
Pagi berlalu, namun tampaknya matahari masih enggan untuk menunjukkan cahayanya kepada seluruh penghuni bumi. Biasanya, siang hari ini matahari sangat terik menyinari bumi. Gumpalan awan gelap-lah yang menutupi sinar matahari, membuat siang hari ini mendung karena awan gelap itu.
Suasana hari ini sama seperti hati Ghifari yang sedang gelisah. Sudah dua hari Resya tak memberinya kabar sama sekali. Terakhir dirinya bertemu dengan Resya yaitu saat Resya pamit kepadanya untuk terbang ke Amerika karena ada jadwal pemotretan di sana. Namun sampai saat ini Resya ataupun managernya belum juga memberinya kabar. Sudah berulang kali Ghifari mengirimkan pesan kepada keduanya, namun tak kunjung dapat balasan.
Satu lagi, perkataan Derya-Kakak iparnya itu sampai saat ini masih terngiang-ngiang di otaknya. Mencoba mengerti apa sebenarnya tujuan Derya mengatakan hal itu. Walaupun sudah dua minggu berlalu, Ghifari masih saja tak mengerti.
Flashback
Lunara beserta yang lainnya sedang berada di tempat ramai saat ini. Dimana orang-orang datang dan pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Hanya dengan duduk di sebuah bangku namun bisa memindahkan kita ke pulau ataupun negara yang berbeda. Bandara. Saat ini mereka sedang berada di bandara, mengantarkan Derya kembali ke Turki.
Mereka? Ya, Lunara, Ghifari dan keluarga Ghifari. Keluarga bermarga Gona 'pun ikut mengantarkan Derya ke bandara. Paman, Bibi beserta sepupu dari keluarga sang Ibu yang jarang ia temui juga ikut mengantarnya.
Seperti Harika waktu itu, Derya juga dikawal beberapa bodyguard keluarganya yang diantar langsung oleh Ayahnya ke Indonesia. Bukan karena terlalu lebay, namun awak media banyak yang mengejarnya untuk bertanya tanya tentang keluarganya yang menurut Derya sangat privasi. Bahkan saat ini Derya dan keluarga Gona melakukan penyamaran agar tidak terlalu mencolok di mata orang. Namun tidak dengan Lunara karena mereka tak terlalu mengenali Lunara yang selalu mengenakan niqab.
Pesawat yang akan di tumpangi Derya hendak berangkat beberapa menit lagi, dengan segera Derya pamit kepada keluarganya. Paman, Bibi dan seterusnya. Derya pamit satu persatu kepada keluarga yang mengantarkannya.
Terakhir Ghifari, Derya memeluknya dengan erat. Siapapun yang melihatnya pasti bahagia. Dua buah keluarga yang baru bertemu namun sudah sangat akrab. Tapi di balik semua itu, Derya membisikkan kata-kata yang berhasil membuat Ghifari mematung.
"Kata dan sikapmu bisa saja mengalihkan kami. Tenang saja, itu tak akan berlangsung lama. Secepatnya kami akan menemukan jawabannya. Berdoalah, Adik iparku" kata yang sederhana, namun berhasil membuat Ghifari tak berkutik sedikitpun.
Derya melepas pulukannya. Senyum sinisnya yang tertutup di balik masker yang ia gunakan. Menepuk bahu Ghifari lalu mendekatkan kembali wajahnya tepat di samping telinga kanan Ghifari. "Pandai-pandainya kamu, pasti akan terkuak. Entah cepat atau lambat. Berdoalah…" setelah mengatakan itu, tubuh Derya menjauh bersama beberapa bodyguard yang setia menjaganya. Meninggalkan semua orang yang mengantarkannya ke bandara.
Flashback off.
Ghifari mencengkram erat ponselnya. Memikirkan semua itu membuat kepala Ghifari ingin pecah rasanya. Ucapan Derya membuatnya tak bisa fokus kepada pekerjaannya. Apakah Derya akan membongkar rahasianya? Tapi darimana dia tau? Bahkan keluarganya saja tak mengetahui tentang itu.
"Aakkhhh…" Ghifari memukul meja kerjanya dengan keras.
"Lebih baik aku mencari Resya. Ya, itu benar" Ghifari meraih jas yang ia taruh di sandaran bangku kebesarannya dan mulai meninggalkan ruangan juga perusahaannya menuju bandara. Hari ini juga ia akan mencari keberadaan Resya. Rindu kepada kekasihnya itu tak bisa terobati hanya dengan melihat fotonya, maka dari itu ia memutuskan untuk langsung mencarinya.
__________
Dilain tempat, namun waktu yang sama. Seorang wanita sedang tertidur lemah di atas ranjangnya. Siapa lagi jika bukan Lunara. Sudah seminggu kondisinya tak membaik. Selalu saja seperti ini, pusing yang tiba-tiba menyerangnya, mual yang tak kunjung selesai. Walaupun dokter, ia sendiri tak tau ada apa dengan tubuhnya.
Karena rindu dengan Ghifari, Lunara menyeret paksa kedua kakinya untuk berjalan ke arah kamar Ghifari. Mungkin dengan begitu Lunara bisa mengobati sedikit rindunya kepada sang suami.
Sampai di lantai atas, kecewa yang ia dapatkan. Kamar milik Ghifari terkunci, membuat Lunara tak bisa mendapatkan keinginanya. Dengan terpaksa Lunara kembali ke lantai bawah.
"Nduk, ini ada paket buat kamu" wanita paruh baya yang Ghifari pekerjakan sebagai asisten rumah tangga rumah itu.
Alis Lunara menyatu. Ia tak merasa memasan apapun. "Atas nama siapa, Bik?" Tanya Lunara.
"Dari tuan Ghifari" balas wanita itu setelah membaca nama yang tertera di atas paket itu. Wanita paruh baya itu memberikan paketnya kepada Lunara.
Lunara menerimanya. "Makasih ya, Bik. Luna ke kamar ya, Bik?"
"Iya, nduk"
Lunara membawa paket itu bersamanya ke dalam kamarnya. Duduk di ujung ranjangnya dan mulai membuka paket yang Ghifari kirimkan untuk dirinya. "Baju? Buat apa?" Paket yang Ghifari kirimkan untuknya itu pakaian kotor milik Ghifari. Tapi kenapa? Kenapa hanya pakaiannya? Kenapa orangnya tidak? Pikir Lunara.
Tring!
Ponsel milik Lunara berbunyi. Detik berikutnya Lunara menghampiri ponselnya yang berbunyi. Notifikasi terbaru di ponselnya adalah sebuah pesan yang ia terima dari suaminya yang tertera di layar ponselnya. Senyum Lunara mengembang seketika. Namun senyum itu tak berlangsung lama setelah membaca isi pesannya.
Mas Fari: Paket yang berisi pakaian kotor saya jangan lupa dicuci
Mas Fari: Saya ingin ke Amerika hari ini. Kamu jangan pergi kemana-mana sebelum saya kembali, ingat itu
Me:
Kenapa mendadak sekali, Mas? Pulanglah dulu ke rumah. Aku merindukan kamu, Mas. Aku mohon…
Lunara menaruh kembali ponselnya di atas ranjang. Menatap pakaian kotor Ghifari. Lunara meraih kemeja milik Ghifari dan menghirupnya. Aroma tubuh Ghifari masih tercium dengan jelas di pakaian itu. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan pakaian milik Ghifari yang terus ia peluk. Menahan rasa kecewanya kepada Ghifari dengan terus melafalkan asma Allah.
"Kenapa rasanya sakit sekali, Ya Allah?" Gumam Lunara sebelum terlelap dalam tangis kecewanya.