My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 13



Setelah lamarannya diterima minggu lalu oleh Lunara, kini keluarga ber-marga Muzakki dan Malayeka akan segera melaksanakan pernikahan anak mereka dalam waktu yang sangat singkat, yaitu dua minggu lagi. Tentu hal itu membuat kedua keluarga itu menyewa banyak orang untuk segera mengurus acara nya.


"Nak, kapan kalian akan mendatangi WO? Waktu yang diperlukan tidak banyak" ucap Alisya yang sedang berkunjung ke kediaman Malayeka beserta dengan Ghifari.


"Gak perlu, Bun. Aku tidak terlalu membutuhkannya, aku akan memakai pakaian ku seperti biasa" tolak halus Lunara.


Cih! Seleranya rendah banget. Apa yang pengen gue bangga-in nanti di acara pernikahan dari dia kalau pake baju begitu doang? Mau taro muka gue dimana? Batin Ghifari kesal.


"Jangan gitu, dong... Kita pilih baju sama sama, ya? Kita cari tempat WO yang menyediakan baju syar'i sama maskernya, ya?" ucap Ghifari sedikit memaksa.


Setidaknya baju yang dia pakai nanti lebih terkesan mewah daripada memakai baju seperti itu. Batin Ghifari kembali.


"Masker? Ini bukan masker, mas" ucap Lunara terkekeh. Alisya dan Emira tertawa mendengar nya.


"Apa terus?" Tanya Ghifari seperti orang bodoh.


"Ini niqab" balas Lunara.


"Sama aja 'kan sama cadar?" tanya Alisya. Lunara mengangguk membenarkan perkataan calon mertuanya.


"Oh kalo niqab itu maksudnya cadar?" Ghifari bertanya kembali. Lunara mengangguk kembali.


"Ya udah, ayo kita cari sepasang baju pengantin yang pakaian wanita nya syar'i dan ada cadarnya" ajak Ghifari.


"Ta-tapi..." ucap Lunara terhenti karena bingung harus beralasan seperti apa lagi.


Lunara menatap Mamah nya. "Lunara git, gelinlik seçiminde hiçbir zararı yok" (Pergilah Lunara, tidak ada salahnya memilih baju pengantin kalian) suruh Emira yang mengerti tatapan dari anaknya.


"Dah sana kak, sama Mama sudah dibolehin 'kok" ucap Harika yang baru saja menginjak lantai bawah karena sebelumnya ia berada di lantai dua rumahnya.


"Ayo?!" Ajak Ghifari kembali. Kalau sudah begini apa boleh buat? Pikir Lunara dan akhirnya mengangguk.


"Maaf, seperti biasa, aku pisah kendaraan" ucap Lunara. Ghifari mengangguk sebagai jawaban karena sudah paham dengan sifat Lunara.


"Lunara, kamu sangat bijak dalam sebuah hubungan yang belum ada ikatan halalnya. Bunda suka cara pikir kamu" puji Alisya.


"Terima kasih, Bunda. Aku hanya melakukan apa yang orang tuaku selalu ajarkan kepada anak anaknya" balas Lunara tersenyum dibalik niqabnya. Alisya ikut tersenyum melihatnya.


"Ayo?!" Ucap Ghifari mengulang ajakannya.


Lunara mengangguk. "Aku ambil kunci mobil ku dulu" balas Lunara. Ghifari mengangguk.


__________


Dua minggu berlalu. Sekarang adalah hari dimana Lunara dan Ghifari akan sah menjadi sepasang suami-istri.


Setelah akad nikah berlangsung tadi pagi, sekarang Ghifari dan Lunara mengadakan resepsi besar besaran di negara Turki. Esoknya-pun mereka akan terbang langsung menuju Indonesia dan akan mengadakan resepsi pertama di Indonesia.


"Ah sahabatku... Beni çok hızlı takip ettin" (Cepat sekali kamu menyusul aku) ucap Selyn memeluk erat tubuh Lunara yang terbalut baju pengantin syar'i lengkap dengan penutup wajahnya.


Selyn melepaskan pelukannya. "Tebrikler, Lunara" (Selamat ya, Lunara) ucap Selyn kembali.


"Makasih Selyn..." balas Lunara.


Acara resepsi pernikahan mereka hari ini berjalan lancar sampai waktu acaranya selesai.


__________


Ghifari dan Lunara pulang ke kediaman Malayeka dengan keadaan lemas karena seharian berdiri menyalami tamu tamu mereka.


"Mas Fari mau disiapkan air hangat untuk mandi? Agar tubuhnya segar kembali?" Tawar Lunara saat melihat Ghifari baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Boleh" balas Ghifari singkat.


Lunara berjalan menuju kamar mandi dan membuka keran air hangat. Selagi menunggu airnya penuh, Lunara menyiapkan pakaian yang akan digunakan Ghifari nantinya.


"Mas, air hangatnya sudah siap" panggil Lunara setelah mematikan keran air hangatnya.


"Iya. Makasih, ya" balas Ghifari tersenyum.


Ghifari berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandinya.


Capek... Sabar. Tinggal dua hari lagi aktingnya selesai kalau udah sampe rumah yang di Jakarta nanti, aku akan mengakhiri semuanya. Batin Ghifari tersenyum licik.


Tak lama Ghifari keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Ia melihat Lunara yang masih belum tertidur sedang menunggunya di ujung ranjang.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Ghifari seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang berada di tangannya.


"Nunggu kamu, mas" balas Lunara.


"Makasih, mas" balas Lunara mulai merebahkan tubuhnya diujung ranjang.


Hah?! Ngapain dia? Takut deket gue? Tidurnya jauh bener... Batin Ghifari.


Ghifari ikut menaiki ranjang. Ia mengambil bantal guling dan memberikan sekat penghalang antara dirinya dengan Lunara.


"Kalau kamu belum terbiasa, bilang, aku ngerti kok" ucap Ghifari tersenyum kepada Lunara.


Lunara berbalik badan menghadap Ghifari. "Maaf" lirih Lunara.


"Gak papa. Oh ya, itu mukena emang gak pernah dilepas ya?" Tanya Ghifari asal.


"Ini gamis, mas. Maaf, aku juga belum terbiasa lepas kerudung" balas Lunara takut Ghifari marah.


"Gak apa apa. Itu cadarnya juga gak dilepas? Apa kamu juga belum terbiasa?" Tebak Ghifari.


"Maaf" lagi lagi Lunara hanya mengatakan maaf.


"Ya sudah, tak apa" ucap Ghifari dan setelahnya ikut merebahkan dirinya sebelah Lunara yang terhalang dengan bantal guling lalu mulai memasuki alam mimpinya.


__________


Sekitar pukul dua dini hari Ghifari terbangun dari tidurnya karena mendengar sebuah suara.


Ghifari mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih buram melihat langit langit kamar. Setelah sudah jelas Ghifari mencari suara orang yang membangunkannya ditengah tidurnya.


Ghifari duduk dan melihat Lunara sedang membaca kitab suci Al-Qur'an dengar merdu sampai sampai Ghifari mematung mendengarnya. Sudah lama semenjak ia memutuskan untuk tinggal pisah dari kedua orang tuanya, ia tak lagi membaca Al-Qur'an dan itu membuatnya jauh dari Tuhan-Nya dan lebih dekat dengan dunia. Sholat-pun hanya sebatas menjalankan kewajibannya dan selalu di akhir waktu.


"Mas?" Panggil Lunara yang tiba tiba berada di depan Ghifari dan menyadarkannya dari lamunan.


"Hah? Iya, kenapa?" Ghifari bertanya balik.


"Mas kenapa, kok melamun? Maaf ya, suara Luna terlalu kencang ya, sampe mas kebangun dari tidurnya mas?" Tanya Lunara.


"Gak kok, gak apa apa. Aku suka suara kamu, bagus" ucap Ghifari memuji.


"Alhamdulillah. Makasih, mas" balas Lunara.


"Mau lanjut tidur?" Tanya Lunara.


Dia tadi sholat tahajjud ya? Walaupun gue gak tau gimana caranya, tapi ya udah gue juga ikut sholat. Biar dia bangga sama pilihannya, kalau gue tuh orang hebat. Batin Ghifari.


"Iya, tapi aku sholat dulu, habis itu baru lanjut tidur" balas Ghifari tersenyum kearah Lunara.


"Oh, ya sudah. Mau ditunggu-in?" Tawar Lunara.


"Tidak perlu. Aku bisa kok. Kamu tidur duluan saja" tolak Ghifari yang diangguki oleh Lunara.


Lunara kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang, sedangkan Ghifari berjalan menuju tempat berwudhu. Setelah wudhu Ghifari keluar dan melihat kearah Lunara.


"Untung sudah tertidur" gumam Ghifari.


Ghifari mulai mengambil ponselnya dan membuka halaman pencarian. Ia mencari dengan kata kunci 'Bagaimana tahapan sholat tahajjud? Ghifari men-scroll halamannya dan mulai membaca satu persatu urutannya.


"Hah?! Gak salah baca, nih? Kok pake sholat witir juga 'sih? Emang mau sholat tarawih?" Gumam Ghifari setelah membaca beberapa urutan sholat tahajud.


"Yang bener gimana 'sih? Ya sudah, kayak sholat tarawih berarti" ucap Ghifari memutuskan.


"Eh, tapi kalo kayak sholat tarawih kelamaan, capek, males" ucap Ghifari mengeluh.


"Tau ah, ribet. Mending gak usah, lagian orangnya sudah tidur" putus Ghifari yang akhirnya kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang bersebelahan dengan Lunara dan tidak jadi sholat tahajjud.


___________


Up lagi nih...


Gimana bab ini? 😁


Maaf ya baru up lagi🙏


Aku tuh mau nyelesain novel aku yg satu lagi, jadi lebih fokus kesana dulu daripada kesini😢


Nanti kalo yg disana dah kelar, aku kesini lagi, kok😉😊


Tangerang, 14 Juli 2020.