My Love Defense

My Love Defense
MLD Extra Part 2



"Alma jawab pertanyaan Shasha!"


"Apa?"


"Pak Ghibran itu siapanya Alma? Jujur!!" Lagi-lagi pertanyaan yang kurang bermutu Shasha tanyakan kepada Alma.


Sudah kesekian kalinya Shasha bertanya kepada Alma tentang hal yang sama, yaitu 'Ghibran'. Sudah dijawab dengan jujur Shasha tetap tak percaya dan merasa kurang puas dari jawaban yang Alma berikan.


Alma menatap Shasha. Ia mulai jengah atas pertanyaan yang Shasha tanyakan kepadanya. Sudah dijawab dengan jujur namun dia tetap tak percaya. "Nama panjang Pak Ghibran siapa? Cepet jawab Alma!" Lagi, Shasha bertanya tentang Ghibran kepadanya.


"Terakhir ya?" Tawar Alma. Setelah ini ia tak ingin membalas pertanyaan dari Shasha yang menanyakan tentang Ghibran. Dengan antusias Shasha mengangguk.


"Tapi jawab Alma dulu. Buat apa Shasha tanya? Shasha kan udah punya Evan"


Shasha terdiam ketika mendengar nama itu kembali. Seperti biasanya, Shasha selalu menyembunyikan masalahnya kepada siapapun, termasuk dengan kedua orang tuanya. Namun hal itu sudah lebih dahulu diketahui oleh adik serta sepupunya yang tak sengaja juga sedang berada di tempat yang sama.


Hembusan nafas kasar Shasha lakukan. Ia bingung ingin memulai dari mana menceritakan kejadian itu kepada Alma. Ia rasa Alma tak akan percaya dengan apa yang ia ceritakan. "Shasha udah putus sama Evan. Dia selingkuh sama Anin" balas Shasha. Tatapannya kosong ke depan.


Alma tersenyum dan berucap hamdalah. "Berarti Allah udah nunjukkin ke Shasha kedok asli Evan" ucap Alma dengan bahagia.


Sudah lama ia berteman bahkan sudah 17 tahun lamanya mereka bersama, namun Shasha tak ingin mendengar penjelasannya. Yang pertama Shasha tak ingin mengenakan hijabnya dan yang kedua Shasha telah melakukan salah satu zina karena telah berpacaran. Mungkin bagi kebanyakan orang zaman sekarang, pacaran adalah salah satu hal biasa yang mereka lakukan. Tapi siapa sangka saling bertatap manik mata pun disebut dengan zina, apalagi berpegangan tangan.


Kania juga telah memintanya untuk memberi pengertian kepada Shasha agar ia mengerti. Namun ternyata hal itu tak berpengaruh untuk Shasha.


Shasha terkejut mendengar balasan yang diberikan oleh Alma. "Kenapa Alma gak tanya cerita yang lebih lengkap?!" Sepertinya Shasha lupa Alma tipe orang seperti apa.


"Alma gak perlu tau keburukan orang lain. Semoga Anin dapat menutupi aib yang telah ia perbuat" do'a dari Alma untuk Anin ia berikan. Shasha menepuk keningnya menggunakan telapak tangan bagian kanan, ia lupa Alma memang selalu seperti itu. Alma juga akan menghindar dari orang-orang yang sedang ghibah atau membicarakan keburukan orang lain.


"Ya udah sekarang Alma jawab pertanyaan Shasha tadi!" Protes Shasha, ia tak ingin melanjutkannya lebih dalam atau ia akan ditinggalkan oleh Alma seorang diri.


"Emangnya kalau udah tau Shasha mau ngapain?" Alma masih kekeh tak ingin memberitau Shasha.


"Ah Alma…" Alma tertawa puas karena berhasil membuat Shasha kesal.


Tawa Alma mereda ketika mulut Shasha mulai mengerucut. "Shasha tadi tanya apa ya? Lupa"


Dengan sabar Shasha tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Alma. "Sebutin biodata lengkap Pak Ghibran, dong" pinta Shasha sekali lagi.


"Oke. Nama lengkap Bang Ghibran-"


"Eh tunggu dulu. Harus direkam biar gak lupa" potong Shasha meraih ponselnya.


"Dah ayo mulai!"


"Bang Ghibran temen kecil Alma, anaknya sahabat Aba, umurnya sekarang-"


"Alma!!" Lagi-lagi perkataannya dipotong. Shasha memberhentikan perekam suara ponselnya ketika Alma berhenti bicara. Ia rasa itu sangat kurang, ia bahkan belum mendapatkan sosial medianya.


Enver, Arkan, Vian, Ghibran, Ziy juga Zay ada di kantin kampus. Alma lagi-lagi dikerumuni oleh para pria.


"Ayo pulang!" Dengan kompak mereka mengajak Alma pulang bersama mereka. Apa Alma tak salah dengar? Mereka mengajak Alma pulang tapi mereka semua lelaki!


"Ziy sama Zay juga ngapain disini?!" Kesal Alma. Mengapa orang sekitarnya tak ada yang memiliki gender yang sama seperti dirinya. Bahkan kedua adiknya, Aydan juga Arslan adalah seorang pria.


Ziy dan Zay adalah sikembar dari keluarga Rayi. Anak dari Resya dan Aarash yang kini telah kembali tinggal di Indonesia. Kembar tetapi tak seiras, wajah dan style yang mereka pakai berbeda. Jika Zay lebih mirip dengan wajah sang Ibu maka Ziy mirip dengan wajah sang Ayah. Dan entah karena apa hari ini sikembar berdiri bersama di satu ruangan yang sama, tak seperti biasanya.


"Gak tau, lagi pengen aja." Balas Zay asal.


"Ummi tadi bilang mau dateng nanti malam, jadi daripada bolak-balik kita langsung kesana duluan aja." Balas Ziy membenarkan balasan dari Adik kembarnya.


"Bang Ghibran juga ngapain ikut-ikutan? Kan Abang udah gede!" Protes Alma beralih ke Ghibran. Disini Ghibran lah yang tertua di antara sepupu dan teman-temannya.


"Abang diajak." Balas Ghibran singkat, padat dan jelas.


Alma menoleh ke arah Shasha yang dari tadi hanya terdiam menyaksikan. Entah apa yang saat ini ada di dalam pikiran Shasha, yang jelas hanya Shasha dan Tuhan yang tau itu.


"Ayo pulang, Aunty Rika katanya mau datang ke Indonesia" ajak Enver sekali lagi.


"Ya udah Abi panggilin Aunty Ilza dulu! Alma gak mau ikut kalau Aunty Ilza sama Aunty-Aunty yang lain gak ikut!" Ancam Alma. Hanya itulah jurus andalan yang ia gunakan jika sedang seperti ini. Dengan alasan kendaraan mereka penuh, maka Alma bisa menghindar dan duduk disatu kendaraan yang sama dengan para bodyguardnya.


Enver menoleh sejenak, tanpa disuruh mereka pun selalu siap siaga berada di dekat Alma. "Tuh, udah dateng" balas Enver memberitau.


Alma menoleh ke arah Shasha. "Shasha ikut yuk?!" Ajak Alma memohon. Ia sangat ingin ada salah satu temannya yang ikut dengannya jika sedang ada acara seperti ini.


"Boleh?" Tanya Shasha meminta izin kepada para lelaki penjaga Alma. Mereka mengangguk membolehkan. "Shasha ikut!" Seru Shasha setelah mendapatkan izin dari mereka.


Akhirnya mereka berjalan beramai-ramai menuju parkiran untuk keluar dari kampus tersebut. Biasanya jadwal mereka tak pernah se-pas hari ini, tapi hari ini takdir tak memihak dirinya.


Tring!


Suara panggilan telepon terdengar dari salah satu tas mereka dan itu berasa dari Shasha. Ia meronggoh tas selempang mininya dan membaca nama yang tertera di ponselnya.


"Assalamualaikum. Shasha ke perusahaan sekarang ya?"


"Waalaikumsalam. Emang kenapa, Yah? Biasanya kan hari Senin sama Kamis doang"


"Ada hal penting yang ingin Ayah katakan. Tolong kemari"


"Iya, Kakak kesana sebentar lagi" putus Shasha kecewa. Kenapa Ayahnya menghubungi dirinya disaat yang tidak tepat? Saat ini Shasha ingin berkumpul dengan teman-teman Alma tapi sepertinya tidak bisa.


"Alma aku gak jadi ikut deh. Tadi Ayah telepon suruh ke perusahaannya. Makasih ajakan yang tadi. Shasha duluan, assalamualaikum." Tanpa menunggu balasan dari Alma, Shasha telah berlari lebih dahulu meninggalkan Alma dan yang lainnya. Hal itu membuat Alma kembali frustasi akan kehadiran para pria di sekelilinginya.