
Kendaran beroda empat itu berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Rintangannya akan segera dimulai setelah ia memasuki mansion tersebut. Setelah gerbang dibuka dengan lebar, barulah mobil itu masuk ke dalamnya. Seperti Istana, banyak pengawal yang berbaris rapih di seluruh penjuru mansion tersebut.
Benar-benar berbeda dari yang kemarin. Kali ini pengawasan yang dikerahkan lebih ketat. Jika seluruh orang yang datang dan melihatnya akan ketakutan, lain halnya dengan Ghifari yang terlihat lebih tenang. Ia yakin, hal baik akan datang dengan sendirinya. Tak perlu tegang karena itu akan membuat konsentrasinya bubar.
Kakinya melangkah lebar berjalan mulai memasuki ruangan utama. Kaki kanannya yang berjalan lebih dahulu dan disertai dengan salam. Semua yang berada dalam ruangan itu menjawab salam dari Ghifari. Mulutnya bergumam mengatakan basmalah sebelum memulai sesuatu.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Adik ipar." Ghifari mengangguk dengan senyumnya yang mengembang.
Jabare menunjuk ke arah sofa yang kosong. Meminta Ghifari untuk segera duduk di tempat tersebut. Ada keluarga besar Lunara di tempat itu. Ada keluarga dari sang Ibu, keluarga sang Ayah, Kakak dan Adiknya serta Lunara yang sedang menunduk. Seperti hendak dihakimi oleh keluarga Lunara.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Jabare dengan menggunakan bahasa Inggris nya. Memulai pertanyaan dengan menanyakan tujuannya.
Ghifari membaca basmalah kembali. Setelah itu ia mulai bercerita. Dari awal dirinya yang tak sengaja mendengar percakapan antara Rizal dengan keluarga kecilnya. Kesalahpahaman yang terjadi karena topik pembicaraan Rizal. Lalu desakan keluarga yang memintanya untuk langsung melihatnya sendiri dan akhirnya mengetahui bahwa yang ia pikirkan semua salah. Lunara tak menikah kembali dan Alma adalah anaknya juga. Akhirnya ia memutuskan untuk memulai dari awal kembali tentang pernikahannya juga tentang masa depan Alma.
"Kami bisa merawat Alma dengan baik" potong Jabare cepat.
"Maksud saya, saya juga ingin ikut andil dalam pertumbuhan Alma. Saya ingin merawat dan membesarkannya karena itulah tanggung jawab saya." Balas Ghifari memperjelas maksud dari ucapannya. Jabare mengangguk paham mendengar penjelasan dari Ghifari.
"Kenapa baru sekarang datang? Padahal perusahaan kalian telah membaik setelah kami coba hancurkan." Tanya Derya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Setelah mengetahui kabar perusahaan mereka telah membaik, seluruh mata-matanya diperintahkan untuk kembali ke Turki karena pekerjaan mereka telah selesai.
Lunara langsung menatap sang Kakak. Bahkan ia tak tau mengenai hal itu. Wajah seluruh keluarganya biasa saja mendengar hal tersebut. Dapat Lunara pastikan bahwa disini hanya Lunara lah yang tak mengetahui tentang kabar tersebut. Tak pernah sekalipun ia berniat membalas perbuatan seseorang. Biarlah itu menjadi urusan antara Tuhan dan orang tersebut. Tapi mengapa kali ini keluarganya yang langsung membalas hal tersebut. Lunara tetap diam, ia akan bertanya setelah semua selesai berbicara karena tak sopan jika langsung bertanya begitu saja.
Penjelasan dari Ghifari kembali terlontar. Selama lima bulan ia mencoba mempertahankan perusahaan mereka yang sedang berada di ambang kehancuran. Perusahaan MZK Company kembali berjaya meskipun harus kehilangan satu buah cabangnya. Lalu perusahaan keluarga Malayeka yang tak dapat di selamatkan sama sekali. Akhirnya tujuh cabang tersebut bangkrut.
Selanjutnya tujuan Ghifari yang ingin membawa Lunara kembali tertahan karena merasa masih kurang. Ia memutuskan untuk mendalami ilmu yang sebelumnya telah ia dapatkan. Empat tahun lamanya ia tak langsung mendatangi Lunara karena study nya. Dan setelah dua minggu lamanya ia kembali ke Indonesia ia tak sengaja bertemu dengan Rizal. Dengan singkat Ghifari menceritakan kronologis perjalanannya selama empat tahun.
Air mata Lunara tertahan. Ia terharu mendengar ucapan cerita Ghifari yang ingin belajar dan mendapatkannya kembali. Yang kemarin Ghifari ceritakan kepadanya berbeda. Cerita hari ini lebih mendetil daripada yang kemarin.
Lunara mendekat ke arah Alma dan membawanya ke dalam gendongannya. "Kenapa kamu terbangun?" Tanya Lunara yang sibuk merapihkan posisi hijab Alma.
"Ane kemana? Alma cari tidak ada di dalam kamar" balas Alma merengek. Ia menyandarkan tubuh kecilnya di dalam gendongan Lunara.
Lunara menaiki anak tangga dan berniat untuk menidurkan Alma kembali. Tak seperti biasanya Alma terbangun dalam tidur siangnya.
"Tunggu, Ane!" Ucap Alma tiba-tiba membuat langkah Lunara terhenti. Ia menatap Alma yang memintanya untuk turun dari gendongannya. Lunara menuruti kemauan Alma dan menuruninya.
Dengan langkah perlahan Alma menuruni anak tangga kembali. Ia melihat ada tamu di ruang tamu. Biasanya Alma akan menghampiri dan menyapa tamu tersebut lalu mencium punggung tangannya dan kembali bermain kembali. Tapi saat ia sudah mendekati ruang tamu langkahnya terhenti melihat siapa orang yang tengah bertamu tersebut.
"Abaa!" Ucap Alma berteriak. Berlari mendekati Ghifari. Semua orang menatap Alma yang sedang berlari ke arah Ghifari. Belum sampai untuk menghampiri Ghifari, kaki Alma tak sengaja menginjak gamis yang ia kenakan.
Hap!
Dengan cepat Ghifari menahan Alma yang hampir saja mencium lantai. Ghifari langsung membawa Alma ke dalam gendongannya.
"Ada yang sakit?" Dengan bahasa Inggris ia bertanya. Mencemaskan Alma yang baru saja akan terjatuh. Alma menggeleng sebagai jawaban lalu mengatakan terima kasih karena telah menolongnya.
Lunara berjalan menghampiri keduanya. Hendak meraih kembali Alma namun yang di ajak malah menangis dengan kencangnya. Katanya ia ingin bersama Ghifari dahulu. Akhirnya Lunara mengalah dan membiarkan Ghifari duduk kembali bersama dengan Alma yang berada dalam pangkuannya.
Perhatian semua orang hanya tertuju pada Ghifari dan Alma. Interaksi keduanya sudah sangat akrab walaupun baru dua hari bertemu. Pertanyaan yang tadi tersusun rapih dengan segala rintangan yang telah disiapkan menjadi berantakan. Tiba-tiba saja mereka ikut merasa senang dan bahagia setelah melihat Alma yang tertawa lepas di dalam pangkuan Ghifari.
Melihat hal tersebut membuat mereka langsung mendapatkan jawaban yang menurut mereka terbaik. Tapi sebelum memutuskan hal itu, semua keputusan kembali lagi di tangan Lunara dan Alma.