
Langkah kaki Ghifari semakin pelan. Memasuki pekarangan masjid yang sedikit sepi karena belum masuknya waktu sholat berikutnya. Ghifari melepaskan alas kaki yang ia gunakan lalu berbelok menuju tempat berwudhu khusus pria.
Setelah berwudhu Ghifari masuk ke dalam masjid. Ia menurunkan celana panjang yang ia gulung saat berwudhu tadi. Mulutnya bergerak mengucapkan niat sholat dhuha. Kedua tangannya terangkat sampai sejajar dengan kedua telinganya dan di-iringi dengan takbir. Ia memulai sholat dhuha dengan khusyuk.
Selesai sholat tangannya kembali terangkat untuk berdoa, meminta jalan keluar atas semua masalah yang telah terjadi. Ia tak marah sedikitpun, karena memang tak ada yang harus ia salahkan. Semua masalah yang menimpanya itu karena ulahnya sendiri. Mengapa ia mengambil keputusan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Disertai dengan tangis pilu-nya, ia meminta jalan keluar atas seluruh masalah yang telah terjadi padanya.
Setelah merasa lebih lega hatinya Ghifari berjalan ke arah rak buku yang berada di pojok masjid, ia mengambil Al-Qur'an. Niat awalnya ia ingin membaca Al-Qur'an namun di tengah-tengah bacaannya, Ghifari berhenti. Lidahnya kelu, takut salah mengucapkan tanda baca yang ada pada Al-Qur'an. Sudah lama sekali ia tidak membaca Al-Qur'an dan itu membuatnya sedikit lupa. Akhirnya Ghifari menaruh kembali Al-Qur'an yang ia gunakan ke tempatnya semula.
Ghifari melangkah keluar dari masjid. Tak ada semangat yang menyertainya. Ghifari kembali memakaikan alas kakinya. Selesai memasangkan alas kakinya, Ghifari berjalan menuju parkiran untuk kembali ke dalam mobilnya.
Puk!
Belum sampai di depan mobilnya, pundak Ghifari ditepuk dari belakang. Ghifari menoleh ke belakang. "Ada apa ya?" Tanya Ghifari kepada orang yang baru saja menepuknya.
"Sebelumnya saya mau minta maaf, tapi dari awal Abang datang, saya memperhatikan Abang. Kalau tidak keberatan, apa Abang butuh bantuan untuk mengaji?" Pemuda itu tersenyum ramah ke arah Ghifari. Menunjukkan sikap se-sopan mungkin.
Mata Ghifari berbinar. "Ya, seperti itulah. Apa kau mau mengajari saya? Saya mohon." Pinta Ghifari. Walaupun sebenarnya Ghifari merasa malu karena yang akan mengajarnya adalah pria yang berada di bawah umurnya. Namun umur bukanlah penghalang untuk orang yang mau belajar.
"Alhamdulillah … Kalau begitu Abang bisa datangi tempat ini. Kita belajar bersama disana." Orang itu memberikan sebuah alamat yang tertera di atas sebuah kartu.
Ghifari menerima kartu tersebut. Ia membaca alamat tersebut. "Pesantren?" Ghifari menaikkan sebelah alisnya.
Ia mengangguk membenarkan. "Kebetulan tempat itu milik Abi saya," Ghifari mengangguk paham.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Alvan." Lanjut pemuda itu memperkenalkan dirinya.
Ghifari membalas jabatan tangan pemuda yang bernama Alvan tersebut. "Nama saya Ghifari." Balas Ghifari dengan senyum ramahnya.
"Kapan kita mulai belajar?"
"Kalau Abang ada waktu, silahkan Abang datang ke tempat itu. In syaa Allah saya selalu ada disana." Ucap Alvan memberitau.
"Baiklah, terima kasih. Mungkin untuk minggu atau bulan ini saya akan sangat sibuk, tapi saya akan usahakan untuk datang. Kalau begitu saya duluan, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Alvan mengangguk mempersilahkan Ghifari untuk berlalu lebih dahulu.
__________
Seperti rencana awal Derya, yaitu menghancurkan cabang perusahaan mereka sendiri. Hal itu berhasil lantaran tak ada lagi pekerja yang bekerja di perusahaan tersebut. Banyak awak media yang berdatangan karena penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Tak mungkin tujuh perusahaan bangkrut begitu saja. Namun seluruh pertanyaan yang wartawan tanyakan dapat dibalas yang menurut mereka logis.
Ghifari pun tak terlalu peduli dengan urusan dunia saat ini. Jikapun seluruh hartanya akan diambil darinya, in syaa Allah ia akan ikhlas menerimanya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada agamanya. Sering sekali ia tak bekerja karena sudah lebih nyaman dengan pelajaran agama yang sedang ia dalami. Keluarganya tak ada yang mempermasalahkannya sama sekali. Selagi itu di jalan yang baik, maka mereka mendukungnya.
Tak jarang pula Alvan dan Ayahnya yang datang menghampiri kediaman utama Muzakki ataupun rumah Ghifari jika Ghifari tak sempat mendatangi pesantren tersebut. Walaupun baru lima bulan berlalu, kedua keluarga tersebut telah sangat akrab satu sama lain.
Seperti hari ini, Alvan datang ke kediaman utama Muzakki untuk belajar bersama. Sudah beberapa minggu terakhir Ghifari kembali tinggal di kediaman utama Muzakki. Ada dua alasan yang dia katakan, yang pertama agar seluruh keluarganya dapat belajar bersama dan yang kedua karena Ghifari selalu meminta hal aneh yang membuat seluruh keluarganya bolak-balik ke rumah Ghifari.
Hari ini Dilla pun akan kembali ke Indonesia setelah hampir tiga bulan berada di negeri tetangga karena alasan pekerjaan.
"Assalamualaikum" Seluruh atensi orang-orang teralihkan. Mereka menatap orang yang baru saja datang dan berdiri di ambang pintu. Dilla menatap orang yang sedang duduk di sofa bersama keluarganya.
"Waalaikumsalam" serempak mereka membalas salam dari Dilla.
Dilla melangkah memasuki rumah yang sudah tiga bulan ia tinggalkan. "Ka Alvan, ya?" Dilla menebak orang yang berada di rumahnya saat ini.
"Iya. Kamu Dilla, ya?" Alvan bertanya balik. Merasa mereka saling kenal satu sama lain.
Dilla memgangguk. "Ada perlu apa Kak Alvan di rumah Dilla?" Tanya Dilla dengan senyum ramahnya.
"Orang ini yang Abang ceritakan. Ia yang mengajarkan kepada Abang lebih dalam agama kita." Ghifari membalas pertanyaan dari Dilla.
"Kalian saling kenal? Sepertinya Dilla selalu tak ada di rumah jika Alvan kemari" Alisya bertanya. Ia heran karena merasa sebelumnya keduanya tak pernah bertemu di waktu yang sama.
"Dia Kakak kelas aku dulu" balas Dilla memperkenalkan.
"Rupanya kalian satu sekolah" Alisya mengangguk mengerti. Ia pun baru tau akan hal tersebut.
"Iya, Bun. Kalau begitu Dilla pamit ke kamar dulu, ya. Mau istirahat" pamit Dilla yang langsung di setujui yang lainnya.
Setelah mendapatkan izin, Dilla menarik kembali koper yang ia gunakan. Ia berjalan meninggalkan keluarga serta Kakak kelasnya dahulu menuju kamarnya. Perjalanan selama 10 jam memanglah sangat melelahkan.
__________