My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 49



Adzan ashar berkumandang. Terdengar jelas sampai pelosok tempat tersebut. Para lelaki muslim diwajibkan untuk pergi ke mushola ataupun masjid terdekat. Seluruh lelaki di mansion itu keluar dalam keadaan telah bersiap untuk menunaikan sholat ashar. Bukan tak memiliki tempat ibadah pribadi, namun alangkah lebih baik jika mendatangi masjid umum. Disana setelah sholat mereka dapat bersilaturahmi sekaligus.


Jalanan sore hari itu seketika penuh dengan para lelaki muslim yang hendak menunaikan ibadah sholat ashar. Di negara Turki memang telah diwajibkan untuk seperti itu agar tak ada lagi yang menunda-nunda sholat mereka.


Selesai sholat mereka saling bersalaman dan berpamitan dengan satu sama lain. Masjid mulai sepi setelah satu persatu orang meninggalkan tempat tersebut. Hanya sisa beberapa orang yang masih terdiam di dalam masjid. Salah satunya Ghifari. Ia sedang membaca dzikir petang lalu memanjatkan do'a-do'a kepada Tuhan yang Maha Esa. Meminta kelancaran atas apa yang tengah terjadi. Karena waktu ashar adalah waktu yang paling mustajab di-ijabah.


Selesai melakukan dua amalan tersebut, Ghifari keluar dari dalam masjid. Dengan sholawat yang menemaninya berjalan kembali ke mansion utama Malayeka.


Di tengah perjalanannya beberapa kali ia menemukan orang yang membutuhkan pertolongan. Sekitar empat orang yang telah berlalu meminta bantuannya. Dengan senang hati Ghifari membantu mereka yang membutuhkan selagi dirinya bisa.


Singkat perjalanan Ghifari kembali ke mansion Malayeka. Namun suasana sangatlah gaduh. Banyak orang-orang yang berjalan kian kesana kemari.


"Tunggu, ada apa ini?" Ghifari menahan lengan salah satu bodyguard yang juga nampak panik sekaligus bingung.


"Nona Muda Muzakki hilang. Nona Almasya tak ada di tempat ini." Balasnya. Tangan Ghifari terlepas. Terkejut mengetahui hal tersebut.


Seketika tubuh Ghifari merasa lemas. Ghifari langsung menggeleng kuat, itu pasti bohong. Kenapa mansion dengan banyak pengawal bisa kehilangan seseorang di tempat tersebut. Ia tak ingin bersu'udzon terlebih dahulu. Mungkin Alma sedang bermain di suatu tempat.


"Luna…" lirih Ghifari. Ia harus menemui Lunara terlebih dahulu. Ia butuh suatu kepastian jika anak itu tidak menghilang. Ghifari berlari memasuki ruang utama. Sama halnya yang terjadi di pekarangan depan, semua orang sibuk mencari Alma.


Mata Ghifari menangkap kehadiran Lunara yang baru saja datang di tempat tersebut. Ia melirik kesana kemari, nampak seperti dirinya juga bingung. "Harika, ada apa ini? Apa yang terjadi?" Lunara menahan tangan Harika yang baru saja melewati dirinya.


"Lunara, katakan Alma ada bersama dengan kamu!" Pinta Ghifari. Ia menatap dalam Lunara yang tengah bingung.


"Alma sedang bermain dengan Enver dan Harika saat aku sholat" balas Lunara. Dan saat ia keluar keadaan rumah sangat kacau. Lunara sendiri bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi.


"Kak maafkan aku. Aku tadi ke dalam sebentar untuk mengambil mainan mereka. Tapi saat aku kembali Alma tidak ada disana." Ucap Harika memelas. Ia merasa amat sangat bersalah karena kelalaiannya dalam menjaga keponakannya.


Jantung Lunara bekerja dua kali lebih cepat mendengar hal tersebut. Kakinya lemas mendengar hal itu dari Harika. Hampir saja Lunara terjatuh namun Ghifari lebih dahulu menahannya. Rasa bersalah Harika kian menjadi setelah melihat keadaan sang Kakak yang langsung jatuh karena lemas setelah mendapatkan kabar mengenai hilangnya Alma.


"Lalu Enver? Ada dimana dia?" Tanya Lunara melirih. Yang Harika katakan Alma menghilang namun tidak mengatakan jika Enver juga menghilang. Jika mereka bermain bersama seharusnya Enver tau dimana Alma berada.


"Jangan panik. Alma tidak kemana-mana dan dia tidak kenapa-napa. Kau harus berhusnudzon Lunara!" Ucap Ghifari menasehati. Ia yakin Alma akan segera ketemu dan pasti keberadaannya tak jauh dari tempat ini, pikir Ghifari.


Lunara mengangguk membenarkan ucapan Ghifari. Perlahan ia bangkit kembali dan langsung meraih kunci mobil yang terdapat di dalam lemari kunci kendaraan. Dengan langkah lebar Lunara keluar mendekati garasi. Ia harus menemukan Alma secepat mungkin.


Ghifari berlari menyusul Lunara. Menahan langkah Lunara yang terlihat sangat terburu-buru. "Biar aku yang bawa. Kamu harus tenang dulu, Lunara. Tak baik menyetir dalam keadaan seperti ini" suruh Ghifari kembali.


Lagi, Lunara menuruti ucapan Ghifari. Ia memberikan kunci mobilnya kepada Ghifari. Setelah menerima kunci dari Lunara, Ghifari menarik lengan Lunara untuk menaiki mobil yang sama dan mencari Alma bersama-sama. Sebelumnya dirinya pun telah mengatakan jika ada yang menemui Alma segera hubungi dirinya ataupun Ghifari.


Di dalam mobil Ghifari mengendarai kendaraan tersebut ke sembarang arah. Ia tak menghafal betul jalanan sekitar jadi ia akan memutar seluruh Ankara terlebih dahulu. Maps di dalam mobil itu juga telah mengarahkannya kepada jalanan yang akan ia lewati.


Tring!


Lunara membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Mata Lunara membulat membaca pesan tersebut. Tangisnya hampir kembali keluar.


"Apa isi pesan itu, Lunara?" Tanya Ghifari. Tatapannya masih terfokuskan pada jalanan. Tapi ia tau Lunara sedang menangis.


"Cepat berbelok ke arah laut, Mas!" Pinta Lunara. Suaranya sudah mulai serak. Entah sudah berapa banyak ia telah menangis selama dua hari berturut-turut.


Tanpa banyak bertanya Ghifari menurut. Ia menatal maps yang menunjukkannya arah menuju laut terdekat. Pikiran Lunara sudah menjalar kemana-mana setelah melihat laut dan foto anaknya yang berada disana.


Niqab yang Lunara gunakan sudah sangat basah. Ia membuka dasboard mobil dan mengeluarkan sepotong kain hitam. Itu adalah niqabnya. Memang biasanya Lunara selalu menaruh niqabnya disana untuk persediaan. Langsung saja Lunara membuka niqabnya dengan membelakangi Ghifari. Ia mengganti niqabnya yang basah dengan niqabnya yang baru. Ghifari hanya melirik ke arah Lunara. Ia tau Lunara belum terlalu berani untuk menunjukkan wajahnya kepada Ghifari.


Ghifari berhenti di parkiran mobil dekat dengan laut. Setelah mobil terparkir rapih keduanya pun langsung turun begitu saja dari dalam mobil. Mereka berlari dengan berteriak memanggil nama Alma juga bertanya-tanya kepada orang sekitar, namun mereka mengatakan tak ada yang melihat Alma ataupun mengenalinya karena saat itu Alma juga mengenakan niqab.


Tring!


Ditengah frustasinya, Lunara mendapatkan sebuah pesan masuk kembali ke dalam ponselnya. Lagi-lagi ia terkejut setelah membaca isi pesan tersebut.