasih.
Tangerang, 1 Agustus 2020.