
Siang hari, sinar matahari yang panas membuat siapa saja ingin minum minuman yang menyegarkan. Seperti dua orang ini, menikmati minuman yang mereka pesan dari sebuah cafe.
Jalan berdua dibawah teriknya matahari membuat keduanya memutuskan untuk pergi memasuki sebuah cafe.
Salah satunya bercerita ria kepada lawan bicaranya. Sedangkan yang mendengarkan ceritanya, ia hanya berdehem mengiyakan cerita dari orang tersebut. Ia tak bisa fokus saat ini. Pikirannya terus menerus memikirkan seseorang yang berada di rumahnya juga apa yang ia lakukan pada orang itu.
"Kamu kenapa, sayang? Ada masalah?" Merasa ada yang tak beres dengan lawan bicaranya, ia memutuskan untuk bertanya langsung kepadanya.
Yang ditanya hanya menatap sebentar wajah yang duduk di depannya lalu menoleh ke bawah, menatap minuman pesanannya yang baru separuhnya ia minum.
Ia menghembuskan nafas kasar. "Ntahlah," balasnya ragu. Ia sendiri tak yakin dengan potongan-potongan kejadian yang ia ingat.
Mengambil jas yang ia sangkutkan di atas sandaran bangku lalu berdiri, memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
"Kamu mau kemana, Ghifari?" Sebelum pergi tangannya sudah lebih dulu ditahan.
Ghifari-orang yang hendak pergi itu menoleh. "Mau pulang" balasnya dingin.
"Kok kamu ngomongnya kayak gitu?" Tanyanya sedih.
Ghifari menghembuskan nafasnya. "Maaf-in aku, Resya. Aku pulang dulu, ya?" Pamitnya lembut.
"Tapi kenapa? Biasanya kamu gak kayak gini? Kamu marah sama aku? Aku buat salah sama kamu?" Resya-orang itu membalas dengan setumpuk pertanyaan kepada Ghifari.
"Nggak, aku gak marah sama kamu. Aku pulang dulu, ya" pamitnya kembali setelah mencium kening Resya.
"Iya, hati-hati" balasnya tak rela. Resya menatap sendu ke arah Ghifari, tak ingin ditinggalkankan sendirian ditempat itu.
Namun, Ghifari tak melihat Resya kembali dan langsung meninggalkannya yang masih berdiam diri ditempat.
__________
Ghifari berjalan memasuki pintu rumahnya dengan langkah kakinya yang lebar setelah melihat ada tamu yang datang ke rumahnya.
"Luna-" ucapnya terhenti.
"Abang" panggilnya kepada Ghifari. Ia melambaikan tangannya ke arah Ghifari.
Ghifari menghampirinya. "Ngapain kamu disini, Dilla?" tanya Ghifari heran.
Dilla-adiknya itu cemberut tak suka. "Emang aku gak boleh ke sini ya?" ucapnya bertanya balik.
"Nggak juga, sih"
"Ma-mas" Lunara menghampiri Ghifari dengan sedikit takut. Ia meraih tangan Ghifari untuk menyalaminya.
Oh ya, sandiwara. Jangan sampai ada yang curiga. Batin Ghifari.
Ghifari mencium lembut kening Lunara yang tertutup niqab. Lunara menegang ditempat, ia takut mengingat kejadian semalam yang Ghifari lakukan kepadanya.
"Kapan kalian datang?" Tanya Ghifari kepada Dilla. Dilla datang bersama dengan Harika- adiknya Lunara.
"Baru saja," balas Dilla jujur.
"Sepertinya semenjak nikah Abang jadi sering pulang ke rumah, ya?" Tebak Dilla menggoda Ghifari.
Ghifari diam, tak menjawab pertanyaan dari adiknya itu.
"Hayo jujur. Dilla dengar dari orang-orang, Abang setiap jam makan siang selalu keluar kantor" lanjut Dilla seketika membuat Ghifari gugup.
Mas Fari kemana saat jam makan siang? Dia gak pernah pulang ke rumah. Baru kali ini ia pulang saat jam makan siang. Batin Lunara menerka-nerka.
"Sudah makan siang? Kalau belum kita makan siang bareng saja" ajak Ghifari mengganti topik.
"Iya, ayo kita makan siang" balas Lunara menyetujui ajakan dari Ghifari.
"Ya sudah deh. Abang gak mau ngaku" ucap Dilla pasrah. Ghifari tersenyum lega.
__________
Ditengah makan siang mereka, Harika-Adik Lunara memanggil Kakaknya. "Kak,"
"Hmm? Kenapa, Dek?" Tanyanya.
"Kita menginap disini ya, Luna-eh Kakak Ipar" ucap Dilla membalas pertanyaan dari Lunara. Memang niat awal mereka datang ke rumah Kakaknya adalah untuk bermalam disana.
Ghifari gelagapan. Bagaimana dengan kamarnya? Mereka tidur terpisah, jika adik-adiknya mengetahui yang sebenarnya, maka mereka juga akan memberitahu kedua orang tua mereka. Ghifari tak tau jika keduanya akan datang dan menginap di rumahnya.
"Boleh ya, Kak? Besok Rika sudah kembali ke Turki." Pinta Harika penuh harap.
Ia akan sangat merindukan kakak-kakaknya disana. Kedua kakaknya sudah tak lagi tinggal bersama dengannya. Walaupun kadang kebersamaan mereka juga dilengkapi dengan perdebatan kecil, tapi perdebatan itulah yang sangat mereka rindukan.
"Pasti boleh 'kok. Abang kalau gak ngebolehin Dilla nginep disini, Dilla kasih tau Ayah, nanti" ancam Dilla seperti anak kecil.
"I-iya" balas Ghifari gugup.
Dilla menghentikan makannya, ia langsung membersihkan bekas makannya dan mengajak Harika untuk mengikuti langkah kakinya.
"Aku udah selesai. Ayo Rika, kita cari kamar untuk nanti malam." Ajaknya yang langsung menarik tangan Harika.
"Kakak, kakak Ipar, maaf-in aku, ya." Ucap Harika menunduk. Ia merasa tak sopan kepada kakak juga kakak Iparnya.
Lunara mengangguk membalas ucapan dari adiknya. Sedangkan Ghifari tetap terdiam, tak berniat membalasnya.
Kini hanya mereka berdua yang berada di ruang makan. Rasa canggung menyelimuti keduanya. Lunara yang masih takut dengan perlakuan Ghifari memilih untuk diam. Sedangkan Ghifari sedang memikirkan alasan yang tepat yang akan diberikan kepada adik juga adik iparnya.
Lunara memberanikan diri untuk memulai percakapan antara dirinya dengan Ghifari. Ia berdiri dan berjalan menghampiri Ghifari, lalu memanggilnya. "Mas," panggil Lunara takut. Ia menunduk, tak menatap Ghifari.
Ghifari menoleh, menatap ke arah Lunara dengan perasaan kesal. "Kenapa kamu tidak bilang kalau mereka akan datang?!" Tanya Ghifari kesal. Suaranya pelan namun tegas, membuat Lunara semakin tak berani menatap Ghifari.
"Ka-kamu tidak pernah membalas chat dari aku, Ma-as." Balas Lunara. Memang benar, Ghifari selalu tak peduli dengan pesan yang dikirimkan Lunara untuknya.
"Terserah!! Kamu harus kasih alasan ke mereka kalau mereka tanya tentang kamar kamu! Jangan bicara sesuatu yang buat saya rugi, ingat kamu!!" Ucap Ghifari sebelum berlalu meninggalkan Lunara sendiri di ruang makan.
Lunara menatap sendu ke arah punggung Ghifari yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia kembali duduk dibangku makan, tak tau dengan sikap Ghifari yang berbeda sekali dari yang sebelumnya.
"Mas, kamu itu kenapa? Sikap kamu berubah sama aku, mas. Yang mana salah aku? Bilang ke aku, aku gak tau,"
"Bahkan kamu bersikap seperti itu setelah kejadian kemarin, mas." Lirih Lunara tak sanggup. Ia menunduk, tak mau adiknya melihat dirinya yang sedang menangis. Buru buru Lunara menyapu bersih air matanya yang tumpah sebelum membasahi niqab yang ia kenakan.
__________
****Hai, update lagi nih**** ...
****Maaf ya baru sempet up**** setelah dua minggu lamanya. Aku demam enam hari, jadi tugas numpuk😅 pas udh sembuh aku ngejar tugas yg ketinggalan. Jadinya ini sama yg satu lagi blm bisa up. Ini aku nulis pas ada waktu luang doang, maaf ya 🙏
Makasih yg udh nungguin up, jangan lupa tinggal jejak, ya ....
Makasih.
Tangerang, 26 Agustus 2020.