My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 39



Tok… Tok… Tok…


Pintu ruangan Ghifari diketuk dari luar. Ghifari menoleh ke sumber suara, menatap ke arah pintu. Tak ada niatan sedikitpun untuk menyuruh orang itu masuk ke dalam ruangannya. Ia sudah tau siapa yang datang. Baru saja ia menerima chat dari orang yang saat ini sedang berada di depan pintu ruang rawatnya.


"Ghifari, aku masuk, ya." Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ghifari, orang itu langsung masuk begitu saja tanpa menunggu persetujuan.


Buru-buru Ghifari memejamkan matanya, berpura-pura tidur agar orang itu cepat pergi dari kamar rawatnya.


Orang itu mendekat ke ranjang Ghifari. Menatap Ghifari dengan tatapan nanar. Perlahan air matanya turun begitu saja. Buru-buru ia menghapus air matanya. "Ghifari, aku datang kesini hanya untuk memberitau tentang kepergianku,"


Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Mama membawaku kembali ke Kabul karena Papa yang menyuruhnya. Aku dijodohkan sama anak rekan kerja Papa," Resya-wanita itu menghapus air matanya yang semakin deras mengalir. Ia tak terima atas keputusan tiba-tiba dari kedua orang tuanya.


"Kau mencintaiku, bukan? Ku mohon padamu untuk membatalkan perjodohan itu. Buktikan hanya kamu lah yang layak bersamaku. Kita sudah lama melalui ini bersama kan? Kau tak mungkin membiarkan aku dengan orang lain kan? Sekarang Lunara sudah tidak bersamamu, kita bebas, sayang."


Resya terdiam beberapa saat, masih menatap Ghifari yang sedang memunggunginya. "Aku mohon cari aku di Kabul. Ini alamat rumah kami disana. Ku harap kau datang." Setelah mengatakan hal itu, Resya menaruh sebuah kertas bertuliskan alamat rumahnya yang berada di Kabul-Arghanistan.


Wanita cantik berdarah campuran itu perlahan pergi dari ruang rawat Ghifari dengan sisa air matanya.


Setelah memastikan Resya benar-benar sudah pergi, Ghifari membuka matanya kembali. Ia bangkit dari tidurnya, menatap sebuah kertas yang berada di atas nakas. Ia meraihnya, merobek menjadi beberapa bagian kecil lalu ia buang di tempat sampah. "Aku tak akan mengulangi hal yang sama denganmu." Ghifari menatap sobekan kertas yang sudah berada dalam tempat sampah.


"Apa yang dibicarakan oleh wanita itu?!" Ghifari berbalik, menatap Dilla yang baru saja datang. Senyum Ghifari terukir, ia fikir Adiknya tak akan pernah ingin menemuinya kembali. Tapi lihatlah, Dilla datang bersama Rayhan dengan memegang paper bag di tangannya.


"Pamit kembali ke Afghanistan karena dijodohkan." Balas Ghifari mendekati kedua Adiknya.


Dilla berdecih mendengarnya. "Setelah berhasil membuat sahabatku menderita, dengan mudahnya ia menghilang." Tatapan Dilla menajam, menatap Ghifari dengan tampangnya yang tak suka.


Rayhan melempar paper bag yang berada di tangannya ke arah Ghifari. "Ayah dan Bunda yang suruh buat jemput lo. Cepat bersiap, gue gak ada waktu banyak buat lo." Ucap Rayhan tanpa menatap Ghifari.


Ghifari tersenyum. Tak masalah dengan sikap kedua Adiknya. Yang terpenting mereka masih mau bertemu dengannya, itu sudah membuatnya bersyukur. "Terima kasih." Balas Ghifari sebelum berlalu ke dalam kamar mandi.


Semenjak kejadian beberapa minggu yang lalu dengan Lunara, Ghifari mulai merubah sikapnya. Ia akan belajar menghargai waktu dan mensyukuri apa saja yang ada padanya. Ia telah berjanji untuk merubah seluruh sikapnya untuk mendapatkan Lunara kembali.


___________


Beberapa hari setelah kepulangan Ghifari dari rumah sakit, ia sudah kembali bekerja. Kembali menjalankan peran pentingnya dalam perusahaan keluarganya. Hari-hari yang ia lalui terasa sedikit hampa, ia tak lagi merasakan wanginya aroma masakan Lunara. Bahkan ia baru tiga sampai lima kali merasakan rasa masakan dari Lunara. Itupun karena kedatangan keluarganya.


Setiap pulang dari kerjanya, Ghifari lebih sering menghabiskan waktunya di rumahnya. Ia selalu tidur di dalam kamar yang Lunara pakai sebelumnya dengan memeluk beberapa pakaian yang selalu Lunara gunakan. Harum tubuh Lunara masih melekat di seluruh pakaian yang ia tinggalkan. Bahkan pakaian kotor yang terakhir Lunara gunakan tak pernah ia cuci, agar wangi tubuh Lunara tak menghilang dari pakaian itu.


Hari ini Dilla-lah yang diminta oleh Alisya untuk mengantarkan makan malamnya kepada Ghifari. Rayhan yang mengantarkan Dilla, tak baik seorang wanita keluar seorang diri di malam hari, itulah yang Rayhan ucapkan sehingga Dilla mengikuti ucapan sang Adik.


Sesampainya di rumah Ghifari, Dilla dan Rayhan masuk begitu saja ke dalam rumah karena tak kunjung mendapatkan balasan salam dari pemilik rumah.


"Bang, gue sama Kak Dilla dateng. Cepet keluar!!" Rayhan berteriak memanggil Ghifari, tak ingin masuk lebih dalam di rumah Ghifari, cukup menunggu di ruang tamu saja.


Sepi, tak ada balasan sedikitpun dari Ghifari. Rayhan menoleh, menatap Dilla yang sama bingungnya. "Bunda bilang apa tadi?"


"Abang ada di rumah kok." Balas Dilla meyakinkan Rayhan. "Cek ke kamar aja." Setelah mengatakan itu keduanya berpencar mencari Ghifari di seluruh kamar rumah itu.


Dan akhirnya Ghifari mereka berdua menemukan Ghifari di kamar belakang, kamar yang dahulu di tempati oleh Lunara. Mereka menemukan Ghifari yang sedang tertidur dalam menagis.


"Woi Bang, bangun" Rayhan mengguncang tubuh Ghifari, membuat Ghifari terkejut dan terbangun dari tidurnya.


"Kenapa lo nangis? Mikirin yang udah lalu?" Rayhan terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Ghifari mengangguk lalu mengusap air matanya. "Abang tiba-tiba mau makan opor ayam." Ucap Ghifari memgingat Lunara yang pernah memasakkan opor ayam untuknya. Matanya kembali berkaca-kaca.


Rayhan dan Dilla saling berpandangan, heran melihat Ghifari yang bertingkah layaknya anak kecil. "Astaghfirullah… Lo kenapa, sih? Gak ada opor ayam, Bunda bikinnya rendang." Balas Rayhan menyerahkan makanannya kepada Ghifari. Tangis Ghifari pecah saat itu juga, membuat kedua orang yang berada di hadapannya itu hanya mampu menggeleng.


_____________


Di lain tempat, di sebuah gedung pencakar langit yang berada di negara dengan sebutan negara dua benua, yaitu Turki. Pria dengan pakaian formalnya sedang menatap ke bawah, melihat ramainya penduduk yang berlalu lalang dengan berjalan kaki. Pria itu sedang menerima telepon dari orang suruhannya.


"Kerja kalian bagus. Terima kasih." Derya Evren Malayeka-Pria tampan dari keluarga Malayeka itu tersenyum sinis, ia mengakhiri panggilan teleponnya. Baru saja ia menerima kabar baru dari orang suruhannya. Menatap ke arah proyektor yang menyala di depannya. Tujuannya saat ini akan tercapai.


Derya memutar, berjalan mendekati meja kerja yang berada di dalam ruang kerjanya yang bertuliskan Chief Executive Officer atau lebih dikenal dengan sebutan CEO . Ia meraih bingkai foto yang ia taruh di dalam loker meja kerjanya. Menatap penuh kebencian ke arah bingkai foto itu. "Hanya tinggal sentuhan terakhir, semuanya akan berubah, Ghifari." Tatapan Derya beralih menatap proyektor kembali. Susunan rencananya berjalan dengan sangat lancar.


"Mencintai di atas batas wajar itu tidak baik, Ghifari. Kau mencintai harta dan kekayaanmu, bukan? Maka aku akan mengambil separuhnya." Derya berbicara pada bingkai foto yang berisikan foto Ghifari disana.


__________


Maap smua, aku tadi kelupaan. Ingetnya udh update, jadi ga ngecek NT lagi :')