
Tigaa buah kendaraan beroda empat memasuki salah satu mansion Muzakki, milik anak tertuanya. Gerbang dibuka dengan sangat lebar lalu setelah itu dengan bergantian mobil mereka memasuki halaman utama.
Lunara keluar dari dalam mansion setelah mendengar beberapa suara kendaraan mulai memasuki pekarangan mansion. Awalnya ia agak bingung karena sebelumnya tak merasa mengundang siapapun, namun saat melihat nomor plat kendaraannya Lunara tau siapa yang datang.
Setelah kendaraan terparkir rapih di parkiran mobil, mereka keluar secara bersamaan. Namun Alma mundur beberapa langkah untuk mensejajarkan dirinya dengan para bodyguard setianya. Alma tak ingin berada dalam kerumunan para pria dewasa yang berada di depannya.
"Assalamualaikum" serempak mereka memberikan salam kepada Lunara yang masih berdiri di pintu masuk utama.
"Waalaikumsalam." Balas Lunara. Mereka menyalami Lunara satu persatu dan yang terakhir adalah Alma.
"Aunty Luna, Aunty Rika dan keluarganya juga akan kesini malam ini" sembari berjalan memasuki ruangan mansion utama, Enver memberitau hal itu kepada Lunara.
"Benarkah?" Tampak dari nada bicaranya Lunara sangat senang mendengar hal itu. Seharusnya Lunara dan keluarga yang datang ke Turki, sekalian untuk menjenguk kedua orang tuanya. Tapi karena liburan sekolah dan kuliah anak-anaknya belum tiba maka Lunara menunda jadwalnya ke Turki. Enver mengangguk membenarkan pertanyaan dari Lunara.
"Ya sudah, kalian istirahat di kamar masing-masing ya?" Suruh Lunara kepada para ponakannya.
Ya, semua teman kecil anak-anaknya sudah dianggap keluarga oleh Lunara dan Ghifari. Mereka juga sering datang untuk menginap di mansion mereka. Jika tentang Enver dan Arkan, keduanya juga cukup akrab karena sering bertemu satu sama lain. Sejak SMP pun Enver meminta untuk sekolah di Indonesia bersama dengan Alma maka dari itu Jabare juga mengirimkan Enver beberapa bodyguard.
"Iya"
___________
Langsung saja Alma masuk ke dalam kamarnya. Ruangan terluas setelah kamar kedua orang tuanya. Mungkin karena Alma adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga tersebut. Meskipun seperti itu, kedua adiknya tak ada yang iri dengan Kakak tertuanya karena kedua orang tuanya memperlakukan mereka dengan adil.
Dengan segera Alma mengganti pakaiannya dengan baju tidur siangnya. Mengunci pintu kamarnya supaya tidak ada siapapun yang masuk saat ia tidur siang dan tidak mengenakan hijabnya. Tapi sebelum benar-benar tertidur, Alma telah menyiapkan gamis yang akan ia kenakan nanti setelah terbangun dari tidur siangnya.
Alma meraih ponselnya dan membawanya menuju atas ranjangnya. Membuka pesan yang dari tadi masuk ke dalam ponselnya namun ia abaikan karena tengah membersihkan diri. Ternyata pesan tersebut dari Shasha. Senyum Alma melebar ketika membaca pesan yang Shasha kirimkan untuk dirinya. Isi pesan itu mengatakan bahwa Shasha akan datang malam nanti bersama Rayyan-adiknya.
Tentu keputusan itu tidak diambil secara tiba-tiba. Karena sebelumnya, Alma telah bertanya kepada sang Ibu untuk mengizinkan dirinya mengajak Shasha. Tentu saja Lunara mengizinkan hal tersebut. Hanya ada satu teman wanita yang Alma miliki dari kecil dan Lunara sangat mengenali Shasha dengan baik, jadi tentu saja Lunara mengizinkannya.
Meskipun sebenarnya acara makan malam bersama itu tak ada, tapi Lunara tetap akan melanjutkannya. Resya dan sang suami pun akan datang juga malam ini karena urusan bisnis dengan keluarga Muzakki. Sedangkan Ziy dan Zay menggunakan kesempatan tersebut untuk bisa datang ke mansion tempat Alma tinggal.
Alma menatap atap kamarnya. Membayangkan jika ia memiliki banyak teman wanita, mungkin akan sangat menyenangkan. Senyumnya mengembang ketika memikirkan hal itu. Namun mau bagaimana lagi? Sang Kakek sangat posesif kepada keluarganya sehingga mempekerjakan banyak bodyguard untuk melindungi seluruh keluarganya. Ada banyak orang di luar sana yang selalu saja berniat jahat pada keluarga mereka karena harta yang dimiliki.
Andai saja Alma terlahir dari keluarga yang sederhana, pasti ia tak akan memiliki banyak bodyguard yang menjaganya. Ia akan bebas pergi kemanapun tanpa larangan dari para bodyguardnya. Bayangan yang mungkin hanya akan menjadi angan-angan semata. Dan tanpa sadar Alma sudah masuk ke dalam alam mimpinya.
___________
Disaat orang-orang sedang sibuk menyiapkan segalanya, Alma hanya duduk menatap para maid yang berjalan kesana-kemari. Alma benar-benar menjadi tuan putri, ia tidak diperbolehkan melakukan hal yang berat oleh para maid. Alma hanya ingin membantu sedikit, namun tangannya sudah lebih dahulu ditahan untuk tidak melakukan hal tersebut. Alhasil Alma hanya duduk manis dengan kepala yang bertumpu pada kedua tangannya di atas meja makan.
"Alma ayo! Kita sudah menyiapkan semuanya di taman belakang!" Alma menoleh ketika namanya dipanggil.
Kening Alma berkerut. "Menyiapkan apa?" Tanya Alma kepada orang yang mengajaknya barusan.
"Udah ikut aja Kak!" Aydan datang memberikannya perintah untuk mengikuti apa yang telah mereka buat.
"Nanti Alma dateng. Alma mau tunggu Asha dulu" balas Alma beralasan. Ia sudah tau pasti hanya ada pria disana. Maka dari itu lebih baik ia menunggu kedatangan Shasha yang katanya juga akan datang.
"Asha?"
"Tadi yang duduk di depan aku. Waktu Abang masuk ke kelas pas mau ngajar" balas Alma memperjelas. Ghibran mengangguk ketika mengingat siapa orang yang Alma maksud.
"Kita tunggu disana aja" ajak Ghibran tak menyerah.
"Enggak deh, Alma mau tunggu Asha di dalam kamar aja sekalian pantau cafe dari jauh" tolak Alma kembali.
"Emm… Ya udah deh" akhirnya Ghibran memilih mengalah dan membiarkan Alma kembali ke dalam kamarnya.
"Kalau gitu Alma pamit ke kamar ya Bang, Ay." Keduanya mengangguk ketika Alma pamit ke dalam kamarnya. Akhirnya Alma bisa menghindari mereka lagi.
___________
"Ma!"
"Hmm? Kenapa?"
"Shasha yakin di antara mereka ada yang suka sama Alma" ucap Shasha menyimpulkan. Hal itu membuat Alma terkejut, tak mungkin hal itu terjadi.
"Asha jangan sembarangan! Gak mungkin lah, Alma kenal mereka semua dari kecil" balas Alma menolak. Tak mungkin juga itu terjadi, mereka selalu bersikap biasa saja dan tak ada yang berubah.
Shasha menoleh menatap Alma yang acuh dan lebih memilih memakan camilan yang berada dalam pangkuannya. "Asha yakin pasti ada! Tapi sisain Pak Ghibran buat Asha, ya?" Ucap Shasha tersenyum. Menghalu pun dimulai ketika Shasha melihat Ghibran yang baru saja melintas di depannya.
Alma terdiam memikirkan ucapan Shasha. Ia juga pernah mendengar hal tersebut terjadi pada hubungan persahabatan antara pria dan wanita. Enver dan Arkan? Tak mungkin karena mereka berdua adalah sepupu Alma. Vian dan Ghibran? Tak mungkin juga, mereka sudah Alma anggap seorang Kakak. Ziy dan Zay? Alma rasa mereka juga tak mungkin. Buru-buru Alma menggeleng cepat. Gara-gara ucapan Shasha membuatnya memikirkan hal yang menurutnya tidak akan terjadi.