
"Lihatlah wajahnya. Dia Almasya Shahinaz Muzakki" ucap Lunara kembali. Ghifari langsung menunduk, menatap anak yang saat ini masih memeluk dengan tatapan tak percaya.
"Aba Alma'ya sarılmak istemiyor mu? (Aba tak ingin memeluk Alma?)" Alma mendongak, menatap Ghifari yang masih mematung.
"Peluk Alma, dia sangat merindukan kamu, Abanya." Ucap Lunara kembali. Mengartikan ucapan yang baru saja Alma katakan.
Ghifari berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Alma. Ia menatap haru wajah imut Alma. Detik berikutnya Ghifari langsung memeluk Alma dengan erat. Rasa bersalahnya kepada Lunara kian menjadi ketika melihat wajah polos Alma. "Dia anakku." Dengan bahagia bercampur rasa haru Ghifari mengatakan hal tersebut. Air mata Ghifari kembali turun.
Lunara tak kuasa menahan tangisnya. Ia pun menangis dalam diam melihat interaksi keduanya. Tak menyangka Ghifari sangat menyayangi Alma.
Ghifari berdiri dengan menggendong Alma, tak ingin melepaskan anak tersebut. "Alma Aba'yı seviyor (Alma sayang dengan Aba)" Alma mengatakan hal tersebut dalam gendongan Ghifari. Alma mencium seluruh wajah Ghifari. Sama seperti yang ia lakukan ketika melihat Lunara menangis.
"Almasya, English please." Pinta Lunara kepada Alma. Ia terlalu malu untuk mengatakan hal tersebut kepada Ghifari walaupun yang mengatakan itu adalah Alma. Karena Alma sudah lumayan fasih dalam berbahasa Inggris, Lunara meminta Alma untuk berbicara dengan bahasa Inggris.
"Aba, you didn't understand Turkish language? (Aba tidak mengerti bahasa Turki?)" Tanya Alma menatap wajah Ghifari yang menggeleng, menandakan tidak mengerti.
"Hmm, okay Alma will teach you." Ucap Alma dengan senyumnya yang mengembang.
"Thank you my princess" ucap Ghifari berganti mengecup Alma dengan gemas.
___________
Lunara menunduk, menatap anaknya yang tertidur dalam pangkuannya. Saat ini Lunara berada di dalam cafe keluarganya bersama Alma dan Ghifari. Seperti sebelumnya saat bersama dengan Dilla, saat ini cafe itupun tengah dalam keadaan ditutup.
Ghifari menatap Alma yang tertidur di pangkuan Lunara. "Kamu gak pegel?" Tanya Ghifari perhatian.
Lunara mendongak. "Tidak" balas Lunara singkat. Ia masih menunggu Ghifari untuk mengatakan apa tujuannya datang ke negara Turki. "Apa Mas mau diam saja?" Tanya Lunara merasa terlalu lama mereka berdiam diri di cafe tersebut.
Hati Ghifari menghangat mendengar Lunara kembali memanggilnya dengan sebutan 'Mas' karena sebelumnya Lunara hanya mengatakan 'kamu' kepada Ghifari. Ia menarik nafasnya panjang sebelum berbicara. Kemudian menghela nafasnya kembali. "Mas kira kamu sudah menikah kembali." Ucap Ghifari menunduk.
"Bahkan surat perceraian masih di tangan kamu" Lunara mengalihkan pandangannya ke arah dinding kaca. Terlalu menyakitkan jika melihat wajah Ghifari karena ia akan teringat semua kejadian waktu itu. Sebenarnya Lunara pun telah memaafkannya, namun memori kejadian waktu itu masih tersimpan jelas di otaknya.
"Benar, dan Mas tak akan pernah menandatangani hal itu" seketika Lunara menatap Ghifari dengan tatapan tak percaya. Air matanya kembali tertahan di pelupuk matanya.
"Apa yang kau katakan, Mas?" Lirih Lunara.
"Kamu membiarkan aku masih berstatus Istri sah tapi kamu menikah dengan yang lain?! Tega kamu, Mas!!" Lunara meninggikan nada bicaranya membuat Alma terkejut dalam tidurnya. Lunara manatap Alma yang kembali tertidur setelah ia membelai lembut kepalanya.
Lunara mencoba memberontak ketika tangannya di pegang oleh Ghifari. "Terus selama empat tahun ini kamu kemana, Mas? Kenapa kamu gak bawa aku kembali? Kenapa baru sekarang, Mas?" Lirih Lunara dalam tangisnya. Ia tak tau sebenarnya tujuan Ghifari apa.
Ghifari mengalah, ia melepaskan kedua tangan Lunara yang terus memberontak. "Aku belajar, Lunara. Aku mempelajari agama kita agar bisa mengimbangi kamu. Aku malu untuk menemui kamu dan tak membawa perubahan apapun, Lunara" ucap Ghifari menunduk. Ia menyesali perbuatannya dahulu.
Lunara menghela nafas. Menatap Ghifari yang memasang wajah memohon. "Kita bisa belajar bersama, Mas. Aku juga bukan manusia yang sempurna. Semua orang pasti punya kesalahan"
"Iya, aku tau Lunara," balas Ghifari cepat.
"Kamu mau melanjutkan pernikahan ini lagi? Aku mencintaimu, Lunara." Ucap Ghifari. Sekali lagi ia menarik tangan Lunara. Menggenggam dan mengecup tangan Lunara. Hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan kepada Lunara.
Pipi Lunara merah merona mendengar ucapan Ghifari. Tapi untunglah ia mengenakan niqabnya jadi Ghifari tak mengetahui hal itu.
Dan lagi, Lunara melepaskan tangannya. "Bukan aku tak mau, Mas. Aku mau, sangat mau. Tapi kamu harus berbicara pada keluargaku. Buktikan kalau hanya kamulah yang cocok jadi pendamping aku" pinta Lunara. Kali ini ia juga butuh perjuangan Ghifari. Seperti apa ia akan memperjuangkan dirinya. Tentu ia tak ingin mengulang hal yang sama seperti sebelumnya dengan menerima Ghifari untuk kembali bersamanya.
Semua wanita pasti senang jika dirinya sedang diperjuangkan, sama seperti Lunara. Bukan hanya perjuangan, tapi pembuktian kalau Ghifari telah berubah dan memang ingin bersamanya kembali.
"Aku harap kamu bersungguh-sungguh dalam ucapanmu." Tak hanya memikirkan tentang dirinya pribadi, Lunara juga sudah memikirkan tentang Alma. Anak itu juga pasti membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tak ingin karena kesalahan orang tua dapat mempengaruh keadaan anaknya.
"Ya, aku akan membuktikan pada keluarga kamu hari ini" ucap Ghifari memutuskan. Padahal dalam otaknya saja belum terbesit tentang apapun yang akan ia lakukan nantinya.
"Kurasa kamu harus beristirahat hari ini, Mas. Aku tau kamu pasti lelah." Saran Lunara ketika melihat mobil yang Ghifari tumpangi berisikan kopernya. Ghifari tersenyum karena mendapatkan perhatian kecil dari Lunara. Rasanya ia ingin berteriak bahwa dialah lelaki beruntung karena memiliki Lunara, tapi ia tahan niat konyolnya itu. Ghifari mengangguk berkali-kali, mengikuti saran yang diberikan oleh Lunara kepada dirinya.
"Aku akan pulang. Assalamualaikum." Pamit Lunara bersiap untuk menggendong Alma yang sedang tertidur pulas.
"Tunggu, biar aku saja-"
"Tidak perlu. Alma sangat ringan." Tolak Lunara cepat. Ia tau niat Ghifari.
"Biarkan aku menjalankan tugasku sebagai Ayahnya" pinta Ghifari kembali. Ia juga ingin merasakan bagaimana peran seorang Ayah walaupun hal sepele. Akhirnya Lunara mengangguk memberinya izin.
Dengan semangat Ghifari berjalan mendekati bangku Lunara dan mengambil Alma yang berada di dalam pangkuan Lunara. "Apa dia nyaman jika seperti ini?" Tanya Ghifari setelah menggendong Alma. Ia memastikan bahwa anaknya itu tak akan merasakan sakit akibat salah posisi dalam menggendongnya. Memang sebelumnya ia tak pernah menggendong seorang anak seusia Alma yang sedang tertidur. Dan hari ini ia dapat merasakan hal itu
___________