
Perlahan Lunara membuka matanya, mencoba memfokuskan pandangannya. "Kak. Akhirnya kamu bangun." Harika menoleh ke samping. "Tolong ambilkan air mineral untuk Kakak ku" pinta Harika kepada bodyguard yang berada di sampingnya. Seluruh orang yang ada disana menatap ke arah Lunara dan Harika.
Lunara terdiam. Masih memikirkan apa yang sebelumnya terjadi. "Mengapa kamu ada di Indonesia, Rika?" Tanya Lunara. Lalu ia mengedarkan pandangannya. Disana ada Kakaknya, Ayahnya, Ibu mertuanya, Adik iparnya dan Ghifari. Ya, benar Ghifari juga ada disana.
"Mas Fari…" Lirih Lunara. Saat ini orang yang ia rindukan hanyalah Ghifari. Ia mencoba bangkit namun tangannya lebih dulu di tahan oleh Harika. "Kau baru sadar, Kak. Setidaknya minumlah dahulu" pinta Harika. Ia sangat mencemaskan keadaan Kakaknya yang baru saja tersadar.
Lunara menuruti perkataan Harika. Ia meraih gelas yang diberikan kepadanya. "Terima kasih" ucap Lunara setelah meminum air mineralnya.
Lunara bangkit kembali, ingin mendekati Ghifari. "Duduklah disana, Lunara. Jangan kau dekati orang itu!" Ucapan Derya membuat Lunara berhenti melangkah.
"Sebenarnya ada apa ini? Tolong jelaskan, saya tidak mengerti" mengapa keadaan Ghifari babak belur saat ini. Siapa yang melakukannya? Pikir Alisya tak tenang.
"Bawakan video itu" Derya menoleh ke belakang, memerintahkan kepada salah satu bodyguardnya. Yang disuruh-pun langsung melaksanakan tugasnya.
"Ini, Tuan muda" Derya menerimanya. "Kalian ingin mengetahuinya, bukan? Maka lihatlah baik-baik video ini" Derya memutar sebuah video rekaman. Di dalam rekaman video itu, Ghifari berada disana. Berbicara dengan Ani-manager Resya yang sedang berusaha menghalangi langkah Ghifari untuk masuk ke dalam apartemen.
Pada saat itu, Ani membuka pintu apartemen dengan menggenggam ponsel di tangannya. Tentu tanpa sepengetahuan Ghifari, Ani merekam semua pembicaraannya dengan Ghifari.
Tanpa disuruh, air mata Lunara mengalir begitu saja. Tentu saja dirinya juga mendengar jelas apa yang ada di dalam rekaman video itu. Bukan hanya Lunara, Alisya juga Dilla sama seperti Lunara. Tangan Rayhan terkepal, siap memukul Ghifari.
Rayhan berjalan cepat ke arah Ghifari. Memberikan sebuah bogeman kepada Ghifari. "Brengs*k lo. Bisa-bisanya lo berfikir begitu. Malu gue punya Abang kayak lo." Sumpah serapah Rayhan berikan kepada Ghifari. Ia kecewa, sama seperti yang lainnya. Tak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa Ghifari akan melakukan hal sejauh itu.
Lunara maju berniat memisahkan keduanya, namun seluruh bodyguardnya yang lebih dahulu menghalanginya. "Pisahkan mereka, Abi, Baba" pinta Lunara meraung. Ia kecewa, tapi ia juga tak ingin melihat Ghifari diperlakukan seperti itu.
Seperti keinginan Lunara, mereka berdua dipisahkan. Lunara melangkah kembali ke arah Ghifari. "Jangan ikuti aku. Aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar" pinta Lunara saat beberapa bodyguardnya juga ikut maju mendekatinya.
Di depan Ghifari tangis Lunara semakin deras. Ia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Ghifari. "Kamu hebat, Mas" Ia menoleh ke samping, tak ingin melihat wajah Ghifari. "Kamu berhasil mendapatkan seluruh cabang perusahaan kami di Indonesia, bukan? Maka sudah saatnya kamu lepaskan aku" ia menunduk menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Kamu menunggu apa, Mas? Kau boleh memberikan talak-mu kepadaku sekarang." Beberapa kali Lunara menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia berusaha tegar saat ini. Tak ingin terlihat lemah.
Ghifari menatap lekat Lunara yang terus menunduk. "Luna…" lirih Ghifari. Entah mengapa rasa bersalah menyelimuti hatinya saat ini. Tak biasanya Ghifari seperti ini. Seolah ia juga merasakan apa yang Lunara rasakan. Lunara mengangkat kepalanya dan menatap Ghifari yang baru saja memanggil namanya. Manik teduh matanya menyiratkan kekecewaan yang berusaha ia pendam.
Alisya mendekati Ghifari dan menjauhkannya dari Lunara. "Bangun, Ghifari!!" Alisya menarik tangan Ghifari. Menyuruhnya agar tidak menunduk. Ghifari menurut, ia berdiri setelah mendapatkan perintah dari sang Bunda. "Lihat Bunda, Ghifari! Tatap wajah Bunda!!!" Dengan takut-takut Ghifari menatap wajah Bundanya.
Plak!
"Kau tau Ghifari? Kamu ada di dunia ini berkat perjuangan seorang wanita. Apa kamu melupakannya?!!"
Plak!
Satu tamparan kembali mengenai wajah Ghifari yang sudah banyak sekali luka lebam disana "Kau tak tau cara menghargai wanita?! Kenapa kamu lakukan itu, Ghifari?!!! Apa Bunda tak pernah mengajarkan kamu cara menghargai dan memperlakukan seorang wanita?!! Bunda sangat kecewa sama kamu,"
"Apa matamu sudah mulai rabun? Kamu membuang sebuah berlian dan lebih memilih sampah seperti dia" Alisya menunjuk Resya yang terus menunduk. Resya tak berkutik sedikitpun. Ia takut, saat ini dirinya tengah dihakimi oleh keluarga besar Ghifari.
"Bunda maafkan aku"
"Jangan sentuh Bunda!!!" Alisya mundur beberapa langkah saat Ghifari berjalan mendekatinya.
"Surat perceraian mereka sudah berada di tangan saya." Atensi orang-orang teralihkan. Menatap seseorang yang baru saja memasuki rumah itu.
"Ambil ini, Ghifari" Farhan melemparkan surat perceraian tepat di depan wajah Ghifari. "Itu yang kau inginkan, benar kan? Lakukanlah" Ghifari terdiam, tak berniat mengambilnya sedikitpun.
"A-ayah, berikan surat itu kepadaku" dengan suara yang bergetar Lunara meminta surat perceraian yang baru saja Farhan lempar tepat di depan wajah Ghifari.
Farhan meraih kembali surat yang belum Ghifari sentuh sedikitpun dan memberikannya langsung kepada Lunara beserta penanya. "Terima kasih, Ayah" disaat seperti ini, Lunara masih berusaha tersenyum di hadapan orang banyak. Ia tak ingin menunjukkan sisi lemahnya kepada siapapun termasuk keluarganya.
"Lihat ini, Mas" Lunara menunjukkan surat yang ia pegang kepada Ghifari. Ia berjalan mendekati meja kecil yang berada di dekat sofa. Tangannya memberikan coretan pada kertas yang tadi ia pegang.
Ghifari menggeleng pelan. "Tidak. Jangan lakukan itu, Lunara" gumam Ghifari seraya terus menggeleng.
Selesai memberikan coretan pada sebuah kertas yang tadi ia pegang, Lunara berjalan kembali ke arah Ghifari. "Cukup sampai disini saja. Semoga kamu bahagia" Lunara memberikan surat perceraian yang sudah ia tanda tangani kepada Ghifari.
Lunara berbalik menatap Alisya dan Farhan. Tangan Lunara terangkat. Menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Ayah, Bunda, tolong maafkan aku jika aku belum bisa menjadi menantu kalian yang baik. Terima kasih karena telah menerimaku di keluarga kalian. Sampai saat ini aku tetap keluarga kalian, tapi tidak untuk menjadi menantu kalian kembali. Lunara pamit-"
Belum selesai Lunara berbicara, Alisya membawanya ke dalam pelukan hangatnya. "Maafkan kami, nak" dalam pelukannya Alisya menangis, meminta maaf karena telah gagal mendidik anaknya dengan baik.
Lunara melepaskan pelukan keduanya, menatap wajah Alisya yang sedari tadi meminta maaf kepadanya. "Tak apa, Bunda. In Syaa Allah Luna ikhlas"
Grep!
Hampir saja tubuh Lunara terjatuh ke belakang karena Dilla. Dilla mendekat dan memeluknya secara tiba-tiba dan hampir membuat Lunara kehilangan keseimbangannya. "Maafkan aku, Luna. Ini semua terjadi karena aku" dengan sesegukan Dilla memberitau kepada Lunara kejadian beberapa bulan lalu di Turki.
Setelah mendengar cerita dari Dilla, Lunara hanya mampu tersenyum. Tak mungkin ia akan marah, toh semuanya sudah terjadi. "Hei, aku tidak pernah menyalahkan kamu, mengerti? Kamu tetap sahabat terbaikku, Dilla. Terima kasih telah jujur padaku." Lunara melepaskan pelukan keduanya, menghapus air mata Dilla yang masih terus mengalir.
"Aku pamit. Assalamualaikum" Lunara menatap orang-orang yang berada di dekatnya dan berbalik berniat berjalan ke arah pintu keluar. "Kau bebas. Terima kasih atas tiga bulannya." Ucap Lunara kepada Ghifari yang menatapnya penuh harap.
Lunara mendekati keluarganya yang sudah berdiri di ambang pintu. "Lunara," langkah Lunara terhenti.
"Ku mohon kembali lah. Maafkan aku. Kita ulang semuanya dari awal, oke?" Lunara tak menggubrisnya sedikitpun. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Kau tau, Mas? Aku lelah menunggumu tanpa kabar yang tak pasti." Setelah mengatakan itu tubuh Lunara menghilang dari balik pintu.
"Lunara!!!" Ghifari berlari mengejar Lunara dengan sisa tenaga yang ia miliki. Namun tak bisa, ia tak dapat menggapai Lunara. Seluruh bodyguardnya siap menjadi temeng keluarga bermarga Malayeka tersebut agar tak ada yang mengganggu majikan mereka.
"Itulah yang pernah aku rasakan, Mas"
__________
Sebenernya akutuh greget mau update, tapi Mamah aku ngebatasin waktu main hp aku T_T apalagi aku lagi PAS. Ada dua ulangan yg harus aku kerjain, ada yg dikertas sama yg online jadi total soal ulangan aku ada 180 soal sehari T_T
Kalau Mamah aku bolehin pegang hp, aku pasti usahain buat update (tapi ga janji yahh...) Soalnya aku di kasih jadwal pegang hp, ga boleh suka-suka aku :(
Hehe, curhat deh~
Tunggu aku update lagi ya~