My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 46



"Lunara sudah menikah lagi?" Tanya Ghifari langsung. Terlalu lama memikirkan akan berbeda topik yang akan ia bicarakan nantinya.


"Hah?!" Tentu Dilla terkejut. Ia bahkan tak pernah tau tentang hal itu.


"Abang tau darimana?!"


"Alma. Nama anak Lunara Alma" Balas Ghifari. Ia sibuk menghapus air matanya yang semakin deras mengalir karena memikirkan hal tersebut.


"Luna tak pernah mengatakan hal itu kepadaku, Abang." Bantah Dilla tak membenarkan ucapan Ghifari. Hampir setiap hari ia berkomunikasi dengan Lunara, tapi tak pernah sedikitpun membicarakan tentang pernikahan Lunara apalagi tentang anak.


Ghifari menepikan mobilnya di sebelah kiri jalanan. Pandangannya tak fokus karena air mata yang selalu menutupi pandangannya. Agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan maka Ghifari menepikan kendaraannya dahulu.


"Darimana Abang tau jika Lunara sudah memiliki anak?" Ia merasakan kesedihan Ghifari yang mendalam. Ia tak ingin Ghifari seperti itu, yang ia inginkan sebuah perjuangan dari Ghifari untuk mendapatkan Lunara kembali.


Beberapa tahun yang lalu Ghifari selalu mengatakan kepadanya bahwa ia berubah untuk Lunara. Dengan semangat ia selalu menjalani hari-harinya dengan harapan kedepannya bahwa Lunara akan menerimanya kembali.


"Abang bertemu dengan Rizal di taman dekat sini. Dia yang mengatakan hal itu dengan keluarga kecilnya."


"Kamu tau? Abang iri melihat keluarga kecilnya. Abang juga iri melihat kamu, Alvan dan Arkan. Abang juga ingin memiliki keluarga yang seperti itu," Ghifari membenturkan kepalanya di setir mobil. Pikirannya menjalar kemana-mana tentang Lunara dan keluarga barunya.


Arkanza Raef Bagaskara, panggil saja Arkan. Anak berumur dua tahun itu adalah anak Dilla dan Alvan. Masih sangat kecil untuk di tinggalkan oleh sang Ibu untuk pergi bekerja. Bukan karena tak cukup, namun masa kontrak Dilla akan habis satu tahun lagi. Jadi sebelum itu habis, ia tak boleh keluar kerja begitu saja. Alvan dan seluruh keluarganya juga telah memaklumi hal tersebut.


"Kenapa Abang bodoh! Kenapa?!!" Ghifari memukul kepalanya berkali-kali dengan kedua tangannya.


Dilla meraih tangannya Ghifari untuk berhenti melakukan hal tersebut. "Sudah Abang, cukup!!!" Teriak Dilla ketakutan.


"Abang, tenangkan dirimu. Dilla akan berbicara dengan Lunara nanti. Dilla mohon bertenanglah!" Ucapan Dilla berhasil membuat Ghifari sedikit bertenang.


"Astaghfirullahaladzim … Maafkan hambamu ini, Ya Allah." Ghifari tersadar. Ia segera beristighfar. Kenapa ia lebih mencintai makhluk ciptaan Tuhan nya daripada Tuhan nya yang telah menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya termasuk dirinya.


"Sudah, biar Dilla yang akan menyetir!" Ucap Dilla yang langsung keluar dari dalam mobil Ghifari dan membuka pintu bagian kemudi tempat Ghifari duduk.


Ghifari menuruti ucapan sang Adik. Lagipula tak baik ia mengendarai sebuah kendaraan dalam keadaan tak baik-baik saja. Akhirnya Dilla yang mengendarai mobil Ghifari menuju rumahnya.


___________


Tiga bulan lamanya Ghifari berdebat dengan seluruh keluarganya. Ingin mengunjungi Lunara, namun ia takut kejadian yang tak diinginkan akan terjadi. Seluruh keluarganya menyuruhnya untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Lunara, tapi nyali Ghifari sangatlah kecil untuk menemui Lunara.


Dan setelah mendapatkan kabar bahwa cuaca di Turki sedang ekstrim, ia menunda keberangkatannya menuju negara tersebut. Akhirnya setelah tiga bulan lamanya berdebat dengan seluruh keluarga Ghifari memberanikan diri untuk terbang langsung ke Turki. Cuaca di negara tersebut sudah stabil kembali.


Sebelumnya Dilla sudah menghubungi Lunara terlebih dahulu. Banyak yang ia tanyakan kepada Lunara kecuali satu hal, yaitu menanyakan tentang pernikahan dan anaknya seperti yang dibicarakan oleh Ghifari kepadanya. Ia rasa lebih baik langsung bertanya kepada Lunara.


Disinilah Ghifari saat ini. Berdiri seorang diri di depan gerbang masuk mension Malayeka. Sedikit gugup ia rasakan. Tangannya yang dingin berubah menjadi hangat lantaran kegugupan yang sedang melandanya.


Kedua bodyguard yang tadi Ghifari minta untuk berdiam diri di dalam mobil. Biar Ghifari yang menyelesaikan masalah yang telah ia sebabkan. Ghifari maju mendekati bel yang berada di sisi kanan gerbang tersebut. Lalu ia tekan bel tersebut dengan tangannya yang gemetar.


Tak lama pintu gerbang terbuka, menampakkan banyak pria berbadan kekar sedang menjaga pintu masuk tersebut. Sekitar enam sampai sembilan orang yang menjaga gerbang tersebut. Seingat Ghifari, dahulu penjagaannya tak seketat seperti saat ini.


"Burada ne yapmanız gerekiyor? (Ada perlu apa anda kemari?)" Salah satu bodyguard itu mengenali Ghifari dengan jelas walaupun saat ini keadaan Ghifari sangat tertutup.


"English, please." Pinta Ghifari menatap salah satu bodyguard tersebut.


"Bu nedir? Neden içeri girmen söylenmedi? (Ada apa ini? Kenapa tidak disuruh untuk masuk?)" Baik Ghifari dan para bodyguard menoleh ke sumber suara.


Ghifari terpaku. Ia tau siapa wanita yang berada di depannya. "Lunara" gumam Ghifari bahagia. Selama empat tahun ia merindukan wanita yang saat ini berada di depannya, namun nyalinya tak berani untuk sekedar bertemu dengan Lunara.


Lunara melangkah mundur. Ia memegang pergelangan Alma yang sedang berdiri di sampingnya. Baru saja ia keluar untuk mengajak Alma jalan-jalan sekitar tempat itu.


"What are you doing in here?!" Tanya Lunara. Manik matanya seolah ingin menikam Ghifari saat ini. Sekuat mungkin Lunara tak menahan air matanya yang hendak turun dari pelupuk matanya.


Tatapan mata Ghifari tertuju pada seorang anak kecil yang sedang Lunara pegang dengan erat, seolah tak membiarkan anak itu terlepas dari genggamannya. Melihat hal itu membuat Ghifari semakin yakin jika Lunara telah menikah kembali dan memiliki seorang anak. Ghifari tersenyum miris meremehkan dirinya sendiri.


Alma mengintip kecil dari balik tubuh Lunara. Tatapan mereka bertemu sebentar sampai Alma berteriak. "ABAA!!!" Alma melepaskan genggaman tangan Lunara dan langsung berlari mendekati Ghifari.


Bruk!


Tubuh kecil itu menabrak Ghifari dengan kencang. Alma memeluk kaki kanan Ghifari karena tubuhnya tak sampai untuk memeluknya dengan benar.


Tentu saja Alma benar-benar senang melihat Ghifari secara langsung. Biasanya Lunara hanya menunjukkan sebuah foto dan menjelaskan bahwa yang di foto itu adalah Ghifari, namun hari ini Alma dapat melihat Ghifari secara langsung.


Ghifari menunduk menatap tubuh kecil yang sedang memeluknya dengan erat. "Alma, Aba'yı kaçırdı (Alma rindu dengan Aba)" dengan perasaan bahagia Alma memeluk Ghifari.


Ghifari terdiam. Ia tak paham situasi macam apa yang sedang terjadi. "Apa yang dia katakan, Lunara?" Tanya Ghifari menatap Lunara.


Lunara membuang muka ke samping, tak ingin menatap Ghifari. "Dia rindu denganmu." Balas Lunara jujur.


Rupanya Ghifari masih tak mengerti apa yang Lunara maksud. "Kenapa?"


"Lihatlah wajahnya. Dia Almasya Shahinaz Muzakki" ucap Lunara kembali. Ghifari langsung menunduk, menatap anak yang saat ini masih memeluk dengan tatapan tak percaya.


___________