My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 44



"Alma? Lunara sudah menikah lagi?" Atensi ketiganya teralihkan. Mereka memutar tubuhnya, melihat siapa yang baru saja mendengar percakapannya.


"Ghifari?"


"Kenapa kau disini?" Lanjutnya lagi.


"Katakan kepadaku, apa Lunara sudah menikah dan mempunyai anak bernama Alma, Rizal?!" Tanya Ghifari menaikkan intonasi bicaranya. Saat ini, yang berada di hadapannya adalah Rizal-sahabatnya yang selama ini tinggal di Turki.


Hari ini Ghifari berniat kembali ke rumahnya setelah seharian lelah bekerja. Karena tak ada kerjaan di rumah, maka ia bekerja di hari libur. Namun di tengah kemacetan malam minggu, ia melihat seorang yang sudah lama ia kenal, yaitu Rizal. Akhirnya Ghifari memutuskan untuk berbelok dan memarkirkan kendaraannya di taman tersebut. Saat telah selesai memarkirkan kendaraannya, Ghifari kehilangan jejak Rizal.


Hampir 10 menit ia memutari taman sampai akhirnya ia bertermu dengan Rizal di sebuah kedai yang menjual minuman. Ghifari tersenyum, ia mengikuti langkah Rizal saat sudah meninggalkan kedai tersebut. Namun sampai disana, satu hal yang membuatnya terhenti. Ketiga orang itu membicarakan hal yang membuatnya menahan emosi, Alma dan Lunara. Dan yang mereka katakan adalah Alma itu anaknya Lunara. Tiba-tiba saja ia merasa cemburu. Siapa yang berhasil mengambil hati Lunara kembali sedangkan ia masih berstatus 'suami sah' Lunara. Tak pernah sedikitpun ia berniat untuk memisahkan Lunara.


Bukan tak ingin menggapai Lunara kembali, namun ia harus belajar mendalami agama supaya ia dapat mengimbangi kemampuan Lunara yang sudah sangat jauh darinya. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Di tahun kedua ia memutuskan untuk ke Mesir. Niatnya untuk menambah wawasan dalam ilmu yang telah ia pelajari. Dan ia berharap saat ia mendatangi Lunara kembali, Lunara akan memaafkannya dan melanjutkan rumah tangga mereka kembali.


"Mama, Vian takut. Orang itu marah-marah ke Papa" Vian-anak itu bersembunyi di balik tubuh sang Ibu, Selyn.


Selyn menunduk, menatap sang anak yang memeluknya dengan erat. "Tak apa, Vian. Kamu jangan takut, ya?" Ucap Selyn mencoba menenangkan.


"Apa itu penting untuk lo?" Rizal menatap sinis ke arah Ghifari. Ia bersedekap dada.


"Gak puas lo ambil harta milik Lunara?" Lanjutnya. Sudah lama Rizal tak bertemu dengan Ghifari dan memang ia tak ingin bertemu Ghifari kembali. Apakah Ghifari adalah seorang pria sungguhan? Ia bahkan ingin memukul wajah orang yang berada di hadapannya saat ini.


"Itu dahulu-"


"Dan sekarang lo mau ngulang hal yang sama?" Potong Rizal dengan cepat.


Rizal berbalik badan, menatap Vian yang sedang memeluk erat Selyn, nampak ia sangat takut saat ini. Rizal meraih tubuh kecil Vian dan membawanya dalam gendongannya. "Bahagiakanlah orang yang telah membuat sahabat Istri gue menderita." Ucap Rizal yang langsung melenggang pergi begitu saja dengan Selyn yang mengikutinya dari belakang.


Ghifari terdiam di tempat. Ia merenungi ucapan Rizal barusan. Memang semua itu terjadi karena salahnya. Tapi, dalam hukum agama dan hukum negara mereka tetaplah masih menjadi sepasang Suami Istri. "Apakah kau melupakan status kita, Lunara? Kau tetaplah istriku sampai saat ini." Dengan langkah gontai Ghifari kembali ke dalam mobilnya dan berniat kembali ke rumahnya. Tadinya, tujuan awalnya adalah ke kediaman utama Muzakki, tapi ia merindukan Lunara saat ini, melebihi hari-hari sebelumnya.


Dalam perjalanan Ghifari terus menerus beristighfar. Mencoba meredam amarahnya jika memikirkan Lunara kembali. Amarahnya mereda tapi tangisnya makin menjadi. Memang awal permasalahan ini disebabkan oleh Ghifari yang serakah, namun salahkah Ghifari jika ia ingin mendapatkan kesempatan kedua? Awal mula ia belajar tentang agama-pun karena Lunara, ia ingin mengimbangi Lunara. Namun semakin dalam ia belajar agama, semakin sadar bahwa itu adalah kepentingan untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.


Mobil Ghifari berbelok memasuki komplek perumahan mewah yang selama ini ia tempati. Menurutnya, banyak kenangan dengan Lunara disana. Walaupun memang sebelumnya ia tak pernah memperlakukan Lunara dengan baik selama tiga bulan Lunara tinggal disana. Namun ia merasa dekat dengan Lunara jika ia tinggal di rumah itu dan kamar yang terakhir kali Lunara gunakan di rumah itu.


Ia turun dari mobilnya setelah memarkirkan kendaraannya di dalam garasi. Matanya sembab karena terlalu lama menangis selama di perjalanan tadi.


Ceklek!


Ghifari menoleh ke arah pintu kamar. Ia merasa seorang diri di rumah ini, lalu siapa yang membuka pintu tersebut. Pikiran negatif nya terhapus begitu saja saat melihat siapa orang yang membuka pintunya.


"Kamu kenapa, Ghifari? Ada masalah?" Alisya-wanita itu mendekati Ghifari.


Alisya menaiki ranjang yang Ghifari tiduri. Mengelus rambut Ghifari yang sangat lebat. "Ceritakanlah." Pinta Alisya sembari mengelus sayang kepala anaknya.


"Apa Bunda tau?"


"Bunda tidak tau karena kamu belum bicara apapun" balas Alisya. Memang benar, Ghifari berhenti berbicara saat ceritanya saja belum diceritakan.


Ghifari diam sejenak. Perlahan air matanya turun kembali jika mengingat perkataan Rizal. "Tadi aku ketemu dengan Rizal, Istrinya dan anak mereka," lagi, ucapan Ghifari menggantung begitu saja.


"Rizal sudah memiliki anak? Wah, Bunda kok baru tau" balas Alisya sedikit heboh. Sudah lama ia tidak berkontakan dengan keluarga Rizal karena mereka sekeluarga telah pindah ke Turki.


Ghifari mengangguk membenarkan. "Aku mendengar anak Rizal berbicara tentang anak yang bernama Alma,"


"Dan katanya … Alma adalah anak dari Lunara." Lanjut Ghifari. Rongga dadanya seakan menyempit. Sakit yang tak dapat dideskripsikan dengan kata-kata. Sulit untuk menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini. Hanya air mata yang turun dengan deras, membuktikan betapa hancurnya ia mendengar hal tersebut.


Alisya tak kalah terkejutnya. Setelah itu ia tersenyum, mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi. "Tak apa, mungkin memang Lunara bukanlah jodohmu, Ghifari." Ucap Alisya bijak. Ia terus mengusap kepala Ghifari. Tak mungkin ia juga menangis disaat Ghifari butuh dukungan darinya.


Ghifari menatap Alisya yang seakan menyuruhnya untuk menyerah. "Tapi Bunda, bahkan aku belum menceraikannya. Surat cerai masih berada di tangan aku dan sampai saat ini belum aku tanda tangani." Penjelasan yang Ghifari katakan mampu membuat Alisya kembali terkejut.


"Kamu yang pertama memulai, maka kamu yang harus selesaikan masalah ini" suruh Alisya. Ia tak ingin ada kesalahpahaman terjadi kembali.


"Baiklah"


_________


Klo yg tanya tentang visual mulai bsk aku posting tapi di IG. Aku pernah posting disini ga bisa, jadinya ga ke update. Jadi yg mau liat visualnya bisa cari IG aku namanya @khanzasyakilla_120