
Sudah dua jam berlalu dari kejadian pagi itu. Sekarang tatapannya kosong. Menatap lurus ke depan. Tak tau harus berekspresi seperti apa. Antara sedih dan bahagia bercampur aduk saat ini.
Dua jam yang lalu. Lunara kedatangan teman dari masa kecilnya. Bercerita panjang tentang tiga bulan tanpa Lunara dan kerinduannya kepada Lunara. Saat ia tak sengaja menceritakan masalahnya, Rizal pun juga mendengarnya. Dengan wajah yang sudah memerah padam, Rizal menahan segala emosi yang ia pendam untuk sahabatnya itu.
"Kita akan ke Jakarta minggu depan." Tentu saja Selyn menolak ide dari sang suami. Sebenarnya Selyn-pun juga ingin membalas orang yang telah membuat sahabatnya bersedih, namun ia urungkan. Lunara memintanya untuk tidak mencampuri urusannya, tentu Selyn mengiyakan ucapan Lunara. Tapi tidak dengan Rizal, ia akan memberikan pelajaran yang pantas untuk Ghifari.
Dan perdebatan kecil pun terjadi antara suami-istri tersebut. Lunara hanya menatap keduanya tanpa berniat memisahkan. Lunara sendiri sedang berusaha untuk fokus. Pusing yang sudah beberapa minggu itu menyerangnya, membuat pandangan Lunara kabur. Dengan segera Lunara berpegangan pada benda yang berada di sekitarnya.
"Lunara kau baik-baik saja?" Tanya Selyn khawatir. Lunara tak menjawab, masih berusaha untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerangnya. Semakin lama semakin menyiksa dirinya.
"Tolong panggilkan Kak Yeslin dan yang lainnya, Selyn" pinta Lunara. Selyn mengangguk, menatap suaminya untuk melakukan apa yang Lunara minta. Rizal mengangguk, keluar dari ruangan Lunara untuk memanggil bodyguard Lunara.
Dengan segera mereka berlari mendekati Nona mereka. Membantu tubuh Lunara untuk berdiri dan berjalan. Mereka memindahkan Lunara ke ruang dokter yang lainnya untuk diperiksa. Tak seperti biasanya Lunara demam.
Beberapa saat kemudian hasil lab keluar. Menurut hasil lab, Lunara hanya demam biasa. Namun kata dokter yang memeriksanya tadi, ia disuruh untuk mengecek ke dokter kandungan.
Tunggu! Lunara baru teringat. Sudah hampir dua bulan ia tidak mendapatkan jadwal menstruasinya. Setiap pagi ia juga selalu merasakan mual. Apakah ini yang dinamakan morning sickness.
Daripada terus bertanya-tanya, Lunara langsung mengikuti apa yang disarankan oleh dokter tersebut, yaitu menemui dokter kandungan.
____________
Karena kejadian itulah yang membuatnya kembali ke kediaman Malayeka. Setelah menghubungi dokter penggantinya Lunara mengurung dirinya di dalam kamar. Menatap kertas yang sedari tadi ia genggam.
"Lunara, Mama mohon keluarlah. Tak apa, kau tak perlu bersedih, sayang. Kita mampu mengurus dan membesarkannya sendiri." Sudah beberapa kali Emira membujuk, namun tak berhasil, Lunara tak berajak sedikitpun dari sajadah yang ia gunakan untuk sholat sunnah.
"Lunara, dengarkan Mama. Kehadirannya adalah sebuah anugerah untuk keluarga kita. Jangan pernah kau sesali apalagi menghilangkannya. Apa kau mengerti, Lunara?" Benar sekali. Setelah Emira mengatakan hal itu, Lunara mengucapkan istighfar berulang kali.
"Lunara, ayo keluar sayang. Kamu harus makan siang. Pikirkan janin yang sedang dalam kandunganmu, Lunara. Mama mohon keluarlah" Emira masih mencoba membujuk anaknya untuk makan siang. Lunara sudah tertinggal dua jam dari waktu makan siang yang telah ditentukan.
Ceklek
Lunara membuka pintu kamarnya setelah tiga jam lamanya tak ingin keluar. Emira berhambur memeluk Lunara yang akhirnya mendengarkan ucapannya. "Maafkan Luna, Mama. Luna tak akan melakukan hal itu kembali. Lunara janji." Ucap Lunara dalam pelukan sang Ibu.
"Iya sayang, tak apa. Sekarang kamu makan, oke? Mama tak ingin calon cucu Mama kenapa-napa, mengerti?" Lunara melepaskan pelukannya. Mengangguk antusias mengikuti apa yang Emira perintahkan.
Menuruni anak tangga berdua dengan sang Ibu. Berjalan menuju meja makan. Disana ada Harika yang sedang duduk di meja makan. "Akhirnya kamu turun, Kak. Kau tau? Aku sangat khawatir karena kau tak mau turun untuk makan bersama" Harika mendekati keduanya. Berdecak pinggang karena sikap Kakaknya.
"Sudahlah, tak apa. Sekarang kamu harus makan dua porsi untuk keponakanku di dalam sana"
Lunara tersenyum dan mengangguk. Lalu melanjutkan kembali jalannya menuju meja makan. Ditemani dengan dua wanita di keluarganya, yaitu Ibu serta Adiknya.
__________
Indonesia.
Pukul enam sore. Di sebuah rumah sakit swasta, pemilik rumah sakit itu berjalan cepat menuju suatu ruangan. Ia meninggalkan rapat penting demi melihat keadaan orang yang telah membuatnya kecewa. Anaknya dinyatakan telah melewati masa koma-nya dan dalam beberapa jam lagi akan tersadar.
Sebesar apapun rasa kecewa orang tua terhadap anaknya mereka tetap tidak tega melihat kondisi anaknya yang kritis. Kebanyakan orang tua pasti akan melakukan apa saja demi mengharapkan kesembuhan anaknya. Sama seperti Farhan dan Alisya. Sepasang suami istri itu dengan segera pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari orang suruhannya untuk mengawasi keadaan anaknya.
Brak!
Pintu dibuka dengan kencang, menimbulkan suara benturan antara pintu dengan dinding rumah sakit. Atensi orang-orang yang berada di dalam ruangan itu teralihkan, melihat ke arah pintu dan menemukan Farhan dan Alisya-kedua orang tua pasien.
Alisya menghampiri sang dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan anak sulungnya. "Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Alisya tak sabar.
Dokter paruh baya itu tersenyum simpul ke arah Alisya. Seorang dokter dengan tingkatan senior di rumah sakit tersebut. "Syukurlah … Kondisi anak kalian sudah membaik. Tapi pasien tetap di rumah sakit selama beberapa hari sampai kondisinya sudah benar-benar pulih." Ujar dokter tersebut memberitau. Keduanya mengangguk paham. Setelah itu sang dokter beserta perawat pamit kembali ke ruangannya.
Alisya berjalan mendekati ranjang rumah sakit yang Ghifari gunakan. Manatap lekat anaknya dengan haru. "Bunda…" gumam Ghifari pelan. Ia menatap sendu Alisya. Teringat betapa kecewanya seluruh keluarganya atas kelakuan bejat yang ia lakukan.
"Maafkan aku"
"Ghifari, lihat Bunda!" Ghifari menuruti perintah Alisya. Menatap Alisya yang sedang menahan tangisnya. "Istirahatlah dahulu. Pikirkan saja kesembuhanmu, Ghifari"
Helaan nafas keluar dari mulut Ghifari. "Untuk apa, Bunda? Ghifari bahkan telah membuat banyak orang kecewa, termasuk kalian." Nampaknya Ghifari telah putus asa. Padahal perjuangannya saja belum dimulai. Ia menatap langit-langit rumah sakit.
"Kau menyesal?" Kali ini Farhan angkat suara. Tak suka melihat anaknya yang nampak putus asa. Ghifari mengangguk membenarkan.
"Maka kau harus sembuh untuk memperbaiki semuanya." Ucap Farhan bijak. Tentu ia tak akan membiarkan Ghifari lolos begitu saja. Ghifari yang memulai semua ini dan Ghifari juga yang harus menyelesaikan semua masalah ini.
___________
Hari ini satu aja deh... aku mau bantu edit tugas tmn aku dlu ya... bsk aku update lagi