My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 27



"Cepatlah sembuh agar Bunda segera kembali ke rumahnya" ucapnya Dingin.


Pagi ini, setelah Ghifari memanggil Nadia ke rumahnya untuk memeriksa keadaan Lunara, Nadia langsung pergi ke kediaman utama Muzakki. Nadia memberitau tentang keadaan Lunara kepada keluarga besarnya. Hal itu membuat Alisya-Ibu mertua Lunara sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya. Alisya dan Dilla langsung mengunjungi kediaman Ghifari untuk mengurus Lunara.


Sesampainya di rumah Ghifari, Alisya dan Dilla langsung berjalan memasuki rumah itu dengan tujuan utama kamar Ghifari. Tentu saja kedatangan keduanya membuat Ghifari terkejut. Untung saja dirinya belum menyuruh Lunara untuk kembali ke dalam kamarnya.


Alisya terus menerus menyalahkan kelalaian Ghifari dalam mengurus Lunara. Ghifari hanya mengangguk mendengar ceramah pagi dari sang Ibunda yang sudah lama tak ia dengar semenjak pindah rumah.


Lunara menatap Ghifari kemudian menunduk. "Iya, Mas. Maafkan aku" balas Lunara merasa bersalah.


Ghifari cuek. Ia tak butuh jawaban dari Lunara. Yang ia butuhkan adalah tindakan bukan ucapan.


"Luna sayang, kamu harus sarapan, ya? Bunda dan Dilla sudah membuatkan kamu bubur" tanpa permisi Alisya langsung masuk ke dalam kamar dengan nampan yang berada di atas tangannya. Alisya menghampiri Lunara dan duduk di atas ranjang samping Lunara.


"Apa itu, Bunda?" Tanya Lunara. Pasalnya ia baru melihat makanan yang seperti itu di Indonesia.


"Ini namanya bubur, sayang. Kamu tidak pernah melihatnya?" Lunara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalau begitu kamu harus menyicipinya. Ayo buka mulutmu" suruh Alisya. Lunara menurut dan menerima suapan dari Alisya.


Dengan susah payah Lunara mencoba mencerna makanan yang ada di dalam mulutnya. "Bunda, kenapa rasanya seperti ini?" Tanya Lunara takut takut.


"Kau tidak menyukainya?"


Lunara menunduk dalam dalam. "Maafkan aku, Bunda. Aku belum terbiasa makan makanan Indonesia" balas Lunara. Ia takut menyakiti hati Ibu mertuanya.


"Kenapa kamu tak bilang? Maafkan Bunda, ya?" Justru Alisya yang merasa bersalah. Ia tak menanyakan terlebih dahulu makanan apa yang dimakan oleh Lunara.


"Tidak, Bunda. Bunda tidak salah" Lunara menggeleng.


Alisya mengelus sayang puncak kepala Lunara. "Baiklah. Lalu kamu ingin makan apa?" Tanya Alisya penuh perhatian.


Dilla masuk dengan membawa segelas air mineral di tangannya. "Aku tau. Luna sangat menyukai makanan Indonesia yang berkuah, Bunda" ucap Dilla. Ia mengingat betul saat pertama kali ia mengajak Lunara untuk memakan soto betawi yang letaknya tak jauh dari kampusnya waktu itu. Lunara langsung menyukai makanan itu karena itu adalah makanan Indonesia yang bisa ia cerna pertama kali.


"Benarkah?" Lunara mengangguk mengiyakan.


"Baiklah. Ghifari cepat kau belikan makanan yang memiliki kuah untuk Lunara." Suruh Alisya.


"Jangan membantah atau Bunda laporkan pada Ayahmu?!" Ancam Alisya saat Ghifari ingin menolak.


"Iya Bun"


__________


Senyum Lunara terus mengembang. Sepanjang hari ini dia diberikan kasih sayang penuh dari Alisya-Ibu mertuanya dan Dilla. Namun Dilla sudah pulang terlebih dahulu karena ia tiba tiba saja dihubungi oleh pihak rumah sakit tempat ia melamar kerja.


"Ghifari benar benar keterlaluan. Istrinya sakit dia malah kerja." Alisya terus menerus mengucapkan kata itu karena tak habis pikir dengan tingkah anaknya yang satu itu. Tapi Lunara mengatakan tak apa karena itu adalah pekerjaannya.


Alisya menatap Lunara dan mengelus sayang menantunya. "Kenapa semua maid tidak ada disini, Luna?" Itu yang ingin ia tanya-tanyakan dari tadi. Tak satupun seseorang asisten rumah tangga di rumah itu.


"Tapi lihatlah, sekarang kamu jadi sakit. Setidaknya ada seseorang yang akan membantu kamu di sini" Alisya tak terima. Mengapa Ghifari melakukan itu? Apa dia tak memikirkan Lunara sehingga ia menurutinya saja. Pikir Alisya.


"Aku akan sembuh, Bunda. Maafkan aku telah membuat Bunda repot" Alisya menggeleng cepat. Ia tak membenarkan ucapan Lunara. Tak masalah baginya jika disuruh mengurus Lunara sekalipun karena ia sangat menyayangi Lunara meskipun baru beberapa bulan bertemu.


"Sekarang kamu istirahatlah agar cepat pulih kembali. Wajah kamu sangat pucat, Luna" suruh Alisya lembut.


"Aku sudah merasa lebih baik, Bunda. Aku bosan karena hanya berdiam di dalam kamar ini terus. Apa aku boleh keluar dari kamar ini? Aku ingin berkeliling komplek ini" memang Lunara sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Wajahnya tidak terlalu pucat seperti tadi pagi. Alisya benar-benar menjaga Lunara dengan sangat baik.


Alisya mengangguk setuju. "Bunda temani" ucap Alisya memberitau. Lunara mengangguk antusias karena Alisya menyetujui permintaannya. "Bersiaplah Bunda akan menunggu kamu di bawah" suruh Alisya sebelum meninggalkan Lunara sendiri di dalam kamar untuk mempersiapkan dirinya.


__________


Sore ini banyak sekali pejalan kaki di sekitar taman komplek. Tak jauh dari taman komplek juga terdapat lapangan basket yang sedang dipakai untuk bermain basket. Lalu selanjutnya juga ada lapangan bulu tangkis. Tempat itu sangat bagus. Lunara terus-menerus mengembangkan senyumnya, ia merasa bebas karena baru bisa keluar dari dalam rumah Ghifari. Di taman itu juga banyak anak-anak yang sedang bermain bersama teman ataupun keluarganya.


"Apa kamu menyukai tempat ini, Lunara? Kamu tidak terganggu karena keramaian ini 'kan?" Tanya Alisya was-was karena Lunara belum sembuh total.


Lunara menoleh ke arah sampingnya. "Tidak, Bunda. Aku senang sekali karena tempat ini sangat ramai" Alisya bernafas lega setelah mendengar jawaban dari Lunara. Takutnya Lunara tak menyukainya karena tempat itu ramai orang.


"Terima kasih, Bunda. Luna sangat senang datang ke tempat ini" lanjut Lunara. Mereka sedang memutari taman komplek itu saat ini. Alisya mengangguk senang.


"Ayo Bunda, kita harus pulang. Mas Ghifari pasti sampai sebentar lagi" ajak Lunara. Ia telah puas walaupun hanya berkeliling di taman komplek. Bagi Lunara itu sudah sangat cukup dan ia ingin kembali ke rumah saat ini.


"Iya sayang, ayo kita pulang"


__________


Sudah sepuluh hari berlalu, Lunara sudah benar-benar pulih dan Alisya sudah kembali seminggu yang lalu. Lunara juga sudah kembali ke kamarnya. Namun kamarnya bukan lagi di kamar asisten rumah tangga, melainkan kamarnya yang pertama kali ia tempati. Ghifari juga telah menyewa orang untuk selalu datang ke rumahnya setiap hari dan membantu Lunara membersihkan rumahnya. Ia tak setega itu jika tetap menyuruh Lunara untuk membersihkan rumah itu seorang diri.


Walaupun begitu, Ghifari tak berubah, ia masih saja dingin dan acuh kepada Lunara. Ia juga tak terlalu ingin mencampur tangan dalam urusan Lunara. Menurutnya, diam adalah segalanya. Ia tak akan bisa membuat Lunara sakit seperti sebelumnya karena mengurungnya di dalam kamar kecil itu.


Meski sikap Ghifari semakin dingin, Lunara tetap saja selalu memberikan yang terbaik untuk Ghifari. Menyiapkan makanan untuknya, selalu memberikannya sapaan hangat setiap pagi tetapi tak pernah dibalas oleh Ghifari. Bahkan Lunara pernah menaruh pakaian Ghifari yang sudah selesai di setrika saat Ghifari sedang mandi. Karena Lunara tak pernah sama sekali menyiapkan pakaian untuk Ghifari, waktu itu Lunara mencobanya, memilihkan baju yang menurutnya cocok digunakan oleh Ghifari. Awalnya Lunara yakin pilihan bajunya tak akan digunakan oleh Ghifari, namun perkiraannya salah, Ghifari malah memakainya. Semenjak saat itu Lunara selalu menyiapkan pakaian yang akan Ghifari gunakan untuk datang ke perusahaannya.


Lunara akan terus mencoba mengambil hati Ghifari. Apapun akan ia lakukan. Seperti malam ini, Lunara selalu saja setia menunggu kepulangan suaminya di ruang tamu. Ia juga tersenyum setelah melihat chat yang baru saja ia baca.


Suara mobil Ghifari terdengar jelas di telinganya. Dengan semangat Lunara berdiri dan membukakan pintu untuk Ghifari. "Assalamualaikum, Mas" ucap Lunara tersenyum dari balik niqabnya. Lunara mengangkat tangannya, hendak meraih tangan Ghifari dan mencium punggung tangan Ghifari.


Ghifari acuh dengan tangan Lunara yang terangkat ke arahnya. Ghifari hanya membalas ucapan salam yang Lunara berikan kepadanya dan langsung masuk ke dalam rumah.


Lunara tersenyum miris. Namun ia tak menyerah. Dengan segera ia tutup kembali pintu rumah dan langsung mengejar Ghifari. "Mas, aku mau tanya sesuatu sama kamu" ucap Lunara yang berhasil memghentikan langkah Ghifari.


"Apa? Cepat katakan!"


Lunara tersenyum senang. Tak biasanya ucapan yang Lunara katakan langsung dibalas oleh Ghifari. "Alamat rumah ini, apa?" Tanya Lunara. Ini yang ingin ia tanyakan kepada Ghifari daritadi.


Tanpa bertanya macam-macam lagi, Ghifari langsung memberikan alamat rumahnya kepada Lunara dan langsung meninggalkan Lunara setelah Lunara mengucapkan terima kasih kepada Ghifari.


__________