My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 23



"Kak! Kakak Ipar!" Lunara menoleh, menatap Dilla yang datang menghampirinya.


"Kenapa kamu pisah kamar sama Abang?" Belum sempat Lunara menjawab, Dilla sudah lebih dulu bertanya.


Lunara diam, tak tau harus beralasan seperti apa. Ia sudah tau akan terjadi seperti ini, namun ia belum menemukan alasan yang pas.


"Kenapa kak?!" Desak Harika yang baru saja datang menghampirinya.


"A-aku belum sempat beres-beres, makanya aku menaruh di kamar bawah dulu" balas Lunara.


"Yang bener?" Tanya Dilla tak yakin. Lunara mengangguk cepat.


"Oh, ya sudah. Aku sama Rika bantu, oke?" Tawar Dilla. Ia langsung pergi begitu saja menuju kamar Lunara tanpa persetujuan dari sang pemilik kamar.


"Konuşmak istediğin bir şey varsa, Kakak kardeşim söyle. Hikayeni duymuş olmalıyım Kakak" (Kalau ada yang mau dibicarakan, Kakak bilang saja ke aku. Aku pasti dengerin cerita Kakak) ucap Harika meninggalkan Kakaknya sendiri. Ia tau kalau ada yang tidak beres dengan sikap Kakaknya kali ini.


Lunara mengangguk. "Makasih Rika." Balas Lunara tersenyum.


__________


Hari menjelang sore, Dilla, Harika juga Lunara baru saja selesai membereskan pakaian Lunara dan dipindahkan ke kamar milik Ghifari, kamar yang baru dua kali Lunara masuki.


"Makasih, ya. Pasti kalian lelah" ucap Lunara tak enak hati.


"Nggak kok, kan bareng-bareng beresinnya" bantah Dilla. Harika mengangguk menyetujui ucapan Dilla.


"Makasih" Lunara sedikit menunduk, tanda hormat. Kebiasaan yang sering ia dan adiknya lakukan di negara tempat tinggalnya.


"Sama-sama Kakak Ipar" balas Dilla. Lunara tersenyum, senang memiliki teman bicara di rumahnya.


Tok .... Tok ....


Pintu kamar diketuk, ketiganya kompak menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.


"Makan malam sudah siap. Mau makan sekarang atau nanti, nak?" Tanya Bik Idah.


"Kita sholat maghrib dulu, Bik" balas Dilla. Bik Idah mengangguk.


"Kalau gitu Bibi turun ya?" Pamit Bik Idah. Ketiganya mengangguk kompak.


"Aku mau siap-siap untuk sholat maghrib. Kalian juga ya?"


"Iya Kak"


__________


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" balas tiga wanita cantik yang baru saja hendak berjalan ke arah mushola rumah itu.


Orang itu berjalan maju. "Mau duluan nih? Gak tunggu Mas pulang?" Ghifari menghampiri Lunara dan mengecup keningnya.


Lunara menegang. Ia belum terbiasa, apalagi jika ia mengingat tentang kejadian malam itu.


Setelah mengecup kening Lunara, Ghifari memeluknya. Dengan kaku Lunara membalas pelukannya dan tak lama pelukannya terlepas.


Lunara meraih tangan Ghifari dan mencium punggung tangannya. "Ng-nggak kok, Mas" balas Lunara kaku.


"Ekhem!!"


Lunara dan Ghifari menoleh. "Mau ngebucin aja? Kapan sholatnya? Inget Bang, Dilla sama Rika jomblo. Kalau mau mesra-mesraan di kamar aja, yah?" Pinta Dilla kesal. Ia iri dengan pemandangan di depannya.


"Iya-iya, maaf" balas Ghifari.


Setelahnya Ghifari berjalan ke arah tangga untuk masuk ke dalam kamarnya dan ketiga wanita itu berjalan ke arah mushola rumah itu.


__________


Setelah melaksanakan sholat berjama'ah bersama seluruh penghuni rumahnya, mereka masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap makan malam.


"Ingat, ini hanya akan berlangsung selama Dilla dan Adikmu tinggal di rumah ini. Setelah mereka kembali, kamu juga harus kembali ke tempat semula kamu! Saya tidak mau satu kamar dengan kamu!" Peringat Ghifari. Ia berbicara membelakangi Lunara. Lunara diam, tak tau harus membalasnya seperti apa.


Hening. Tak ada sahutan dari Lunara yang membuat Ghifari marah. "Kamu dengar tidak?! Lepas saja kerudungnya agar telinga mu bisa berfungsi dengan baik!" Bentak Ghifari membuat


Lunara terkejut.


"Mas-" baru saja Lunara ingin mengeluarkan suaranya, Ghifari sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Terserah lah. Saya tak butuh jawaban dari kamu, kamu hanya perlu mematuhinya. Ingat itu!" Ghifari berlalu menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian yang ia gunakan sebelumnya dengan pakaian rumahannya.


"Kamu kenapa, mas?" Lirih Lunara tak mengerti. Ghifari berubah 180 derajat dari sifat yang ia ditunjukkan sebelumnya kepada Lunara.


__________


Pada malam ini, untuk yang pertama kalinya setelah pindah rumah, Lunara dan Ghifari makan bersama di atas meja makan yang sama.


Seperti tidak ada masalah apapun sebelumnya, mereka bersandiwara agar terlihat normal dan tidak terjadi apa-apa di hadapan adik-adik mereka. Makan malam yang sesekali dilengkapi dengan candaan dan berbincang-bincang tentang banyak hal yang pernah mereka alami. Mencoba akrab satu sama lain meskipun susah. Hanya Dilla yang sangat bersemangat sekali menceritakan keseruannya dan sesekali Harika pun ikut bercerita. Sedangkan Lunara juga Ghifari hanya mendengarkan juga memberi tanggapan atas cerita adiknya.


"Gak ada yang mau cerita selain Dilla sama Rika?" Tanya Dilla mulai bosan dan lelah karena mulutnya terus menerus bercerita.


"Apa ya?" Lunara pun tampak bingung ingin menceritakan apa.


"Kak!" Panggil Harika.


Lunara menoleh ke arah adiknya. "Besok Kak Luna juga ikut aku balik ya?" Lanjut Harika penuh harap. Ia akan sangat-sangat kesepian disana setelah kedua Kakaknya memutuskan untuk pisah rumah.


Lunara tersenyum simpul. Ia menggenggam lembut lengan adiknya. "Kakak harus ikut suami Kakak kemanapun pergi, Rika. Kamu pasti mengerti, iya kan?" Lunara mencoba memberi pengertian.


"Rika akan sangat rindu Kak Luna dan Abi Derya disana. Pasti Rika akan sangat kesepian disana" adu Harika.


Lagi-lagi Lunara tersenyum. "Manja sekali adik kecilku" ledek Lunara agar Harika tersenyum.


Pembicaraan keduanya berlanjut dengan menggunakan bahasa Turki. Ghifari dan Dilla yang tak mengerti apa artinya hanya diam memperhatikan keduanya.


"Emm .... Kalau kamu mau, Abang akan mengizinkan Lunara untuk tidur bersama kalian malam ini" ucap Ghifari tiba-tiba. Meskipun ia tak tau apa artinya, Ghifari dapat menyimpulkan bahwa keduanya sedang berbicara tentang keluarganya.


Keduanya menoleh. "Benarkah?" Tanya Harika berbinar.


Ghifari mengangguk membenarkan. "Kamu pasti akan merindukan Kakakmu disana. Dan untuk malam ini, Abang mengizinkan kamu untuk tidur bersama Lunara malam ini" balas Ghifari meyakinkan.


Sebenarnya itu bukanlah alasan utama Ghifari mengizinkan Lunara untuk tidur bersama Harika malam ini. Alasan utamanya karena ia tidak ingin berdekatan dengan Lunara, kalian pasti sudah tau tentang itu.


"Terima kasih" ucap Harika bahagia. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya seperti tradisi yang selalu ia lakukan di Turki. Ghifari tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan Harika.


Dilla yang daritadi hanya terdiam pun ikut menimpali. "Abangku bijak sekali" puji Dilla disertai dengan tepukan kecang di pundak Ghifari membuatnya meringis kesakitan. Ghifari menatap tajam Dilla, sedangkan yang ditatap hanya membalas dengan tersenyum tanpa dosa.


__________


Hai, assalamualaikum semua.


Akhirnya aku bisa balik nulis novel disini lagi. Selama dua bulan lamanya aku gak update novel karena pelajaran yang sudah sangat menumpuk.


Dan alhamdulillah, sekarang tugas sekolah aku sudah beres dan bisa nulis novel lagi (tapi gak bisa banyak²)😅


Jangan lupa tinggal jejak ya, dan maafkan aku🙏😓🙂