
"Dilla, ku mohon kemari lah..." Lirihan suara terdengar jelas di telinga Dilla saat ini. Mendengar suaranya, pikiran Dilla langsung menentu, ia sangat mengkhawatirkannya.
Tanpa berfikir panjang Dilla langsung keluar dari ruang kerjanya dengan membawa kunci mobil di genggamannya. Memang Dilla sudah bekerja beberapa minggu ini dengan tingkat junior di subuah rumah sakit swasta. Meskipun keluarganya juga memiliki sebuah rumah sakit, tetapi Dilla lebih memilih berusaha sendiri dengan segala kemampuannya, tanpa campur tangan keluarganya dan membuktikan bahwa ia mampu berusaha sendiri.
Setelah masuk dan menyalakan mesin mobilnya, Ia langsung keluar dari area parkiran rumah sakit dan menuju tempat seseorang yang baru saja menghubunginya. Tak biasanya Dilla sekhawatir ini selain dengan orang tuanya.
"Kenapa siang hari jalanan penuh?" Gumam Dilla. Saat ini kendaraannya tak bisa putar arah karena terjebak macet. Mau tak mau Dilla harus menunggu untuk sampai ke tempat tujuannya.
Selama hampir lima menit tak kunjung jalan, Dilla memutuskan untuk menghubungi seseorang. Meraih ponselnya dan mencari kontak orang yang akan dia hubungi.
Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Panggilan pertama tak diangkat. Dilla tak menyerah, ia masih berusaha menghubungi orang itu. Namun, sampai panggilan ke lima sambungan teleponnya tak juga kunjung diangkat.
Akhirnya Dilla memutuskan untuk menghubungi Ibu dan Adiknya supaya bisa lebih cepat sampai dan melihat keadaan orang itu.
"Halo, assalamualaikum Bunda" saat panggilan telepon itu terhubung, Dilla langsung memberi salam kepada Ibunya.
"Waalaikumsalam. Kenapa, Kak?" Balas Alisya di seberang telepon.
"Dilla boleh minta tolong gak?" Tanya Dilla to the point.
"Boleh sayang, mau minta tolong apa?"
"Tolong ke rumah Kak Luna. Aku rasa ada yang salah dengan Kak Luna"
Ya, Lunara-lah yang menghubungi Dilla beberapa menit yang lalu. Pikiran Dilla kalut saat mendengar suara Lunara yang melirih. Dan bingung mengapa Ghifari tak mengangkat panggilan darinya, tak seperti biasanya yang selalu memprioritaskan adiknya dibandingkan dengan pekerjaannya.
"Benarkah? Bunda akan segera datang kesana" Rasa cemas menyelimuti hati Alisya saat ini. Apa benar yang dikatakan oleh Dilla? Lalu, kemana Ghifari?
"Iya, Bunda. Bunda berangkat sama Rayhan aja, jangan sama supir" pinta Dilla yang langsung disetujui oleh Alisya.
"Tunggu sebentar, Dilla hubungi Rayhan dulu" ucap Dilla sebelum memutuskan sambungan teleponnya dengan Alisya.
Setelah mematikan sambungan telepon antara dirinya dan sang Bunda, kini Dilla beralih mencari nomor sang adik untuk dimintai pertolongan darinya.
"Dek, jemput Bunda sekarang!" Tanpa basa basi, Dilla langsung menyuruh sang adik untuk menjemput Bunda mereka.
"Kenapa, Kak? Bunda gak kenapa-napa, kan? Jangan bikin Ray takut, Kak!"
"Nggak Ray, Bunda baik baik saja. Sekarang kamu jemput Bunda, ya? Antarkan Bunda ke rumah Kak Luna"
"Apa tidak ada supir? Ray ada kelas sebentar lagi" ucap Rayhan berniat untuk menolak karena jam mata kuliahnya akan dimulai.
"Kakak minta tolong, Ray. Kakak terjebak macet saat ini" pinta Dilla memohon. Ia benar-benar tak bisa tenang saat ini sebelum mendapatkan kabar tentang Lunara.
"Baiklah, Ray akan jemput Bunda" akhirnya Rayhan-pun mengalah dan menuruti permintaan Kakaknya.
"Makasih, dek. Tunggu Kakak disana"
"Iya, Ray tunggu di rumah Kak Luna"
__________
Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Kakaknya, Rayhan segera bergegas menuju parkiran kampusnya. Melewati koridor kampus yang dipenuhi dengan mahasiswa lainnya. Banyak sekali wanita yang berteriak histeris setelah melihat seorang Rayhan Abraham Muzakki berlari di sepanjang koridor kampus. Damage-nya tidak main, tampan sekali Rayhan yang sedang berlari.
"Kemana Abang? Kenapa Kak Dilla sampai sekhawatir itu?" Gumam Rayhan terus-menerus. Tak dapat habis fikir dengan sang Kakak yang tak ada disaat istrinya membutuhkannya.
Tak lama kendaraan Rayhan berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi, tempat kediaman utama keluarga Muzakki. Setelah menekan klakson kendaraannya, gerbang itu-pun dibuka oleh satpam penjaga gerbang. Dengan segera Rayhan melajukan kembali laju motornya untuk memasuki kediaman Muzakki.
Mendengar suara kendaraan memasuki elataran halaman rumah itu, Alisya segera keluar dari dalam rumahnya untuk menemui Rayhan. "Ayo, Ray!" Ajak Alisya langsung. Ia hendak menaiki motor sport milik Rayhan.
"Tunggu, Bunda. Rayhan ganti kendaraan dulu, oke?" Izin Rayhan. Ia tak ingin Alisya lelah diperjalanan nanti.
"Tidak perlu. Kita naik motor saja, itu akan cepat sampai nantinya" tolak Alisya cepat.
"Bun…"
"Bunda tak apa, Rayhan. Ayo!" Ajak Alisya kembali. Setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Dilla, ia tak berhenti mencemaskan Lunara. Sudah berkali-kali Alisya mencoba menghubungi nomor Ghifari, namun tak kunjung diangkat dan akhirnya Alisya memilih menyerah.
Akhirnya Rayhan setuju dengan saran sang Bunda. Setelah memakaikan Alisya helm, Rayhan melajukan kembali motornya dan keluar dari pelataran rumah itu. Membawa sang Bunda menuju rumah Kakak iparnya.
__________
Sekitar 20 menit akhirnya Rayhan sampai di rumah Ghifari. Walaupun menggunakan kendaraan beroda dua, laju motornya tak secepat sebelumnya. Ia tak ingin membuat Bundanya ketakutan.
Tin! Tin!
Rayhan menekan klakson kendaraannya saat berhenti tepat di depan gerbang masuk. Namun hampir tiga menit tak kunjung dibuka dari dalam. Akhirnya Alisya turun dari motor dan berjalan ke arah gerbang untuk membuka sendiri gerbang besar nan berat itu.
Melihat hal itu Rayhan langsung turun dari atas kendaraannya menghampiri sang Bunda. "Bunda apa-apaan sih? Ini berat, Bunda. Kenapa tidak menunggu satpam yang membukakan saja?" Tanya Rayhan seraya melepaskan tangan Alisya dari gerbang besar itu. Setelah itu Rayhan membuka gerbangnya dan mulai mendorongnya.
"Tidak ada satpam di tempat ini, Rayhan" balas Alisya. Ia mengingat betul kapan terakhir kali ke rumah itu dan tidak ada satpam saat itu.
"Benarkah? Sejak kapan?" Tanya Rayhan membawa tangan Alisya untuk duduk di atas motornya kembali.
Alisya menurut, menaiki motor Rayhan kembali. "Bunda tidak pasti. Tapi Abangmu mengatakan jika itu adalah keinginan Lunara" jelas Alisya saat laju motor Rayhan kembali berjalan. Rayhan mengangguk paham.
Sampai di depan pintu masuk, Rayhan dan Alisya turun dari atas motor. "Bunda masuk duluan. Rayhan mau tutup gerbang dulu" ucap Rayhan sebelum berjalan kembali ke arah gerbang masuk. Alisya mengangguk setuju dan mulai mendekati pintu masuk.
Saat Rayhan ingin mengunci gerbang itu, mobil Dilla terlihat dari kejauhan. Dengan segera Rayhan kembali mendorong lebar gerbang agar mobil Dilla dapat masuk ke dalam. Tanpa mengatakan apapun pada Rayhan, Dilla masuk begitu saja. Rayhan yang tak terlalu peduli-pun langsung menutup kembali gerbangnya. Berlari kecil menuju pintu masuk.
"Kenapa Bunda masih di luar?" Tanya Rayhan saat mendapati Alisya masih setia berdiri di depan pintu masuk.
Dilla keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri keduanya. "Kenapa tidak masuk?" Tanyanya langsung.
"Tak ada yang membukanya." Balas Alisya frustasi. Sudah beberapa kali Alisya menekan bel dan mengetuk pintu, namun tak ada yang membukakannya. Pintunya pun dikunci dengan rapat.
Rayhan meraih gagang pintu. "Pintunya terkunci" ucap Rayhan setelah mencoba membuka pintunya.
"Dobrak pintunya, Rayhan, Kakak tidak akan tenang sebelum melihat Lunara baik-baik saja!!" Dilla berteriak ketakutan. Firasatnya mengatakan ada yang tak beres antara keduanya, Ghifari dan Lunara.
"Apa Kakak Gila? Pintu ini sangat berat!" Balas Rayhan tak terima.
"Cobalah dulu. Kakak yakin kamu bisa" suruh Dilla kembali. "Lakukan Rayhan, Bunda mohon." Alisya menatap harap ke arah Rayhan. Akhirnya lagi-lagi Rayhan menuruti keduanya.
Rayhan mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu masuk yang amat besar itu. "Tunggu!" Ketiganya menoleh ke asal sumber suara.
"Biar kami saja" lanjutnya lagi.