
Lunara bingung. Ia terus menerus merasa resah karena sikap suaminya yang tiba-tiba berubah drastis kepadanya. Berulang kali pula Lunara memikirkan letak kesalahan yang ia perbuat sehingga Ghifari dingin bahkan membentak dirinya.
Ditengah kebingungannya, Lunara mendapatkan panggilan telepon dari ponselnya. Dengan semangat Lunara menghampiri letak ponselnya, berharap Ghifari yang menghubunginya.
"Anne..." gumam Lunara sedikit kecewa karena yang menghubunginya adalah Ibunya.
Dengan cepat Lunara mengangkat panggilan telepon dari Ibunya. "Assalamualaikum, Anne" ucap Lunara dengan nada bicara yang ia buat senormal mungkin supaya Ibu beserta keluarganya merasa khawatir nantinya.
"Waalaikumsalam. Nasılsın Lunara?" (Waalaikumsalam. Gimana kabar kamu, Lunara?) sapa Emira dari seberang telepon.
"Elhamdulillah, Luna'nın iyi haberi. Annem ve Babam orada ne yapıyor?" (Alhamdulillah, kabar Luna baik. Gimana keadaan mama dan papa disana?) Lunara bertanya balik.
"Elhamdulillah, Anne ve Babam da iyi. Kocanız nasıl?" (Alhamdulillah Mama dan Papa juga baik baik aja. Suami kamu gimana keadaannya?) Tanya Emira yang membuat Lunara mendadak bisu.
"Luna?" Panggil Emira karena anaknya tak kunjung membalas pertanyaan darinya.
"Hah, apa? Oh, eh Kardeş Ghifari?" (mas Ghifari?) Tanya Lunara gelagapan.
"Evet. Senin neyin var Lunara?" (Iya. Kamu kenapa, Lunara?) Tanya Emira khawatir.
"Tamam Anne. Ghifari kardeş, çok şükür o da sağlıklı" (Enggak apa apa, Ma. Mas Ghifari alhamdulillah sehat juga ma) balas Lunara.
"Elhamdulillah. Kocan nerede Luna? Anne sesini duyamıyor" (Alhamdulillah. Suami kamu dimana, Luna? Mama tidak mendengar suaranya) tanya Emira penasaran.
"Kardeş Fari çalışıyor, Anne" (Mas Fari lagi kerja, Ma) balas Lunara lesu. Ia tak tau dimana Ghifari sebenarnya. Hati kecil Lunara merasa bersalah kepada Ibunya karena telah ia bohongi, tapi ia tak mau keluarganya merasa khawatir nanti. Terpaksa ia berbohong.
"Yorgunsun değil mi? Tamam, önce bir ara ver. Anne yakın evet, assalamualaikum" (Kamu lagi capek, ya? Ya sudah, kamu istirahat aja dulu. Mama tutup ya, assalamualaikum) ucap Emira yang langsung memutuskan telepon setelah Lunara membalas dalam darinya.
"Waalaikumsalam" balas Lunara sedih.
Lunara menaruh ponselnya di atas nakas. Membuang nafas kasar, lalu beristighfar kepada-Nya untuk diberikan kesabaran serta ketabahaan untuk dirinya.
__________
Sudah seminggu lamanya Ghifari tidak kembali ke rumah. Ingin sekali Lunara keluar dan mencari keberadaan Ghifari, namun ia tidak hapal daerah perumahan Ghifari. Ia juga tak tau alamat perusahaan tempat Ghifari bekerja.
Setiap hari Lunara selalu saja menunggu kepulangan Ghifari. Sama seperti hari ini, Lunara juga masih setia menunggu kepulangan Ghifari, berharap Ghifari pulang ke rumah malam ini.
Door... Door... Door...
Pintu di ketuk sangat kencang dari luar. Lunara terkejut dan langsung menghampiri pintu untuk membukanya.
"Alhamdulillah kamu pulang, mas" lirih Lunara senang. Akhirnya sosok yang ia tunggu-tunggu pulang juga ke rumah.
"Awas lo!" Usir Ghifari mendorong Lunara agar dirinya bisa masuk ke dalam rumah.
Lunara terdorong beberapa langkah. "Ya Allah, mas. Kamu kenapa mabuk lagi, mas?" Tanya Lunara kecewa karena lagi lagi Ghifari pulang dengan keadaan mabuk setelah meminum minuman haram itu.
"Gue senang hari ini..." Racau Ghifari berjalan ke arah anak tangga tanpa memperdulikan Lunara.
Lunara menutup kembali pintu rumah dan menghampiri Ghifari kembali. Lunara menahan tangan Ghifari agar ia berhenti untuk menaiki anak tangga.
"Mau ngapain, lo?!!" Bentak Ghifari.
"Mas, jelaskan ke aku. Kamu kenapa mabuk lagi? Apa mas tau, itu adalah minuman haram yang dilarang oleh Allah, mas!" Peringat Lunara menyiratkan kekecewaan yang dalam terhadap Ghifari.
"Lo!" Ucap Ghifari menunjuk Lunara.
"Jangan sok suci lo. Gue yakin pakaian lo kayak gini cuma buat nutupin aib lo 'kan?!" Tuduh Ghifari menatap Lunara kesal.
"Astagfirullah. Istighfar, mas!" Peringat Lunara.
"Gue yakin lo itu udah gak suci, makanya pakaian lo panjang 'kan?" Tuduh Ghifari sadis.
"Astagfirullah, mas. Aku gak pernah ngelakuin itu, mas" ucap Lunara tak terima.
"Mas, lepas. Sakit, mas" ucap Lunara terus memberontak.
"Diam! Gue mau bukti dari ucapan lo barusan!" Ucap Ghifari membentak.
Ghifari membawa Lunara menuju kamarnya. Ia membanting tubuh Lunara ke arah ranjang dan mengunci pintu kamarnya agar Lunara tidak bisa kabur.
"Jangan mas, jangan!" Lunara terus meraung meminta agar Ghifari melepaskannya. Seperti tuli, Ghifari tak menghiraukan ucapan dan jeritan Lunara. Ghifari melakukan di bawah alam sadarnya dengan kasar karena Lunara terus memberontak minta dilepaskan.
__________
Kepala Ghifari berdenyut sangat kencang. Ia memegangi kepalanya yang amat sangat sakit akibat pengaruh alkohol yang semalam ia minum.
Ghifari hendak turun dari atas ranjangnya, namun ia terkejut saat melihat dirinya tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Ghifari berjalan ke arah kamar mandi sembari terus mencoba mengingat kejadian semalam. Nihil, Ghifari hanya mengingat ia datang ke club untuk berpesta bersama temannya.
"Kayaknya gue ke gerahan sampe gak pake baju begini. Iya, gue kepanasan semalam." Ucap Ghifari meyakinkan dirinya.
Ghifari berjalan menuju lantai bawah untuk berangkat bekerja. Langkahnya terhenti saat ia tidak menemukan Lunara yang berada di meja makan.
Kemana dia? Batin Ghifari merasa heran.
Bagus deh, gak ada yang halangin gue untuk ke kantor. Eh salah, ketemu Resya. Batin Ghifari kembali.
Ghifari berjalan santai ke arah pintu untuk keluar rumah. Ia menghampiri mobilnya dan mulai meninggalkan kediamannya dengan wajah berseri. Ia tak tau kejadian semalam yang membuat Lunara mengurungkan dirinya kembali di dalam kamarnya.
__________
Lunara meringkuk memeluk tubuhnya. Ia menangis dibalik selimut tebal yang menutup dirinya, menuangkan segala kesedihannya.
"Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim..." Lunara terus menerus beristighfar.
"Lunara, kamu kuat, kamu hebat. Kamu gak boleh kayak gini" ucap Lunara menyemangati dirinya sendiri yang sedang rapuh saat ini.
"Ingat, kamu masih ada Allah. Allah adalah tempat terbaik untuk menceritakan segala keluh kesah kisah kamu, Lunara" lanjut Lunara kembali.
Lunara berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin berwudhu dan sholat sunah. Ia akan lebih tenang nantinya.
Setelah sholat, Lunara menceritakan keluh kesahnya kepada Tuhannya, meminta jalan keluar dari masalahnya.
Lunara menceritakan semuanya, ia tak mau membaginya dengan siapapun. Biarlah ini menjadi rahasia antara dirinya dengan Tuhannya. Orang lain tak perlu tau tentang itu.
Selesai berdoa, Lunara berjalan ke arah lemari buku. Sebelum ia sampai di lemari buku, langkah Lunara terhenti didepan cermin yang memantulkan bayangan dirinya.
Lunara melihat dirinya yang sangat pucat dipantulan cermin. Wajah Lunara yang selalu ceria sekarang telah hilang. Hanya ada wajah pucat yang sangat menunjukkan kesedihannya.
"Lihat Lunara. Apa itu kamu? Dimana kamu yang selalu tersenyum?" Tanya Lunara pada dirinya di depan cermin.
"Ayo tersenyum, Lunara" ucap Lunara kembali. Ia menyuruh dirinya untuk tetap tersenyum dalam keadaan apapun.
Lunara mencoba menyunggingkan senyumnya, namun tak bisa. Bibirnya kelu untuk melakukan hal demikian.
"Ayolah Luna, ini hanya sebentar" ucap Lunara meyakinkan dirinya kembali.
Lunara mencoba menyunggingkan senyumnya, namun lagi lagi tak bisa.
Perlahan air mata Lunara turun merambat ke arah pipinya, disambung dengan hatinya yang kecewa juga rapuh. Ia tak sanggup mengingat kejadian kemarin. Betapa kejamnya Ghifari memperlakukan Lunara seperti binatang. Bahkan binatang saja harus diperlakukan baik pula oleh sesama makhluk hidup. Lunara mencoba tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Kamu kuat Lunara!"
__________